Perihal Bintang
Aku adalah Bintang. Takdirku
adalah sebagai Bintang. Aku diberi amanah oleh Sang Pencipta berupa cahaya yang
harus aku pancarkan. Pemeran energi paling utama bagi temanku, Bumi. Maka dalam
takdirku ini aku berbahagia.
Aku adalah Bintang. Takdirku adalah sebagai Bintang. Dan takdirku
adalah tinggal di angkasa. Dan dalam takdirku inilah aku mengenal sahabatku,
Rembulan. Ia sahabatku yang baik, ia temanku yang mengerti. Sejauh ini dekat
dengannya menyenangkan. Kami berdua melukis hari-hari bergantian. Menuliskan
kisah takdir masing-masing dalam tiap jejak kami. Dalam takdirku aku mengerti
apa itu persahabatan. Apa itu saling memiliki. Apa itu rasa sayang. Maka aku
berbahagia karena dapat mengenali itu semua.
Ia Debu. Aku mengenalnya dulu
sekali. Ia menyenangkan sebagai teman. Ia menunjukkanku banyak hal mengasyikkan
di luar sana. Ia yang mengajarkanku tarian kesenangan. Ia membawaku ke
tempat-tempat baru. Ia mengenalkanku pada ‘benda’ itu. Ia mengenalkan aku pada
rasa itu. Rasa yang nanti aku tahu ia akan mencekikku perlahan. Rasa yang esok
hari aku tahu mendorongku dalam jurang berbahaya bernama ‘Penyesalan’. Rasa
itu. Aku telah jatuh cinta pada Debu. Ia yang membuatku mencintainya.
Debu itu siapa?
Itu pertanyaan dari Rembulan. Debu itu siapa ya? Aku tak
dapat mendefinisikannya sejak rasa cintaku padanya bertumbuh. Ia temanku, tapi
itu dulu. Ia kekasihku, mungkin suatu saat akan begitu. Lalu ia siapa? Aku tak
mengerti benar. Ah, lagipula apa peduliku. Yang aku tahu ia pandai membuatku
senang. Ia sering mengatakan aku cantik. Dan aku suka itu. Kami semakin sering
main bersama. Menggambari hari demi hari dengan canda tawa berdua. Namun entah
mengapa saat aku menceritakan kisah kami pada Rembulan, Rembulan hanya
menunjukkan rupa redup dan berkata, hati-hati Bintang.
Maka di kemudian malam aku paham
apa arti hati-hati...
Aku adalah Bintang. Takdirku
berkata demikian. Dan dalam takdirku aku sangat ingin tak pernah merasa kecewa.
Namun mungkin takdir tak selalu menjadi apa yang kita inginkan. Bintang juga
dapat merasa kecewa. Maka malam itu aku sungguh kecewa. Dan aku menangis. Semua
kesedihan, kekecewaan, kemarahan aku tumpahkan dalam tangis yang aku
perdengarkan pada Rembulan. Ia memandangiku tanpa berkata apa-apa. Ia telah
lebih dari tahu segala tentangku. Dan tentu ia tahu dalam situasi seperti ini
Bintang hanya ingin didengar. Tangisku terus menganak sungai mengaliri kedua
pipiku. Cahayaku makin meredup. Dan hal itu sangat berpengaruh pula pada kecerlangan
cahaya milik Rembulan. Maka dalam kebimbangannya ia memberanikan diri bertanya,
ada apa?
Aku menguraikan semuanya. Aku
memaparkan menceritakan segalanya. Ini semua perihal Debu. Debu itu terlaknat!
Umpatku demikian. Debu sangat tega padaku! Setelah sekian tahun ia mendekap
aku, menerbangkan aku melewati semesta tempat tinggalku, kini menghujamkan aku
pada tempatku berpijak. Menyakitkan. Sungguh, aku baru menyadari apa arti pesan
Rembulan hari-hari lalu, hati-hati Bintang. Memang Debu harus diwaspadai. Ia
telah menipuku. Melenakan aku. Membohongi aku. Dengan pujian ia mencekikku
perlahan. Dengan tarian ia mencelakaiku pelan-pelan. Apa yang sebenarnya
terjadi? Rembulan bertanya lagi. Maka dengan sisa tangisku yang tak kunjung
mereda, Debu telah memiliki kekasih, kataku lirih.
***
Perihal Rembulan
Kau yang selama ini dekat
denganku. Berbagi cerita, berbagi canda. Aku mengenalmu sejak dulu, kau gadis
yang periang, cerdas, ramah, murah senyum, dan selalu membuatku bahagia. Dan
kau, cantik. Maka izinkan aku jujur,
kau bukanlah temanku! Tapi kau lebih, aku mencintaimu. Menyayangimu sejak
bertahun yang lalu. Aku tak pernah dapat menyadari kapan perasaan ini mulai
bermetamorfosis. Semuanya bertumpuk-tumpuk tak dapat kuurai. Yang pasti aku
selalu menunggumu. Menunggu kapan waktu itu akan tiba. Waktu dimana kau
menyadari apa-apa yang aku lakukan untukmu, apa-apa yang aku perbuat demi kamu.
Maka sedari dulu pula doaku adalah itu. Aku harap kau segera sadar dan
terbangun, mengerti bahwa aku selalu ada, selalu ada untukmu.
Telah kudengar keluhmu, riangmu,
dilemamu, hingga segala kegilaanmu. Kurasa aku telah lebih dari sekedar tahu
tentangmu. Aku mengerti apa yang ada dalam dirimu. Apa yang kau sukai, apa yang
kau alami, hingga siapa yang kau kagumi. Maka tiap kali kau ceritakan perihal
Debu itu, sungguh itu sama halnya dengan kau menyayat-nyayat tiap senti tubuhku
dan tiap mili hatiku. Aku menangis dalam diam. Aku memberontak dalam hening.
Aku marah dalam segala sunyi. Dan aku tersungkur dalam malam-malamku untuk kesekian
kalinya. Maka apakah kau merasainya? Ah, kupikir tidak. Sudah kubilang, aku
telah mengetahui segala tentangmu. Dan kau itu jelas bukan jenis gadis perasa.
Apa yang kau pikirkan tentang kata
‘sekian’? berakhirkah? Tidak. ‘Sekian’ dalam kamus takdirku berarti beberapa
atau banyak. Maka bila aku mengatakan sekian tahun, itu bermakna demikian.
Beberapa tahun. Banyak tahun. Bertahun-tahun. Apa? Bertahun-tahun aku
menunggumu. Kau yang dalam bertahun-tahun itu sedang asyik menari tanpa arah
terang bersama Debu. Mengganggu jalur sana-sini seenaknya. Mengganggu kehidupan
angkasa. Itu bukan pendapatku melainkan penduduk langit lainnya. Maka dengan
diriku tak begitu jua. Bukan menarimu yang mengusikku. Namun lebih kepada dimana
tarianmu, bersama Debu. Entahlah, aku tak pernah bisa benci atas yang kau
lakukan. Aku tak pernah dapat jengkel ataupun sebal padamu. Apakah ini dampak
dari aku yang mencintaimu?
Angkasa ini, tempat tinggal kita.
Aku tahu, bukan hanya kamu Bintang dalam semesta ini. bukan hanya kau Bintang
yang dapat bercahaya karena memang Bintang dapat memancarkan cahaya
setiap-setiapnya. Tapi asal kamu tahu, kamu tetaplah satu-satunya Bintang yang
mengisi takdirku. Kamu adalah Bintang yang mengisi diriku. Kamu satu-satunya
Bintang yang mampu berikan cahaya pada wajahku. Kamu satu-satunya Bintang yang
membuatku nampak indah dimata segala penghuni Bumi. Aku berada karena kau ada.
Maka jangan biarkan aku meredup. Karena aku tak ingin segala yang berpijak pada
planetku muram tak menemukan aku di malam-malam mereka. Aku kehilangan
cahayaku. Jangan hingga demikian. Aku mohon. Maka jangan kau buat aku menunggu
terlalu lama lagi. Maka malam ini aku memutuskan untuk menawarkan sebuah tali
pengikat di antara kita. Aku menawarkannya dengan segala kerendahan hati. Menawarkannya
dengan segala kedamaian hati. Maka sudikah engkau menerimanya wahai Bintangku?
***
Perihal Hujan
Bagaimanapun, Rembulan itu hanya
untuk Bintang. Bagaimanapun sangkalan yang kau berikan, berapapun alasan yang
kau paparkan, tak akan ada yang dapat membantahnya. Dari dulu sejak Rembulan
ditakdirkan ada, ia ditakdirkan pula untuk dekat dengan Bintang. Tinggal
bersama di langit yang sama membuat makin mengenal satu sama lain.
Sedari dahulu, aku mengenal
Rembulan dan Bintang, walau sebenarnya aku tak pernah secara resmi menyebutkan
nama pada mereka. Sekali lagi, waktu yang berbaik hati menjadi perantara
semuanya. Aku menganggap kami bertiga dekat. Namun semua tahu bahwa sebenarnya
mereka tinggal jauh di langit tinggi sana. Hanya orang-orang dengan roket canggih
yang bisa mengantar hingga menyentuh Rembulan. Sedang aku? Ah, hanya sebagai
pungguk. Pungguk yang merindukan Rembulan. Ya! Aku akui, aku memang merindukan
Rembulan. Selalu. Setiap malamku diisi dengan untaian kata rinduku padanya.
Buku harianku dipenuhinya dengan rinduku jua.
Aku selalu merindukan Rembulan.
Tapi bukankah rindu itu banyak macamnya? Maka rinduku tak harus terucap bukan?
Biar saja. Lagipula bila aku berteriakpun maka suaraku hanya akan hilang
ditelan angin, tak terdengar olehnya. Tak hingga tersampai padanya. Maka hanya
titik-titik rinduku yang menghujam mengguyur bumi tempatku berpijak. Lantas
hilang terserap akar-akar pohon. Bila ada yang menguap maka ia hanya akan
membumbung hingga beberapa kilometer di atas sana. Tak sampai terdengar oleh
sang Rembulan.
Sedang dengan Bintang, aku lebih
sering bersamanya. Sering kami berbincang. Lebih tepatnya aku yang banyak
menjadi pendengar ia bercerita. Tentang banyak hal. Sering ia bercerita tentang
Bintang-Bintang lain teman-temannya. Pernah pula sesekali bercerita tentang
benda-benda langit yang bila boleh jujur aku tak begitu paham. Maka aku hanya
mengangguk ataupun memberi pertanyaan sederhana untuk lebih mengakrabkan diri
dengannya. Aku senang-senang saja dengan peranku itu. Hingga suatu saat Bintang
menyinggung tentang sang Rembulan. Dan aku tersedak seketika.
***
Perihal Bintang
Tawaran macam apa itu??
Aku terkejut. Bintang ini dapat
terkejut juga. Mengapa ia? Mengapa darinya yang datang? Rembulan. Sahabatku
sendiri. Aku memandanginya dengan warna muka tak percaya. Aku hanya bisa diam
menatapnya dalam-dalam. Entah harus bagaimana reaksi dan jawaban yang harus aku
berikan. Apakah aku harus menjawab iya?
Malam itu saat tanggal menunjukkan
angka yang cantik katanya. Di Bumi sedang mendung. Aku melirik melihat
segerombolan anak sekolah berbalapan lari pulang demi menghindari kehujanan.
Saat itulah tiba-tiba Rembulan telah berdiri di belakangku dan menyebut namaku.
Tampaknya semalaman ia tak tidur. Matanya berlingkar mengungu sedikit merah.
Tapi senyumnya tetap merekah sama manisnya dengan tiap kali kami bersua. Cukup
lama ia hanya mematung disana. Tidak biasanya dia seperti itu. Maka aku
bingung.
Maka
sebelum aku benar-benar memutuskan pergi dan menutup perjumpaan kami, dengan
pelan nyaris tak terdengar, kalimat itu mengalir dari lisannya. Pelan sekali.
Tapi Bintang juga dapat mendengar. Maka karena kalimat itu, aku pun membatu.
Bintang ini membeku wahai Hujan!
Kulirik
kembali Bumi. Kini Hujan benar-benar telah membasuh memandikannya.
***
Perihal Hujan
Aku menangis seketika. Deraiku
berleleran membasahi apa-apa yang ada. Aku yang saat itu diam-diam ikut
menyimak percakapan dua temanku, Bintang dan Rembulan, seketika berguguran.
Luruh terjatuh menyuruk Bumi. Kalimat itu. Tawaran itu. Terucap oleh Rembulan
padanya. Maka karenanya aku kehilangan daya. Lemas berjatuhan tepat bersama
jatuhnya air mata pertamaku.
Maka sejak itu aku tahu. Sama
seperti rindu, cinta itu mengambil berbagai bentuk dan jenis. Ada yang kala ia
terucap memang sudah demikian seharusnya dan karenanya cinta itu mekar indah di
jiwa keduanya. Ada pula bentuk dimana ia memang tak perlu terkatakan, yang pasti akan ada banyak jalan untuk
mengingatkan seseorang untuk tak gegabah buru-buru menyatakan benda bernama
‘cinta’.
Maka sejak itu aku mengerti,
takdirku adalah sebagai hujan. Aku adalah Hujan. Tidak pantas bila hujan memeluk
rembulan. Yang bersanding dengannya adalah bintang. Di langit yang sama mereka
tinggal. Disanalah tempat mereka melukis kisah. Maka memang aku adalah hujan.
Hujan yang sejatinya akan luruh turun kembali pada bumi sejauh apapun ia ingin
berkelana. Sejauh apapun ia menginginkan berlari tetap bumi adalah tempatnya
kembali. Ya! Bumi adalah tempatku kembali. Setidaknya untuk sejenak menamatkan
lara hati.
Maka sejak itu aku paham sekali,
aku adalah Hujan. Dan rinduku pada Rembulan tak akan terucap, melainkan hanya
terserap akar pohon milik Bumi.
***
Perihal Aku
Aku adalah Rembulan. Benarkah Rembulan itu
hanya milik Bintang? Maka sejak malam penawaranku itu aku tahu. Kalimat itu tak
sejatinya benar. Bintang tak menganggapku lebih dari teman, tempat
berceritanya. Takdir kami bagai berada pada garis berbeda namun sejajar.
Beriringan namun tak akan pernah bersatu.
Aku adalah Bintang. Katanya,
Rembulan itu hanya milik Bintang. Apakah aku harus selalu membuat kalimat itu
benar? Ah, aku memutuskan untuk tidak.
Aku adalah Hujan. Di mataku memang
Rembulan itu hanya untuk bintang. Tapi kau akan bertanya, memangnya hujan punya
mata?
Dan aku adalah Bumi. Aku tidak
peduli bila Rembulan hanya untuk Bintang. Yang aku tahu, aku selalu bersedia
menjadi tempat kembali untuknya, untuk Hujan. Yang aku pertanyakan, apakah
Hujan merasainya?
26 Januari 2014

Komentar
Posting Komentar