Langsung ke konten utama

Yang Kupunya dan yang Mereka Punya



Selamat malam...
Semoga malam ini menyenangkan dan menenangkan, penutup minggu melelahkan ini.
Kali ini apa yang Mai inginkan?
Sepertinya aku putuskan untuk merenung dan memikirkan banyak hal saja lah. Misalnya?
Hmm hari ini usiaku menginjak tujuhbelas lebih sebelas hari. Ya! Usiaku sudah tujuhbelas. Yang katanya sih berbeda rasanya. Usia dimana seseorang telah mulai memasuki dunia dewasa. Menjadi dewasa. Bersikap dewasa. Dan berpola pikir mendewasa, bukan lagi seperti anak kecil. Aku suka definisi yang ini. Tapi tak sesuka saat menjalankannya, bukankah begitu?
Kata versi lain lagi, remaja sih yang biasanya mengoarkannya, usia tujuhbelas itu masa menyenangkannya jadi sesosok remaja –memangnya masih umur remaja ya itu?
Sepengamatanku, termasuk sependengaranku dari lingkungan sekitar, pendapat teman-teman dan cerita pengalaman-pengalaman mereka, ada beberapa fakta yang aku dapatkan tentang hal-hal yang telah mereka punyai bahkan sebelum usia tujuhbeas. Memang tak berlaku untuk semua orang, hanya saja sebagian besar mungkin. Ini diantaranya.
1.       Punya gadget yang di mataku ‘gak biasa’. Misalnya: i-pod, i-phone, tab, Blackberry, blueberry, beri-beri, dan apalah itu i-i lainnya ada apa lagi. Aku bahkan masih bingung apa fungsinya dan apa bedanya. Lalu bagaimanalah aku akan dipercaya bunda memilikinya.
2.       Melakukan perawatan, ke salon, dan lain-lain. Misalnya: spa, luluran, blow, hairmask, menikur pedikur, kukur-kukur, ngelantur, mendengkur mungkin juga. Apa sih itu semuanya? Bukannya blow itu artinya meniup ya? Masa rambutnya ditiup-tiup? Ngapain? Bayar mahal cuma buat ditiupin rambutnya –jangan tiru jalan pikir ini. Jangankan melakukan hal-hal itu, pakai handbody aja nggak rutin, beberapa minggu bahkan hampir sebulan sekali. Terlalu ya? Ya bagaimana lagi, memang aku baru dalam tahap cewek yang segitu. Tapi percayalah, Mai rajin mandi kok.
3.       Jalan ke mall, makannya di cafe, atau paling murahnya foodcourt lah. Biasanya sih kalau anak kota begitu. Entah sama teman geng atau teman yang berarti lain yang katanya lebih spesial. Kalu yang aku amati di lingkungan paling dekatku ini sih, mereka berangkat naik taksi, janjian di mall mana gitu, lalu makan siang di cafe mana gitu, dan pasti pulangnya bawa sejumlah tas kresek yang isinya aneka rupa. Tapi saat melihat kresek itu yang terpintas di pikiranku justru kapan mereka akan sempurna terurai. Terlalu ilmiah.
4.       Akun-akun di segala jejaring sosial. Rata-rata remaja zaman sekarang memang adu eksis di media sosial yang semakin beragam. Dari mulai facebook, twitter, tempat-tempat dengan fasilitas chat, tempat pasang foto, hingga tempat yang menawarkan produk bebas bertanya pada siapa saja tanpa atau dengan diketahui identitas si penanya. Dan tentu saja di media sosial tersebut banyak sekali yang dapat dilakukan. Berbagai fasilitas tersedia. Maka berlombalah semua memasang foto paling gahool versi masing-masing. Berpose dimanapun. Jalan kemana, jepret. Aktifitas apa, jepret. Ketemu siapa, jepret. Semuanya dijepret. Apalagi sekarang ada yang namanya ‘tongkat narsis’ alias ‘TongSis’. Malah semakin menjadi-jadi karena kegiatan berfoto dengan self-camera sudah bukan hal yang merepotkan –ya kalau punya tongsis yang harganya nggak murah itu sih.
5.       Teman spesial. Sebutan singkatnya, Pacar. Hmm yang satu ini nih sepertinya yang paling populer dan menjamur ke segala kalangan. Dan yang sangat disayangkan justru yang inilah yang paling terlarang menurut agama, betul tidak? Rata-rata –sekali lagi bukan semuanya ya— remaja memang punya teman spesial alias pacar alias mereka sudah taken. Gak jomblo lagi. Aku tidak bilang hanya untuk yang sedang lho, yang sudah pun juga. Di sekitarku saja mungkin hanya 5% yang benar-benar belum tersentuh oleh yang namanya pacaran. Kebanyakan sih sudah bermantan. Dan kebanyakan dari yang sudah, memiliki lebih dari satu. Entah yang hubungannya hanya sehari, seminggu, hitungan bulan –ini yang paling banyak, dan ada juga yang sampai setahun, tapi jelas aku belum menemui yang hingga dua tahun lebih. Dari wawancara terselubungku –maksudnya dengan nada santai semacam bergurau—pada mereka banyak versi cerita yang aku dapatkan. Ada yang katanya memang sama-sama suka sejak lama, ada yang awalnya si cewek menolak, ada juga yang ceritanya friendzone. Beragam. Tapi ya sama saja, bagaimanapun mereka yang sudah berpacaran itu sudah zina bukan? Katanya sih memang gak ngapa-ngapain. Nggak pegangan tangan kok, nggak jalan berdua aja kok, nggak macem-macem kok. Tapi hampir tiap malam OTP-an, panggilnya sayang-sayang lagi! Kalau mau sok alim panggilnya abi-umi. Memangnya sudah nikah?
Nah, dari kelima fakta itu, aku menilik diriku sendiri, punya ta? Nggak. Yang mana yang nggak? Yang mana yang punya?
Diurai satu-satu ya? Oke.
Gadget. Dari dulu, sejak sekolah tingkat awal sampai sekarang tingkat atas, sepertinya yang namanya gadget itu tidak pernah bersamaku. Disini maksudnya yang sejenis i-i-an ya, sama yang beri-beri juga. Di sekolah tingkat awal dulu yang namanya HP aja nggak boleh. Jangankan yang modern, yang butut seharga seratusan ribu aja nggak boleh. Lalu di tingkat atas ada peningkatan. HP boleh, tapi ya begitu, tanpa kamera tanpa internet. Laptop sih dari dulu boleh. Nah, Alhamdulillah di ulangtahun kemarin bunda berbaik hati sekali mempercayai aku merawat sebuah laptop sebagai kado untukku di usia ketujuhbelas. Beliau memang selalu seperti itu, memberiku sesuatu yang sudah jelas manfaatnya dan akan berguna seterusnya. Dan aku tak menyesal sama sekali karena bukan gadget semacam i-pod dkk yang aku dapatkan. Justru inilah yang aku butuhkan. Dulu juga pernah aku mendapatkan kepercayaan memiliki kamus elektronik saat menjelang masuk sekolah tingkat atas. Dan hingga sekarang masih apik berfungsi. Memang sih saat melihat teman-teman asyik berkutat dengan gadgetnya terkadang muncul pikiran, kapan aku akan memiliki benda-benda seperti itu ya? Di usia berapa aku akan memilikinya? Tapi ya hanya sebatas itu, hanya pikiran. Tak hingga benar-benar meminta pada bunda kok.
Perawatan. Perawatan diri? Kecantikan? Hmm bagaimana ya? Memang bila dibandingkan dengan teman-teman di sekitarku aku termasuk yang tidak cewek, dalam artian tidak melakukan hal-hal berbau kecantikan. Tapi yang rutin kulakukan sih cuci muka –pakai sabun tentunya, sikat gigi –yaiyalah, mandi dua kali sehari, sudah. Bahkan memakai lotion saja tidak. Bunda sih pernah juga membelikanku lotion, menyuruhku memakainya. Memang di awal untuk beberapa hari aku ingat, tapi di minggu keduanya saja aku sudah tidak rutin lagi. Bedak lain lagi ceritanya. Aku punya bedak, tapi memakainya pun jarang sekali. Hanya saat ada acara-acara tertentu, akan berfoto penting, atau keadaan-keadaan lain yang mengharuskanku memakainya. Maka seperti lotionku, ia juga lama sekali habisnya. Dan begitu pula parfum. Tapi bukankah menurut agama perempuan itu tak boleh menebarkan wangi tubuhnya ke sembarang tempat? Maka apakah aku harus tetap memakainya bila agama jelas telah bilang begitu? Nah, dari uraianku tadi mungkin dapat disimpulkan, kalau yang sesimpel itu saja tak aku lakukan lantas bagaimana dengan yang dinamakan menikur-pedikur, spa, lulur dan kawan-kawannya? Ya jelas tidak pernah. Mungkin saja belum, suatu saat nanti akan. Seingatku, selama 17 tahun lebih akau hidup di dunia, belum pernah aku ke salon selain untuk potong rambut. Maka saat kemarin aku melihat temanku pulang dari salon dan bercerita tentang perawatan yang ia lakukan, muncul pertanyaan, kapan aku akan pernah ke tempat seperti itu ya? Di usia berapa aku akan pergi kesana dan melakukan hal-hal itu? tapi ini juga hanya pertanyaan terpendam kok. Lagipula sepertinya aku akan bingung bila berada di tempat seperti itu. Apa yang harus aku lakukan saat pertama masuk ke ruangnya?
Jalan ke mall, makannya di cafe. Uang darimana? Itu yang pertama kali muncul di benakku. Aku tidak bilang bahwa keluargaku tak mampu, tapi juga tak bilang bahwa keluargaku kaya. Hanya saja, seandainya aku punya rezeki lebih pun bukan mall yang akan kutuju. Dari dulu setiap kali diajak ke mall yang aku pikirkan adalah dimana aku bisa duduk? Atau adakah toko buku disana? Aku tak pernah tertarik berjalan mengelilingi mall, menapaki tiap tingkatan lantainya, apalagi untuk sekedar menebar harapan palsu pada mbak atau mas-mas penjaga toko, hanya masuk, melihat-lihat, lantas keluar lagi tanpa membeli suatu apapun karena jelas mahal sekali harganya. Capek dan pegal kakiku. Maka aku jauh lebih suka mengelilingi satu toko buku, melihat-lihat, membaca bagian belakang covernya, atau melihat-lihat daerah alat tulis. Paling tidak saat keluar aku membeli satu atau dua buku atau walau hanya sebatang bolpoin. Menghabiskan waktu di toko buku bukan sekedar menyenangkan bagiku. Teramat cintaku pada buku membuat tempat itu selalu terasa istimewa. Jadi jelas kan kalau aku bukan tertarik dengan jalan ke mall, melainkan ke toko buku. Dan yang kedua adalah bagian makan di cafe. Haruskah? Sebenarnya bukan terlalu masalah bila yang dimaksud disini adalah yang berharga dapat kujangkau. Tapi yang aku maksud cafe disini adalah sekelas Starbuck, Calais, dan sejenisnya –memangnya ada makanan apa sih disitu? Adakah? Tuh kan, aku saja tak tahu ada menu apa yang dapat kunikmati di tempat-tempat itu. Yang aku tahu, mereka menjual kopi mahal, minuman teh rasa-rasa dengan gelembung jeli di dalamnya. Enak sih, aku pernah merasakannya, tapi tentu bukan aku membeli sendiri karena harganya juga ‘enak’. Nah, satu lagi alasan yang membuatku lebih sering malas jalan dan hang out itu ya urusan akan makan dimana. Kalau yang bersamaku itu memang selevel denganku maka tak masalah. Ia mau saja makan di tempat berharga terjangkau, angkringan misalnya. Tapi yang jadi masalah adalah bila teman jalanku adalah anak-anak dengan kehidupan berbeda kelas denganku. Mereka maunya ke tempat mahal, padahal makanannya ya begitu-begitu saja. Malas sekali, aku lebih mau jalan sendiri. Menikmati hariku dengan caraku sendiri. Tidak takut? Tidak, asalkan aku sudah pernah ke tempat itu. Selama aku tahu jalur pulang maka tak ada masalah, bukan? Bingung di jalan, tersesat, tinggal mencari kendaraan pulang. Pertanyaan yang sering muncul saat teman-teman pulang dengan minuman bergelas plastik dengan gambar kumis adalah kapan ya aku akan pernah membeli minuman itu? di usia berapa aku akan membelinya untuk pertama kali seumur hidupku? Dan itu juga tak nyata-nyata terucap. Hanya membatin. Lagipula apakah memang harus pernah?
Akun sosial media. Yang ini aku punya kok. Apa? Facebook. Saja. Memang hanya itu. Eh, tidak sih, aku punya Skype, e-mail, tumblr, blog juga punya. Tapi bahkan twitter saja aku tak punya. Bagaimanalah akan punya, facebook saja aku baru punya saat kelas akhir sekolah tingkat pertamaku dan bukan aku membuat sendiri. Padahal teman-temanku sudah memiliki semua pada kelas awal atau bahkan saat masih di sekolah tingkat dasar. Lalu apakabar dengan twitter? Disini teman-temanku semuanya sudah punya twitter. Bukan hanya itu, hampir semuanya juga memiliki akun chat, akun tanya-tanya, akun upload foto dan lain-lainnya. Itu semua juga didukung dengan kepemilikan mereka atas gadget-gadget aneka rupa aneka fungsi. Lalu denganku? Gadget semacam beri-beri saja tidak punya, mau ngurus dan rutin buka akun pakai apa? Sekarang dunia memang sedang memasuki globalisasi. Semua orang dapat terhubung tanpa memikirkan jarak dan waktu. Relasi yang banyak merupakan salah satu kunci untuk dapat ‘ada’ di dunia ini. Maka dengan adanya jejaring sosial yang bermacam-macam itu jelas sebagai sarana membentuk pertemanan secara global. Aku akui, sosial media itu bermanfaat. Asalkan si pengguna benar-benar dapat memanfaatkannya dengan sehat. Dulu sebelum punya facebook aku sempat berpikir buat apa memilikinya? Lagipula aku masih bisa hidup tanpa memiliki akun facebook. Tapi karena temanku berbaik hati membuatkan maka aku mau. Awalnya aku bingung mau kuapakan akunku ini? Banyak sekali teman yang aku tak kenal. Menulis statuspun aku malu entah kenapa. Nanti kalau tak ada yang nge-like gimana? Dikacangi begitu. Dan benar, berkali-kali aku menulis status, hanya satu-dua yang nge-like. Bahkan demi mendapatkan like banyak aku benar-benar memikirkan apa kalimat bagus yang akan kubuat menjadi status. Itu benar-benar masa kelam nan alay dalam hidupku. Beberapa bulan kemudian aku dibuat bosan perihal akun facebook itu. Jarang sekali aku membukanya, apalagi itu saat mendekati ujian akhir. Maka aku tinggalkan ia berdebu tanpa kujamah dalam waktu lama. Liburan kelulusan tiba. Dua bulan lebih masa libur kala itu. sebulan kuhabiskan untuk kursus bahasa di luar kota. Sebulan lagi kuhabiskan dirumah. Membosankan sih, tapi aku tak ingin libur berakhir juga. Suatu hari aku teringat facebookku dan kukunjungi ia. Tidak banyak pemberitahuan yang masuk karena memang aktivitasku juga sangat sedikit. Aku mulai memberanikan diri mengupload foto, menuliskan status, dan hei ada yang seperti menyolok mataku. Itu di bawah kolom menuliskan status ada sesuatu yang menjadi jawaban sepinya like untuk statusku. Jelas saja sepi, di situ dan selama ini statusku ter-setting hanya untuk dibaca sendiri dan teman-teman yang memang mengunjungi dindingku, bukan muncul di beranda. Jelas saja sepi sekali, yang mampir ke dindingku saja aku tak yakin ada. Maka dengan girang aku mengganti settingnya menjadi terbuka untuk umum. Lantas kucoba menuliskan sebuah status, aku lupa isinya, tapi yang pasti hanya beberapa saat setelah aku klik kirim sudah ada pemberitahuan like dari temanku. Aku senang sekali karena aku tidak dikacangi lagi. Ya walaupun lagi-lagi masa alayku keluar. Bahayanya, aku jadi semacam terkena sindrom atau apalah namanya, aku ketagihan memasang status. Menunggu siapa saja yang akan nge-like. Tapi anehnya aku sendiri jarang sekali nge-like status orang. Membuka beranda hanya untuk lihat-lihat, terkadang mengintip dinding beberapa teman juga sih. Disinilah aku mulai merasakan manfaat punya akun facebook. Bukan mau promosi atau apa, hanya ingin berbagai cerita saja. Di facebook aku dapat menemukan teman-teman lamaku yang sekian bulan atau bahkan tahun tak kujumpa. Teman-teman olimpiade, teman sekolah, dan orang-orang yang pernah kukenal dahulu. Selain itu kutemukan pula grup-grup yang menjadi komunitas dengan visi-misi baik. Semisal membicarakan olimpiade, event lomba, atau diskusi berbobot lainnya. Aku senang bergabung dengan grup-grup itu. Ya walaupun aku lebih sering hanya menyimak tanpa memberikan sebuahpun komentar, tapi bukankah memang lebih baik menjadi pendengar yang baik daripada ikut-ikutan berbicara? Di facebook aku juga menemukan fans-page penulis favoritku. Nah, dengan alasan-alasan itu aku jadi semakin tak menyesal memiliki akun facebook. Lalu apa kabar dengan twitter? Mau jawaban singkat atau panjang lebar nih? Singkatnya aku tidak tertarik dan hingga saat ini aku tidak punya akun twitter. Mengapa bisa tak tertarik? Entahlah. Mungkin simpelnya begini, facebook saja aku jarang membukanya, apalagi kalau nanti punya twitter? Tak akan aku perdulikan mungkin. Padahal setahuku orang-orang yang punya twitter itu aktif sekali mengirimkan twit-twitnya, bahkan mungkin saja ada yang hingga semenit sekali. Bagaimana bisa sesering itu? Jelaslah bisa, gadget selalu tergenggam kemana saja mereka pergi. Mau update tentu gampang. Internet pun kuyakin tak pernah mati. Yang paket ini, paket itu, paket hemat, paket buka puasa lah, apa saja itu namanya. Nah, selain alasan malas mengurus akun, alasan tiadanya gadget ini juga membuatku enggan membuat akun twitter. Lah gadget saja tak punya, mau update pakai apa? Loh, kan ada laptop? Internet pun gampang diakses kan di sekolah? Memang sih, tapi ada satu yang tak aku punya. Waktu luang. Selengkap apapun fasilitas yang tersedia, kalau waktu tak ada maka akan sama saja bukan? Tak akan kuurus juga. Memangnya aku sesibuk apa sih? Apa saja yang aku kerjakan hingga waktu luang pun tak punya? Hmm di bagian selanjutnya akan kujelaskan, sebenarnya apa saja sih yang aku bilang kesibukan. Oh iya, seperti hal-hal lainnya tadi, seringkali saat mendengar percakapan teman-teman perihal kabar terbaru di sosial media, muncul juga pertanyaan kapan ya aku akan memiliki akun-akun itu? Di usia berapa aku akan memiliknya?
Pacar. Aku tak akan menyebutkan pacar sama dengan teman spesial. Karena, kalau teman spesial aku memang punya. Mereka yang mewarnai hariku dan membuatnya aneka rasa. Tapi pacar? Jelas aku tak punya. Oke, kembali ke topik. Seperti paparanku sebelumnya, rata-rata teman-temanku sudah memiliki apa itu yang namanya pacar. Kalaupun tidak sedang pacaran, rata-rata mereka sudah pernah pacaran. Aku agak sensi juga sih masalah ini. Mengapa? Apakah karena aku tak punya dan ingin punya? Hei bukan! Aku merasa kasihan saja pada mereka. Apalagi di pihak perempuannya. Mereka mau-maunya begitu. Kata orang, perempuan kan dilihat dari masa lalunya, berbeda dengan laki-laki yang dilihat dari masa depannya. Jadi bukankah pengalaman pacaran itu menjadi salah satu bagian masa lalu itu? Tapi kalau memang hubungan pacaran itu berlanjut pada menikah sih aku tak peduli. Masalahnya bisa dibilang hanya sepersejuta orang yang akan begitu. Jadi sebanyak 999.999/1000.000-nya si perempuan secara langsung atau tidak, disadari atau tidak, akan dirugikan dari hubungan pacarannya. Bagaimana aku tidak sensi, efeknya saja semengerikan ini. Sebenarnya angka-angka itu tak sungguhan aku hitung kok. Hanya untuk menggambarkan betapa ‘waw’ luas dampaknya. Tapi bukankah kenyataannya memang se-‘waw’ itu? Lalu sebenarnya apa sih nikmatnya pacaran? Ini juga yang sering aku tanyakan, baik pada diri sendiri maupun pada orang yang memang telah mengalaminya. Baikah silakan simak sendiri kronologi sebuah pacaran berdasarkan apa yang aku amati selama ini. Dari awal, saat ditembak –mati dong, si cewek pasti bahagia. Walaupun reaksi seketikanya bermacam-macam, ada yang kaget, bingung, bahkan tertawa terbahak-bahak, tapi pasti dihatinya merasa sangat bahagia. Kalaupun ada yang tidak, maka presentasinya sangat kecil. Selanjutnya urusan komunikasi. Hampir tiap malam atau tiap hari, telpon-telponan menjadi semacam ritual wajib bagi pasangan baru itu. Ini belum bagian panggilan-panggilan sayangnya. Ada banyak versi. Kalau mau yang mesra sih bisa sayang, baby, beib, cinta –iyuh, muntah aku. Kalau mau lebih berperan dewasa sih bisa ayah-ibu, mama-papa, abi-umi –anaknya mana bu? Atau mau nyeleneh seperti jahe-kunyit, tomat-terong, tempe-tahu –sekalian sambel terasi plus lalapan dan nasi anget ya! Urusan selanjutnya adalah anniv alias ulangbulan tanggal jadian. Ribet banget deh pokoknya. Bingung beli kado, bingung isi suratnya, bingung juga mau ngasihnya dengan cara bagaimana. Padahal baru juga satu bulan, kemungkinan putus bisa datang setiap detiknya kan? Satu bulan lewat. Saatnya putus #eh? Katanya sih kebanyakan begitu, baru satu bulan saja sudah megap-megap mempertahankannya. Yaiyalah, bagaimana mau mempertahankan, dari awal saja sudah salah jalur, masa iya mau bertahan di jalan yang sesat seterusnya? Saat-saat menjelang putus biasanya ditandai dengan berkurangnya kadar komunikasi serta meningkat drastisnya kadar kegalauan di pihak perempuan –kalau laki-laki sih aku tidak tahu. Menurunnya kadar komunikasi dapat disebabkan banyak macam hal. Ada yang memang jelas dapat diketahui, tapi ada juga yang seakan tanpa alasan. Frekuensi OTP-an pun berkurang. Pihak satu marah, pihak satu lagi bingung harus berbuat apa. Masa galau pun dimulai. Karena bingung harus berbuat apa akhirnya ia memutuskan untuk menelepon meminta penjelasan –ada juga yang tidak. Ada yang teleponnya berakhir dengan si cewek nangis, marah, atau tetap galau tak berkesudahan. Selanjutnya tinggal menunggu saja kapan waktu putusnya. Eh tapi ada juga sih yang membaik lagi. Lalu apakah pacaran itu memang nikmat? Sepertinya di beberapa saat memang nikmat. Tapi kalau sudah putus begitu? Apakah masih dibilang nikmat? Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah aku tak punya keinginan pacaran? Hmm mikir dulu yah. Kalau sampai pacaran sih sekarang ini tidak. Tapi kalau punya teman dekat sih aku mau kok. Bedanya apa? Ya beda lah. Teman dekat disini maksudnya ya yang semacam teman spesial yang membuat malam minggu atau malam libur nggak terasa sepi dan handphone tampak bernyawa. Aku remaja kan? Siapa pula yang nggak ingin punya teman dekat dalam artian seperti ini. Tapi aku semacam trauma juga sih. Dulu aku pernah punya teman dekat seperti itu. Aku mengenalnya dari sebuah event lomba. Orangnya baik –awalnya. Dan riwayat hidupnya hampir sama denganku. Kami menempuh jenis pendidikan yang sama. Sama-sama santri, sekarang di SMA beryayasan sama walaupun berbeda kota. Komunikasi kami hanya lewat SMS dan jelas tak pernah OTP-an. Bertemupun seingatku hanya dua kali. Sudah lebih dari satu tahun kami berkomunikasi. Entahlah, awalnya memang niatku murni berteman, tapi ya bagaimana, ‘sesuatu’ itu pelan-pelan muncul. Lalu apakah dia juga begitu? Aku juga tidak tahu hingga sekarang. Apakah ia memang menganggapku sekedar teman ataukah lebih atau malah kurang. Yang pasti isi percakapan kami jadi ‘semakin bukan teman’. Maksudku ya dia itu mulai aneh-aneh. Memanggilku dengan yang aneh-aneh. Entah itu hanya bercanda atau memang ada arti khusunya. Masalahnya, aku bahagia dipanggil dengan sebutan itu. Kan bahaya! Sampai suatu hari aku mengadakan pertemuan empat mata dengan seorang teman perempuanku. Siapa dia? Dia juga berperan dalam cerita ini. Ternyata, selain dekat denganku dia itu juga dekat dengan cewek ini. Dan parahnya lagi dia juga sudah punya pacar! Apa?! Bagaimana menurutmu? Apakah rasa marah plus jengkelku padanya itu wajar? Aku merasa ditipu. Sebenarnya ini salah siapa ya? Aku juga masih bingung. Pasalnya, setelah pertemuanku dengan cewek itu aku langsung putus kontak dengan dia. Aku marah memang. Yaiyalah aku marah! Lalu sekarang apa kabar? Aku juga tidak tahu. Kemarin saat ulangtahunku yang ke tujuh belas dia mengirimiku surat, dalam artian surat lewat pesan facebook, tapi memang bentuknya seperti surat sungguhan sih, diketik lalu difoto mungkin. Isinya? Aduh perasaanku seperti dibolak-balik. Semuanya campur aduk. Marah lagi, tapi sedih juga, nyesek pun ada. Tapi sampai sekarang belum kubalas. Mengapa? Ya bagaimana ku akan membalas, facebooknya saja non aktif. Kan bisa SMS? Nggak mau! Kenapa? Pokoknya nggak mau! Nah, dari curhatanku itu apa pendapatmu? Aku trauma. Keinginan untuk punya teman dekat memang sesekali muncul lah. Apalagi saat malam libur, teman-teman asyik dengan handphone dan gadgetnya masing-masing. Aku sih tak ingin yang hingga teleponan. Tapi bila mengingat kisah itu aku jadi takut sendiri. Masalahnya, percayaku pada kaum adam sudah turun jauh sekali. Tapi memang sih dari dulu aku memang takut pada yang namanya laki-laki. Maksudnya disini teman-teman sekolah dan seumurannya ya. Makanya aku semacam malas bila ada acara bersama teman seangkatan lengkap dengan anak cowoknya. Yang pasti aku bersyukur sekali karena dalam hidupku ini telah hadir banyak sekali sosok-sosok menyenangkan. Banyak sekali orang-orang yang sungguhan menyayangiku tanpa syarat. Merekalah sesungguhnya teman spesialku. Bercengkerama dengan mereka benar-benar dapat menjadi pembunuh sepi, pengobat galau, pencerah hari, sekaligus pewarna hidup. Lalu yang aku pertanyakan adalah apakah suatu hari nanti aku juga akan punya pacar? Bilamana iya, kapankah saat itu? Pada usia berapakah aku akan memiliknya? Ah sesungguhnya aku tak masalah benar untuk masalah memiliki pacar ini. Tapi bukankah kalau usia telah menginjak duapuluhan nanti akan berbeda konteks? Ya sudahlah, apa kata nanti. bila diberi teman dekat maka pasti akan membahagiakan. Asalkan dia benar-benar baik dan bukan seorang pembohong. Tapi kalaupun belum, maka tinggal menunggu sambil memperbaiki diri. Bukankah sederhananya begitu?
Wah ternyata dari uraian diatas, bisa disimpulkan bahwa dari kelima hal yang rata-rata teman seumuranku punya, kesemuanya belum aku miliki bahkan hingga usiaku tujuhbelas tahun di dunia. Lalu yang aku punya apa?
Usiaku tujuhbelas. Apa yang aku pikirkan? Banyak hal. Disini, di tanah orang aku merantau. Menuntut ilmu di sekolah tingkat atasku. Mengemban amanah dari orangtuaku dan guru-guruku. Menjadi yang terbaik sebisa aku dapat berikan. Bersyukur sekali saat teman-teman sekolah tingkat awalku sedang sibuk mencari sekolah, justru sekolah ini yang mencariku, mengundang dengan beasiswa penuh selama tiga tahun akademi. Bukankah itu suatu berkah luar biasa? Itu semua jelas dengan konsekuensi yang ternyata tidak ringan. Harus aku persembahkan pada sekolah ini sebuah prestasi dalam olimpiade bidang ilmu yang kuampu. Sebenarnya  dulu aku masuk ilmu hayat, tetapi karena kemungkinan lolos keluar sekolah saja kecil, maka aku meloncat ke ilmu bumi. Masa-masa kelas pertama dulu bisa dibilang kelam. Kelolosan dalam kelas olimpiade menjadi pikiran berat tersendiri. Galauku berkembang sedemikian rupa. Kalau sampai aku harus mengembalikan beasiswa ini bagaimana? Kalau eksistensiku disi harus berakhir bagaimana? Jelas masa kelam bukan? Bersyukur seorang teman spesialku mengundangku dalam misi menegangkan yang kemudian membawaku pada titik aman tahun pertama. Kami berhasil mengalungi medali emas dari misi itu.
Kelas keduaku bermula. Yang aku pikirkan tetap berkutat pada olimpiade dan lomba-lomba. Aku harus memilih, bertahan pada kemungkinan minimal dalam ilmu hayat ataukah berpindah ke ilmu bumi yang baru kukenal tapi berpeluang lumayan. Segalanya kupertimbangkan. Bertanya pendapat bunda dan teman paling spesialku. Maka akhirnya dengan semacam mantap, aku putuskan berhijrah ke ilmu bumi. Ini berat kawan. Semuanya terasa baru dan aku jauh tertinggal. Aku harus mengejar semuanya dengan daya yang tersisa. Melakukan apa saja hingga tersuruk-suruk mengikuti mereka yang telah jauh di depan. Belum lagi dengan mereka yang pelit informasi kepadaku. Memang, siapa sih yang senang mendapat saingan baru? Ujian dan evaluasi dilaksanakan. Nilaku? Ah, aku sedih merasainya. Ketertinggalanku makin kentara saja rasanya. Belajar tak ada habisnya, berpikir tiada ujungnya, berdoa tiada akhirnya. Segalanya untuk semuanya. Malam-malamku habis dengan cengkerama dan bermesraan bersama buku-buku dan lembaran kertas soal. Malam minggu pun tak ada beda. Kalaupun membuka laptop tentu membuka materi ilmu itu. Atau kalau sedang ingin refreshing aku ketikkan kata-kata dalam aneka rupa. Mencipta puisi, mengkaryakan pikiran dan ide-ide. Atau menelepon bunda, berbincang dengan teman-teman spesialku dan aktivitas sederhana dan menyenangkan lainnya sebelum kembali berkutat dengan tumpukan buku. Itulah yang aku katakan kesibukan. Ya begitulah aktifitasku. Memikirkan hari esok dan masa depan. Mengerjakan apa yang dapat menjadi penunjang keberadaan diri di hari berikutnya. Jadi, mana aku ada waktu untuk ‘menjadi remaja’? Maksudnya, memiliki dan mengurus kelima hal diatas tadi. Aku memang belum memiliki kelimanya. Tapi aku telah memiliki semua yang aku butuhkan. Bahkan urusan olimpiade dan eksistensi yang memusingkan itu termasuk yang aku butuhkan kan? Melelahkan, hingga terkadang aku ingin beristirahat sejenak dari pikiran-pikiran itu. Tapi bagaimana lagi, memang jalanku seperti ini. Segala konsekuensi harus diterima. Tak usah disesali, tak usah ditangisi. Kuyakin ini jalan terbaik. Lalu pertanyaannya, apakah aku bahagia? Silakan cek sendiri :)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Day 25 Share 1 story about hikmah ramadan!

'Cinta terlarang' kami memang sudah semestinya berakhir, semoga selamanya~ Saya dan pusing adalah sepasang yang mulanya selalu bersama. Setiap hari setidaknya pasti ada satu momen dimana saya berjumpa dengannya. Pusing yang saya maksud adalah tipe yang rasanya muter sampai badan seperti mau ambruk. Ini terutama saya rasakan kalau berpindah posisi tubuh secara tiba-tiba. Misalnya dari rebahan langsung duduk atau dari duduk langsung berdiri. Perlu waktu beberapa detik penyesuaian sambil memejamkan mata dahulu agar berhasil stabil. Kalau dilihat dari tekanan darah sebenarnya memang konsisten cenderung lebih rendah daripada orang lain pada umumnya. Tapi setelah berkonsultasi dengan suster sekolah katanya itu bukan masalah, karena setiap orang punya kisaran normalnya sendiri. Dugaan lain yang menjadi penyebabnya adalah rendahnya kadar hemoglobin dalam darah saya. Iya yang ini cukup terbukti sih. Sudah pernah saya periksakan juga dan memang demikian hasilnya. Saat sedang dalam hari...

Saya dan Rasa Lain yang Lucu

 Rasanya belum lama sejak terakhir menulis tentang rasa suka yang lucu. Rasa. Suka. ... yang sekejap menjadi tidak lucu lagi. Barangkali mimpi itu hanya canda. Bunga tidur yang mengada-ada. Tapi bisa juga ia adalah pertanda. Bahwa yang dinanti tak kunjung tiba, sebenarnya memang sudah selesai tak bersisa. Senangnya, saya biasa saja. Ya! Ini adalah rasa yang lucu. Saya sendiri heran. Pernyataan-pernyataan dari seseorang berhasil membuat saya berpindah haluan. Yang dulu disimpan, kini betulan berhasil diikhlaskan. Saya tidak menyangka. Saya tersadar dibuatnya. Yang sebenarnya dipertahankan bukanlah murni rasa sayang pada orangnya. Namun lebih kepada momennya yang telah terjalin lama. Lalu selanjutnya apa? Tidak tahu juga. Setidaknya untuk saat ini belum ada rencana untuk mengapa-apakan kotak rasa saya.  .  . . Yang pasti saya ketahui saat ini, bubuk kopi darimu sudah tak tersisa untuk diseduh dan dinikmati lagi.   Y281121K -selalu ada yang lain

#Day 11 Imagine that you are giving a kultum, what will you tell?

  Wabah: Pengingat tentang Terbatasnya Waktu Kita   Pandemi! Itu adalah status COVID-19 saat ini. Pandemi menurut WHO dijelaskan sebagai wabah yang sifatnya menyebar global dan mendunia. Meski semula memang ditemukan di Cina, virus ini merebak hingga kini telah mencakup 199 negara (re: saat draft tulisan ini pertama saya buat). Pelan tapi pasti, satu persatu aspek kehidupan kita terpengaruh oleh makhluk kecil tak kasat mata tapi nyata ini. Aspek kesehatan? Tentu signifikan sekali. Aspek ekonomi? Perlahan terguncang terganggu keseimbangannya. Aspek sosial? Manusia dipaksa berjauhan secara fisik, social distancing istilahnya. Masih banyak yang harus dirinci bila ingin mendeskripsikan betapa dahsyat dampak yang virus ini berikan. Namun bagaimanapun, setiap yang telah ditakdirkan oleh-Nya tentu membawa hikmah tersendiri bagi orang orang yang mau bertafakur dan merenungi sisi positif dengan bijaksana. Walau mungkin saat ini dunia sedang berduka, mari kita tilik sisi...