Langsung ke konten utama

Bukannya kami masih berpanas hati, tapi...

Malam ini penyulut datang dari kawanku sendiri. Seorang yang, yah aku akui mengagumkan. Namun apakah itu berarti ia berhak berkata demikian?

"Tidak sedikit orang yang menganggap posisi kami merupakan posisi yang tidak menguntungkan bahkan merugikan. Banyak diantara mereka yang secara terang-terangan mengolok olok kami. Ada juga yang malah menampakkan keibaan seolah kami adalah tawanan perang yang entah kapan akan dilepaskan. Mengenaskan, mungkin demikian yang tergambar dalam benak mereka. Ada pula yang terus menerus mengulang tanya klise, mengapa mau berada dalam posisi itu? Apakah tidak ada pilihan yang lebih baik?
Memang bisa dikatakan langkah kami sejatinya baru labas setapak. Baru kurang lebih enam bulan kami menjalani posisi ini. Sejak awal, bahkan sebelum kami benar benar memulai jalan ini, sudah banyak tanda tanya yang menggayut pada benak orang di sekitar. Sebuah tanya yang kebanyakan bermuara pada stigma tak baik dan ketidaksetujuan pada keputusan kami. Sedih? Mungkin. Sesak? Mungkin itu lebih tepat. Ya, bagaimanapun, sedikit banyak omongan mereka sempat mempengaruhi kami. Tak jarang kami harus saling menguatkan padahal diri sendiri pun sedang dalam keadaan rapuh. Tak jarang kami harus saling menyediakan bahu untuk menopang sesak hati satu sama lain. Tak jarang kami harus menyediakan sekaan bagi air mata yang menyungai di pipi salah seorang dari kami. Demikianlah. Tak bisa kami katakan bahwa jalan disini adalah mudah. Tak dapat kami nyatakan bahwa perjalanan di tempat ini adalah tiada berbatu.
Namun keajaiban waktu memang benar adanya. Waktu yang setia menjadi penelan masa lalu. Hari terus berlalu dengan segala sajian peristiwanya. Perjalanan kami sudah dimulai. Berangsur angsur kesesakan itu berhasil kami kalahkan dengan keteguhan hati dan dukungan satu sama lain. Air mata sudah mulai kami hemat dan disayangkan untuk ditumpahkan. Sesak hati sudah mulai kami nafikan. Letih diri sudah mulai kami letakkan dalan pelukan. Apakah lisan orang telah kemarau dan kering dari tanya dan kata yang merekahkan putus asa? Tentu saja belum. Apakah batu, kerikil, bara di jalur kami berkurang? Tentu tidak. Yah, bukankah memang hukumnya demikian? Semakin tinggi mendaki semakin berat yang harus dijalani...

Bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Day 25 Share 1 story about hikmah ramadan!

'Cinta terlarang' kami memang sudah semestinya berakhir, semoga selamanya~ Saya dan pusing adalah sepasang yang mulanya selalu bersama. Setiap hari setidaknya pasti ada satu momen dimana saya berjumpa dengannya. Pusing yang saya maksud adalah tipe yang rasanya muter sampai badan seperti mau ambruk. Ini terutama saya rasakan kalau berpindah posisi tubuh secara tiba-tiba. Misalnya dari rebahan langsung duduk atau dari duduk langsung berdiri. Perlu waktu beberapa detik penyesuaian sambil memejamkan mata dahulu agar berhasil stabil. Kalau dilihat dari tekanan darah sebenarnya memang konsisten cenderung lebih rendah daripada orang lain pada umumnya. Tapi setelah berkonsultasi dengan suster sekolah katanya itu bukan masalah, karena setiap orang punya kisaran normalnya sendiri. Dugaan lain yang menjadi penyebabnya adalah rendahnya kadar hemoglobin dalam darah saya. Iya yang ini cukup terbukti sih. Sudah pernah saya periksakan juga dan memang demikian hasilnya. Saat sedang dalam hari...

Saya dan Rasa Lain yang Lucu

 Rasanya belum lama sejak terakhir menulis tentang rasa suka yang lucu. Rasa. Suka. ... yang sekejap menjadi tidak lucu lagi. Barangkali mimpi itu hanya canda. Bunga tidur yang mengada-ada. Tapi bisa juga ia adalah pertanda. Bahwa yang dinanti tak kunjung tiba, sebenarnya memang sudah selesai tak bersisa. Senangnya, saya biasa saja. Ya! Ini adalah rasa yang lucu. Saya sendiri heran. Pernyataan-pernyataan dari seseorang berhasil membuat saya berpindah haluan. Yang dulu disimpan, kini betulan berhasil diikhlaskan. Saya tidak menyangka. Saya tersadar dibuatnya. Yang sebenarnya dipertahankan bukanlah murni rasa sayang pada orangnya. Namun lebih kepada momennya yang telah terjalin lama. Lalu selanjutnya apa? Tidak tahu juga. Setidaknya untuk saat ini belum ada rencana untuk mengapa-apakan kotak rasa saya.  .  . . Yang pasti saya ketahui saat ini, bubuk kopi darimu sudah tak tersisa untuk diseduh dan dinikmati lagi.   Y281121K -selalu ada yang lain

#Day 11 Imagine that you are giving a kultum, what will you tell?

  Wabah: Pengingat tentang Terbatasnya Waktu Kita   Pandemi! Itu adalah status COVID-19 saat ini. Pandemi menurut WHO dijelaskan sebagai wabah yang sifatnya menyebar global dan mendunia. Meski semula memang ditemukan di Cina, virus ini merebak hingga kini telah mencakup 199 negara (re: saat draft tulisan ini pertama saya buat). Pelan tapi pasti, satu persatu aspek kehidupan kita terpengaruh oleh makhluk kecil tak kasat mata tapi nyata ini. Aspek kesehatan? Tentu signifikan sekali. Aspek ekonomi? Perlahan terguncang terganggu keseimbangannya. Aspek sosial? Manusia dipaksa berjauhan secara fisik, social distancing istilahnya. Masih banyak yang harus dirinci bila ingin mendeskripsikan betapa dahsyat dampak yang virus ini berikan. Namun bagaimanapun, setiap yang telah ditakdirkan oleh-Nya tentu membawa hikmah tersendiri bagi orang orang yang mau bertafakur dan merenungi sisi positif dengan bijaksana. Walau mungkin saat ini dunia sedang berduka, mari kita tilik sisi...