Kehilangan. Utamanya melalui kematian. Siapa yang bisa menghindar?
Perpisahan. Utamanya melalui kematian. Siapa yang bisa menafikan?
Kepergian. Utamanya melalui kematian. Siapa yang bisa membatalkan?
Semua orang mati.
Banyak yang tak bisa dipilih: waktu, tempat, cara, dan dimensi lainnya yang mungkin tak dapat terbahasakan oleh manusia.
Memang takdir yang bicara. Tiada daya manusia suatu apa. Tapi keadilan? Itu lain persoalannya.
Kami mengalami. Jadi pihak yang yang ditinggalkan. Tidak hanya tentang kehilangan satu nyawa. Ia harapan. Ia teladan. Ia tak tergantikan.
Sakit. Sungguh.
Dan kematian dengan cara seperti itu? Oleh orang tak bertanggung jawab? Benar benar secara harfiah 'lempar batu sembunyi tangan'? Hati siapa yang tak merasa susah untuk memaafkan?
Kami kehilangan. Kehilangan yang takkan terketemukan. Dan mereka, yang sepertinya memang telah kehilangan kemanusiaan, entah bersembunyi dimana. Bahkan hingga bertahun kini pun tak diketahui rimbanya.
Bertahun berlalu. Banyak yang harus lebih menjadi perhatian. Bukan, bukan berarti kami melupakan. Hanya kami mengingat pesannya: lihatlah ke depan.
Kami mencoba berdamai. Bukankah damai akan mengundang ketenangan dan ketentraman? Lalu keadilan? Biarlah Yang Maha Adil yang mengurusnya. Bila bukan sekarang, masih ada esok lusa, kan?
Apakah kami sudah ikhlas?
Hmm tak ada yang berhak menyatakannya, bukan?
Dan tulisan ini, apakah ini pertanda bahwa masih ada yang aku sesalkan?
Terserah bagaimana timbulnya penilaian, tapi bagiku ini sama sekali bukan tuntutan. Apalagi pernyataan luka dari jangka waktu yang telah silam. Aku menyebutnya sebagai selembar usaha mengenang.
Tapi kenapa sekarang?
Hmm tentu tak jauh dari pancingan: kematian seorang kawan.
Sama. Ia pergi. Jalarannya lah yang membuat banyak orang tak terima. Tak jauh berbeda dengan kami: jalaran orang orang tak bertanggung jawab.
Apakah banyak manusia memang telah kehilangan dirinya? Perasaannya? Apakah banyak manusia memang telah jemu dengan status peradabannya? Apakah mereka telah bosan dengan kepemilikan atas kemanusiaannya?
Nyawa akan tinggalkan raga. Tapi apa pantas bila demikianlah caranya?
Keadilan. Harap itu masih ada. Sebab Sang Pewujud Harap itu pun kami percayai adanya. Meski mungkin hingga sekarang atau bahkan esok lusa kami masih kesulitan membaca bentuk keadilan-Nya, bukan berarti itu tidak ada kan?
Y280117K
. . .
Y270317K
Ah, rupanya sudah berlalu jelang hitungan 2 bulan. . .
Perpisahan. Utamanya melalui kematian. Siapa yang bisa menafikan?
Kepergian. Utamanya melalui kematian. Siapa yang bisa membatalkan?
Semua orang mati.
Banyak yang tak bisa dipilih: waktu, tempat, cara, dan dimensi lainnya yang mungkin tak dapat terbahasakan oleh manusia.
Memang takdir yang bicara. Tiada daya manusia suatu apa. Tapi keadilan? Itu lain persoalannya.
Kami mengalami. Jadi pihak yang yang ditinggalkan. Tidak hanya tentang kehilangan satu nyawa. Ia harapan. Ia teladan. Ia tak tergantikan.
Sakit. Sungguh.
Dan kematian dengan cara seperti itu? Oleh orang tak bertanggung jawab? Benar benar secara harfiah 'lempar batu sembunyi tangan'? Hati siapa yang tak merasa susah untuk memaafkan?
Kami kehilangan. Kehilangan yang takkan terketemukan. Dan mereka, yang sepertinya memang telah kehilangan kemanusiaan, entah bersembunyi dimana. Bahkan hingga bertahun kini pun tak diketahui rimbanya.
Bertahun berlalu. Banyak yang harus lebih menjadi perhatian. Bukan, bukan berarti kami melupakan. Hanya kami mengingat pesannya: lihatlah ke depan.
Kami mencoba berdamai. Bukankah damai akan mengundang ketenangan dan ketentraman? Lalu keadilan? Biarlah Yang Maha Adil yang mengurusnya. Bila bukan sekarang, masih ada esok lusa, kan?
Apakah kami sudah ikhlas?
Hmm tak ada yang berhak menyatakannya, bukan?
Dan tulisan ini, apakah ini pertanda bahwa masih ada yang aku sesalkan?
Terserah bagaimana timbulnya penilaian, tapi bagiku ini sama sekali bukan tuntutan. Apalagi pernyataan luka dari jangka waktu yang telah silam. Aku menyebutnya sebagai selembar usaha mengenang.
Tapi kenapa sekarang?
Hmm tentu tak jauh dari pancingan: kematian seorang kawan.
Sama. Ia pergi. Jalarannya lah yang membuat banyak orang tak terima. Tak jauh berbeda dengan kami: jalaran orang orang tak bertanggung jawab.
Apakah banyak manusia memang telah kehilangan dirinya? Perasaannya? Apakah banyak manusia memang telah jemu dengan status peradabannya? Apakah mereka telah bosan dengan kepemilikan atas kemanusiaannya?
Nyawa akan tinggalkan raga. Tapi apa pantas bila demikianlah caranya?
Keadilan. Harap itu masih ada. Sebab Sang Pewujud Harap itu pun kami percayai adanya. Meski mungkin hingga sekarang atau bahkan esok lusa kami masih kesulitan membaca bentuk keadilan-Nya, bukan berarti itu tidak ada kan?
Y280117K
. . .
Y270317K
Ah, rupanya sudah berlalu jelang hitungan 2 bulan. . .
Komentar
Posting Komentar