Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2016

Hari Guru? Masih?

“A true teacher is one who, keeping the past alive, is also able to understand the present”  –Confucius Teachers are our mentors, friends, and catalysts. They’re the wild, eager sparks that can, with a word, set our passions ablaze. Not quite parents, they nevertheless raise us to be the very best versions of ourselves. And their impressions last lifetimes, as the lessons we’ve learned are passed down to others, like inheritances of wisdom. Today, let’s celebrate teachers, one of the noblest and most selfless of callings all across the world. Happy Teacher’s Day! Itu kata Google tentang hari guru Indonesia tahun lalu. Tahun lalu ada doodlenya juga, tapi kok sekarang enggak ya? Apakah sudah tidak ada hari guru nasional Indonesia lagi? Atau jangan jangan... di Indonesia bahkan sudah tidak ada guru lagi? To be continued. . . Niatnya sih mau posting hari ini biar pas sama momennya. Tapi apa daya, ada yang harus lebih dijadikan prioritas. Semoga dalam waktu dekat lanjutan tu...

I feel recharged!

Bertemu kawan lama, terlebih secara eksklusif dan pada momen yang eksklusif, kota ini di malam hari bekas jejak gerimis, benar benar berhasil menjadi pengobat rindu yang selama ini menyerap dayaku juga semangatku. Tentu, sangat kunikmati tiap detik sejak ujung temu. Kami berdua saja, di bawah gerimis yang seperti mempermainkan kami apakah ia patut dihalau dengan payung atau dibiarkan saja lembut memeluk jalanan kota. Kami bercerita panjang sekali sambil menghabiskan makan malam di tepi jalan besar itu. Sesungguhnya dalam tiap suapku kuharap itu bukan yang terakhir, juga kata dalam cerita itu bukan yang penghabisan, sebab kuingin malam ini memanjang dan waktu temu itu tidak cepat usai. Tapi bagaimanapun, dimana ada pangkal maka disitu ada ujung. Begitu pula pada sebuah temu. Seingin apapun aku memanjangkan waktu, perpisahan kembali sudah mengajak kami pulang. Tiap langkah yang kami tapaki menuju halte bis kurasa berat dan cukup ampuh dalam mengundang sesak hati. Jalan bercabang...

Ini lho yang memaksaku menjadi kepompong, mengisolasi diri pada beberapa hari terakhir...

Perkenalkan, makhluk di atas itu namanya Laporan Resmi Praktikum Avertebrata Topik Arthropoda. Setelah diproses selama kurang lebih satu minggu, akhirnya ia resmi lahir dan terselesakan pada Kamis, 10 November 2016, bertepatan dengan hari pahlawan. Ironinya, makhluk ini justru membuatku lupa bahwa kemarin adalah hari pahlawan. Benar benar luar biasa pesonanya dalam mengalihkan dunia. Makhluk ini berbentuk kumpulan lembaran kertas folio bergaris dengan ketebalan total: 84 lembar no bolak balik. Dari seluruh lembar lembar itu hanya satu yang tidak diisi dengan gambar dan/atau tulisan tangan, yaitu lembar cover depan. Akhirnya, setelah melalui perjalanan pengasuhan yang meletihkan, mengisi lembar demi lembar hingga jari tengah tangan kanan kapalan, bahkan kapalnya sudah ngapal juga,  makhluk ini sukses dikumpulkan ke mbak asisten. Malam malam panjang yang terhabiskan untuk melekan, pengorbanan secara tidak rasional terhadap hari kuliah yang justru hampir selalu ketiduran, akhirny...

Mungkin ini sebagai jawab atas banyak tanya yang menganga

Memang ya, nangis itu ampuh dalam mengundang kantuk. Semalam aku berada dalam titik jenuh, saat ledakan lelah raga dan rasa sedang berupaya menjatuhkan asa. Perpaduan kelelahan jasmani, rohani, serta emosi berhasil menempatkanku dalam keadaan stres yang amat menyiksa. Selajutnya aku bisa apa? Lima kawan pengobat sesak hati kujadikan pilihan. Nihil. Rasaku tak kunjung membaik, malah makin mencekik. Lalu kuputuskan untuk hentikan alir kataku pada mereka, juga pada dunia maya yang lainnya. Aku mengurung diri bersama kecamuk yang masih enggan menepi. Deadline. Sepertinya itu pemicu utama. Ah tapi tidak juga, karena faktor yang lain pun sama saja kuatnya dalam memberikan tekanan pada aku beserta nama. Lilin lilinku, beberapanya menolak untuk kunyalakan. Tentu itu membuatku menyulut kesal di sisa hari. Orang orang proyek. Aku ini pemimpin macam apa? Tak berani menyuarakan dan mengendalikan. Kaku di sana sini. Apa begini yang namanya pertanggungjawaban? Tanyaku makin menghujam. Ujian. ...