Langsung ke konten utama

Umpama Sabar dan Ikhlas



Kutahu, ikhlas dan sabar itu bagaikan sepasang suami istri. Masing-masingnya tak mau dan tak rela untuk dipisahkan. Kehadiran salah satunya tentu menuntut hadirnya yang lain. Mencoba mengundang salah satunya berarti harus siap mengundang keduanya. Mencoba membiarkan salah satunya untuk tinggal berarti harus juga siap memelihara pasangannya. Benar, mereka dua yang menjadi satu.
Kutahu, keduanya demikian. Banyak orang telah memberitahuku. Tapi walau dengan pengetahuanku itu, sungguh nyatanya tetap tak mudah untuk mampu menjamu keduanya sekaligus. Banyak yang harus dikorbankan. Banyak yang harus dikeluarkan sebagai biaya untuk memelihara mereka. Banyak yang harus disiapkan untuk menampung keduanya agar tetap dapat tinggal bersama.
Sabar. Kata mereka untuk menjamu sebuah sabar butuh kesiapan yang besar. Butuh biaya berupa keberanian untuk menyediakan hati yang lapang seluas samudera bahkan lebih. Butuh biaya berupa ketahanan kalbu agar ia tetap mampu menampung segala kesedihan dan kesesakan. Butuh biaya berupa kekuatan mental agar diri dapat kuasa penuh menahan segala amarah yang mungkin menerpa.
Ikhlas. Kata mereka mengundang sebuah ikhlas juga bukalah hal yang dapat dianggap kecil dan tanpa pengorbanan. Butuh biaya berupa kesediaan untuk menyediakan hati selapang padang ilalang bahkan lebih. Butuh biaya berupa kerelaan diri agar dapat siap melepas setiap hela nafas dengan ringan dan tanpa beban. Butuh biaya berupa ketegaran kaki agar dapat menopang tubuh secara penuh kala limbung lemah saat hati sesak menerjang semena-mena.
Kutahu, konsekuensi mengundang keduanya amatlah berat.
Kutahu, niatan mengundang keduanya bukan hal yang dapat dianggap ringan.
Dan ku amat kagum pada mereka yang sungguh mampu menjamu keduanya bagai raja dan ratu dalam hidupnya. Mungkin orang yang demikianlah yang dapat menyilakan sebuah bahagia menetap di hatinya.

Y200116K

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Day 25 Share 1 story about hikmah ramadan!

'Cinta terlarang' kami memang sudah semestinya berakhir, semoga selamanya~ Saya dan pusing adalah sepasang yang mulanya selalu bersama. Setiap hari setidaknya pasti ada satu momen dimana saya berjumpa dengannya. Pusing yang saya maksud adalah tipe yang rasanya muter sampai badan seperti mau ambruk. Ini terutama saya rasakan kalau berpindah posisi tubuh secara tiba-tiba. Misalnya dari rebahan langsung duduk atau dari duduk langsung berdiri. Perlu waktu beberapa detik penyesuaian sambil memejamkan mata dahulu agar berhasil stabil. Kalau dilihat dari tekanan darah sebenarnya memang konsisten cenderung lebih rendah daripada orang lain pada umumnya. Tapi setelah berkonsultasi dengan suster sekolah katanya itu bukan masalah, karena setiap orang punya kisaran normalnya sendiri. Dugaan lain yang menjadi penyebabnya adalah rendahnya kadar hemoglobin dalam darah saya. Iya yang ini cukup terbukti sih. Sudah pernah saya periksakan juga dan memang demikian hasilnya. Saat sedang dalam hari...

Saya dan Rasa Lain yang Lucu

 Rasanya belum lama sejak terakhir menulis tentang rasa suka yang lucu. Rasa. Suka. ... yang sekejap menjadi tidak lucu lagi. Barangkali mimpi itu hanya canda. Bunga tidur yang mengada-ada. Tapi bisa juga ia adalah pertanda. Bahwa yang dinanti tak kunjung tiba, sebenarnya memang sudah selesai tak bersisa. Senangnya, saya biasa saja. Ya! Ini adalah rasa yang lucu. Saya sendiri heran. Pernyataan-pernyataan dari seseorang berhasil membuat saya berpindah haluan. Yang dulu disimpan, kini betulan berhasil diikhlaskan. Saya tidak menyangka. Saya tersadar dibuatnya. Yang sebenarnya dipertahankan bukanlah murni rasa sayang pada orangnya. Namun lebih kepada momennya yang telah terjalin lama. Lalu selanjutnya apa? Tidak tahu juga. Setidaknya untuk saat ini belum ada rencana untuk mengapa-apakan kotak rasa saya.  .  . . Yang pasti saya ketahui saat ini, bubuk kopi darimu sudah tak tersisa untuk diseduh dan dinikmati lagi.   Y281121K -selalu ada yang lain

#Day 11 Imagine that you are giving a kultum, what will you tell?

  Wabah: Pengingat tentang Terbatasnya Waktu Kita   Pandemi! Itu adalah status COVID-19 saat ini. Pandemi menurut WHO dijelaskan sebagai wabah yang sifatnya menyebar global dan mendunia. Meski semula memang ditemukan di Cina, virus ini merebak hingga kini telah mencakup 199 negara (re: saat draft tulisan ini pertama saya buat). Pelan tapi pasti, satu persatu aspek kehidupan kita terpengaruh oleh makhluk kecil tak kasat mata tapi nyata ini. Aspek kesehatan? Tentu signifikan sekali. Aspek ekonomi? Perlahan terguncang terganggu keseimbangannya. Aspek sosial? Manusia dipaksa berjauhan secara fisik, social distancing istilahnya. Masih banyak yang harus dirinci bila ingin mendeskripsikan betapa dahsyat dampak yang virus ini berikan. Namun bagaimanapun, setiap yang telah ditakdirkan oleh-Nya tentu membawa hikmah tersendiri bagi orang orang yang mau bertafakur dan merenungi sisi positif dengan bijaksana. Walau mungkin saat ini dunia sedang berduka, mari kita tilik sisi...