Bertemu kawan lama, terlebih secara eksklusif dan pada momen yang eksklusif, kota ini di malam hari bekas jejak gerimis, benar benar berhasil menjadi pengobat rindu yang selama ini menyerap dayaku juga semangatku.
Tentu, sangat kunikmati tiap detik sejak ujung temu. Kami berdua saja, di bawah gerimis yang seperti mempermainkan kami apakah ia patut dihalau dengan payung atau dibiarkan saja lembut memeluk jalanan kota.
Kami bercerita panjang sekali sambil menghabiskan makan malam di tepi jalan besar itu. Sesungguhnya dalam tiap suapku kuharap itu bukan yang terakhir, juga kata dalam cerita itu bukan yang penghabisan, sebab kuingin malam ini memanjang dan waktu temu itu tidak cepat usai.
Tapi bagaimanapun, dimana ada pangkal maka disitu ada ujung. Begitu pula pada sebuah temu. Seingin apapun aku memanjangkan waktu, perpisahan kembali sudah mengajak kami pulang.
Tiap langkah yang kami tapaki menuju halte bis kurasa berat dan cukup ampuh dalam mengundang sesak hati. Jalan bercabang banyak, ia jadi saksi bahwa temu kami berakhir tak lama lagi. Ingin rasanya halte bis itu kuminta mundur, berpindah lebih jauh lagi. Sebab pada tapak menujunya, kami berdua saja memunguti detik yang tersisa.
Malam masih muda. Mengapa sebuah pulang sudah begitu tega?
Remah remah waktu makin habis setiba kami di halte bis. Jalur kami berbeda. Sepotong pulang menjemput kawan itu lebih dahulu. Meninggalkan aku yang masih tergugu menyadari sesuatu, temu baru usai sedetik lalu namun sekarang aku sudah rindu?
Malam sebenarnya belum juga menua. Sekerat pulang membawaku turut serta.
Sepotong bahagia menyelinap sebagai buah tangan. Kembalinya bara semangat kini bukan lagi sekadar angan. Tentu terimakasih tak lupa kukirimkan, istimewa khusus buatmu kawan.
Y18231116K
Tentu, sangat kunikmati tiap detik sejak ujung temu. Kami berdua saja, di bawah gerimis yang seperti mempermainkan kami apakah ia patut dihalau dengan payung atau dibiarkan saja lembut memeluk jalanan kota.
Kami bercerita panjang sekali sambil menghabiskan makan malam di tepi jalan besar itu. Sesungguhnya dalam tiap suapku kuharap itu bukan yang terakhir, juga kata dalam cerita itu bukan yang penghabisan, sebab kuingin malam ini memanjang dan waktu temu itu tidak cepat usai.
Tapi bagaimanapun, dimana ada pangkal maka disitu ada ujung. Begitu pula pada sebuah temu. Seingin apapun aku memanjangkan waktu, perpisahan kembali sudah mengajak kami pulang.
Tiap langkah yang kami tapaki menuju halte bis kurasa berat dan cukup ampuh dalam mengundang sesak hati. Jalan bercabang banyak, ia jadi saksi bahwa temu kami berakhir tak lama lagi. Ingin rasanya halte bis itu kuminta mundur, berpindah lebih jauh lagi. Sebab pada tapak menujunya, kami berdua saja memunguti detik yang tersisa.
Malam masih muda. Mengapa sebuah pulang sudah begitu tega?
Remah remah waktu makin habis setiba kami di halte bis. Jalur kami berbeda. Sepotong pulang menjemput kawan itu lebih dahulu. Meninggalkan aku yang masih tergugu menyadari sesuatu, temu baru usai sedetik lalu namun sekarang aku sudah rindu?
Malam sebenarnya belum juga menua. Sekerat pulang membawaku turut serta.
Sepotong bahagia menyelinap sebagai buah tangan. Kembalinya bara semangat kini bukan lagi sekadar angan. Tentu terimakasih tak lupa kukirimkan, istimewa khusus buatmu kawan.
Y18231116K
Komentar
Posting Komentar