Definisi waktu sangat cepat berlalu itu sangat benar ya. Waktu tidak
mau menunggu, terus melaju, tanpa peduli pengejarnya bergerak dengan
cara apa. Apakah lari, berjalan, terseok, tersungkur, atau berdiam saja,
waktu terus melaju tanpa pernah melihat ke belakang.
Sekitar 27 jam lagi tepat setahun lagi kontrak hidupku berkurang. Yah, walaupun pengurangan itu sejatinya terjadi setiap detik, tapi masa peringatan setahun ini berarti banyak buatku. Terlebih lagi tahun ini, entah mengapa rasanya berbeda. Ada yang campur aduk di hati. Ada yang campur aduk di benak pikiran.
Setahun kemarin berlalu dengan banyak peristiwa penting yang terjadi. Kuliahku diisi dengan rentetan pembelajaran yang semakin mendekatkan pada dunia nyata nanti. Microteaching, KKN, PLT, hingga yang sedang berproses sekarang yaitu skripsi. Mata kuliah seru semester kemarin juga ikut menyemarakkan satu tahunku. Impian untuk ke Karimunjawa tercapai! Menjelajah hutan mangrove (termasuk saat satu kakiku terperosok di jembatan padahal niat hati ingin ikut berfoto), snorkeling bertemu nemo dan teripang, hingga menahan dingin saat kehujanan di atas kapal, semuanya menyenangkan. Studi ekskursi menjelajah hutan Petungkriyono, bertemu Macaca dan owa, menyusuri sungai dengan pemandangan air terjun yang mempesona, menghabiskan malam dengan bermain abc nama ilmiah, semuanya menyenangkan. Praktikum evolusi juga diisi dengan jalan-jalan, yaitu ke Sangiran. Walaupun di perjalanan pulang aku kebasahan , tapi momen itu terlalu sayang untuk dilupakan.
Tahun lalu juga menjadi saksi pencapaianku untuk bidang akademik. IP tertinggi dalam riwayat 7 semester, perlombaan hingga tingkat nasional (nggak menang sih, tapi setidaknya peningkatan level dari tahun sebelumnya, dan juga berkesempatan ngobrol dengan seorang mas bersenyum manis setelah makan malam hahaha), dan sempat pula untuk berlomba lagi di Semarang (kalau yang ini alhamdulillah bawa pulang piala hehe).
Sempat pula aku terlibat kepanitiaan event nasional di kampus. Sebagai LO (Liaison Officer) aku bertugas mendampingi 1 tim peserta lomba karya ilmiah. Mereka berasal dari institut di provinsi kampung halamanku. Berbeda dengan keterlibatan di tahun sebelumnya, kali itu terasa jauh lebih menyenangkan. Semangatku berbeda. Entah bagaimana. Tapi mungkin karena aku merasa tugas LO lebih terfokus lingkupnya daripada saat menjadi koordinator kesekretariatan dulu. Di akhir acara, tim yang aku dampingi diumumkan sebagai juara 2. Tentu saja aku ikut tertular senangnya. Kira-kira 2 mahasiswa itu masih ingat denganku atau tidak ya?
Mata kuliah yang juga mengesankan adalah microteaching. Sepertinya beberapa waktu lalu aku pernah membahasnya juga di tulisan lain. Di mata kuliah itu rasanya semangat mengajarku terfasilitasi. Meskipun harus merasakan ndredek saat akan maju, ribet menyiapkan perangkat pembelajaran, membujuk diri untuk bertahan begadang demi persiapan, justru di momen itulah dapat kurasakan bahwa menjadi seorang guru adalah passion-ku. Buktinya semua tugas dengan kesulitan itu kuusahakan untuk dapat terselesaikan dengan sebaik-baiknya, dan dengan hati yang rela.
Dilanjutkan dengan masa KKN. Rasanya tidak ada habisnya bila harus menceritakan fase ini. Dari semula 12 orang yang tidak saling kenal dipertemukan dalam pengumuman, keluarga baru itu perlahan terbentuk dan saling mengambil peran dalam penyusunan cerita selama hampir 2 bulan tinggal bersama. Konflik tentu tak dapat dihindarkan. Dari yang sepele tentang piket masak maupun piket bersih rumah, sabun dan sampo yang tiba-tiba habis padahal baru beberapa hari dibeli, rapat malam yang malah diisi dengan orang-orang yang ketiduran (atau pun yang memang sengaja tidur), kunci rumah yang lenyap saat akan mengajar TPA, hingga tingkatan yang serius seperti masalah-masalah yang melibatkan perangkat desa atau masyarakat sekitar. Tapi alhamdulillah yang ini tidak terlalu banyak muncul di kelompok kami. Kenangan KKN terus terbentuk bahkan sampai masa setelah selesai periodenya. Bersama mereka aku jadi pernah menyaksikan sunrise dari atas bukit. Dijemput saat hampir tengah malam, perjalanan membelah dingin, menginap di rumah seorang teman untuk pagi buta bersiap menyambut matahari terbit. Sempat pula kami mengunjungi kembali dusun tempat KKN yang disambut oleh adik-adik yang antusias membuatkan nasi goreng untuk kami. Walaupun sekarang teman-teman sudah kembali ke rutinitas dan kesibukan masing-masing, harapku untuk kembali saling meluangkan waktu suatu hari nanti itu tetap ada.
Masa KKN benar-benar menjadi momen sweet escape yang sangat menyenangkan. Sejenak menepi dari rutinitas yamg menjemukan. Tapi sebagaimana kabupaten tempat KKN itu, semuanya yang ada di dunia pasti ono wates e. Mau tidak mau tanggung jawab di dunia nyata harus kembali dilanjutkan. Tantangan semester itu disambung oleh tibanya periode PLT. Ya, aku akan berlatih mengajar di sekolah sungguhan! Tidak hanya mengajar di kelas, aku juga belajar seluk beluk lain seputar persekolahan. Alhamdulillah tempatku praktik tidak jauh dari asrama, bahkan bisa ditempuh dengan jalan kaki sekitar 7-10 menit. Masa itu berlangsung selama 2 bulan. Disitu aku kembali menemukan teman-teman yang beragam. Terkadang ada sisi hati yang otomatis membandingkan antara teman KKN dan teman PLT. Tapi walaupun begitu, keduanya sama-sama berperan penting dalam cerita masa kuliahku. Di sekolah aku bertemu dengan siswa siswi yang beragam pula karakteristiknya. Tantangan besarnya adalah pada bagaimana meningkatkan motivasi belajar mereka. Untuk mengatasinya, kuupayakan agar pembelajaran berjalan menarik dan menyenangkan. Kusiapkan games untuk menyampaikan materi. Yah walaupun dalam persiapannya seringkali mengalami kendala, ide permainan baru muncul bahkan saat malam sebelum esok paginya diterapkan. Alhamdulillah selama PLT aku dipertemukan dengan teman dan guru pembimbing yang sangat pengertian. Dosennya pun sering memberikan masukan untuk memperbaiki pembelajaranku. Hingga akhirnya tiba juga aku di penghujung periode, hingga proses menyusun dan mengumpulkan laporan.
Kehidupan di asrama berlalu dengan sangat dinamis. Untuk tahun ajaran ini, peranku berganti. Sudah tidak mengampu kelas lagi. Saat keputusan itu disampaikan, jujur saja aku cukup terguncang. Ya bagaimana tidak, mana pernah aku membayangkan berada di posisi ini? Terlebih lagi, keputusan itu disampaikan setelah sebelumnya aku sudah ditetapkan untuk menjadi pendamping kelas 10. Bahkan aku sudah sempat mengadakan 1 kali teatime bersama mereka. Ada rasa sedih, kecewa, takut, khawatir, dan ketidaknyamanan saat penyampaian keputusan itu. Hingga setelahnya aku berusaha menyampaikan keenggananku dalam pembicaraan empat mata hingga hampir jam 2 pagi. Namun seperti yang telah membudaya disini, tidak ada pilihan untuk berkata tidak. Negosiasi panjang itu berakhir dengan frasa 'dicoba dulu aja'.
Hari berlalu. Mau tidak mau tanggung jawab baruku harus diupayakan terlaksana. Tapi masalahnya adalah aku bahkan tidak tahu dengan jelas batasan tugasku sekarang. Bila dulu mengampu kelas, tugas dan rutinitasku telah terbatasi dengan pasti. Tapi sekarang berbeda. Aku hanya diberi tahu bahwa tugasku membantu. Semuanya kondisional. Lebih ke peran menggantikan. Padahal dalam kenyataannya, yang semestinya kubantu ternyata sudah sangat mampu hingga semacam tidak perlu lagi dibantu. Ini membuatku cukup tertekan sebenarnya. Karena rasanya seperti aku tidak bertanggung jawab, dan aku harus menghabiskan satu tahunku dalam posisi itu. Sebenarnya suatu hari lalu aku sudah menanyakan tentang hal ini ke beberapa orang yang cukup berwenang dan kupikir tahu jawabannya. Tapi respons mereka pun kurang lebih sama, samar dan kurang meyakinkan. Akhirnya sampai sekarang pun aku belum benar-benar menemukan kejelasan. Semua mengalir saja. Kalau memang mengalirnya itu lancar kan tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah saat tiba-tiba aku dikatakan kurang serius dalam menjalankan tugas ini tanpa kemudian diutarakan apa saja yang perlu kuperbaiki. Kadang aku berpikir, aku ini orangnya sulit berinisiatif. Sangat cenderung ke tipe orang yang sami'na wa atho'na. Kalau memang yang diharapkan untuk menempati posisi ini adalah orang yang inisiatif, ya saya dengan senang hati akan mengundurkan diri. Saya akan sangat lebih senang bila digantikan dengan orang lain dengan kriteria itu. Saya tidak keberatan bila harus ditempatkan di posisi seperti tahun-tahun sebelumnya. Yah, sayangnya keinginan dan pikiran itu belum dapat tersampaikan, apalagi terelaisasikan. Rasa tertekan yang kadang muncul biasanya kualihkan dengan menyibukkan diri menyelesaikan tugas-tugas dari kampus. Alhamdulillah karena memang tugas itu terus ada, sambung menyambung mengantri untuk diselesaikan.
Dengan posisi sekarang, tugasku benar-benar kondisional. Tidak ada deskripsi kerja yang pasti. Tapi setidaknya tetap ada hal menyenangkan kok. Salah satunya saat berkesempatan mengantar siswa lomba di kota yang seprovinsi dengan kampung halamanku. Momen itu berhasil menjadi pelipur rindu untuk pulang. Meskipin hanya lewat dengan kereta, atmosfer kepulangan telah sedikit terasa. Terlebih lagi kerinduan pada sekolah masa SMP ku juga tercairkan saat keretaku melewati rel di depan jalan masuknya. Lomba itu diadakan dalam universitas ujung timur provinsiku. Sebenarnya ada teman yang kuliah disana. Tapi karena aku tahu dia sibuk jadi ya tetap tidak sempat bertemu. Meskipun pada akhirnya siswa yang kuantar tidak juara, perjalanan Jumat-Ahad itu cukup berhasil membuatku kembali bersemangat.
Di asrama, agenda untuk tahun ini banyak ditambah. Jadwal kegiatan harian maupun mingguan semakin padat. Kedisiplinan juga ditingkatkan. Semua hal dicatat dan difoto untuk dilaporkan! Sebagian kegiatan bersama yang membekas dan menyenangkan tahun ini adalah saat kami para pembina makan pizza bersama, dilanjut dengan jalan-jalan ke kota, dan baru kembali saat magrib akan tiba. Selain itu, kami juga sempat bermain air di karst tubing. Tempatnya tidak jauh dari sekolah. Walaupun jaraknya pendek, pengalaman menaiki ban dan mengikuti aliran sungai serta foto melompat dari tebing sudah cukup menjadi pengobat dari penatnya rutinitas.
Kegiatan asrama semester lalu ditutup dengan Community Service di Magelang. Aku mendampingi siswa kelas 10 untuk tinggal bersama masyarakat disana. Format agendanya adalah mereka belajar bermasyarakat dan mengenal kehidupan desa. Berlatih bercocok tanam, memanen sayuran, mencabut singkong, bermain di sungai, semuanya menjadi rangkaian acara yang mengasyikkan.
Semester baru kembali tiba. Akhirnya aku mengambil mata kuliah skripsi. Di awal semester ini aku sempat merasa tertinggal dari teman-teman yang lain. Bagaimana tidak, saat mereka sudah memulai bab 1 atau bahkan 2, aku masih berkutat menyelesaikan laporan praktikum. Yah, demi tugas sebagai sie penanggung jawab laporan akhir dan presentasi, jadilah begitu. Tapi nyatanya Allah sudah menentukan jadwal setiap manusia. Tidak terlambat dan tidak mendahului sedetik pun. Saat pertama kali aku berkonsultasi judul, malah mendapat rezeki berupa ajakan dari dosen untuk penelitian payung, bersama 2 orang teman lain. Tentu saja itu hal yang wajib disyukuri. Langkah-langkah berikutnya juga berjalan dengan penuh kelancaran. Yang semakin kutanamkan dalam diri setelah dimulainya proses skripsi ini adalah, bila kita semakin berserah pada Allah, maka segala urusan akan semakin dimudahkan. Hingga saat ini pun proses skripsi masih berlanjut. Dan kuharap kemudahan itu dapat selalu meyertai langkahku.
Beberapa pekan lalu, ada acara alumni disini. Teman-teman datang untuk acara jamuan makan. Aku selalu senang dengam momen seperti itu. Merasa tidak sendir. Merasa ditemani. Yah walaupun seringkali setelahnya ada rasa kehilangan yang timbul saat mereka sudah pulang.
Di tengah penuhnya rentetan agenda kampus maupun asrama, tentu keluarga tempatku pulang tetap menempati urutan nomor 1 di hati. Kebersamaan saat safari Idul Fitri dan liburan semester kemarin menjadi kenangan yang sangat dan selalu istimewa. Kami mengunjungi saudara di kota kota lain. Berhari hari diisi perjalanan. Momen itu sangat membekas untukku. Kadang aku tidak terlalu peduli kemana tujuan kami pergi. Yang lebih spesial adalah momen momen kami bersama dan bercengkrama dalam perjalanan. Demi mengawetkan kenangan itu, aku diam diam merekamnya untuk kuputar saat sedang di perantauan. Di liburan semester lalu kami juga sempat beraktivitas seru di rumah. Membuat donat kentang, membuat kue kelapa, lalu mendokumentasikannya dalam bentuk video sebagai kenang-kenangan. Momen kepulangan selalu menjadi hal yang kutunggu. Sekitar 2 pekan lalu ada kesempatan untuk pulang karena kewajiban pendataan ulang di bank. Walaupun hanya 2 hari di rumah, rasanya sudah jauh lebih baik untukku.
Yang terbaru dari agenda setahunku adalah camp ke mantan calon sekolah sekaligus mantan sekolah calon *eh. Acara ini diisi seperti reading camp biasanya. Bedanya adalah tempatnya di Semarang. Tempat itu menjadi pemantik banyak sekali kenangan dan bayangan. Aku membayangkan seseorang. Membayangkan kalau aku akan bersemangat sekali mengabarkan bahwa akhirnya aku sudah sampai di sekolahnya. Memfoto tempatnya untuk dijadikan bukti bahwa akhirnya aku pernah mendatangi tempatnya menghabiskan masa SMA. Tapi angan mengabarkan itu hanya sebatas angan. Orangnya sudah jauh. Entah akan tergapai atau tidak, aku sudah tidak tahu. Besok, tepat 2 tahun setelah kado terakhirnya untukku berupa gambar buatannya diberikan. Besok, tepat 2 tahun pula gambar itu menjadi pengisi wallpaper maupun lock screen handphone-ku, tanpa pernah berganti.
Satu tahun kemarin nyatanya banyak yang harus disyukuri. Padahal di awal mula aku menulis ini aku menangis. Menangis karena terpikir kurangnya manfaat dan pencapaian diri pada tahun tersebut. Betapa jatah umur yang terus berkurang ini belum kugunakan dengan sebaik-baiknya. Akhirnya yang timbul adalah penyesalan dan pesimisme. Tapi rupanya dengan terbentuknya tulisan ini aku bisa lebih menghargai diriku. Aku sudah melalui setahun lagi dan masih dalam keadaan baik-baik saja. Aku masih bertahan. Maka setahun yang akan datang ini seharusnya menjadi kesempatan untuk memperbaiki yang belum baik. Menambah yang kurang. Menebar manfaat sebanyak-banyaknya. Aku percaya, dengan berserah pada Allah maka semuanya akan terus baik-baik saja.
Salam sayang dariku untuk diriku yang sudah bertahan sejauh ini. Kamu berharga. Kamu istimewa. Lanjutkan tugasmu sebagai seorang hamba yang selain harus beribadah juga harus bermanfaat bagi sesama.
Y240219K
Sekarang sudah jam 23.54. Sebentar lagi memasuki tanggal 25. Sudah mengantuk sekali. Inginnya tulisan ini langsung aku post malam ini. Sayangnya sumber daya kuota sedang tidak tersedia. Jadi mungkin besok saja.
:)
Sekitar 27 jam lagi tepat setahun lagi kontrak hidupku berkurang. Yah, walaupun pengurangan itu sejatinya terjadi setiap detik, tapi masa peringatan setahun ini berarti banyak buatku. Terlebih lagi tahun ini, entah mengapa rasanya berbeda. Ada yang campur aduk di hati. Ada yang campur aduk di benak pikiran.
Setahun kemarin berlalu dengan banyak peristiwa penting yang terjadi. Kuliahku diisi dengan rentetan pembelajaran yang semakin mendekatkan pada dunia nyata nanti. Microteaching, KKN, PLT, hingga yang sedang berproses sekarang yaitu skripsi. Mata kuliah seru semester kemarin juga ikut menyemarakkan satu tahunku. Impian untuk ke Karimunjawa tercapai! Menjelajah hutan mangrove (termasuk saat satu kakiku terperosok di jembatan padahal niat hati ingin ikut berfoto), snorkeling bertemu nemo dan teripang, hingga menahan dingin saat kehujanan di atas kapal, semuanya menyenangkan. Studi ekskursi menjelajah hutan Petungkriyono, bertemu Macaca dan owa, menyusuri sungai dengan pemandangan air terjun yang mempesona, menghabiskan malam dengan bermain abc nama ilmiah, semuanya menyenangkan. Praktikum evolusi juga diisi dengan jalan-jalan, yaitu ke Sangiran. Walaupun di perjalanan pulang aku kebasahan , tapi momen itu terlalu sayang untuk dilupakan.
Tahun lalu juga menjadi saksi pencapaianku untuk bidang akademik. IP tertinggi dalam riwayat 7 semester, perlombaan hingga tingkat nasional (nggak menang sih, tapi setidaknya peningkatan level dari tahun sebelumnya, dan juga berkesempatan ngobrol dengan seorang mas bersenyum manis setelah makan malam hahaha), dan sempat pula untuk berlomba lagi di Semarang (kalau yang ini alhamdulillah bawa pulang piala hehe).
Sempat pula aku terlibat kepanitiaan event nasional di kampus. Sebagai LO (Liaison Officer) aku bertugas mendampingi 1 tim peserta lomba karya ilmiah. Mereka berasal dari institut di provinsi kampung halamanku. Berbeda dengan keterlibatan di tahun sebelumnya, kali itu terasa jauh lebih menyenangkan. Semangatku berbeda. Entah bagaimana. Tapi mungkin karena aku merasa tugas LO lebih terfokus lingkupnya daripada saat menjadi koordinator kesekretariatan dulu. Di akhir acara, tim yang aku dampingi diumumkan sebagai juara 2. Tentu saja aku ikut tertular senangnya. Kira-kira 2 mahasiswa itu masih ingat denganku atau tidak ya?
Mata kuliah yang juga mengesankan adalah microteaching. Sepertinya beberapa waktu lalu aku pernah membahasnya juga di tulisan lain. Di mata kuliah itu rasanya semangat mengajarku terfasilitasi. Meskipun harus merasakan ndredek saat akan maju, ribet menyiapkan perangkat pembelajaran, membujuk diri untuk bertahan begadang demi persiapan, justru di momen itulah dapat kurasakan bahwa menjadi seorang guru adalah passion-ku. Buktinya semua tugas dengan kesulitan itu kuusahakan untuk dapat terselesaikan dengan sebaik-baiknya, dan dengan hati yang rela.
Dilanjutkan dengan masa KKN. Rasanya tidak ada habisnya bila harus menceritakan fase ini. Dari semula 12 orang yang tidak saling kenal dipertemukan dalam pengumuman, keluarga baru itu perlahan terbentuk dan saling mengambil peran dalam penyusunan cerita selama hampir 2 bulan tinggal bersama. Konflik tentu tak dapat dihindarkan. Dari yang sepele tentang piket masak maupun piket bersih rumah, sabun dan sampo yang tiba-tiba habis padahal baru beberapa hari dibeli, rapat malam yang malah diisi dengan orang-orang yang ketiduran (atau pun yang memang sengaja tidur), kunci rumah yang lenyap saat akan mengajar TPA, hingga tingkatan yang serius seperti masalah-masalah yang melibatkan perangkat desa atau masyarakat sekitar. Tapi alhamdulillah yang ini tidak terlalu banyak muncul di kelompok kami. Kenangan KKN terus terbentuk bahkan sampai masa setelah selesai periodenya. Bersama mereka aku jadi pernah menyaksikan sunrise dari atas bukit. Dijemput saat hampir tengah malam, perjalanan membelah dingin, menginap di rumah seorang teman untuk pagi buta bersiap menyambut matahari terbit. Sempat pula kami mengunjungi kembali dusun tempat KKN yang disambut oleh adik-adik yang antusias membuatkan nasi goreng untuk kami. Walaupun sekarang teman-teman sudah kembali ke rutinitas dan kesibukan masing-masing, harapku untuk kembali saling meluangkan waktu suatu hari nanti itu tetap ada.
Masa KKN benar-benar menjadi momen sweet escape yang sangat menyenangkan. Sejenak menepi dari rutinitas yamg menjemukan. Tapi sebagaimana kabupaten tempat KKN itu, semuanya yang ada di dunia pasti ono wates e. Mau tidak mau tanggung jawab di dunia nyata harus kembali dilanjutkan. Tantangan semester itu disambung oleh tibanya periode PLT. Ya, aku akan berlatih mengajar di sekolah sungguhan! Tidak hanya mengajar di kelas, aku juga belajar seluk beluk lain seputar persekolahan. Alhamdulillah tempatku praktik tidak jauh dari asrama, bahkan bisa ditempuh dengan jalan kaki sekitar 7-10 menit. Masa itu berlangsung selama 2 bulan. Disitu aku kembali menemukan teman-teman yang beragam. Terkadang ada sisi hati yang otomatis membandingkan antara teman KKN dan teman PLT. Tapi walaupun begitu, keduanya sama-sama berperan penting dalam cerita masa kuliahku. Di sekolah aku bertemu dengan siswa siswi yang beragam pula karakteristiknya. Tantangan besarnya adalah pada bagaimana meningkatkan motivasi belajar mereka. Untuk mengatasinya, kuupayakan agar pembelajaran berjalan menarik dan menyenangkan. Kusiapkan games untuk menyampaikan materi. Yah walaupun dalam persiapannya seringkali mengalami kendala, ide permainan baru muncul bahkan saat malam sebelum esok paginya diterapkan. Alhamdulillah selama PLT aku dipertemukan dengan teman dan guru pembimbing yang sangat pengertian. Dosennya pun sering memberikan masukan untuk memperbaiki pembelajaranku. Hingga akhirnya tiba juga aku di penghujung periode, hingga proses menyusun dan mengumpulkan laporan.
Kehidupan di asrama berlalu dengan sangat dinamis. Untuk tahun ajaran ini, peranku berganti. Sudah tidak mengampu kelas lagi. Saat keputusan itu disampaikan, jujur saja aku cukup terguncang. Ya bagaimana tidak, mana pernah aku membayangkan berada di posisi ini? Terlebih lagi, keputusan itu disampaikan setelah sebelumnya aku sudah ditetapkan untuk menjadi pendamping kelas 10. Bahkan aku sudah sempat mengadakan 1 kali teatime bersama mereka. Ada rasa sedih, kecewa, takut, khawatir, dan ketidaknyamanan saat penyampaian keputusan itu. Hingga setelahnya aku berusaha menyampaikan keenggananku dalam pembicaraan empat mata hingga hampir jam 2 pagi. Namun seperti yang telah membudaya disini, tidak ada pilihan untuk berkata tidak. Negosiasi panjang itu berakhir dengan frasa 'dicoba dulu aja'.
Hari berlalu. Mau tidak mau tanggung jawab baruku harus diupayakan terlaksana. Tapi masalahnya adalah aku bahkan tidak tahu dengan jelas batasan tugasku sekarang. Bila dulu mengampu kelas, tugas dan rutinitasku telah terbatasi dengan pasti. Tapi sekarang berbeda. Aku hanya diberi tahu bahwa tugasku membantu. Semuanya kondisional. Lebih ke peran menggantikan. Padahal dalam kenyataannya, yang semestinya kubantu ternyata sudah sangat mampu hingga semacam tidak perlu lagi dibantu. Ini membuatku cukup tertekan sebenarnya. Karena rasanya seperti aku tidak bertanggung jawab, dan aku harus menghabiskan satu tahunku dalam posisi itu. Sebenarnya suatu hari lalu aku sudah menanyakan tentang hal ini ke beberapa orang yang cukup berwenang dan kupikir tahu jawabannya. Tapi respons mereka pun kurang lebih sama, samar dan kurang meyakinkan. Akhirnya sampai sekarang pun aku belum benar-benar menemukan kejelasan. Semua mengalir saja. Kalau memang mengalirnya itu lancar kan tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah saat tiba-tiba aku dikatakan kurang serius dalam menjalankan tugas ini tanpa kemudian diutarakan apa saja yang perlu kuperbaiki. Kadang aku berpikir, aku ini orangnya sulit berinisiatif. Sangat cenderung ke tipe orang yang sami'na wa atho'na. Kalau memang yang diharapkan untuk menempati posisi ini adalah orang yang inisiatif, ya saya dengan senang hati akan mengundurkan diri. Saya akan sangat lebih senang bila digantikan dengan orang lain dengan kriteria itu. Saya tidak keberatan bila harus ditempatkan di posisi seperti tahun-tahun sebelumnya. Yah, sayangnya keinginan dan pikiran itu belum dapat tersampaikan, apalagi terelaisasikan. Rasa tertekan yang kadang muncul biasanya kualihkan dengan menyibukkan diri menyelesaikan tugas-tugas dari kampus. Alhamdulillah karena memang tugas itu terus ada, sambung menyambung mengantri untuk diselesaikan.
Dengan posisi sekarang, tugasku benar-benar kondisional. Tidak ada deskripsi kerja yang pasti. Tapi setidaknya tetap ada hal menyenangkan kok. Salah satunya saat berkesempatan mengantar siswa lomba di kota yang seprovinsi dengan kampung halamanku. Momen itu berhasil menjadi pelipur rindu untuk pulang. Meskipin hanya lewat dengan kereta, atmosfer kepulangan telah sedikit terasa. Terlebih lagi kerinduan pada sekolah masa SMP ku juga tercairkan saat keretaku melewati rel di depan jalan masuknya. Lomba itu diadakan dalam universitas ujung timur provinsiku. Sebenarnya ada teman yang kuliah disana. Tapi karena aku tahu dia sibuk jadi ya tetap tidak sempat bertemu. Meskipun pada akhirnya siswa yang kuantar tidak juara, perjalanan Jumat-Ahad itu cukup berhasil membuatku kembali bersemangat.
Di asrama, agenda untuk tahun ini banyak ditambah. Jadwal kegiatan harian maupun mingguan semakin padat. Kedisiplinan juga ditingkatkan. Semua hal dicatat dan difoto untuk dilaporkan! Sebagian kegiatan bersama yang membekas dan menyenangkan tahun ini adalah saat kami para pembina makan pizza bersama, dilanjut dengan jalan-jalan ke kota, dan baru kembali saat magrib akan tiba. Selain itu, kami juga sempat bermain air di karst tubing. Tempatnya tidak jauh dari sekolah. Walaupun jaraknya pendek, pengalaman menaiki ban dan mengikuti aliran sungai serta foto melompat dari tebing sudah cukup menjadi pengobat dari penatnya rutinitas.
Kegiatan asrama semester lalu ditutup dengan Community Service di Magelang. Aku mendampingi siswa kelas 10 untuk tinggal bersama masyarakat disana. Format agendanya adalah mereka belajar bermasyarakat dan mengenal kehidupan desa. Berlatih bercocok tanam, memanen sayuran, mencabut singkong, bermain di sungai, semuanya menjadi rangkaian acara yang mengasyikkan.
Semester baru kembali tiba. Akhirnya aku mengambil mata kuliah skripsi. Di awal semester ini aku sempat merasa tertinggal dari teman-teman yang lain. Bagaimana tidak, saat mereka sudah memulai bab 1 atau bahkan 2, aku masih berkutat menyelesaikan laporan praktikum. Yah, demi tugas sebagai sie penanggung jawab laporan akhir dan presentasi, jadilah begitu. Tapi nyatanya Allah sudah menentukan jadwal setiap manusia. Tidak terlambat dan tidak mendahului sedetik pun. Saat pertama kali aku berkonsultasi judul, malah mendapat rezeki berupa ajakan dari dosen untuk penelitian payung, bersama 2 orang teman lain. Tentu saja itu hal yang wajib disyukuri. Langkah-langkah berikutnya juga berjalan dengan penuh kelancaran. Yang semakin kutanamkan dalam diri setelah dimulainya proses skripsi ini adalah, bila kita semakin berserah pada Allah, maka segala urusan akan semakin dimudahkan. Hingga saat ini pun proses skripsi masih berlanjut. Dan kuharap kemudahan itu dapat selalu meyertai langkahku.
Beberapa pekan lalu, ada acara alumni disini. Teman-teman datang untuk acara jamuan makan. Aku selalu senang dengam momen seperti itu. Merasa tidak sendir. Merasa ditemani. Yah walaupun seringkali setelahnya ada rasa kehilangan yang timbul saat mereka sudah pulang.
Di tengah penuhnya rentetan agenda kampus maupun asrama, tentu keluarga tempatku pulang tetap menempati urutan nomor 1 di hati. Kebersamaan saat safari Idul Fitri dan liburan semester kemarin menjadi kenangan yang sangat dan selalu istimewa. Kami mengunjungi saudara di kota kota lain. Berhari hari diisi perjalanan. Momen itu sangat membekas untukku. Kadang aku tidak terlalu peduli kemana tujuan kami pergi. Yang lebih spesial adalah momen momen kami bersama dan bercengkrama dalam perjalanan. Demi mengawetkan kenangan itu, aku diam diam merekamnya untuk kuputar saat sedang di perantauan. Di liburan semester lalu kami juga sempat beraktivitas seru di rumah. Membuat donat kentang, membuat kue kelapa, lalu mendokumentasikannya dalam bentuk video sebagai kenang-kenangan. Momen kepulangan selalu menjadi hal yang kutunggu. Sekitar 2 pekan lalu ada kesempatan untuk pulang karena kewajiban pendataan ulang di bank. Walaupun hanya 2 hari di rumah, rasanya sudah jauh lebih baik untukku.
Yang terbaru dari agenda setahunku adalah camp ke mantan calon sekolah sekaligus mantan sekolah calon *eh. Acara ini diisi seperti reading camp biasanya. Bedanya adalah tempatnya di Semarang. Tempat itu menjadi pemantik banyak sekali kenangan dan bayangan. Aku membayangkan seseorang. Membayangkan kalau aku akan bersemangat sekali mengabarkan bahwa akhirnya aku sudah sampai di sekolahnya. Memfoto tempatnya untuk dijadikan bukti bahwa akhirnya aku pernah mendatangi tempatnya menghabiskan masa SMA. Tapi angan mengabarkan itu hanya sebatas angan. Orangnya sudah jauh. Entah akan tergapai atau tidak, aku sudah tidak tahu. Besok, tepat 2 tahun setelah kado terakhirnya untukku berupa gambar buatannya diberikan. Besok, tepat 2 tahun pula gambar itu menjadi pengisi wallpaper maupun lock screen handphone-ku, tanpa pernah berganti.
Satu tahun kemarin nyatanya banyak yang harus disyukuri. Padahal di awal mula aku menulis ini aku menangis. Menangis karena terpikir kurangnya manfaat dan pencapaian diri pada tahun tersebut. Betapa jatah umur yang terus berkurang ini belum kugunakan dengan sebaik-baiknya. Akhirnya yang timbul adalah penyesalan dan pesimisme. Tapi rupanya dengan terbentuknya tulisan ini aku bisa lebih menghargai diriku. Aku sudah melalui setahun lagi dan masih dalam keadaan baik-baik saja. Aku masih bertahan. Maka setahun yang akan datang ini seharusnya menjadi kesempatan untuk memperbaiki yang belum baik. Menambah yang kurang. Menebar manfaat sebanyak-banyaknya. Aku percaya, dengan berserah pada Allah maka semuanya akan terus baik-baik saja.
Salam sayang dariku untuk diriku yang sudah bertahan sejauh ini. Kamu berharga. Kamu istimewa. Lanjutkan tugasmu sebagai seorang hamba yang selain harus beribadah juga harus bermanfaat bagi sesama.
Y240219K
Sekarang sudah jam 23.54. Sebentar lagi memasuki tanggal 25. Sudah mengantuk sekali. Inginnya tulisan ini langsung aku post malam ini. Sayangnya sumber daya kuota sedang tidak tersedia. Jadi mungkin besok saja.
:)
Y250219K
Akhirnya ada wifi
Hehe
Menyempatkan waktu sebentar untuk mengirim tulisan ini sebelum bersiap ke kampus :D
Komentar
Posting Komentar