Kutahu, ikhlas dan sabar itu bagaikan sepasang
suami istri. Masing-masingnya tak mau dan tak rela untuk dipisahkan. Kehadiran
salah satunya tentu menuntut hadirnya yang lain. Mencoba mengundang salah
satunya berarti harus siap mengundang keduanya. Mencoba membiarkan salah
satunya untuk tinggal berarti harus juga siap memelihara pasangannya. Benar,
mereka dua yang menjadi satu.
Kutahu, keduanya demikian. Banyak orang telah
memberitahuku. Tapi walau dengan pengetahuanku itu, sungguh nyatanya tetap tak
mudah untuk mampu menjamu keduanya sekaligus. Banyak yang harus dikorbankan.
Banyak yang harus dikeluarkan sebagai biaya untuk memelihara mereka. Banyak
yang harus disiapkan untuk menampung keduanya agar tetap dapat tinggal bersama.
Sabar. Kata mereka untuk menjamu sebuah sabar
butuh kesiapan yang besar. Butuh biaya berupa keberanian untuk menyediakan hati
yang lapang seluas samudera bahkan lebih. Butuh biaya berupa ketahanan kalbu
agar ia tetap mampu menampung segala kesedihan dan kesesakan. Butuh biaya
berupa kekuatan mental agar diri dapat kuasa penuh menahan segala amarah yang
mungkin menerpa.
Ikhlas. Kata mereka mengundang sebuah ikhlas
juga bukalah hal yang dapat dianggap kecil dan tanpa pengorbanan. Butuh biaya
berupa kesediaan untuk menyediakan hati selapang padang ilalang bahkan lebih.
Butuh biaya berupa kerelaan diri agar dapat siap melepas setiap hela nafas
dengan ringan dan tanpa beban. Butuh biaya berupa ketegaran kaki agar dapat
menopang tubuh secara penuh kala limbung lemah saat hati sesak menerjang semena-mena.
Kutahu, konsekuensi mengundang keduanya
amatlah berat.
Kutahu, niatan mengundang keduanya bukan hal
yang dapat dianggap ringan.
Dan ku amat kagum pada mereka yang sungguh
mampu menjamu keduanya bagai raja dan ratu dalam hidupnya. Mungkin orang yang
demikianlah yang dapat menyilakan sebuah bahagia menetap di hatinya.
Y200116K
Komentar
Posting Komentar