Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2016

Desinfektan Kekhawatiran (5)

... Sebenarnya, selain melalui interaksi, kekhawatiran juga dapat muncul tak tertahankan kala aku diberi sebuah tanggung jawab. Sekecil apapun itu. (yeah sebenarnya pemberian tanggung jawab juga tak terlepas dari adanya interaksi kan? Jadi akarnya pun tetap sama). Kala diminta melakukan sesuatu, banyak sekali yang kukhawatirkan. Kurang lebih menjurus pada satu hal: bagaimana kalau aku tak bisa melakukannya, membuat si pemberi tanggung jawab kecewa, tidak mempercayaiku lagi, dan justru membenci aku? Ah, lagi-lagi: khawatir tak bisa menyenangkan semua orang. Padahal eh padahal, siapa sih yang bisa menjadi sumber bahagia SEMUA orang? Tidak ada. Ada lagi kekhawatiran jenis lain yang tak kalah sering mengunjungiku. Dan ini sepertinya jenis yang lebih aneh. Aku selalu merasa khawatir akan banyak hal saat sedang berada di tengah suatu tempat (atau keadaan) yang ada banyak orang (bila dihulukan tetap saja akarnya ke masalah interaksi). Saat di tengah orang banyak, aku selalu ingin...

Dalam Gelas Kita

Seribu kupu kupu dalam gelas kita Gelas kita maya Seribu kupu kupu mencari nyata Gelas kita berisikan kata kata Berdesakan dengan seribu kupu kupu Kupu kupu memunggungi kata kata Kata kata mengaduhi kupu kupu Tapi gelas kita bukan pemilih Kata kata dan kupu kupu saling tindih Kupu kupu memilih kita Kata kata memilih kita Sementara kita memilih gelas Dan pertemuan kupu kupu dengan kata kata Mencari nyata Sedang gelas kita maya Sedang kita mencari nyala Seribu kupu kupu bermufakat dengan kata kata N300616W

Desinfektan Kekhawatiran (4)

... Aku sedang berusaha . . . Sudah tak terhitung berapa kali aku menceritakan problem tentang kekhawatiran akutku ini kepada sahabatku. Dan tak terhitung pula saran serta pengingat yang ia berikan. Dan memang cukup ampuh untuk kuterapkan. Sayangnya, sepertinya yang kuperlukan adalah pengingat yang benar-benar bisa melekat sehingga bisa memperingatkanku setiap kali aku menumbuhkan tunas khawatirku. Karena, bagaimanapun aku masih sering khawatir, apalagi ketika lama tak ‘berkonsultasi’ dengan sahabatku itu. Yeah, sepertinya pengingat itu masih amat bersifat temporer sehingga kemampuanku dalam membunuh kekhawatiran masih bersifat fluktuatif.

Dirimu dalam Tumpukan Tawa

"Kutahu ada dirimu dalam tumpukan teriakan dan tumpukan tawa itu. Walaupun aku tak tahu kamu yang mana. Aku tetap bahagia. Tidak apa-apa. Setidaknya, dengan mengetahuimu berada dalam tumpukan bahagia di bawah sana, aku tahu bahwa kau sedang baik-baik saja." Salam senja! Y281215K *Who knows what will happen in the couple of months? No one. Nyatanya ceritera bumantara terus berjanji bahwa ia kan selalu ada. Mengemas segala rahasia menjadi sesuatu yang bijaksana. Mengapa kita hanya butuh satu matahari? Karena saat terbenam, ia tlah berjanji tuk terbit kembali Y120616K Mengapa aku hanya butuh satu matahati? Karena kupikir akan terlalu melelahkan bila aku harus merasakan forelsket dari awal lagi ahahahahahaa ._.v Y220616K

Desinfektan Kekhawatiran (3)

... Iya. Aku termasuk orang amat merasa kesulitan dalam melakukan interaksi dengan orang lain. Bahkan untuk sekadar menyapa. Saat berinteraksi dengan orang lain (sapaan, meminta-diminta tolong, diminta menjelaskan sesuatu, dicurhati, dimintai saran atau pendapat, diminta memberi sebuah keputusan, sampai ditanya arah ke suatu tempat, bahkan saat guyon (!)), seringkali aku khawatir: 1.       Bagaimana kalau dalam berkata tadi aku membuatnya sakit hati? 2.       Bagaimana kalau jawabanku tadi membuatku justru terlihat bodoh? 3.       Bagaimana kalau jawabanku tadi tak dapat ia pahami? 4.       Bagaimana kalau dalam kataku tadi aku berbohong dan banyak hal yang kubuat buat? 5.       Bagaimana kalau jawabanku tadi tidak memuaskan? 6.       Bagaimana kalau setelah percakapan tadi, orang itu justru menjauhi aku? 7.  ...

Pulangku, Malamku

Kata teman teman, 'Wah, mbak toyib akhirnya pulang!' Aku tertawa saja mendengarnya. Iya, yang dimaksud mbak toyib itu aku. Iya, karena memang di antara teman sekelas aku termasuk yang paling jarang pulang. Mengingat jarak rumah dan kota kampusku memang tak dapat dibilang dekat. Lima jam dengan bus kota, itu bila tanpa hambatan dan dengan laju normal. Yap, akhirnya aku pulang. Akhirnya malamku telah datang. Mengapa kusebut malam? Sebab kepulangan bagiku adalah waktu istirahat. Sebenar benarnya istirahat, tanpa memikirkan tugas kuliah yang seolah tak berujung. Sebenarnya seru juga sih aktivitas kuliah, tapi manusia tetap perlu malam, istirahat, dan tidur kan? Yap, pulang adalah malamku. Bagaimana dengan malammu? ;)

Belajar ? [1]

Sebuah belajar tentu tak hanya berasal dari apa yang disebut sekolah maupun lembaga pendidikan lainnya. Sebuah belajar dapat saja terlaksana dengan mengamati diri sendiri serta sekitar. Seminggu yang lalu, sebuah kesendirian rupanya berhasil membawaku kepada sebuah belajar yang lain dari cara konvensional. Sebuah belajar yang lebih menyenangkan karena aku tak merasa dituntut mendapat ijazah maupun diberikan tenggat waktu. Sebuah belajar yang membawaku pada penyelaman ilmu dengan cara yang tak tergesa-gesa. Aku dipersilakan menikmati setiap aliran lembut cahaya ilmu yang disajikan. Aku diberi kesempatan untuk mengambil, menyaring, menelaah, memilah, mencatat, dan mengingat dengan keadaan diri yang cukup siap karena tak diburu target-target yang menyiksa. Tentu jauh berbeda dengan yang biasa terhidang dalam 'belajar' yang bermakna ordiner. ...

Mendulang Hikmah dari Si Patah Hati

Belajar itu bisa dari mana saja. Termasuk dari seseorang yang baru saja patah hati. Bukan, bukan maksud diri bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Tentu bukan demikian. Empati kepadanya tentu sangat penting. Tapi yang tak kalah penting adalah mengambil pelajaran dari kisah si patah hati itu. Dan ingat, mengambil pelajarannya jangan dengan cengengesan, apalagi sampai nyinyir bilang, 'Wah, makasih ya kamu patah hati duluan, kan aku bisa lebih hati-hati biar nggak kayak kamu.' Duh, nanti hatimu bisa dipatahin secara harfiah loh sama dia. *Kalau kepaksa banget pengen ngomong gitu, dalam hati aja deh yaa Hehehe Y040616K

Dear Aya . . .

Aya gimana kabar? Lamaaaaaa banget aku nggak ketemu kamu Kangen banget ay sumpah Nggak akan bilang gini kalau nggak ada buktinya kan? Sedari kemarin aku merasa sedang dalam fase-fase paling sepi sepanjang aku tinggal di tempatku sekarang. Teman sekamarku lagi pulang. Mbak-mbak yang di kamar lain cuma mampir ke kamarku bentar-bentar. Orang orang impor? Ah apalah yang kuharapkan dari interaksi dengan mereka ._. Sebenarnya aku bisa aja chat sama adekku, dia lagi di rumah. Tapi uda tak coba eh slow respond banget. Ada alternatif orang buat diajak chat eh dianya lagi hari hari sibuk. Sandalan yang lain juga slow respond. Ah intinya aku lagi kesepiaaaaan bangettt deh ay. Jadilah aku pagi ini sehabis sarapan tadi buka laptop terus nonton kartun. Lumayan lah dapat 3 episode. Hehehe. Btw Fang makin keren ay! Ahaha abaikan Sayangnya nontonku harus berhenti soalnya yang kudownload baru sampai episode itu. Besok deh pas di rumah nonton sepuasnya Nah sehabis nonton aku mbuka h...