Percaya
atau tidak, saat aku mulai mengetikkan kalimat-kalimat ini, jam telah
menunjukkan angka 00.25! iya, aku begadang. Tadi sengaja minum kopi sih. Sempat
belajar lumayan banyak juga dan ngerjain soal-soal. Jangan salah, Mai Arkarna
juga bisa begadang dan betah melek malem kok. Yah walaupun besok pagi entah
bakal terbangun jam berapa. Semoga saja nggak kesiangan subuhnya. Lagipula
masak iya sih besok bunda kesini eh Mai masih tidur? Nggak lah yaw. Oke, malam
ini mau bahas apa ya?
Gerimis
diluar terdengar rerintikan. Disini hening saja yang tersisa. Sesaat lalu
terdengar gumaman pelan tak jelas dari salah satu dari mereka. Mengigau
tampaknya. Biarlah, takkan kuganggu mimpi mereka tentunya. Aku masih terjaga,
tentu selain artian terjaga dua malaikat, aku memang masih terjaga. Sengaja
menahan diri agar tak segera tidur. Masih banyak hal yang harus kulakukan untuk
melanjutkan kehidupan.
Aku
Mai Arkarna. Apakah aku telah memiliki tujuan hidup? Aku ingin bermanfaat untuk
orang-orang di sekitarku. Karena itulah sesungguhnya esensi tujuan hidup
manusia selain tentu saja beribadah pada Allah SWT.
Aku
Mai Arkarna. Orang-orang tentu saja lebih mengenalku dengan nama sejatiku. Tapi
apakah sesungguhnya aku memang dikenal? Yah, bukannya aku ingin terkenal, ingin
populer, atau sebagainya, aku hanya penasaran, siapa saja sih yang tahu kalau
di lingkup sekolah ini ada yang namanya Mai? Kenapa harus penasaran sih? Yaiya
donk, masak nanti pas kelulusan, lalu jadi alumni, melanjutkan hidup somewhere
over the rainbow, ketemu sesama alumni sekolah Mai, nggak saling kenal?
Aih, sedihnya kalau nggak mengenal, nggak dikenal pula......
Aku
Mai Arkarna. Aku ingin berbagi apa saja pada kalian. Apakah ‘apa saja’ itu
termasuk kesedihanku? Kegilaanku? Kegalauanku? Entahlah, memangnya bila iya
kalian tak mau ya?
Aku
Mai Arkarna. Sepertinya aku telah terkena karma. Dari siapa? Bukan dari
siapa-siapa sih. Dari menulis aku terkena karma. Aku jatuh cinta pada dunia
tulis-menulis. Padahal jelas sekali aku membenci hal itu dulu. Tapi menurutku
karma ini tak menyakitkan kok. Justru membuatku semakin bahagia. Semoga akan
selalu terasa demikian. Lagipula aku yakin, tulisan itu pekerjaan untuk
keabadian. Ucapan lisan bolehlah telupa, namun tulisan? Akan lebih terkenang
sepanjang masa.
Aku
Mai Arkarna. Aku ingin bertanya, tahukah kalian sindrom terburu-buru? Beberapa
kali aku terjangkit sindrom tersebut. Seperti apa itu? aih, sungguh tak
mengenakkan. Entahlah, seperti dikejar-kejar sesuatu. Semacam deadline
pekerjaan yang bahkan aku juga tak tahu pekerjaan apa yang dimaksud. Seperti
ada yang bertumpuk-tumpuk dalam file otakku. Hasilnya? Hati sesak, kepala
pening, mata berair, menangislah akhirnya. Lalu kesembuhannya? Istighfar, PDKT
lagi sama Allah SWT, dan InsyaAllah hilang gelisahnya. Manjur kok itu, asalkan
yakin berhasil. Bukankah kebanyakan obat juga demikian? Sugesti positif jelas
akan memberikan dampak positif yang signifikan pada tingkat kesembuhan penyakin
apapun. Betul?
Aku
Mai Arkarna. Sekarang jam menunjukkan pukul 00.50. Sudah larut sekali ya? Dan
sepertinya dalam tulisanku kali ini bahasannya acak, kemana-mana. Ya sudahlah,
yang penting aku sudah menulis. Sampai jumpa! Selamat malam!
23 Februari
2014 00.51
Komentar
Posting Komentar