Wabah: Pengingat tentang Terbatasnya Waktu Kita
Pandemi!
Itu adalah status COVID-19 saat ini. Pandemi menurut WHO dijelaskan sebagai wabah yang sifatnya menyebar global dan mendunia. Meski semula memang ditemukan di Cina, virus ini merebak hingga kini telah mencakup 199 negara (re: saat draft tulisan ini pertama saya buat). Pelan tapi pasti, satu persatu aspek kehidupan kita terpengaruh oleh makhluk kecil tak kasat mata tapi nyata ini.
Aspek kesehatan? Tentu signifikan sekali. Aspek ekonomi? Perlahan terguncang terganggu keseimbangannya. Aspek sosial? Manusia dipaksa berjauhan secara fisik, social distancing istilahnya.
Masih banyak yang harus dirinci bila ingin mendeskripsikan betapa dahsyat dampak yang virus ini berikan.
Namun bagaimanapun, setiap yang telah ditakdirkan oleh-Nya tentu membawa hikmah tersendiri bagi orang orang yang mau bertafakur dan merenungi sisi positif dengan bijaksana. Walau mungkin saat ini dunia sedang berduka, mari kita tilik sisi cerah tentang wabah COVID-19.
Sejatinya, wabah ini memberikan kesempatan kepada kita untuk menyadari keterbatasan yang kita miliki, salah satunya adalah waktu.
Setiap manusia diberikan jatah 24 jam yang sama setiap harinya. Meskipun ia adalah seorang raja atau petinggi terkaya dunia, ia tak akan mampu membeli 1 detik ekstra. Maka yang membedakan nilai waktu adalah bagaimana sang empunya memanfaatkannya.
Masih ingat tentang cerita 24 koin emas? Ya, setiap hari kita diberi kesempatan untuk memilih bagaimana akan menginvestasikan koin-koin kita. Akankah kita gunakan untuk tabungan jangka panjang atau hanya untuk memenuhi kesenangat singkat menuruti hawa nafsu belaka?
Merebaknya wabah ini menjadi bel peringatan tentang terbatasnya waktu yang kita punya. Tentang tidak adanya sesuatu pun yang akan awet terus ada.
Selama ini pasti hampir tak terbayang kalau putaran tawaf di sekeliling kabah akan terhenti kan? Bagi yang mau bertafakur, kejadian ini hendaknya disadari sebagai pertanda nyata tentang tidak adanya keabadian di dunia yang fana dan sementara.
Sungguh kerugian bagi orang yang mampu pergi umroh namun terus menundanya karena berbagai alasan. Ditutupnya Masjidil Haram dari kunjungan tentu menjadi tamparan bagi orang orang semacam itu.
Mungkin contoh ini kurang terasa relevan bagi kita. Tapi kita dapat menarik analogi yang serupa.
Kalau putaran tawaf yang selama ini diyakini tak akan terhenti, tapi atas kuasa Allah dihentikan, bagaimana dengan hal yang lebih simpel dari itu?
Allah akan dengan mudah menghentikan hidup kita, mencukupkan kuota usia, menyudahi keberadaan kita di alam dunia.
Sebelum batas waktu itu tiba, kita harus bersegera, mempercepat langkah, memperbanyak ibadah, menyudahi keterlenaan pada maksiat dan hal hal yang tidak berfaedah.
Lawan dari bersegera adalah menunda. Dan itu adalah penyakit yang menggerogoti semangat diri untuk bisa bergerak maju.
Penundaan adalah awal kemalasan. Bila itu diperpanjang, maka akan menjadi pembatalan.
Ada 2 trik sederhana untuk melatih diri agar berhenti menunda.
1. 5 seconds rule Trik ini adalah sesederhana menghitung 1 2 3 4 5...dan mulailah bergerak!
Sudah itu saja.
Mengapa perlu berhitung?
...
Sesungguhnya saat kita sedang menunda, maka kita sedang menuruti angan angan kesantaian dan kemudahan. Itu berarti menipu diri sendiri seolah kalau kita menunda maka pekerjaan itu akan dengan sendirinya terselesaikan.
Disinilah pentingnya berhitung. Menghitung akan mengaktifkan sisi rasional otak kita. Otak akan disadarkan bahwa menunda artinya hanya memundurkan waktu, bukan menghilangkan kewajiban melakukan pekerjaan.
2. The law of 2 minutes
Tubuh kadang tetap ogah-ogahan walaupun kita telah berhitung dan mulai bergerak. Maka coba berilah pancingan pada dirimu. Disinilah pentingnya 2 menit pertama. Coba lakukan apapun pekerjaan itu selama 2 menit. Ini adalah pancingan. Mengapa? Karena 2 menit itu cukup untuk membuat kita memutuskan, mau lanjut atau tidak. Kalau memang setelah berjalan 2 menit tidak ingin melanjutkan, ya sudah, berhenti dulu, istirahat, berilah jeda. Namun ingat, ini hanya jeda, bukan menunda. Maka bersiaplah untuk berhitung 1 sampai 5 lagi, dan bergeraklah!
Semoga adanya wabah ini betul betul dapat menjadi pengingat bahwa yang kita punya tidaklah bertahan lama, termasuk waktu :)
Tetap semangat beraktivitas!
N280320W
-------------------------------------------------------------------------
Tulisan di atas itu sudah mendekam di draft blog sejak akhir Maret. Akhirnya justru baru hari ini bisa terupload.
Kalau diminta membayangkan, kultum ini saya sampaikan ke siswa-siswa saya yang sedang Home Learning. Saat masih sekolah normal memang kegiatan semacam kultum itu sudah menjadi salah satu program rutin sih. Topik yang disampaikan beragam. Yang menyampaikan pun bisa bergantian, tidak selalu dari guru.
Maaf kalau kata-katanya berantakan dan subtopiknya lompat-lompat. Hehe
*Di tengah tadi ada menyinggung tentang 24 koin emas ya? InsyaAllah kapan-kapan akan saya tuliskan juga versi lengkapnya :)
N040520W
21.55
Yeay! Semakin awal bisa tidur~Demi sahur yang tidak ngantuk
#Post_itivity
Komentar
Posting Komentar