Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2014

KIDUNG DARI BINTANG, REMBULAN, HUJAN, DAN AKU

Perihal Bintang Aku adalah Bintang. Takdirku adalah sebagai Bintang. Aku diberi amanah oleh Sang Pencipta berupa cahaya yang harus aku pancarkan. Pemeran energi paling utama bagi temanku, Bumi. Maka dalam takdirku ini aku berbahagia. Aku adalah Bintang. Takdirku adalah sebagai Bintang. Dan takdirku adalah tinggal di angkasa. Dan dalam takdirku inilah aku mengenal sahabatku, Rembulan. Ia sahabatku yang baik, ia temanku yang mengerti. Sejauh ini dekat dengannya menyenangkan. Kami berdua melukis hari-hari bergantian. Menuliskan kisah takdir masing-masing dalam tiap jejak kami. Dalam takdirku aku mengerti apa itu persahabatan. Apa itu saling memiliki. Apa itu rasa sayang. Maka aku berbahagia karena dapat mengenali itu semua. Ia Debu. Aku mengenalnya dulu sekali. Ia menyenangkan sebagai teman. Ia menunjukkanku banyak hal mengasyikkan di luar sana. Ia yang mengajarkanku tarian kesenangan. Ia membawaku ke tempat-tempat baru. Ia mengenalkanku pada ‘benda’ itu. Ia mengenalkan a...

Tawa Rosmala Terantuk Meja

Tokoh Rosmala          : gadis kecil periang dan selalu ingin tahu Ulum               : bocah laki-laki dua tahun lebih tua daripada adiknya, Rosmala Kinanti             : gadis berusia enam belas tahun, merupakan kakak sulung Ulum dan Rosmala Mak                 : ibu Kinanti, Ulum dan Rosmala. Adegan I   Di ruang tamu. Ulum, bocah laki-laki berumur sekitar delapan tahun sedang sibuk dengan alat-alat menggambarnya. Sedangkan adiknya, Rosmala, sedang bermain bola bekel sendirian. Rosmala:         (berlari kecil sambil menggenggam bola bekel) Mas Ulum sedang apa? (duduk disamping Ulum sambil melongokkan kepala ingin tahu) Ros boleh lihat tidak, Mas? Ulum:      ...

Pokok Asal

Percaya atau tidak, saat aku mulai mengetikkan kalimat-kalimat ini, jam telah menunjukkan angka 00.25! iya, aku begadang. Tadi sengaja minum kopi sih. Sempat belajar lumayan banyak juga dan ngerjain soal-soal. Jangan salah, Mai Arkarna juga bisa begadang dan betah melek malem kok. Yah walaupun besok pagi entah bakal terbangun jam berapa. Semoga saja nggak kesiangan subuhnya. Lagipula masak iya sih besok bunda kesini eh Mai masih tidur? Nggak lah yaw. Oke, malam ini mau bahas apa ya? Gerimis diluar terdengar rerintikan. Disini hening saja yang tersisa. Sesaat lalu terdengar gumaman pelan tak jelas dari salah satu dari mereka. Mengigau tampaknya. Biarlah, takkan kuganggu mimpi mereka tentunya. Aku masih terjaga, tentu selain artian terjaga dua malaikat, aku memang masih terjaga. Sengaja menahan diri agar tak segera tidur. Masih banyak hal yang harus kulakukan untuk melanjutkan kehidupan. Aku Mai Arkarna. Apakah aku telah memiliki tujuan hidup? Aku ingin bermanfaat untuk orang...

Permulaan

“Seperti jamak menimpa seorang pemula, terbuang setelah madu mulia habis terhisap, sekiranya ia tak mulai tradisi menggunakan pers sebagai alat perjuangan dan pemersatu dalam masyarakat heterogen seperti Hindia, bagaimana sebuah nation seperti Indonesia akan terbentuk?” – Pramoedya Ananta Toer