Kenapaaaa memulai nulis itu gampang tapi semangat ngelanjutinnya sulit terkumpul sih?
Banyak remah-remah tulisan mengendap dalam folder, belum selesai eh ide baru berlompatan, menggoda jemari untuk segera mengolahnya menjadi rangkaian kalimat. Padahal yang sedang di depan mata belum juga terselesaikan. Dan siklus macam itu terus berulang ._.
Gimana mau dipublish kalau tulisannya cuma cuilan-cuilan?
Aaaaaaaa
Mau sampai kapan beginiii?!
Mungkin kalau remahan-remahan itu dikumpulkan, udah bisa dapat satu toples kali ya? *lah emangnya rengginan? --"
***
Namanya Darpana. Entah siapa yang menamainya. Sudah seperti itu saat lelaki itu mengenalnya. Elok parasnya, namun hanya hening yang ia punya. Tiada riak, tiada kecipak. Darpana, danau cantik berpagar rupa-rupa pepohon besar semacam pohon Bedaru. Sedang di tepi-tepinya tumbuh kembang-kembang aneka warna. Ada si bakung, rumpun mawar, kemuning, dan di muka beningnya bergerombol daun-daun lebar bermahkotakan merah muda teratai. Di sisi baratnya berhias bunga-bunga rumput sang satu-dua seringkali iseng menempel pada kain pengunjung. Sedang di sisi timurnya tampak gagah beringas nan penuh rahasia, pohon Buraksa bercabang empat. Akar gantungnya menjulur-julur seperti hendak merangkul buwana dalam ketidakberdayaannya. Disitulah, dibawah teduh naungan Buraksa lelaki itu setiap sore menghabisi senja.
Namanya Darpana. Danau itu sudah ada bahkan sejak belum ada kampung ini ada. Sejak kala baheula pula ia hanya diam. Hening setiap masanya. Keanggunan Darpana membuat orang-orang kampung bersepakat dengan pemerintah untuk memberdayakannya. Fasilitas penunjang terbentuknya objek pariwisata dibangun. Pohon-pohonan serta bebunga yang sekarang ini juga hasil dari orang-orang kampung kala itu. Bangku-bangku putih ditata apik berjarak lima meteran di sekelilingnya. Bahkan kabupaten berbaik hati memberikan lampu bertiang demi Darpana, padahal orang-orang kampung sendiri masih banyak yang belum berlampu.
***
Banyak remah-remah tulisan mengendap dalam folder, belum selesai eh ide baru berlompatan, menggoda jemari untuk segera mengolahnya menjadi rangkaian kalimat. Padahal yang sedang di depan mata belum juga terselesaikan. Dan siklus macam itu terus berulang ._.
Gimana mau dipublish kalau tulisannya cuma cuilan-cuilan?
Aaaaaaaa
Mau sampai kapan beginiii?!
Mungkin kalau remahan-remahan itu dikumpulkan, udah bisa dapat satu toples kali ya? *lah emangnya rengginan? --"
***
Namanya Darpana. Entah siapa yang menamainya. Sudah seperti itu saat lelaki itu mengenalnya. Elok parasnya, namun hanya hening yang ia punya. Tiada riak, tiada kecipak. Darpana, danau cantik berpagar rupa-rupa pepohon besar semacam pohon Bedaru. Sedang di tepi-tepinya tumbuh kembang-kembang aneka warna. Ada si bakung, rumpun mawar, kemuning, dan di muka beningnya bergerombol daun-daun lebar bermahkotakan merah muda teratai. Di sisi baratnya berhias bunga-bunga rumput sang satu-dua seringkali iseng menempel pada kain pengunjung. Sedang di sisi timurnya tampak gagah beringas nan penuh rahasia, pohon Buraksa bercabang empat. Akar gantungnya menjulur-julur seperti hendak merangkul buwana dalam ketidakberdayaannya. Disitulah, dibawah teduh naungan Buraksa lelaki itu setiap sore menghabisi senja.
Namanya Darpana. Danau itu sudah ada bahkan sejak belum ada kampung ini ada. Sejak kala baheula pula ia hanya diam. Hening setiap masanya. Keanggunan Darpana membuat orang-orang kampung bersepakat dengan pemerintah untuk memberdayakannya. Fasilitas penunjang terbentuknya objek pariwisata dibangun. Pohon-pohonan serta bebunga yang sekarang ini juga hasil dari orang-orang kampung kala itu. Bangku-bangku putih ditata apik berjarak lima meteran di sekelilingnya. Bahkan kabupaten berbaik hati memberikan lampu bertiang demi Darpana, padahal orang-orang kampung sendiri masih banyak yang belum berlampu.
***
Cerita ini bermula pada ramadan tahun
lalu. Saat tiba-tiba seorang laki-laki bertamu ke rumah kami. Yang dicarinya
adalah bunda, adikku yang membukakan pintu. Sementara aku tidak terlalu peduli
dan melanjutkan aktivitasku.
“Siapa?”
“Nggak tau, bapak-bapak.” Hmm peduli
adikku pun hanya sebatas pembukaan pintu ternyata.
Pagi sudah tidak patut disebut pagi lagi.
Kota kecil tempat kami tinggal semakin memanggang meski mentari baru
sepenggalahan naik. Tamu itu masih berbincang dengan ibu. Barulah sebentar
sebelum azan dhuhur ia pulang.
“Siapa, Bun?” tanyaku.
***
“Tapi aku akan membunuhnya!”
Suara gadis itu parau,
berupaya memecah keheningan malam. Namun rupanya tak cukup kuasa sebab malam
tetap dalam geming hening. Teriakannya tak sampai dapat disebut teriak jua.
Sebab dalam amarahnya itu ia coba setia pada keanggunan yang ia usahakan tetap
melekat dalam lakunya. Sebab ia seorang putri.
***
Yeah, itu beberapa remahan yang entah telah berapa lama mengendap di dasar lautan pikiran *halah alay*
Mungkin suatu hari nanti, entah kapan, remahan itu akan berubah peran menjadi adonan dan dapat kuubah jadi seporsi tulisan yang bergizi tinggi :D
N110916W
Komentar
Posting Komentar