Langsung ke konten utama

Makan Malam



Seseorang dari gunung
Mengundang kita. Saya dan kamu diajaknya
Makan malam
Saya bilang iya
Eh kamu juga bilang iya
Kalau saja saya tahu kamu
Bilang iya. Saya takkan bilang iya
Lah, jangan-jangan kamu ikut tidak bilang iya.

Ke gunung
Saya lewat kota
Eh kamu bergerilya

Di gunung
Saya melihat kamu sudah berdiri di depan pintu
Saya tergugu

Pada makan malam
Seseorang itu rupanya belum memasak
Diajaknya saya memasak
Eh diam-diam kamu ke rumah tetangga
Meminjam dapurnya untuk memasak

Dimulai makan malam
Saya bersama seseorang itu menyajikan masakan kami
Eh kamu tiba-tiba masuk membawa masakanmu
Dan seseorang itu mencicipinya
Dan ia memujimu
Hmm

Tepat dimulai makan malam
Seseorang itu menyilakan kita duduk
Saya di kanannya
Eh kamu di kirinya
Bahkan kamu menggeser kursi
Lebih dekat ke sisinya

Seseorang itu bertanya tentang diri saya
Eh kamu bertanya padanya lebih jauh
Menyela

Di tengah makan malam
Saya menyeruput sup
Kamu juga
Saya menghendaki anggur merah
Kamu juga
Saya menyendok puding
Kamu juga
Ah, jangan-jangan saya menenggak racun pun
Kamu juga?
Saya mengunyah rumput
Kamu mau juga?

Saya terganggu
Ingin saya memalam mata
Memalam juga telinga
Eh kamu mengubraknya
Memaksa saya menyeduh segala sakit
Hingga tandasnya

Tolong berhenti!

*Buat kamu, yang seperti air pada lompong di belakang rumah saya.

Yogyakarta, 15 Maret 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Day 25 Share 1 story about hikmah ramadan!

'Cinta terlarang' kami memang sudah semestinya berakhir, semoga selamanya~ Saya dan pusing adalah sepasang yang mulanya selalu bersama. Setiap hari setidaknya pasti ada satu momen dimana saya berjumpa dengannya. Pusing yang saya maksud adalah tipe yang rasanya muter sampai badan seperti mau ambruk. Ini terutama saya rasakan kalau berpindah posisi tubuh secara tiba-tiba. Misalnya dari rebahan langsung duduk atau dari duduk langsung berdiri. Perlu waktu beberapa detik penyesuaian sambil memejamkan mata dahulu agar berhasil stabil. Kalau dilihat dari tekanan darah sebenarnya memang konsisten cenderung lebih rendah daripada orang lain pada umumnya. Tapi setelah berkonsultasi dengan suster sekolah katanya itu bukan masalah, karena setiap orang punya kisaran normalnya sendiri. Dugaan lain yang menjadi penyebabnya adalah rendahnya kadar hemoglobin dalam darah saya. Iya yang ini cukup terbukti sih. Sudah pernah saya periksakan juga dan memang demikian hasilnya. Saat sedang dalam hari...

Saya dan Rasa Lain yang Lucu

 Rasanya belum lama sejak terakhir menulis tentang rasa suka yang lucu. Rasa. Suka. ... yang sekejap menjadi tidak lucu lagi. Barangkali mimpi itu hanya canda. Bunga tidur yang mengada-ada. Tapi bisa juga ia adalah pertanda. Bahwa yang dinanti tak kunjung tiba, sebenarnya memang sudah selesai tak bersisa. Senangnya, saya biasa saja. Ya! Ini adalah rasa yang lucu. Saya sendiri heran. Pernyataan-pernyataan dari seseorang berhasil membuat saya berpindah haluan. Yang dulu disimpan, kini betulan berhasil diikhlaskan. Saya tidak menyangka. Saya tersadar dibuatnya. Yang sebenarnya dipertahankan bukanlah murni rasa sayang pada orangnya. Namun lebih kepada momennya yang telah terjalin lama. Lalu selanjutnya apa? Tidak tahu juga. Setidaknya untuk saat ini belum ada rencana untuk mengapa-apakan kotak rasa saya.  .  . . Yang pasti saya ketahui saat ini, bubuk kopi darimu sudah tak tersisa untuk diseduh dan dinikmati lagi.   Y281121K -selalu ada yang lain

#Day 11 Imagine that you are giving a kultum, what will you tell?

  Wabah: Pengingat tentang Terbatasnya Waktu Kita   Pandemi! Itu adalah status COVID-19 saat ini. Pandemi menurut WHO dijelaskan sebagai wabah yang sifatnya menyebar global dan mendunia. Meski semula memang ditemukan di Cina, virus ini merebak hingga kini telah mencakup 199 negara (re: saat draft tulisan ini pertama saya buat). Pelan tapi pasti, satu persatu aspek kehidupan kita terpengaruh oleh makhluk kecil tak kasat mata tapi nyata ini. Aspek kesehatan? Tentu signifikan sekali. Aspek ekonomi? Perlahan terguncang terganggu keseimbangannya. Aspek sosial? Manusia dipaksa berjauhan secara fisik, social distancing istilahnya. Masih banyak yang harus dirinci bila ingin mendeskripsikan betapa dahsyat dampak yang virus ini berikan. Namun bagaimanapun, setiap yang telah ditakdirkan oleh-Nya tentu membawa hikmah tersendiri bagi orang orang yang mau bertafakur dan merenungi sisi positif dengan bijaksana. Walau mungkin saat ini dunia sedang berduka, mari kita tilik sisi...