Tokoh
Rosmala : gadis kecil periang dan selalu ingin tahu
Ulum : bocah laki-laki dua tahun lebih tua daripada adiknya, Rosmala
Kinanti : gadis berusia enam belas tahun, merupakan kakak sulung Ulum dan Rosmala
Mak : ibu Kinanti, Ulum dan Rosmala.
Adegan I
Di ruang tamu. Ulum, bocah laki-laki berumur sekitar delapan tahun sedang sibuk dengan alat-alat menggambarnya. Sedangkan adiknya, Rosmala, sedang bermain bola bekel sendirian.
Rosmala: (berlari kecil sambil menggenggam bola bekel) Mas Ulum sedang apa? (duduk disamping Ulum sambil melongokkan kepala ingin tahu) Ros boleh lihat tidak, Mas?
Ulum: (tanpa menoleh) Ndak! Kamu main saja sana! Jangan mengganggu!
Rosmala: Ros ndak mau ganggu kok, Rosmala cuma kepingin lihat. Boleh ya, Mas? (tangan kanannya berusaha menarik kertas dari tangan Ulum.)
Ulum: (mempertahankan kertasnya) Ndak boleh!
Kreekkk..... terdengar suara kertas robek.
Rosmala: (hidungnya bergerak-gerak, matanya mulai berair) Mmm maaf Mas... hiks... hiks...
Ulum: Maaf maaf! Memangnya maafmu bisa mengembalikan gambaranku hah?! Anak nakal (mengangkat kuasnya tinggi-tinggi)
Rosmala: Ros ndak sengaja, Mas. Maaf... (mengusap pipinya. Bola bekelnya telah menggelinding entah kemana)
Ulum: (berlari ke ruang tengah tanpa menghiraukan adiknya)
Adegan II
Di panggung tampak suasana ruang tengah sebuah rumah. Satu set sofa tua dan meja ukuran setengah meter kali setengah meter bertaplak motif batik. Di dinding kanannya tergantung kaligrafi lafadz Muhammad yang tampak sedikit berdebu. Di bagian kiri ruangan duduk sebuah televisi 12 inci dan di sebelahnya berdiri kipas angin yang mengahadap dipan ukuran dua orang dengan seprai pudar namun tertata rapi.
Ulum: (menghentakkan kaki) Rosmala lagi! Rosmala lagi! Sedikit-sedikit menangis! Sedikit-sedikit merajuk! Selalu dibela! Semua orang pasti membelanya! (melempar sandal sembarangan lantas mengawut-awut seprai)
Mak: (tergopoh-gopoh dari dapur ke ruang tengah) Ada apa to le? Kenapa teriak-teriak? Bertengkar lagi?
Ulum: (melempar sandal satunya) Benar kan! Mak selalu membela Rosmala! Dia yang salah Mak! Ros merobek gambarku!
Mak: (wajah bingung. Lantas mendekati Ulum dan mengelus rambut putranya) Lho gimana to le? Memangnya Mak membela Ros? Mak kan cuma ta...
Ulum: (mengibaskan tangan Mak dan bergegas lari ke kamar serta membanting pintunya)
Kinanti: (dengan wajah terkejut berjalan cepat dari beranda ke ruang tengah) Ada apa Mak? Ulum dan Ros lagi, ya?
Mak: Kamu seperti tidak kenal adik-adikmu saja, Ti? (membetulkan posisi jarit) Ajak bicara baik-baik Ulum, Nduk. Dia kan nurut sama kamu. Mak ke belakang dulu ya. (melangkah ke dapur)
Kinanti: Ya Mak (berjalan ke kamar Ulum)
Adegan III
Kinanti: (hendak mengetuk pintu kamar Ulum)
Rosmala: (menghampiri Kinanti) Mbak...
Kinanti: (menoleh) Kenapa Ros? Habis bertengkar sama Mas Ulum lagi ya?
Rosmala: (menangis lagi) Huhuhu... Ros nggak sengaja Mbak. Ros cuma ingin lihat. Tapi malah sobek gambarnya.
Kinanti: (tersenyum) Iya iya. Ya sudah sekarang Ros main lagi sana biar Mbak Anti yang nuturi masmu, ya?
Rosmala: (mengangguk dan menyeka pipinya) iya Mbak. Bilang ke mas, Ros minta maaf ya Mbak. (kembali ke beranda rumah)
Kinanti: (mengetuk pintu) Boleh Mbak masuk Lum?
Ulum: Tidak dikunci Mbak.
Kinanti: (membuka pintu dan menuju dipan Ulum)
Ulum: Kenapa Mbak? (dengan nada ketus sambil tetap sibuk dengan kertas di tangannya)
Kinanti: Justru Mbak Anti yang harusnya bertanya kenapa. (duduk di samping Ulum)
Ulum: Berarti ndak ada apa-apa. (beralih posisi menghadap jendela membelakangi Kinanti)
Kinanti: Sekarang Ulum umurnya berapa?
Ulum: (tidak bergeming)
Kinanti: Mbok ya dijawab to dek.(menghela nafas)
Ulum: (membalik badan menghadap Kinanti) Delapan, bulan depan sembilan. Masak Mbak
lupa?
Kinanti: Ooo masih kecil ya ternyata.
Ulum: Ulum bukan anak kecil Mbak! Ulum sudah besar!
Kinanti: Lho iya to? (tertawa kecil)
Ulum: Ulum sudah mau sembilan tahun, Mbak! (wajahnya memerah marah. Memalingkan muka ke jendela)
Kinanti: Itu tahu kalau sudah besar. Tapi kok tadi masih teriak-teriak?
Ulum: Tapi Ros yang mulai! Ros merusak gambar Ulum! Ros nakal Mbak! (melempar bantal)
Kinanti: Heee jangan gitu to Lum. Ros itu masih kecil kan? Masih usia enam. Ya wajar kalau dia begitu. Dulu kamu juga seperti itu.
Rosmala : gadis kecil periang dan selalu ingin tahu
Ulum : bocah laki-laki dua tahun lebih tua daripada adiknya, Rosmala
Kinanti : gadis berusia enam belas tahun, merupakan kakak sulung Ulum dan Rosmala
Mak : ibu Kinanti, Ulum dan Rosmala.
Adegan I
Di ruang tamu. Ulum, bocah laki-laki berumur sekitar delapan tahun sedang sibuk dengan alat-alat menggambarnya. Sedangkan adiknya, Rosmala, sedang bermain bola bekel sendirian.
Rosmala: (berlari kecil sambil menggenggam bola bekel) Mas Ulum sedang apa? (duduk disamping Ulum sambil melongokkan kepala ingin tahu) Ros boleh lihat tidak, Mas?
Ulum: (tanpa menoleh) Ndak! Kamu main saja sana! Jangan mengganggu!
Rosmala: Ros ndak mau ganggu kok, Rosmala cuma kepingin lihat. Boleh ya, Mas? (tangan kanannya berusaha menarik kertas dari tangan Ulum.)
Ulum: (mempertahankan kertasnya) Ndak boleh!
Kreekkk..... terdengar suara kertas robek.
Rosmala: (hidungnya bergerak-gerak, matanya mulai berair) Mmm maaf Mas... hiks... hiks...
Ulum: Maaf maaf! Memangnya maafmu bisa mengembalikan gambaranku hah?! Anak nakal (mengangkat kuasnya tinggi-tinggi)
Rosmala: Ros ndak sengaja, Mas. Maaf... (mengusap pipinya. Bola bekelnya telah menggelinding entah kemana)
Ulum: (berlari ke ruang tengah tanpa menghiraukan adiknya)
Adegan II
Di panggung tampak suasana ruang tengah sebuah rumah. Satu set sofa tua dan meja ukuran setengah meter kali setengah meter bertaplak motif batik. Di dinding kanannya tergantung kaligrafi lafadz Muhammad yang tampak sedikit berdebu. Di bagian kiri ruangan duduk sebuah televisi 12 inci dan di sebelahnya berdiri kipas angin yang mengahadap dipan ukuran dua orang dengan seprai pudar namun tertata rapi.
Ulum: (menghentakkan kaki) Rosmala lagi! Rosmala lagi! Sedikit-sedikit menangis! Sedikit-sedikit merajuk! Selalu dibela! Semua orang pasti membelanya! (melempar sandal sembarangan lantas mengawut-awut seprai)
Mak: (tergopoh-gopoh dari dapur ke ruang tengah) Ada apa to le? Kenapa teriak-teriak? Bertengkar lagi?
Ulum: (melempar sandal satunya) Benar kan! Mak selalu membela Rosmala! Dia yang salah Mak! Ros merobek gambarku!
Mak: (wajah bingung. Lantas mendekati Ulum dan mengelus rambut putranya) Lho gimana to le? Memangnya Mak membela Ros? Mak kan cuma ta...
Ulum: (mengibaskan tangan Mak dan bergegas lari ke kamar serta membanting pintunya)
Kinanti: (dengan wajah terkejut berjalan cepat dari beranda ke ruang tengah) Ada apa Mak? Ulum dan Ros lagi, ya?
Mak: Kamu seperti tidak kenal adik-adikmu saja, Ti? (membetulkan posisi jarit) Ajak bicara baik-baik Ulum, Nduk. Dia kan nurut sama kamu. Mak ke belakang dulu ya. (melangkah ke dapur)
Kinanti: Ya Mak (berjalan ke kamar Ulum)
Adegan III
Kinanti: (hendak mengetuk pintu kamar Ulum)
Rosmala: (menghampiri Kinanti) Mbak...
Kinanti: (menoleh) Kenapa Ros? Habis bertengkar sama Mas Ulum lagi ya?
Rosmala: (menangis lagi) Huhuhu... Ros nggak sengaja Mbak. Ros cuma ingin lihat. Tapi malah sobek gambarnya.
Kinanti: (tersenyum) Iya iya. Ya sudah sekarang Ros main lagi sana biar Mbak Anti yang nuturi masmu, ya?
Rosmala: (mengangguk dan menyeka pipinya) iya Mbak. Bilang ke mas, Ros minta maaf ya Mbak. (kembali ke beranda rumah)
Kinanti: (mengetuk pintu) Boleh Mbak masuk Lum?
Ulum: Tidak dikunci Mbak.
Kinanti: (membuka pintu dan menuju dipan Ulum)
Ulum: Kenapa Mbak? (dengan nada ketus sambil tetap sibuk dengan kertas di tangannya)
Kinanti: Justru Mbak Anti yang harusnya bertanya kenapa. (duduk di samping Ulum)
Ulum: Berarti ndak ada apa-apa. (beralih posisi menghadap jendela membelakangi Kinanti)
Kinanti: Sekarang Ulum umurnya berapa?
Ulum: (tidak bergeming)
Kinanti: Mbok ya dijawab to dek.(menghela nafas)
Ulum: (membalik badan menghadap Kinanti) Delapan, bulan depan sembilan. Masak Mbak
lupa?
Kinanti: Ooo masih kecil ya ternyata.
Ulum: Ulum bukan anak kecil Mbak! Ulum sudah besar!
Kinanti: Lho iya to? (tertawa kecil)
Ulum: Ulum sudah mau sembilan tahun, Mbak! (wajahnya memerah marah. Memalingkan muka ke jendela)
Kinanti: Itu tahu kalau sudah besar. Tapi kok tadi masih teriak-teriak?
Ulum: Tapi Ros yang mulai! Ros merusak gambar Ulum! Ros nakal Mbak! (melempar bantal)
Kinanti: Heee jangan gitu to Lum. Ros itu masih kecil kan? Masih usia enam. Ya wajar kalau dia begitu. Dulu kamu juga seperti itu.
Ulum: Terus saja membela Rosmala Mbak!
Kinanti: (menghela nafas) bukan membela, Lum. Tapi kan Ulum sudah besar, jadi seharusnya bisa pengertian kan? (tersenyum)
Ulum: (mendengus kesal) Mbak sama saja dengan Mak! (berlari keluar entah kemana)
Kinanti: Lum! Mau kemana?! (memutuskan untuk meninggalkan kamar)
Adegan IV
Kinanti: (menghela nafas) bukan membela, Lum. Tapi kan Ulum sudah besar, jadi seharusnya bisa pengertian kan? (tersenyum)
Ulum: (mendengus kesal) Mbak sama saja dengan Mak! (berlari keluar entah kemana)
Kinanti: Lum! Mau kemana?! (memutuskan untuk meninggalkan kamar)
Adegan IV
Malam harinya di ruang tengah. Tampak Mak tengkurap dengan Kinanti sedang memijit kakinya di dipan depan TV.
Kinanti: Mak, kenapa ya kok Ulum itu ndak bisa
rukun sama Rosmala?
Mak: (berdehem) Memangnya dulu
kamu sama Riris ndak pernah bertengkar?
Kinanti: Eh? Ndak pernah kok Mak. (menggaruk
kepala yang tidak gatal)
Mak: Ndak pernah gang maksudnya? (tertawa
kecil)
Kinanti: Yah Mak, kok jadi aku yang diluruhi
to?
Mak: Ulum
sama Rosmala itu kan jarak umurnya dekat to Nduk, bisa jadi Ulum merasa iri ke
adiknya kan?
Kinanti: Iya ya Mak? Tadi dia juga bilang berulang-ulang, anak
bungsu bisanya menangis dan selalu dibela. Lalu Anti harus bagaimana Mak? Tadi
Ulum belum mau legowo lho Mak. Masih belum mau damai sama Rosmala.
Padahal biasanya sekali dituturi sudah mau nurut.
Mak: (berubah
posisi. Duduk menghadap Kinanti) Sudah Nduk, terimakasih ya. Ya itu tadi,
Ulum itu masih iri sama adiknya. Mungkin biasanya kalau dia mau nurut itu
hatinya tetap mangkel. Sudahlah, pasti besok dia sudah lupa. Yah walaupun belum
mau rukun sama Ros lagi. Kamu tidur sana, sudah malam. Makasih lho, Nduk.
Kinanti: Hmm ya sudah Mak, Anti ke kamar dulu. Selamat malam Mak. (memeluk
Mak lantas beranjak ke kamar)
Mak: Selamat malam, Nduk.
Adegan V
Keesokan harinya... di dapur pada pagi subuh.
Mak: (tangannya
sibuk memotong kentang) Kinanti, sini Nduk! Dandangnya itu dicuci. Wajan
yang diatas itu diturunkan, diganti panci yang ini. (menunjuk ke arah panci
berisi sayur bayam)
Kinanti: (berjalan dari ruang tengah ke
dapur) Nggih, Mak.
Terdengar
suara pintu terbuka.
Ulum: (mengucek mata dan berjalan dengan masih mengantuk)
Pagi Mak, pagi Mbak. Masak apa e?
Kinanti: (sambil mengiris bawang) Kamu itu, bangun-bangun
yang ditanya langsung makanan Lum.
Mak: Cuci muka dulu Le.
Ulum: (melangkah ke kamar mandi tanpa
berkata apa-apa)
Mak: Ti, bangunkan Rosmala. Sudah jam
lima lebih.
Kinanti: Baik Mak. (meletakkan pisau dan
mencuci tangan lalu ke kamar Rosmala)
Kinanti: (mengguncang pelan bada rosmala yang sedang tidur)
Ros, bangun Ros. Ndak sekolah to? Ayo bangun, sudah siang.
Rosmala: (menggeliat) Lima menit lagi lah Mbak. (menarik
selimut menutupi kepalanya)
Kinanti: Heee sudah siang itu lho. Mataharinya sudah kelihatan. Bangun,
Ros. (membuka jendela)
Ros: Sebentaaaar lagi Mbak, ya?
Kinanti: (menarik selimut Rosmala) Ayo
to bangun! (mendudukkan Rosmala)
Rosmala: Aduh Mbak Anti ini selalu maksa-maksa Ros bangun. (menguap
lalu mau bangun dan beranjak)
Kinanti: Kamu itu, lha memang sudah siang masak mau dibiarkan tidur
terus? (berjalan keluar kamar Rosmala ke dapur)
Mak: (memanggil dari dapur)
Kinanti, sayurnya dibawa masuk Nduk.
Kinanti: Yang ini Mak?
Mak: Iya, hati-hati masih panas banget
itu.
Kinanti: Iya Mak, Anti tahu. Lha baru dari kompor ya panas to Mak.
(tertawa kecil. Mengangkat baskom dan meletakkannya di meja makan)
Rosmala: Mbak Anti, Mas ulum dimana? Mas Masih
marah ya sama Ros?
Kinanti: Mbak ndak tahu dimana. Mungkin di
kamarnya habis mandi tadi.
Ulum: (keluar kamar) Ada apa Ros?
Rosmala: (tersenyum lebar) Mas Ulum! (berlari
hendak memeluk Ulum)
Tiba-tiba....
Krompyang... Rosmala tersandung kaki meja makan dan menumpahkan sayur yang
masih panas hingga menyiram badan dan wajahnya.
Mak: (berteriak dari dapur) Ada
apa Ti?!
Rosmala: Aduh
Mbak! Panaaas! Huaaaaa (menangis keras-keras)
Kinanti: (berteriak panik) Ya Allah Ros! Mak, Rosmala
kesiram sayur Mak! Ya Allah kok jadi begini?! (mengangkat tubuh Rosmala ke
dipan)
Ulum: Sini Mbak. Aduh Ros kenapa jadi
begini?!
Rosmala: Panas Mbak. Panas banget. (masih
menangis)
Mak: (membawa
baskom berisi air dan handuk kecil dari dapur) Oalah Nduk mbok ya hati-hati
to. Ti, bersihkan tumpahan sayurnya.
Rosmala: Panas, Mak. (menangis)
Mak: Iya
iya Ros. Makanya to hati-hati. Jangan asal lari, ya? (membersihkan badan
Rosmala)
Ulum: (menunduk) Ini gara-gara Ulum, Mak. Gara-gara kemarin
Ulum ndak memaafkan Rosmala langsung, tadi begitu Ros lihat Ulum langsung lari
ingin salim minta maaf lagi. Tapi kakinya tersandung meja. Maafkan Ulum, Mak.
Maafkan Mas Ulum ya Ros?
Mak: (tersenyum
kepada Ulum) Bukan salah kamu Lum, ya memang ceritanya dibuat begini, kan
memang ndak sengaja kesandung to? Ndak ada yang salah, Cuma kurang hati-hati
saja.
Rosmala: (mengusap air matanya) Ndak apa-apa Mas, Ros sendiri
yang lari ndak lihat-lihat.
Kinanti: Naaaaah begitu kan bagus, rukun sama saudaranya. Berarti
Mak, Ros memang harus kesiram sayur dulu biar bisa rukun sama Ulum. Ya ndak
Mak? (tertawa)
Rosmala: Kenapa yang kesiram haru Rosmala sih
Mbak? (bernada jengkel)
Ulum: Ya memang ceritanya begitu Ros. (tertawa)
Mak: Sudah-sudah.
Yang penting sekarang sudah ndak pada bertengkar lagi to? Ayo Ulum siap-siap
berangkat sekolah. Kinanti juga. Biar Ros hari ini izin saja. Lagipula
seragamnya basah kena sayur. (tertawa)
Rosmala: Horeee ndak masuk sekolah! Bisa tidur
lagi kan Mak? (tersenyum jahil)
Ulum: Huuu dasar!
Akhirnya,
setelah tragedi Rosmala tersiram sayur pagi itu, Ulum dan Rosmala rukun dan
idak bertengkar lagi. Memang semua hal pasti ada hikmahnya, itu yang selalu
ditekankan Mak pada putra-putrinya.
~SEKIAN~
Mai Arkarna
Komentar
Posting Komentar