Kamu lihat itu apa?
Pecahan-pecahan kaca. Menyerpih tapi masih berusaha menetap bersama. Berjuang agar tak terberai. Remah lemah yang berupaya mempertahankan yang semestinya telah rusak tak tertolong.
Bukankah itu naif? Apakah boleh kukatakan itu perjuangan yang tak realistis?
Kita pernah menjadi serupa mereka. Bertahan menyatukan keping keping masa lalu yang sekejap lagi hancur. Bekerja keras meyakini patahan-patahan itu masih dapat dijaga meski saling tahu itu artinya luka. Bertahan mereguk sakit demi keinginan tidak rasional mempertahankan sisa-sisa rasa yang telah tercoreng kecewa dan raibnya rasa percaya. Pedih perih ingin dilupa tapi itulah yang rupanya diam diam menikam kita tanpa ampun. Kita berusaha bertahan memunguti pecahan kaca meski jari penuh barut luka. Sampai akhirnya kita tersadar, bukan begini caranya melanjutkan jalan cerita. Menahan luka tanpa usaha mengobatinya bukanlah ide bagus untuk membangun sebuah kisah indah.
Memaafkan yang sudah sudah, kita mencoba belajar berdamai dengan gores rasa kecewa pada masa lalu. Serpih-serpih beling kita rapikan dan simpan dengan hati hati. Mereka ada bukan untuk dipaksa merekat kembali. Biar, biar jadi kenangan saja. Biar jadi bukti bahwa kita pernah melalui masa sulit bersama. Biar jadi pengingat bahwa kita pernah menjalani hari pedih berdua. Tak apa, itu juga termasuk warna yang menghiasi cerita kita.
Kita mencoba merawat sebuah kaca yang baru. Menjaganya bersih, memastikannya mengkilap dan bertahan tidak pecah. Kaca baru yang memuat gambaran masa depan yang kita rencanakan bersama. Dengan rasa yang jauh lebih lapang, tidak menyimpan ketersiksaan luka-luka sebagaimana yang telah lalu.
Kuharap kita dapat terus berusaha bersama mempertahankan keutuhan kaca baru ini. Kuharap kita dapat menjaganya dari bentur-lempar-jatuh yang bisa meretak-patahkannya.
Dan kuharap kamu berkenan memiliki harap yang serupa dengan itu. Sebab ini kaca kita, tak bisa kuupayakan baik adanya oleh seorang diri saja.
Y181017K
22.56

Komentar
Posting Komentar