Ceritera Bumantara Langit kali ini bersih. Kuning penuh seluruh. Tanpa saputan pun tumpukan gemawan. Desir kelemahlembutan anginnya tak jemu membelai, meniup-niup, menebar aroma musim kali ini. Serombongan pengunduh kamboja, penyadap siongka, petani mina, pelajar sastra, bergantian ditangkapi jala mata Aida. Sayang, adegan-adegan itu hanya dapat dipandanginya dari balik kaca bis yang semakin dingin. Dipikirkannya banyak hal. Masa lalunya, masa sekarangnya, dan masa depannya. Hampir sampai ia ke apa yang dikata orang surga perantau. Kampung halaman. “Apakah memang surga?” gumamnya sambil menggurat bebas, menggangui bulir-bulir embun yang merayap-rayap di kaca. Tak dihiraukannya pengamen di barisan depan. Dikenangnya dulu kecil, berlarian menginjak-injak tanah basah, terpalit lumpur, ikut terendam gembira saat panen lele tiba. Bermain kepul asap di belakang rumah. Baru pulang saat ulat bulu iseng menempel di punggung kawannya. Ah, itu sudah jauh tertinggal di belakang. Kini u...