Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2016

Umpama Sabar dan Ikhlas

Kutahu, ikhlas dan sabar itu bagaikan sepasang suami istri. Masing-masingnya tak mau dan tak rela untuk dipisahkan. Kehadiran salah satunya tentu menuntut hadirnya yang lain. Mencoba mengundang salah satunya berarti harus siap mengundang keduanya. Mencoba membiarkan salah satunya untuk tinggal berarti harus juga siap memelihara pasangannya. Benar, mereka dua yang menjadi satu. Kutahu, keduanya demikian. Banyak orang telah memberitahuku. Tapi walau dengan pengetahuanku itu, sungguh nyatanya tetap tak mudah untuk mampu menjamu keduanya sekaligus. Banyak yang harus dikorbankan. Banyak yang harus dikeluarkan sebagai biaya untuk memelihara mereka. Banyak yang harus disiapkan untuk menampung keduanya agar tetap dapat tinggal bersama. Sabar. Kata mereka untuk menjamu sebuah sabar butuh kesiapan yang besar. Butuh biaya berupa keberanian untuk menyediakan hati yang lapang seluas samudera bahkan lebih. Butuh biaya berupa ketahanan kalbu agar ia tetap mampu menampung segala kesedihan da...

Muara bagi Sebuah Pilihan Tak Selalu Berupa Kepemilikan

Kita selalu mempunyai pilihan kan? Karena hakikatnya hidup itu pilihan. Pilihan mengemai hal-hal kecil maupun hal-hal besar. Dan dalam memilih itu yang dibutuhkan adalah keberanian. Yakni keberanian untuk memilih. Kita tidak selalu dapat memiliki kan? Karena hakikatnya hidup itu bukan untuk memiliki. Kepemilikan akan hal-hal kecil maupun hal-hal besar. Dan dalam ketiadaan hak memiliki itu yang dibutuhkan adalah keberanian. Yakni keberanian untuk melepaskan. Kita dapat memilih, tapi tak dapat selalu memiliki? Lalu kita harus bagaimana? Biarkan. Biarkan saja. Biarkan semua berjalan sesuai yang diinginkan-Nya. Y200116K

Self Debate (?)

Okay, let's do it this way.. Assalamualaikum |Waalaikumsalam | Bagaimana kabarmu? |Kabarku baik. Bagaimana denganmu? |alhamdulillah aku juga baik-baik saja| --- And then what? Aaargghh it's too formal, seriously --" Okay, let's make it simpler.. Assalamualaikum, apa kabar? | Waalaikumsalam alhamdulillah baik, kamu? | Alhamdulillah baik juga |--- And.... end? Huffft Uh come on, it is NOT that difficult. It IS Then you're going to keep silent? Forever? Of course not Then how? No idea T.T Then you're going to wait for him to start a conversation? Wait, him? Hm.hm.. Hey what are we talking about? Haish, do not pretend that it is NOT about him Eh? I.. I don't get it I am part of you. I know you like you know yourself, or even better. So, don't try to fool me and pretend that we have different object of this conversation But I .. I... Oh come on, be honest to yourself. Listen to your deepest feeling and mind, and e...

Bukannya kami masih berpanas hati, tapi...

Malam ini penyulut datang dari kawanku sendiri. Seorang yang, yah aku akui mengagumkan. Namun apakah itu berarti ia berhak berkata demikian? "Tidak sedikit orang yang menganggap posisi kami merupakan posisi yang tidak menguntungkan bahkan merugikan. Banyak diantara mereka yang secara terang-terangan mengolok olok kami. Ada juga yang malah menampakkan keibaan seolah kami adalah tawanan perang yang entah kapan akan dilepaskan. Mengenaskan, mungkin demikian yang tergambar dalam benak mereka. Ada pula yang terus menerus mengulang tanya klise, mengapa mau berada dalam posisi itu? Apakah tidak ada pilihan yang lebih baik? Memang bisa dikatakan langkah kami sejatinya baru labas setapak. Baru kurang lebih enam bulan kami menjalani posisi ini. Sejak awal, bahkan sebelum kami benar benar memulai jalan ini, sudah banyak tanda tanya yang menggayut pada benak orang di sekitar. Sebuah tanya yang kebanyakan bermuara pada stigma tak baik dan ketidaksetujuan pada keputusan kami. Sedih? Mungkin...

Akan ada akhir kok..

Seharusnya, adanya frasa hari akhir dan adanya keyakinan atas itu memberikan pengingat bagi diri untuk terus mempercayai bahwa segala sesuatu pasti berakhir. Y ang buruk, menyebalkan, menyesakkan, melelahkan, menggusarkan, menyusahkan, memilukan, tentu akan berakhir.  Pun sama.  Yang membahagiakan, menyenangkan, mengundang senyuman, menenangkan, menggembirakan, menyejukkan, menceriakan, pasti juga akan berakhir.