Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2015

Makan Malam

Seseorang dari gunung Mengundang kita. Saya dan kamu diajaknya Makan malam Saya bilang iya Eh kamu juga bilang iya Kalau saja saya tahu kamu Bilang iya. Saya takkan bilang iya Lah, jangan-jangan kamu ikut tidak bilang iya. Ke gunung Saya lewat kota Eh kamu bergerilya Di gunung Saya melihat kamu sudah berdiri di depan pintu Saya tergugu Pada makan malam Seseorang itu rupanya belum memasak Diajaknya saya memasak Eh diam-diam kamu ke rumah tetangga Meminjam dapurnya untuk memasak Dimulai makan malam Saya bersama seseorang itu menyajikan masakan kami Eh kamu tiba-tiba masuk membawa masakanmu Dan seseorang itu mencicipinya Dan ia memujimu Hmm Tepat dimulai makan malam Seseorang itu menyilakan kita duduk Saya di kanannya Eh kamu di kirinya Bahkan kamu menggeser kursi Lebih dekat ke sisinya Seseorang itu bertanya tentang diri saya Eh kamu bertanya padanya lebih jauh Menyela Di tengah makan malam Saya m...

Menunggu dan Menjahit

Menunggu bukan seperti menari Menunggu mungkin lebih seperti menjahit Tapi bukan menjahit dengan mesin Melainkan menjahit dengan Tangan Sabar Tapi tak sepenuhnya juga seperti menjahit Sebab saat menjahit Kita tahu kapan harus berhenti Tapi saat menunggu? Seringkali yang ditunggu itu tak mengatakan Kapan kita harus selesai menunggu Sehingga banyak di antara yang menunggu itu Memutuskan berhenti menunggu Padahal sebenarnya masih jauh dari kata selesai Lalu apa arti menunggu yang sudah dilewati itu? Apakah sama tidak berartinya dengan jahitan yang tidak selesai? 01 Februari 2015

Dear Nadia...

Dear nadia... Selamat malam nad. Aku nggak tau apakah suatu hari nanti kamu bakal pernah baca tulisan ini atau nggak. Mm aku sebenarnya juga nggak ngerti mau nulis apa. Aku cuma pengen berkata bebas. Pemicunya? Pembicaraan kita yang terrekam di hp.ku, suara019. Baru di tahun ketiga inilah aku menyadari banyak hal tentang kamu. Tentang kita. Banyak hal yang aku sadari bahwa aku akan teramat nggak rela untuk kehilangan hal itu. Kita banyak kesamaan. Entahlah itu karena apa, tapi kadang aku sampai merasa bahwa sebenarnya kita dididik dengan cara yang sama sehingga kita seringkali memiliki sudut pandang yang sama terhadap suatu permasalahan. Kupikir kamulah yang sering menjadi orang pertama untuk mengetahui banyak rahasiaku tentang pandanganku terhadap hal-hal dalam hidup. Yah soalnya emang baru kamu yang memiliki kesamaan denganku sebanyak itu. Memang sih aku termasuk jarang 'ngaku' duluan, seringnya kamu ngomong sesuatu duluan dan aku tinggal bilang "iya, sama."...