Langsung ke konten utama

Mungkin ini sebagai jawab atas banyak tanya yang menganga

Memang ya, nangis itu ampuh dalam mengundang kantuk. Semalam aku berada dalam titik jenuh, saat ledakan lelah raga dan rasa sedang berupaya menjatuhkan asa. Perpaduan kelelahan jasmani, rohani, serta emosi berhasil menempatkanku dalam keadaan stres yang amat menyiksa. Selajutnya aku bisa apa?
Lima kawan pengobat sesak hati kujadikan pilihan. Nihil. Rasaku tak kunjung membaik, malah makin mencekik. Lalu kuputuskan untuk hentikan alir kataku pada mereka, juga pada dunia maya yang lainnya. Aku mengurung diri bersama kecamuk yang masih enggan menepi.
Deadline. Sepertinya itu pemicu utama. Ah tapi tidak juga, karena faktor yang lain pun sama saja kuatnya dalam memberikan tekanan pada aku beserta nama.
Lilin lilinku, beberapanya menolak untuk kunyalakan. Tentu itu membuatku menyulut kesal di sisa hari.
Orang orang proyek. Aku ini pemimpin macam apa? Tak berani menyuarakan dan mengendalikan. Kaku di sana sini. Apa begini yang namanya pertanggungjawaban? Tanyaku makin menghujam.
Ujian. Amanah utama untukku, menyelesaikan belajar dengan sebaik baik mutu. Akankah dapat tercapai harap itu?
Malam memekat, sesakku belum juga mengendap. Dan seperti pada letup ledak rasa yang pernah ada, tampaknya memang harus air mata yang bicara.
Menangis adalah bahasa tertinggiku dalam menyampaikan semua bentuk rasa.
Marahku, bila masih tahap berteriak bahkan sekalipun hingga membanting pintu, itu masih bukan apa apa. Sebab memang level puncaknya adalah bila telah tertumpah air mata, mewakili mulut yang sudah tak kuasa menyampaikan kata.
Bahagiaku, bila tersenyum dan tertawa sering dijadikan simbol senang hati oleh manusia, maka dalam kosa kata hidupku, menangislah yang menjadi verba pamungkasnya.
Lelahku, bila masih berupa raut muka kusut serta sinar netra yang redup, maka itu belum mencapai tingkatan lelah sempurna. Sebab penyampai rasa yang paling paripurna tetaplah air mata.
Keadaanku semalam? Seperti kukata di awal cerita, aku menangis. Tembok pertahanan itu telah runtuh. Bendunganku meluap. Malamku susah sungguh.
Seperti kecamuk berbagai rasa bersepakat menjatuhkanku, terjerembap pada sebuah ketidakpercayaan diri, mengajakku mengingkari bahwa aku masih bisa berlari.
Menangis, menutup diri dari sekitar, mengabaikan tanya kawanku yang sejatinya kutahu mereka hendak membantuku, aku sendiri tak mengerti sebaiknya mengambil pilihan sikap yang bagaimana.
Lalu seperti pada permulaan kalimat, menangis rupanya memang ampuh untuk mengundang kantuk agar kian mendekat. Sisa malam yang sebenarnya masih berukuran tanggung itu kubiarkan terlalui olehku dalam versi alam mimpi. Biar, kupilih menenggelamkan diri sejenak dalam keabaian terhadap lilin lilinku. Kuakui, ego sedang merajai hati.
Melarung nama dan raga pada lautan mimpi, mungkin jadi caraku mengendapkan gelegak aneka rasa pemicu air mata. Sementara. Kukata sementara, sebab bila itu hanya pengendapan bisa saja kala lain endapan itu akan mengeruhkan aku lagi. Entah dalam kadar seberapa. Entah dalam bentuk seperti apa.

Tulisan ini didasari oleh keruh hati pada paruh akhir hari, Selasa, 08 bulan ini.

Y101116K

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Day 25 Share 1 story about hikmah ramadan!

'Cinta terlarang' kami memang sudah semestinya berakhir, semoga selamanya~ Saya dan pusing adalah sepasang yang mulanya selalu bersama. Setiap hari setidaknya pasti ada satu momen dimana saya berjumpa dengannya. Pusing yang saya maksud adalah tipe yang rasanya muter sampai badan seperti mau ambruk. Ini terutama saya rasakan kalau berpindah posisi tubuh secara tiba-tiba. Misalnya dari rebahan langsung duduk atau dari duduk langsung berdiri. Perlu waktu beberapa detik penyesuaian sambil memejamkan mata dahulu agar berhasil stabil. Kalau dilihat dari tekanan darah sebenarnya memang konsisten cenderung lebih rendah daripada orang lain pada umumnya. Tapi setelah berkonsultasi dengan suster sekolah katanya itu bukan masalah, karena setiap orang punya kisaran normalnya sendiri. Dugaan lain yang menjadi penyebabnya adalah rendahnya kadar hemoglobin dalam darah saya. Iya yang ini cukup terbukti sih. Sudah pernah saya periksakan juga dan memang demikian hasilnya. Saat sedang dalam hari...

Saya dan Rasa Lain yang Lucu

 Rasanya belum lama sejak terakhir menulis tentang rasa suka yang lucu. Rasa. Suka. ... yang sekejap menjadi tidak lucu lagi. Barangkali mimpi itu hanya canda. Bunga tidur yang mengada-ada. Tapi bisa juga ia adalah pertanda. Bahwa yang dinanti tak kunjung tiba, sebenarnya memang sudah selesai tak bersisa. Senangnya, saya biasa saja. Ya! Ini adalah rasa yang lucu. Saya sendiri heran. Pernyataan-pernyataan dari seseorang berhasil membuat saya berpindah haluan. Yang dulu disimpan, kini betulan berhasil diikhlaskan. Saya tidak menyangka. Saya tersadar dibuatnya. Yang sebenarnya dipertahankan bukanlah murni rasa sayang pada orangnya. Namun lebih kepada momennya yang telah terjalin lama. Lalu selanjutnya apa? Tidak tahu juga. Setidaknya untuk saat ini belum ada rencana untuk mengapa-apakan kotak rasa saya.  .  . . Yang pasti saya ketahui saat ini, bubuk kopi darimu sudah tak tersisa untuk diseduh dan dinikmati lagi.   Y281121K -selalu ada yang lain

#Day 11 Imagine that you are giving a kultum, what will you tell?

  Wabah: Pengingat tentang Terbatasnya Waktu Kita   Pandemi! Itu adalah status COVID-19 saat ini. Pandemi menurut WHO dijelaskan sebagai wabah yang sifatnya menyebar global dan mendunia. Meski semula memang ditemukan di Cina, virus ini merebak hingga kini telah mencakup 199 negara (re: saat draft tulisan ini pertama saya buat). Pelan tapi pasti, satu persatu aspek kehidupan kita terpengaruh oleh makhluk kecil tak kasat mata tapi nyata ini. Aspek kesehatan? Tentu signifikan sekali. Aspek ekonomi? Perlahan terguncang terganggu keseimbangannya. Aspek sosial? Manusia dipaksa berjauhan secara fisik, social distancing istilahnya. Masih banyak yang harus dirinci bila ingin mendeskripsikan betapa dahsyat dampak yang virus ini berikan. Namun bagaimanapun, setiap yang telah ditakdirkan oleh-Nya tentu membawa hikmah tersendiri bagi orang orang yang mau bertafakur dan merenungi sisi positif dengan bijaksana. Walau mungkin saat ini dunia sedang berduka, mari kita tilik sisi...