Langsung ke konten utama

Ceritera Bumantara



Ceritera Bumantara

Langit kali ini bersih. Kuning penuh seluruh. Tanpa saputan pun tumpukan gemawan. Desir kelemahlembutan anginnya tak jemu membelai, meniup-niup, menebar aroma musim kali ini. Serombongan pengunduh kamboja, penyadap siongka, petani mina, pelajar sastra, bergantian ditangkapi jala mata Aida. Sayang, adegan-adegan itu hanya dapat dipandanginya dari balik kaca bis yang semakin dingin. Dipikirkannya banyak hal. Masa lalunya, masa sekarangnya, dan masa depannya. Hampir sampai ia ke apa yang dikata orang surga perantau. Kampung halaman.
“Apakah memang surga?” gumamnya sambil menggurat bebas, menggangui bulir-bulir embun yang merayap-rayap di kaca. Tak dihiraukannya pengamen di barisan depan. Dikenangnya dulu kecil, berlarian menginjak-injak tanah basah, terpalit lumpur, ikut terendam gembira saat panen lele tiba. Bermain kepul asap di belakang rumah. Baru pulang saat ulat bulu iseng menempel di punggung kawannya. Ah, itu sudah jauh tertinggal di belakang. Kini usianya 17. Kota orang yang menjadi latar sekolah tingkat atasnya.
“Aqua... Aqua... Minuman dingin... tahu... tahu... tahunya mbak... kalih ewu mawon...”
Aida hanya melambai kecil. Meneruskan apa yang melintas di benaknya. Libur semester ini seharusnya menjadi penawar rindu bagi ia dan kawan senasibnya. Namun baginya ini tak lebih dari sekedar perobek luka lama yang berbulan kemarin telah ia anyam penutupnya.
“Pulang, Nduk. Emak kangen sama sampean.” Kalimat emak tersampai lewat telepon minggu lalu. Tapi Aida jauh lebih dari tahu. Ia mengerti apa yang lebih menunggunya.
***
Langit kali ini menyala. Merah serupa terbakar. Biarpun begitu, bukan hawa panas yang menyambut Aida. Ia hanya merasa dingin. Dingin yang meremukkan tulang, merutukkan berpasang geraham, menyergap dari segala jurusan. Kini hanya hatinya yang mendidih.
“Liburan, Da? Atau cuma untuk acara besok?” Pak Nang menyapa ramah. Wajah arifnya tak berubah sejak terakhir kali Aida pulang semesteran tahun lalu. Tangannya cekatan mengikat, merangkai, membenahi apa yang dihadapinya. Sepelepah janur kuning. Pembakar hati Aida.
“Nggih, Pak. Libur semesteran.” Jawab Aida singkat ditutup selukis senyum tipis. Sekejap berikutnya kakinya membawanya masuk. Rona mukanya masih saja datar dan dingin. Menyalam dengan suara kaku lantas rebahan di kasur kamarnya. Aida hanya memandangi langit-langit. Ia kembali memikirkan banyak hal. Janur kuning itu. Langit kali ini merah. Terbakar serupa hatinya yang kini terbakar.
“Lho, Nduk, kok sudah sampai rumah ndak bilang-bilang to?” itu suara emak saat tahu kepulangan putrinya. Aida tak bergeming. Matanya tetap tertuju pada langit-langit. Hatinya kini semakin terbakar. Memerah.
***
Terlempar ke belakang, setahun yang lalu...
Langit kali ini sendu. Tampaknya ia berniat menceritakan sesuatu. Langit kali ini ungu. Terbasuh, terliputi, bermandikan warna ungu. Kata orang, bijak menjadi sifat yang dibawa ungu. Namun tiada yang tahu sejatinya. Tak ada yang dapat membaca kisahnya. Atau mungkin saja nanti.
Gerungan bis kota menyanyikan lagu selamat jalan. Mengiringi perjalanan mulia milik Aida. Besok menjadi hari pertamanya di sekolah baru. Tempatnya menuntut ilmu di rantau. Usianya kini 16. Pilihan untuk merantau telah melekat di jiwanya. Sedari dahulu lama bapak dan emak selalu menekankan pentingnya pendidikan, ilmu, bekal hidup dunia akhirat. Maka di pendidikan tingkat atasnya ini Aida resmi dikirim ke sekolah berasrama.
Tadi subuh benar masih mencelup sukma saat peluk cium sayang emak melepas Aida dan bapak. Doa keridhoan beliau mengalir selalu. Emak tidak menangis. Beliau tersenyum, senyum bangga. Telah terbayang rupa Aida saat menggenggam ijazah kelulusan kelak. Aida yang makin santun perangainya, hasil didikan yang dilengkapkan. Sebentar berikutnya sosok Aida dan bapak hilang di tikungan jalan lima belas meter depan rumah. Ditelan tangan-tangan pagi berselimutkan harapan.
“Ndak lapar, Nduk?”
“Belum, Pak. Berapa jam lagi sampai?”
“Sekitar sejam lagi. Udah lupa to perjalanan kesana?”
“Nggih, Pak. Lha cuma sekali yang sebulan lalu itu saja kan.” Terkenang olehnya sebulan yang lalu jadi hari ia resmi diterima sekolah baru dan asramanya. Dan kini boyongan memulai tahun ajaran. Tangannya sedari tadi sibuk melukis bebas di kaca bis. Sebentar-sebentar membenahi posisi duduk. Melelahkan memang perjalanan berjam-jam ini.
Raja siang sudah hendak turun tahta saat Aida sowan ke pengasuh asrama. Bapak langsung berpamitan pulang kembali ke Sada. Dipesaninya Aida banyak hal. Jangan malu bertanya, berhematlah agar bisa berbagi, dan seterusnya, dan seterusnya. Dipeluknya Aida sekali lagi. Tubuh tinggi bapak dihambur sinar senja menjadi siluet bermakna dalam. Tak ada yang tahu apa yang terjadi selanjutnya. Tak ada yang tahu. Dan bahkan Aida pun tak mengerti. Ia sibuk merapibersihkan barang, berkenalan dengan teman-teman baru, dan hal berbau tahun ajaran baru lainnya. Hingga dewi malam benar-benar menguasai hari, masih tak ada yang mengerti. Mungkin nanti, mungkin esok pagi, atau mungkin-mungkin yang lainnya.
“Mbak Aida ya? Sampean dipanggil ke kantor depan. Dapat telepon kayaknya.” Gadis berkacamata itu sukses menyampaikan pesan. Tampaknya ia masih terhitung sebagai adik kelas untuk Aida.
“Makasih ya Dik.” Jawabnya singkat.
Aku dapat telepon? Ada apa?
“Waalaikumsalam, ada apa Mak?”
“Bapakmu tadi langsung pulang to, Nduk?”
“Nggih, kenapa memangnya, Mak?”
“Ndak apa-apa kok. Ya sudah, selamat belajar. Assalamualaikum.”
Telepon singkat itu ditutup. Menyisakan tanda tanya besar bagi Aida. Hanya desau angin malam menemaninya menghabiskan hari dalam rinai kegelisahan. Ada apa?
Esok langit yang menjawabnya.
Pulang. Itu kata untuk Aida di esok pagi harinya. Pak lik Jan menjemput langsung dari Kelinang. Menyertakan Aida menuju Sada pagi itu juga. Sepanjang perjalanan Aida hanya sibuk melukisi kaca bis. Seperti biasanya yang sudah-sudah. Sedang hatinya sibuk membuang jauh apa yang buruk yang melintas. Matanya sibuk menerawang seakan dapat dilihatnya Sada, tempatnya tinggalnya sejak enambelas tahun lalu. Diamat-amatinya langit yang kini berwarna ungu. Langit, tolong ceritakan padaku ada apa.
Akulah. Aku yang menyambutnya. Berlari merengkuh bahu Aida. Tangisnya tak bersuara. Ia menatapku dalam diamnya. Mengadukan segalanya dalam diamnya. Menuntut penjelasan dalam diamnya. Yang pasti, langit telah menceritakannya. Langit tak pernah mengingkari janjinya. Langit kali ini ungu. Warna janda. Penanda status emak yang dimulai sejak semalam.
***
Janur kuning telah melengkung. Aida masih saja terpekur di dipannya. Memandang lurus ke luar jendela. Hatinya kocar-kacir. Pikirannya semrawut. Sedang dingin dirasanya. Menggigiti kaki, tangan, dan seluruh badannya. Nyilu batinnya.
“Nduk...”
Hanya hening yang menjawab.
“Nduk, kenapa...”
“Aku yang seharusnya bertanya kenapa, Mak! Kenapa Mak tega? Kenapa Mak...” kalimatnya tertahan. Hanya desah lemah nafasnya yang tersisa. Matanya mulai berembun. Hatinya terus saja terbakar. Baranya bergelotakan menyala-nyala.
Langit kali ini kelabu. Sedikit menggelap di sisi timurnya.
Aida memutuskan berdamai. Digantinya pakaian dengan kebaya biru muda. Saputan warna senada membingkai matanya. Perona pipi dan bedak samar menutup muka ayunya. Sayang, tetap tak ada yang dapat memaksa sinar mata untuk berbohong.
Tetangga terus berdatangan. Bunyi-bunyian soundsystem bercampur dengan riuh rendah obrolan ringan tetamu. Sebentar lagi akad terucap. Lalu lalang remaja seumuran Aida semakin menambah kesan sibuk acara pagi ini.
***
Terlempar ke delapan bulan yang lalu...
Langit kali ini biru. Angin kemarau meniup-niup reranting pelan. Sekaligus seakan tega nian menyesap hijau daun-daunnya. Namun Kali Manis belum benar-benar kehausan. Air dinginnya menjilat-jilat kaki Aida yang tercelup hingga atas mata kaki. Ia sedang melukis. Melukis angannya di derasnya air sungai. Menyertakan salamnya di tiap aliran gemericik yang membentur batu-batuan besar.
“Boleh aku duduk?”
Suara itu tak asing lagi baginya. Suara yang amat disayanginya. Suara yang menenangkan dan menyenangkannya. Yang telah dua bulan ini mengairi hatinya.
“Sejak kapan pean harus meminta izin duduk sebelahku?” Senyumnya mengikuti kalimat tanyanya.
Fauzi, nama seseorang yang kini duduk ikut mencelupkan kaki ke Kali Wangi bersebelahan dengan Aida. Usianya dengan Aida hanya terpaut beberapa bulan. Berkenalan saat berdua sama-sama menjadi anggota pasukan pengibar bendera di sekolah. Fauzi santun perangainya, ramah lisannya, cerdas dan berwawasan luas. Terlebih lagi, manis menawan pula senyumnya. Melelehkan hati. Begitu yang dirasa Aida.
“Apa mawar biru itu sungguhan ada?” tanya Aida dengan pandangan tetap lurus ke rumpun bunga pukul empat liar di seberang sungai. Memang, sejak pertama berkenalan ia tak pernah mampu menatap langsung bola mata Fauzi. Hingga ia tak pernah tahu apa warnanya.
“Lha kamu percaya ndak?” Duhai, bila kalian dapat melihat senyum di kalimat Fauzi tadi, sungguh menyejukkan.
“Aku nanya kok pean malah nanya balik.” Aida mendengus kesal. Tapi tidak. Ia tak pernah seirispun merasa kesal sungguhan pada lelaki itu. sungguh masa dua bulan mengenalnya telah berhasil melebatkan dedaun di hatinya.
Apakah pean menempatkanku di bagian istimewa itu?
Bermenit-menit berikutnya terhabiskan oleh topik tentang bioteknologi, kloning, sifat totipotensi, dan segala hal yang berbau ilmu hayat lainnya. Tangan Fauzi bergerak-gerak menggambar di udara. Seakan di hadapannya ada papan tulis besar pemapar fakta dan opini. Sungguh, siapa tak akan terpana pada pemuda bercakupan ilmu sedalam seluas dia?
Selalu ada damai di alir kalimatmu. Selalu ada yang menyejukkan. Selalu ada yang membahagiakan dari pertemuanku denganmu. Sayang, Aida hanya mengatakan kalimat indah itu pada angin kering yang menrpa wajahnya.
“Masih mau disini?”
Aida menangguk. Sebentar lagi.
“Aku duluan ya, Ai. Semoga hari ini lebih istimewa dari yang sudah-sudah.” Pamitnya.
Matahari semakin garang menyengat apa-apa yang dibawahinya. Aida memutuskan menyusul pulang kembali ke asrama. Hatinya damai. Pikirannya tenang. Senyum riang ditebarnya di tiap tapak langkahnya.
Langit kali ini biru. Damai.
***
Langit kali ini putih. Awan serupa bantal-bantal menutup penuh. Menyenangkan sekali melihatnya. Langit yang putih, sewarna dengan seragam membanggakan milik Aida, juga Fauzi. Keduanya kini tengah berbaur dengan anggota pasukan pengibar bendera lainnya. Hari ini, berpuluh tahun yang lalu, pemuda pemudi negeri ini tengah mengikrarkan janji. Janji setia sebagai putra putri bangsa yang berbakti. Dikenalnya sumpah itu dengan Sumpah Pemuda.
Upacara berlangsung khidmat. Sang merah putih telah sukses dikibarkan. Tampak gagah menantang langit. Satu-satu teks serupa pancasila dan kawan-kawannya dibacakan. Hingga tiba saat menyanyikan lagu Bangun Pemuda Pemudi dinyanyikan. Tiap-tiap lisan menyiratkan rasa bangga di larik liriknya. Lantas ditutup dengan berumpun-rumpun doa. Memenuhi atmosfer hangat menyengat pagi ini.
“Ai, terimakasih ya...” Fauzi yang entah sejak kapan telah berdiri semeter di depan Aida.
“Atas apa?”
“Ya atas semua hal baik yang kamu berikan selama ini.”
“Memangnya aku pernah baik sama pean ya? Kok rasanya aku cuma bisa merepotkan pean dengan pertanyan dan keingintahuanku, Zi.” Aida mengerinyitkan dahi. Dan selalu, ia tak menatap bola mata seorang didepannya.
“Kalau kamu ndak merasa pernah memberi ya ndak apa-apa. Kan aku yang merasa menerimanya. Dan terimakasih juga atas kerjasamanya.” Kembali selukis senyum merekah di akhir kalimat pemuda itu.
“O iya Ai, aku ada sesuatu untukmu. Sebentar ya!” Fauzi berlari-lari kecil berbelok ke arah ruang praktikum sains. Meninggalkan Aida yang masih menyimpan banyak pertanyaan. Gadis itu memutuskan untuk menunggu di bangku pinggir lapangan.
Langit sedari tadi tak berubah warna. Gumpalan putih-putih berarak bergantian. Ranting-ranting bergoyang pelan. Fauzi belum tampak. Sedari tadi Aida menunggu hingga kantuk mulai merayapinya. Namun tepat tiga detik sebelum Aida memutuskan beranjak, Fauzi dengan berjalan cepat menghampiri Aida. Ditangannya ada sesuatu.
“Maaf membuatmu menunggu, Ai. Tapi aku harap kamu menyukainya. Yah, walaupun aku juga ndak tahu akan sampai kapan ini bertahan.”
Disingkapnya penutup sesuatu itu. Dan di tepi lapangan ini, saat matahari naik sepenggalahnya, disini, sesuatu itu tampak cantik menawan. Lima kuntum bunga mawar biru mekar sempurna mahkotanya. Lima kuntum bunga mawar biru yang jauh sejak bertahun-tahun lalu selalu diangankan Aida. Lima kuntum bunga mawar biru yang kini hadir tepat di hadapannya. Lima kuntum bunga mawar biru pemberian Fauzi.
“Diterima ndak ni, Ai? Ndak suka to?” Fauzi menggenggam kuntum-kuntum mawar biru menunggu respon gadis di depannya.
Aida tak bergeming. Rasa terkejut bahagia masih membuatnya mematung. Hanya senyumnya yang berbicara. Matanya berbinar cerah. Hingga hampir dua menit berikutnya ia baru dengan patah-patah menerima kuntum-kuntum cantik berbalut biru dari Fauzi.
“Terimakasih.” Hanya itu yang dapat ia katakan.
Fauzi mengangguk. “Sama-sama, Ai.”
Ketahuilah, aku sedari dahulu tak pernah menyebutmu ‘Da’ ataupun Aida. Aku lebih memilih untuk memanggilmu dengan ‘Ai’. Dan tahukah kamu, arti sebutan itu adalah, cinta.
Entah bagaimana, langit kali ini bersemu merah muda. Yang pasti, langit tak pernah mengingkari janji untuk menceritakan segala kisahnya. Kali ini boleh jadi kisah indah. Namun tak ada yang tahu bagaimana selanjutnya. Yang pasti, langit akan selalu membacakan semuanya.
***
Langit yang tadi kelabu kini makin menggelap. Pagi ini mendung. Semendung bayangan di bola mata cokelat Aida. Namun tetap ia paksakan untuk berramah-ramah, untuk sekedar mengucapkan selamat datang dan terimakasih pada tetamu. Hatinya kini bukan terbakar lagi. Hanya mendung.
Tepat pukul setengah delapan pagi mempelai pria diiring kerabatnya tiba di tempat akad akan terucap. Tabuh-tabuhan rebana bersahut-sahutan menyemarakkan momen ini.
“Sah....”
Sahutan tetamu menjawab bapak penghulu. Akad telah terucapkan. Disambung panjatan doa-doa harapan agar kebahagiaan senantiasa mengiringi perjalanan hidup kedua mempelai. Wajah-wajah tulus mendoa tampak dimana-mana. Namun ada satu yang tidak. Aida hanya memandang lurus ke depan. Tanpa segurat ekspresi apapun. Sinar matanya redup bahkan hampir mati. Hatinya kini sempurna tersayat. Lukanya kini sempurna menganga. Kenangan-kenangan dahulu kembali bermunculan di benaknya. Matanya tetap memandang lurus. Bukan kosong saja yang ditatapnya. Lihatlah, di seberang itu, di sebelah Pak lik Jan, yang duduk dengan wajah terus menunduk. Ditatapnya sosok Fauzi. Sosok Fauzi yang sejak semenit lalu telah menjadi saudara tirinya.
Kali ini langit hujan. Bukan. Bukan langit yang di atas itu. Melainkan langit di hati Aida. Hujan. Menderas. Menenggelamkan. Menghanyutkan segalanya.


Oktober 2013
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Day 25 Share 1 story about hikmah ramadan!

'Cinta terlarang' kami memang sudah semestinya berakhir, semoga selamanya~ Saya dan pusing adalah sepasang yang mulanya selalu bersama. Setiap hari setidaknya pasti ada satu momen dimana saya berjumpa dengannya. Pusing yang saya maksud adalah tipe yang rasanya muter sampai badan seperti mau ambruk. Ini terutama saya rasakan kalau berpindah posisi tubuh secara tiba-tiba. Misalnya dari rebahan langsung duduk atau dari duduk langsung berdiri. Perlu waktu beberapa detik penyesuaian sambil memejamkan mata dahulu agar berhasil stabil. Kalau dilihat dari tekanan darah sebenarnya memang konsisten cenderung lebih rendah daripada orang lain pada umumnya. Tapi setelah berkonsultasi dengan suster sekolah katanya itu bukan masalah, karena setiap orang punya kisaran normalnya sendiri. Dugaan lain yang menjadi penyebabnya adalah rendahnya kadar hemoglobin dalam darah saya. Iya yang ini cukup terbukti sih. Sudah pernah saya periksakan juga dan memang demikian hasilnya. Saat sedang dalam hari...

Saya dan Rasa Lain yang Lucu

 Rasanya belum lama sejak terakhir menulis tentang rasa suka yang lucu. Rasa. Suka. ... yang sekejap menjadi tidak lucu lagi. Barangkali mimpi itu hanya canda. Bunga tidur yang mengada-ada. Tapi bisa juga ia adalah pertanda. Bahwa yang dinanti tak kunjung tiba, sebenarnya memang sudah selesai tak bersisa. Senangnya, saya biasa saja. Ya! Ini adalah rasa yang lucu. Saya sendiri heran. Pernyataan-pernyataan dari seseorang berhasil membuat saya berpindah haluan. Yang dulu disimpan, kini betulan berhasil diikhlaskan. Saya tidak menyangka. Saya tersadar dibuatnya. Yang sebenarnya dipertahankan bukanlah murni rasa sayang pada orangnya. Namun lebih kepada momennya yang telah terjalin lama. Lalu selanjutnya apa? Tidak tahu juga. Setidaknya untuk saat ini belum ada rencana untuk mengapa-apakan kotak rasa saya.  .  . . Yang pasti saya ketahui saat ini, bubuk kopi darimu sudah tak tersisa untuk diseduh dan dinikmati lagi.   Y281121K -selalu ada yang lain

#Day 11 Imagine that you are giving a kultum, what will you tell?

  Wabah: Pengingat tentang Terbatasnya Waktu Kita   Pandemi! Itu adalah status COVID-19 saat ini. Pandemi menurut WHO dijelaskan sebagai wabah yang sifatnya menyebar global dan mendunia. Meski semula memang ditemukan di Cina, virus ini merebak hingga kini telah mencakup 199 negara (re: saat draft tulisan ini pertama saya buat). Pelan tapi pasti, satu persatu aspek kehidupan kita terpengaruh oleh makhluk kecil tak kasat mata tapi nyata ini. Aspek kesehatan? Tentu signifikan sekali. Aspek ekonomi? Perlahan terguncang terganggu keseimbangannya. Aspek sosial? Manusia dipaksa berjauhan secara fisik, social distancing istilahnya. Masih banyak yang harus dirinci bila ingin mendeskripsikan betapa dahsyat dampak yang virus ini berikan. Namun bagaimanapun, setiap yang telah ditakdirkan oleh-Nya tentu membawa hikmah tersendiri bagi orang orang yang mau bertafakur dan merenungi sisi positif dengan bijaksana. Walau mungkin saat ini dunia sedang berduka, mari kita tilik sisi...