Langsung ke konten utama

Microteaching :))

Microteaching has nothing to do with teaching microbes!


Yak. Semester baru telah dimulai. Makin terasa saja tuanya. Semester ini isi perkuliahan semakin membuatku merasa benar-benar masuk dalam dunia keguruan. Proporsi mata kuliah kependidikan jauh meningkat dan semakin banyak daripada keilmuan dasarnya. Terlebih lagi, pada semester ini kami memasuki era matakuliah khas guru: Microteaching.

Mata kuliah microteaching merupakan mata kuliah praktik dengan 2 SKS, alias 2x100 menit. Pada matkul ini, kami dibagi menjadi dua kelompok, dengan 1 kelompok beranggotakan 11 orang. Setiap kelompok diampu oleh 2 orang dosen, memiliki jadwal pertemuan 2 kali sepekan, dan menganut aturan yang agak berbeda antarkelompok tergantung dosennya.

Yang khas dari mata kuliah ini adalah bahwa kami benar-benar full praktik. Ada sih teorinya, tapi amat sedikit dan hanya diberikan sebagai sisipan. Porsi pembelajaran terbanyaknya adalah kami tampil, akting, berperan sebagai guru, dengan teman-teman lain menjadi muridnya.

Yang namanya berakting jadi guru, tentu harus tahu seluk-beluk segala-galanya semua-muanya tentang dunia mengajar, mengelola kelas, dan apapun itu yang berhubungan dengan peran guru. Kami harus paham bagaimana bersikap sebagaimana guru, berpakaian sebagaimana guru (kelompok satunya dari kelas kami diwajibkan memakai kostum khas microteaching: atasan putih, bawahan hitam. Syukurlah kelompokku dosennya lebih fleksibel jadi tidak diwajibkan demikian hehe), berbicara, menjelaskan, bertanya, memimpin diskusi, berjalan, membuka pelajaran, menutup pelajaran, dan lain masih banyak lagi, sebagaimana layaknya guru. Pun sebelum akting mengajar kami harus menyiapkan perangkat pembelajaran yang disebut RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Itu semacam skenario, rancangan kira-kira apa saja yang akan dilakukan dan disampaikan dalam suatu pembelajaran, mulai dari bagian pembukaan, isi, hingga penutup. Tak tertnggal pula kami harus menuliskan apa tujuan pembelajarannya, indikatornya, metodenya, modelnya, medianya, sampai akhirnya bagaimana mengevaluasi hasil belajar siswanya.

Dan yang menantang adalah bahwa RPP itu dibuat untuk penyampaian pembelajaran selama 10 menit!

Apakah itu waktu yang singkat? Atau itu sudah terasa terlalu lama?

Relatif.

Aku dapat menjawabnya demikian karena tepat kemarin kelompok kami diminta untuk mulai praktik, yaitu praktik membuka pelajaran dan bertanya. Untuk kedua kemampuan tersebut, banyak sekali indikator yang dinilai. Mulai dari suara, gestur, pakaian, sampai dengan esensi kemampuan itu sendiri. Syukurlah dalam latihan pertama ini kelompok kami belum diminta membuat RPP. Jadi 'hanya' langsung tampil sesuai urutan yang sudah diundi pekan sebelumnya (and i got the second turn uh!).

Saat di depan kelas, rasanya saaaaangat berbeda dari segala bentuk presentasi yang pernah kulakukan. Padahal audiensnya kan sama, ya mereka teman-teman kelasku juga, bahkan jumlahnya hanya separuh dari kelas utuh. Tapi rupanya memang sensasinya berbeda, jauh lebih bikin nervous dan itu sungguh ampuh membuyarkan segala preparasi yang dibuat sebelum tampil. Rasanya kata-kata yang terucap tidak sesuai dengan rencana, konsep yang sudah disiapkan tiba-tiba ambyar berlarian (kesana kemari dan tertawa /lhah/).

Dan masalah waktu? Kami diberikan 3 menit untuk tampil. Dan saat dosen memberi tanda selesai, duh rasanya aku belum menyampaikan apa-apa deh. Tapi di sisi lain aku juga merasa lega, karena tanda berhenti itu diberikan tepat setelah aku merasa kebingungan mau ngomong apa lagi. Nah!

Satu per satu dari kami tampil mengajar. Rata-rata yang dirasakan sama: dingin. Campuran dinginnya AC dan tentu saja dingin efek nervous.

Syukurlah pak dan bu dosen memaklumi segala kekurangan pada penampilan perdana kami. Wajar, kata mereka.

Pekan depan, kami masih belajar kemampuan-kemampuan terbatas, belum mengajar selama 10 menit full. Entahlah bagaimana besok, semoga saja kami bisa meningkat. Kecuali nervousnya, yang ini sih harusnya sudah menurun
Ehe

Intinya, kami harus terus berlatih, mengulang, dan membiasakan diri.
Doakan kami :)


Y130218K

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Day 25 Share 1 story about hikmah ramadan!

'Cinta terlarang' kami memang sudah semestinya berakhir, semoga selamanya~ Saya dan pusing adalah sepasang yang mulanya selalu bersama. Setiap hari setidaknya pasti ada satu momen dimana saya berjumpa dengannya. Pusing yang saya maksud adalah tipe yang rasanya muter sampai badan seperti mau ambruk. Ini terutama saya rasakan kalau berpindah posisi tubuh secara tiba-tiba. Misalnya dari rebahan langsung duduk atau dari duduk langsung berdiri. Perlu waktu beberapa detik penyesuaian sambil memejamkan mata dahulu agar berhasil stabil. Kalau dilihat dari tekanan darah sebenarnya memang konsisten cenderung lebih rendah daripada orang lain pada umumnya. Tapi setelah berkonsultasi dengan suster sekolah katanya itu bukan masalah, karena setiap orang punya kisaran normalnya sendiri. Dugaan lain yang menjadi penyebabnya adalah rendahnya kadar hemoglobin dalam darah saya. Iya yang ini cukup terbukti sih. Sudah pernah saya periksakan juga dan memang demikian hasilnya. Saat sedang dalam hari...

Saya dan Rasa Lain yang Lucu

 Rasanya belum lama sejak terakhir menulis tentang rasa suka yang lucu. Rasa. Suka. ... yang sekejap menjadi tidak lucu lagi. Barangkali mimpi itu hanya canda. Bunga tidur yang mengada-ada. Tapi bisa juga ia adalah pertanda. Bahwa yang dinanti tak kunjung tiba, sebenarnya memang sudah selesai tak bersisa. Senangnya, saya biasa saja. Ya! Ini adalah rasa yang lucu. Saya sendiri heran. Pernyataan-pernyataan dari seseorang berhasil membuat saya berpindah haluan. Yang dulu disimpan, kini betulan berhasil diikhlaskan. Saya tidak menyangka. Saya tersadar dibuatnya. Yang sebenarnya dipertahankan bukanlah murni rasa sayang pada orangnya. Namun lebih kepada momennya yang telah terjalin lama. Lalu selanjutnya apa? Tidak tahu juga. Setidaknya untuk saat ini belum ada rencana untuk mengapa-apakan kotak rasa saya.  .  . . Yang pasti saya ketahui saat ini, bubuk kopi darimu sudah tak tersisa untuk diseduh dan dinikmati lagi.   Y281121K -selalu ada yang lain

#Day 11 Imagine that you are giving a kultum, what will you tell?

  Wabah: Pengingat tentang Terbatasnya Waktu Kita   Pandemi! Itu adalah status COVID-19 saat ini. Pandemi menurut WHO dijelaskan sebagai wabah yang sifatnya menyebar global dan mendunia. Meski semula memang ditemukan di Cina, virus ini merebak hingga kini telah mencakup 199 negara (re: saat draft tulisan ini pertama saya buat). Pelan tapi pasti, satu persatu aspek kehidupan kita terpengaruh oleh makhluk kecil tak kasat mata tapi nyata ini. Aspek kesehatan? Tentu signifikan sekali. Aspek ekonomi? Perlahan terguncang terganggu keseimbangannya. Aspek sosial? Manusia dipaksa berjauhan secara fisik, social distancing istilahnya. Masih banyak yang harus dirinci bila ingin mendeskripsikan betapa dahsyat dampak yang virus ini berikan. Namun bagaimanapun, setiap yang telah ditakdirkan oleh-Nya tentu membawa hikmah tersendiri bagi orang orang yang mau bertafakur dan merenungi sisi positif dengan bijaksana. Walau mungkin saat ini dunia sedang berduka, mari kita tilik sisi...