Langsung ke konten utama

Sejumput Kata dari Dini Hari



Kali ini jam menunjuk pukul 02:12
Ekstrem, bukan?
Ya, saya masih terjaga. Hingga sepagi ini.
Apa yang saya lakukan? Mengapa saya bisa bertahan (karena memang harus bertahan) melek hingga jam segini?
Tak lain tak bukan adalah karena apa yang kita sebut tugas. Laporan praktikum.
Yah, besok pagi saya harus mengumpulkan laporan tersebut kalau saya mau meliburkan diri pada hari senin lusa.
Jadilah saya Bandung Bondowoso. Bila Bandung Bondowoso sanggup membuat 999 candi dalam semalam, maka saya, sanggup menyelesaikan laporan praktikum dalam semalam pula.
Hehehe
Kapan saya terakhir kali bercerita?sudah lama sekali, bukan?
Padahal saaaaaangat banyak hal terjadi pada hari-hari ini. Namun rupanya hal-hal tersebut pulalah yang membuat saya lama tak bercerita pada Anda.
Apalagi kalau bukan: KULIAH.
Saya merasakan macam-macam perasaan kala merenungkan kata-kata itu. Entahlah. Ada bangga. Tidak percaya. Gugup. Bahagia. Unik. Menyenangkan. Capek. Bosan. Tertantang. Terkesiap. Bingung. Lelah. Haru. Semua jenis emosi sepertinya menyatu dalam satu kata itu.
Anda juga tengah memulai kuliah kan?
Bagaimana? Bagaimana rasanya? Bagaimana kesannya? Bagaimana kabar anda? Ah, sudah lama sekali saya tidak bertanya mengenai kabar anda. Padahal sudah lama sekali saya ingin bertanya. Tapi apa daya saya belum bisa. Padahal sudah lama sekali saya ingin bilang rindu. Tapi apa daya saya masih kelu.
Ahaha kok jadi begini sih kalimat saya? Lupakan saja ya, lupakan yang atas itu.
Oke, kembali ke pertanyaan utama. Bagaimana kehidupan kuliah Anda? Apakah juga aneka rasa seperti yang saya rasakan?
Kapan yah kita bisa saling bercerita tentang kehidupan kuliah masing-masing?
Ya sudahlah. Daripada saya sibuk menghitung hari hingga pertanyaan itu mendapat jawaban, lebih baik saya ‘mencicil’ cerita tentang kehidupan kuliah saya. Siapa tahu kan,seiring berjalannya waktu, kesempatan untuk saling bercerita itu akan datang. Dan bisa saja kedatangannya itu malah saat saya telah lupa bahwa saya pernah bertanya tentang hal itu.
Entah anda sudah tahu atau belum, dan kalaupun tahu, entah tahu dari mana, saya melanjutkan di universitas kependidikan di kota pelajar dengan program studi impian saya. Program studi yang saya harapkan dapat menjadi pengantar saya menuju cita-cita saya. Seorang pendidik sejati. Yang memiliki spesialisasi bidang ilmu hayat, ilmu yang saya rindukan selama masa sekolah tingkat atas saya.
Pukul berapa sekarang? Wah rupanya sudah 02:39. Apakah saya akan memutuskan untuk tidur? Entahlah. Saya kok malas tidur ya? Padahal besok ada kelas. Wah, seharusnya saya tidur ya? Duh, ingin cuci muka dulu tapi kok rasanya gimanaaa gitu mau jalan ke wastafel. Ihik. Sepi sekali siih. Yaiyalah sudah jam segini.
Apakah saya memang harus tidur? Yah, ceritanya terpotong dong?
Ya sudah ya, saya mau cuci muka dulu. Perkara nantinya saya memutuskan untuk tidur, nanti lah saya pikirkan lagi.
Selamat malam ()

Ssssssttt
Sudah pukul 02:52!
Tiga belas menit telah berlalu. Tahukah anda apa yang saya lakukan selama tiga belas menit itu? Bukan, bukan mencuci muka. Saya..... saya makan rambutan. Duh, apa sih hal begitu saja ditulis. Ya nggak apa-apa lah. Saya sedang sangat ingin bercakap dengan anda. Makanya apapun yang terlintas di pikiran saya ya saya ‘katakan’. Anda tidak akan protes kan? Lagipula anda memang tak punya kesempatan untuk protes
Yeeeeee
Eh, ngomong-ngomong tentang rambutan, anda suka dengan rambutan atau tidak?
Nggak apa-apa sih. Saya tetap nggak akan ngasih kok walaupun anda bilang anda suka sekali pada buah itu. Bukannya saya pelit. Bukan. Yah gimana mau ngasih, saya kan tidak pernah bertemu anda. Mas aiya rambutannya saya paketkan. Atau mau dikirim lewat email? Nggak mungkin kan? Secanggih-canggihnya teknologi masa ini saya pikir masih belum bisa secanggih di masa Nabi Sulaiman yang mampu memindahkan singgasana ratu Balqis dari negeri Saba ke istana Nabi Sulaiman.
Pukul 03:03!
Cepat sekali waktu berlalu.
Sama cepatnya dengan waktu yang telah berlalu sejak terakhir kali saya berjumpa dengan anda. Idih apaan sih. Ngapain kalimatnya jadi begitu coba. Hmmm
Wah, saya mendengar ada suara langkah kaki orang di luar. Hiiii
Ah tidak lah. Itu kan orang. Lagipula sekarang sudah hampir pagi subuh. Sudah wajar untuk orang-orang mulai bangun. Anda? Anda biasanya bangun pagi jam berapa? Hmmm pasti lebih pagian anda deh daripada saya. Entah ya, saya sering stres juga loh karena susah bangun pagi. Ndak enak e kalau susah bangun pagi tu. Rasanya seperti telat memulai hari gitu...
Eh sebentar ya, saya mau ke wastafel dulu. Tadi kan batal.
ehehe


111215

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Day 25 Share 1 story about hikmah ramadan!

'Cinta terlarang' kami memang sudah semestinya berakhir, semoga selamanya~ Saya dan pusing adalah sepasang yang mulanya selalu bersama. Setiap hari setidaknya pasti ada satu momen dimana saya berjumpa dengannya. Pusing yang saya maksud adalah tipe yang rasanya muter sampai badan seperti mau ambruk. Ini terutama saya rasakan kalau berpindah posisi tubuh secara tiba-tiba. Misalnya dari rebahan langsung duduk atau dari duduk langsung berdiri. Perlu waktu beberapa detik penyesuaian sambil memejamkan mata dahulu agar berhasil stabil. Kalau dilihat dari tekanan darah sebenarnya memang konsisten cenderung lebih rendah daripada orang lain pada umumnya. Tapi setelah berkonsultasi dengan suster sekolah katanya itu bukan masalah, karena setiap orang punya kisaran normalnya sendiri. Dugaan lain yang menjadi penyebabnya adalah rendahnya kadar hemoglobin dalam darah saya. Iya yang ini cukup terbukti sih. Sudah pernah saya periksakan juga dan memang demikian hasilnya. Saat sedang dalam hari...

Saya dan Rasa Lain yang Lucu

 Rasanya belum lama sejak terakhir menulis tentang rasa suka yang lucu. Rasa. Suka. ... yang sekejap menjadi tidak lucu lagi. Barangkali mimpi itu hanya canda. Bunga tidur yang mengada-ada. Tapi bisa juga ia adalah pertanda. Bahwa yang dinanti tak kunjung tiba, sebenarnya memang sudah selesai tak bersisa. Senangnya, saya biasa saja. Ya! Ini adalah rasa yang lucu. Saya sendiri heran. Pernyataan-pernyataan dari seseorang berhasil membuat saya berpindah haluan. Yang dulu disimpan, kini betulan berhasil diikhlaskan. Saya tidak menyangka. Saya tersadar dibuatnya. Yang sebenarnya dipertahankan bukanlah murni rasa sayang pada orangnya. Namun lebih kepada momennya yang telah terjalin lama. Lalu selanjutnya apa? Tidak tahu juga. Setidaknya untuk saat ini belum ada rencana untuk mengapa-apakan kotak rasa saya.  .  . . Yang pasti saya ketahui saat ini, bubuk kopi darimu sudah tak tersisa untuk diseduh dan dinikmati lagi.   Y281121K -selalu ada yang lain

#Day 11 Imagine that you are giving a kultum, what will you tell?

  Wabah: Pengingat tentang Terbatasnya Waktu Kita   Pandemi! Itu adalah status COVID-19 saat ini. Pandemi menurut WHO dijelaskan sebagai wabah yang sifatnya menyebar global dan mendunia. Meski semula memang ditemukan di Cina, virus ini merebak hingga kini telah mencakup 199 negara (re: saat draft tulisan ini pertama saya buat). Pelan tapi pasti, satu persatu aspek kehidupan kita terpengaruh oleh makhluk kecil tak kasat mata tapi nyata ini. Aspek kesehatan? Tentu signifikan sekali. Aspek ekonomi? Perlahan terguncang terganggu keseimbangannya. Aspek sosial? Manusia dipaksa berjauhan secara fisik, social distancing istilahnya. Masih banyak yang harus dirinci bila ingin mendeskripsikan betapa dahsyat dampak yang virus ini berikan. Namun bagaimanapun, setiap yang telah ditakdirkan oleh-Nya tentu membawa hikmah tersendiri bagi orang orang yang mau bertafakur dan merenungi sisi positif dengan bijaksana. Walau mungkin saat ini dunia sedang berduka, mari kita tilik sisi...