Yang disebut memiliki tanggung jawab tidaklah pernah terasa mudah.
Yang dikata memiliki kewajiban tidaklah pernah terasa ringan.
Konflik tentu dapat selalu terjadi. Ketika sebuah kepentingan dua pihak mendesak untuk saling didahulukan. Kala itu pula seorang yang diamanahkan memegang amanah dari kedua pihak merasa dibingungkan.
Dua hal hampir selalu menjadi barat dan timur. Memegang timur akan berarti melepas yang barat, dan demikian pula sebaliknya. Barat dan timur tidak akan pernah bisa dipaksakan untuk jadi dekat dan dapat tergapai oleh kanan dan kiri. Kecenderungam memilih salah satunya tentu akan bersinggungan dengan tuntutan pihak satunya. Memaksa yang berada di tengah-tengah untuk jadi tertekan dan tak tahu harus berbuat apa. Memilih keduanya? Itu tak mungkin. Sama saja itu bukanlah suatu pilihan. Menyeimbangkan porsi? Itu juga dapat dibilang tak mungkin dilakukan. Akan selalu ada tuntutan dan ingin jadi yang diutamakan. Lalu ketika ego seolah menginginkan. Memilih, apa yang harus kami lakukan? Memilih satu dan meninggalkan yang lain? Namun yang menjadi masalah adalah saat yang hendak kami tinggalkan malah dengan jelas menghalangi niat kami. Kami pun tak kuasa menerang-benderangkan apakah yang mereka harapkan dari keberadaan kami, orang orang uang menyebalkan. Mengapa kami masih dipertahankan padahal kami telah nyatakan bahwa minim sekali level kemauan? Apakah bila benar kami pergi, maka kala itulah sebuah ego telah memenangkan pertarungan?
Y110316K
Yang dikata memiliki kewajiban tidaklah pernah terasa ringan.
Konflik tentu dapat selalu terjadi. Ketika sebuah kepentingan dua pihak mendesak untuk saling didahulukan. Kala itu pula seorang yang diamanahkan memegang amanah dari kedua pihak merasa dibingungkan.
Dua hal hampir selalu menjadi barat dan timur. Memegang timur akan berarti melepas yang barat, dan demikian pula sebaliknya. Barat dan timur tidak akan pernah bisa dipaksakan untuk jadi dekat dan dapat tergapai oleh kanan dan kiri. Kecenderungam memilih salah satunya tentu akan bersinggungan dengan tuntutan pihak satunya. Memaksa yang berada di tengah-tengah untuk jadi tertekan dan tak tahu harus berbuat apa. Memilih keduanya? Itu tak mungkin. Sama saja itu bukanlah suatu pilihan. Menyeimbangkan porsi? Itu juga dapat dibilang tak mungkin dilakukan. Akan selalu ada tuntutan dan ingin jadi yang diutamakan. Lalu ketika ego seolah menginginkan. Memilih, apa yang harus kami lakukan? Memilih satu dan meninggalkan yang lain? Namun yang menjadi masalah adalah saat yang hendak kami tinggalkan malah dengan jelas menghalangi niat kami. Kami pun tak kuasa menerang-benderangkan apakah yang mereka harapkan dari keberadaan kami, orang orang uang menyebalkan. Mengapa kami masih dipertahankan padahal kami telah nyatakan bahwa minim sekali level kemauan? Apakah bila benar kami pergi, maka kala itulah sebuah ego telah memenangkan pertarungan?
Y110316K
Komentar
Posting Komentar