Ada salah satu hal yang kuperhatikan setiap kali
menjalani masa liburan dan pulang ke rumah, yakni tentang tahapan yang terjadi
selama menghabiskan saat menyenangkan tersebut. Di awal masa itu, biasanya akan
timbul rasa malas yang amat sangat. Godaan untuk melakukan gerakan ‘santai-santai-mumpung-libur’
muncul begitu kuat. Itu akan berlangsung setidaknya sampai dua hari. Masa berikutnya,
semangat untuk memulai rutinitas rumah telah cukup bangkit. Masa-masa itu
biasanya terisi dengan rutinitas di dapur, berkutat dengan siklus pakaian (re:
cuci-jemur-lipat/setrika-pakai), bebersih dan beberes, menjahili adik,
berperjalanan ke rumah saudara, dan selingan-selingan lain. Rutinitas itu akan
terus terjalani sampai hari mendekati masa liburan habis. Nah, tibalah di akhir
liburan. Biasanya akan mulai ada gejolak hati. Rasa tidak nyaman. Tiba-tiba
mudah marah, bahkan sembunyi-sembunyi menangis tidak jelas. Bawaannya sebel aja
gitu. Gejala-gejala itulah yang kunamakan Sindrom Penghabisan Liburan. Ini fase yang cukup berbahaya menurutku. Tentu saja karena masa akhir liburan
semestinya dijalani dengan sebaik-baiknya. Sayangnya, keadaan emosi yang
tiba-tiba menjadi seperti saat PMS itu seringkali merusak suasana. Mungkin masa-masa
seperti itu disebabkan karena diri yang mencoba mengingkari kenyataan bahwa
liburan sebentar lagi habis. Itu artinya, diri juga belum rela untuk
meninggalkan kenyamanan rumah dan beralih pada perantauan. Entahlah, sampai
saat ini fase terakhir itu masih saja terjadi walaupun memang kadarnya sudah
tidak separah dulu. Mungkin mengelola emosi saat tibanya fase itu juga termasuk dalam
proses pendewasaan. Pada akhirnya, kenyataan untuk kembali ke perantauan akan
datang juga. Maka pesanku untuk diriku adalah bahwa yang perlu diatur
pandai-pandai selain menyiapkan barang agar tidak tertinggal adalah juga
menyiapkan hati agar tidak syok untuk kembali ke rutinitas rantauan.
N300619W
Lama juga ya sudah tidak menyapa 😅
Komentar
Posting Komentar