Langsung ke konten utama

Ikrar



IKRAR

Kali ini langit putih bersih. Gemawan bertumpuk-tumpuk. Berlapis-lapis. Putih. Bersih. Seakan tak ada yang terjadi di tiga hari kemarinnya. Memandang langit memang menyenangkan.
Memandang langit dari sini memang menyenangkan. Tapi mungkin tak begitu pula bila kalian menyusuri tanah kami hari-hari ini. Cokelat. Menyedihkan. Air belum sepenuhnya surut. Pun air mata duka banyak yang belum menyusut.
“Mbak, RT 5 sudah dapat semua? Nanti jam sebelas ada kiriman mi sama selimut lagi.” Arin membuyarkan lamunanku.
“Sudah, Rin. Sampean ini mau kemana sekarang?”
“Pos sembilan, Mbak. Sampean?”
“O ya sama. Itu pos yang ada Awanya kan? Kangen aku sama dia. Ceriwis banget sih.”
Namanya Awa. Masa kecil indahnya terenggut tiga hari lalu. Tiga hari lalu ia mendapatkan status barunya. Yatim piatu. Satu lagi, tangan kanannya patah. Apakah ia kini tak bahagia? Entahlah. Yang pasti ia cepat sekali akrab denganku. Langsung menghambur memelukku tiap kunjunganku ke pos tinggalnya.
“Mbak Zuhyia! Bawa apa, Mbak? Bawa buku gambay sama kyayon ya? Yah, Awa kan sekayang ndak bisa nggambay.” Sesaput kelabu menyebar di wajah imutnya.
Aku tersenyum memeluknya. Yang dilakukannya kemudian ricuh mengeluarkan isi tasku. Mencari apa-apa yang mungkin bisa dimainkannya.
“Awa tau ndak besok hari apa?”
Ia hanya menggeleng. Mata bundarnya mengerjap-ngerjap lucu.
“Besok itu hari peringatan Sumpah Pemuda. Besok ada upacara bendera. Awa mau ikut?”
Cepat-cepat ia mengangguk. Walaupun menurutku ia bahkan tak mengerti benar apa itu Sumpah Pemuda.
*
Esok paginya Awa telah bersiap dengan pakaian terbaiknya –pakaian bekas sumbangan, sih. Tadi subuh ia sudah ribut cari-cari perhatian. Ribut minta diurusi. Minta disisir rambutnya. Dan berulang kali bertanya kapan upacaranya mulai. Ribut lagi bilang takut terlambat.
“Cantiknya! Tapi upacaranya ndak jadi hari ini lho, Wa.” Aku sambil kerepotan membawa tumpukan selimut menggodanya.
“Mbak Zuhyia bohong. Jadi kan mbak? Jadi kan upacayanya? Jadi kan ya?” ia mengguncangkan lengan Mbak Awa di sebelahnya.
Aku hanya tertawa. Mengacak rambut sebahunya. Awa merengut. Aku menggandeng tangan kirinya. Bersisian dengannya menuju lapangan di utara pos sembilan. Berulang kali Awa berceloteh menanyaiku apa itu Sumpah Pemuda. Yang hanya kujawab Sumpah Pemuda itu janjinya kita untuk selalu sayang pada Indonesia.
“Kayak sayangnya Mama ke Awa ya, Mbak?”
Aku tertegun. Sekecil ini kamu sudah harus merasakan sebuah kehilangan.
“Kok nangis, Mbak? Awa kebanyakan nanya ya? Tapi Awa kan ndak nakal.”
Hanya seraut senyum tipis yang kuberikan padanya. Cepat-cepat menghapus air mata yang tanpa kusadari menggenang di pelupuk mata.
Sudah hampir jam setengah delapan saat upacara dimulai. Syukurlah mentari hari ini berbaik hati. Hangat saja yang ia sampaikan. Lapangan cukup penuh. Walau dengan keterbatasan, momen ini berlangsung khidmat. Sang merah putih telah sukses dikerek. Kini dengan anggun seakan menantang langit.
Tibalah saat pembacaan ikrar mulia itu. Teks Sumpah Pemuda. Mas Hanafi sebagai pembina upacara membacanya lantang walau tanpa mikrofon. Diikuti seluruh peserta upacara. Tapi aku menangkap ada yang berbeda. Lihatlah, Awa sibuk menoleh kesana kemari. Mulutnya kesusahan mengikuti yang dibacakan mas Hanafi. Mungkin kurang didengarnya. Tubuh kecilnya tertutup badan-badan tinggi di barisan depan.
“Mbak, tadi itu mas yang di panggung baca apa? Awa pengen niyukan tapi ndak bisa.” Tanyanya segera setelah upacara usai.
“Ya itu yang namanya teks Sumpah Pemuda.” Jawabku seraya mengajaknya kembali ke pos.
Setiba di pos aku langsung disambut riuh rendah belasan anak seumuran Awa. Berebutan memelukku. Sekarang jadwal kegiatan untuk anak-anak. Aku, Arin, Faiz, dan beberapa relawan lainnya bertugas di pos 9. Membagikan kertas warna-warni, karton, daun-daun kering dan lem. Lantas sibuk membantu anak-anak menempelkan bahan sesuai pola. Pos benar-benar ramai sekarang. Tawa riang. Teriakan-teriakan meminta perhatian.
Aku mendekati Awa. Hanya ia yang sedari tadi tak memanggil kakak-kakak relawan sama sekali. Kulihat karton putihnya masih kosong belum tertempeli apapun.
“Kok belum ditempel?”
Ia tak menjawab. Namun mulut kecilnya membisikkan sesuatu.
“Mbak, boleh minta tolong ndak?”
“Apa?”
“Mmm mbak ada pulpen?”
Aku mengangguk.
“Boleh tolong tuliskan teks Sumpah Pemuda? Awa ingin bisa hafal. Jadi besok kalau ada upacara lagi Awa bisa niyukan. Boleh ya mbak?” raut wajahnya memohon. Tentu aku mengangguk mengiyakan permintaannya. Lantas menuliskan kalimat-kalimat ikrar mulia itu. Selama aku hidup sudah berulang kali aku menuliskannya. Namun entah mengapa ada sesuatu yang berbeda kali ini. Hingga kegiatan ini berakhir, karton milik Awa tetap tak tertempeli dedaun ataupun kertas warna-warni. Kartonnya hanya berisi teks Sumpah Pemuda. Ia tersenyum manis sekali menerimanya lantas memelukku erat-erat.
“Teyima kasih ya Mbak Zuhyia.”
*
Hari baru kembali lagi. Harapan baru terucap kembali. Semoga hari ini lebih istimewa dari yang sudah-sudah. Tadi malam aku bertugas jaga di pos 9. Semalam kuperhatikan Awa setelah Isya dengan penerangan senter kecil yang tak kutahu ia dapatkan darimana, lamat-lamat membaca teks yang kutuliskan. Berulang kali. Sedang menghafalkan rupanya. Dan sekarang ia sedang melakukan hal yang sama. Tekun sekali. Maka sejak saat itu aku tahu ia akan rajin melakukannya. Mengulang-ulang membacanya. Sedikit-sedikit menghafalkannya.
*
“Mbak Zuhria!”
Aku mengenal sekali suara itu. Suara khas yang sangat kusayangi. Dan bahkan sebelum aku membalikkan badan ia sudah merangkulku dari belakang.
“Wah sudah bisa bilang R ya?”
Ia tersenyum lebar. Tubuh mungilnya sekarang terbalut seragam merah putih. Cantik sekali dengan rambut dikepang dua. Wajah cerianya tak berubah sejak terakhir kali aku melihatnya.
Ah, momen itu sudah tertinggal jauh di belakang. Setahun lalu, setelah sebulan lebih aku menjadi relawan disini aku dengan berat hati berpamitan. Awa juga dengan amat berat hati melepaskan pelukannya dariku. Ia menangis sesenggukan. Mengiris hati bila melihat ia menangis. Dalam jangka waktu setahun tanah ini berubah banyak. Infrastruktur dan fasilitas-fasilitas publik dibenahi, termasuk sekolah Awa. Sepulang dari sini aku diterima mengajar di sekolah dekat rumah. Kembali akrab dengan dunia yang amat kucintai. Dunia anak-anak.
Hari ini peringatan Sumpah Pemuda. Maka kemarin aku langsung menuju kesini. Teringat Awa. Kangen. Aku ingin menyaksikannya mengucap Sumpah Pemuda dengan lancar.
Upacara dimulai. Satu-satu rangkaiannya terlaksana dengan baik. Lantas ditutup dengan untaian doa. Aku menangis. Telah kudengar mulut mungil Awa mengikrarkan kalimat indah itu. Lancar tanpa tersendat.
“Mbak, Awa sayang sama Indonesia!”


 Oktober 2013

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Day 25 Share 1 story about hikmah ramadan!

'Cinta terlarang' kami memang sudah semestinya berakhir, semoga selamanya~ Saya dan pusing adalah sepasang yang mulanya selalu bersama. Setiap hari setidaknya pasti ada satu momen dimana saya berjumpa dengannya. Pusing yang saya maksud adalah tipe yang rasanya muter sampai badan seperti mau ambruk. Ini terutama saya rasakan kalau berpindah posisi tubuh secara tiba-tiba. Misalnya dari rebahan langsung duduk atau dari duduk langsung berdiri. Perlu waktu beberapa detik penyesuaian sambil memejamkan mata dahulu agar berhasil stabil. Kalau dilihat dari tekanan darah sebenarnya memang konsisten cenderung lebih rendah daripada orang lain pada umumnya. Tapi setelah berkonsultasi dengan suster sekolah katanya itu bukan masalah, karena setiap orang punya kisaran normalnya sendiri. Dugaan lain yang menjadi penyebabnya adalah rendahnya kadar hemoglobin dalam darah saya. Iya yang ini cukup terbukti sih. Sudah pernah saya periksakan juga dan memang demikian hasilnya. Saat sedang dalam hari...

Saya dan Rasa Lain yang Lucu

 Rasanya belum lama sejak terakhir menulis tentang rasa suka yang lucu. Rasa. Suka. ... yang sekejap menjadi tidak lucu lagi. Barangkali mimpi itu hanya canda. Bunga tidur yang mengada-ada. Tapi bisa juga ia adalah pertanda. Bahwa yang dinanti tak kunjung tiba, sebenarnya memang sudah selesai tak bersisa. Senangnya, saya biasa saja. Ya! Ini adalah rasa yang lucu. Saya sendiri heran. Pernyataan-pernyataan dari seseorang berhasil membuat saya berpindah haluan. Yang dulu disimpan, kini betulan berhasil diikhlaskan. Saya tidak menyangka. Saya tersadar dibuatnya. Yang sebenarnya dipertahankan bukanlah murni rasa sayang pada orangnya. Namun lebih kepada momennya yang telah terjalin lama. Lalu selanjutnya apa? Tidak tahu juga. Setidaknya untuk saat ini belum ada rencana untuk mengapa-apakan kotak rasa saya.  .  . . Yang pasti saya ketahui saat ini, bubuk kopi darimu sudah tak tersisa untuk diseduh dan dinikmati lagi.   Y281121K -selalu ada yang lain

#Day 11 Imagine that you are giving a kultum, what will you tell?

  Wabah: Pengingat tentang Terbatasnya Waktu Kita   Pandemi! Itu adalah status COVID-19 saat ini. Pandemi menurut WHO dijelaskan sebagai wabah yang sifatnya menyebar global dan mendunia. Meski semula memang ditemukan di Cina, virus ini merebak hingga kini telah mencakup 199 negara (re: saat draft tulisan ini pertama saya buat). Pelan tapi pasti, satu persatu aspek kehidupan kita terpengaruh oleh makhluk kecil tak kasat mata tapi nyata ini. Aspek kesehatan? Tentu signifikan sekali. Aspek ekonomi? Perlahan terguncang terganggu keseimbangannya. Aspek sosial? Manusia dipaksa berjauhan secara fisik, social distancing istilahnya. Masih banyak yang harus dirinci bila ingin mendeskripsikan betapa dahsyat dampak yang virus ini berikan. Namun bagaimanapun, setiap yang telah ditakdirkan oleh-Nya tentu membawa hikmah tersendiri bagi orang orang yang mau bertafakur dan merenungi sisi positif dengan bijaksana. Walau mungkin saat ini dunia sedang berduka, mari kita tilik sisi...