menjadi diri sendiri tidaklah mudah. hanya orang-orang yang mampu mengenal dirinya dengan baiklah yang berani menjadi dirinya sendiri. tak tergoyahkan oleh suara-suara sumbang di luar dirinya. kata kawanku pagi ini, orang yang demikianlah yang disebut dengan orang yang mengerti konsep dirinya.
aku sendiri merasakan, aku masih sering berlaku dengan dasar ingin membuat orang lain senang. bertindak dengan alasan tak ingin membuat orang lain kecewa.
hmm mungkin sekilas hal itu semacam positif ya?
tapi sebenarnya tak jarang aku juga merasa tersiksa. mengapa? karena yang kulakukan itu tidak selalu sesuai dengan kata hatiku. parahnya lagi, ada efek aku berharap orang-orang akan puas dengan yang kulakukan. lalu bila harapan itu tak menjadi nyata, ada dampak luar biasa dalam diriku yakni kekecewaan dan rasa bersalah yang amat berlebihan. bahkan hingga taraf aku menyalahkan diriku sendiri. bila sudah demikian, biasanya yang kerepotan tidak hanya aku. kawan baikku pun terkena dampaknya. entah sudah berapa kali aku meminta waktunya untuk menemaniku mengurai gumpalan-gumpalan pikiran yang menyesakkan. entah berapa kali aku menyita waktunya untuk mendengarkan kalimat-kalimat tak mengenakkan yang kutujukan pada diriku...
hingga saat ini pribadiku masih seperti itu. belum sepenuhnya menjadi diri sendiri. aku masih kerap menjadi orang sesuai dengan keinginan lingkunganku. keinginan orang-orang di sekitarku.
lalu mau sampai kapan?
itu tanya yang hingga kini menghantuiku. sampai kapan . . .
aku pun tidak tahu jawab pastinya. mungkin dalam waktu dekat, mungkin masih esok lusa.
aku sendiri merasakan, aku masih sering berlaku dengan dasar ingin membuat orang lain senang. bertindak dengan alasan tak ingin membuat orang lain kecewa.
hmm mungkin sekilas hal itu semacam positif ya?
tapi sebenarnya tak jarang aku juga merasa tersiksa. mengapa? karena yang kulakukan itu tidak selalu sesuai dengan kata hatiku. parahnya lagi, ada efek aku berharap orang-orang akan puas dengan yang kulakukan. lalu bila harapan itu tak menjadi nyata, ada dampak luar biasa dalam diriku yakni kekecewaan dan rasa bersalah yang amat berlebihan. bahkan hingga taraf aku menyalahkan diriku sendiri. bila sudah demikian, biasanya yang kerepotan tidak hanya aku. kawan baikku pun terkena dampaknya. entah sudah berapa kali aku meminta waktunya untuk menemaniku mengurai gumpalan-gumpalan pikiran yang menyesakkan. entah berapa kali aku menyita waktunya untuk mendengarkan kalimat-kalimat tak mengenakkan yang kutujukan pada diriku...
hingga saat ini pribadiku masih seperti itu. belum sepenuhnya menjadi diri sendiri. aku masih kerap menjadi orang sesuai dengan keinginan lingkunganku. keinginan orang-orang di sekitarku.
lalu mau sampai kapan?
itu tanya yang hingga kini menghantuiku. sampai kapan . . .
aku pun tidak tahu jawab pastinya. mungkin dalam waktu dekat, mungkin masih esok lusa.
Komentar
Posting Komentar