Langsung ke konten utama

Ada yang Diam-Diam Berubah jadi Rindu

Sejak selesai kuliah, sering kangen dengan rasanya mengajar. Kadang ada rasa iri saat teman-teman cerita tentang pengalamannya di sekolah. Entah lewat cerita langsung, posting story whatsapp, atau saat mereka tanya-tanya tentang materi yang akan diajarkannya pada siswa. Senang sih ketika ada teman yang mengajak sharing tentang materi. Rasanya seperti kembali ke masa kuliah. Kembali ke masa masih bersinggungan langsung dengan dunia mengajar dan biologi.
Dahulu sebelum benar-benar menyelesaikan masa menjadi mahasiswa, mungkin bayanganku terlalu ideal. Hingga saat memutuskan untuk bertahan disini, apa yang menjadi imajinasi ternyata masih terbatas imajinasi. Dulu sering membayangkan bagaimana rasanya mengajar dengan menerapkan aneka metode dan menggunakan beragam media. Terlebih sekolah ini terbilang unggul pembelajarannya. Pun sudah dilengkapi dengan penggunaan teknologi dan fasilitas yang sangat memadai. Tapi apalah daya, yang menjadi angan masih harus tetap menjadi angan. Setidaknya begitulah untuk tahun pertama ini.
Saat semester 1 kemarin, rasanya sulit sekali. Hari terasa lama dan begitu membosankan. Saat itu pula dapat kukenal apa itu rasa tertekan dalam menjalani waktu yang terlalu luang. Aku jadi rindu rasanya kesibukan. Bahkan sampai tahap rindu mengerjakan tugas kuliah dan laporan. Benar-benar kesepian. Terlebih yang menjadi ruang kerjaku sekarang adalah laboratorium yang termasuk jarang dipakai untuk pembelajaran. Kala itu rasanya ingin menyudahi semuanya saja. Merasa diri tidak berguna, tidak dapat dipercaya, dan tidak punya kemampuan apa-apa. Sampai terpikir, lalu kemarin 4 tahun kuliah pendidikan itu buat apa? Astaghfirullah..
Tapi kembali lagi pada pengingat diri. Bertahan dan bersabar itu juga termasuk bagian perjuangan. Asalkan diri tidak diam, insyaallah akan tetap dihitung sebagai kebaikan. Maka kucoba untuk berdamai dengan keaadaan. Mencari hal produktif yang bisa kulakukan. Membaca buku, ikut kursus bahasa via online, menulis, dan lain sebagainya. Dengan begitu rasa hati dapat berubah perlahan, dari keluhan menjadi penerimaan.
Semester 2 baru saja dimulai belum ada satu bulan berjalan. Rupanya sabar yang terlatih telah cukup bertumbuh dan semakin mampu menguatkan. Di semester ini pula aku diberi kepercayaan untuk mengerjakan tugas-tugas lain. Lumayan meskipun yang kurindukan tetap bukan itu. Yang kurindu belum juga mencapai temu. Tapi setidaknya rasa menghakimi diri sudah berkurang, termasuk juga memudarnya kebiasaan menggerutu.
Bagaimanapun, tetap masih terlalu banyak hal yang wajib disyukuri. Diberi tempat saat yang lain masih mencari, bukankah itu sebuah bentuk besarnya nikmat?
Kalau sudah waktunya, pasti akan bertemu dengan yang dirindu. Selama belum diberi kesempatan, maka yang perlu dilakukan adalah menyiapkan.
Diri masih berharap bahwa suatu saat dapat berada di kelas, bertemu siswa, belajar bersama mereka, mengeksplorasi lebih banyak tentang biologi. Semoga :)


Y290120K

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Day 25 Share 1 story about hikmah ramadan!

'Cinta terlarang' kami memang sudah semestinya berakhir, semoga selamanya~ Saya dan pusing adalah sepasang yang mulanya selalu bersama. Setiap hari setidaknya pasti ada satu momen dimana saya berjumpa dengannya. Pusing yang saya maksud adalah tipe yang rasanya muter sampai badan seperti mau ambruk. Ini terutama saya rasakan kalau berpindah posisi tubuh secara tiba-tiba. Misalnya dari rebahan langsung duduk atau dari duduk langsung berdiri. Perlu waktu beberapa detik penyesuaian sambil memejamkan mata dahulu agar berhasil stabil. Kalau dilihat dari tekanan darah sebenarnya memang konsisten cenderung lebih rendah daripada orang lain pada umumnya. Tapi setelah berkonsultasi dengan suster sekolah katanya itu bukan masalah, karena setiap orang punya kisaran normalnya sendiri. Dugaan lain yang menjadi penyebabnya adalah rendahnya kadar hemoglobin dalam darah saya. Iya yang ini cukup terbukti sih. Sudah pernah saya periksakan juga dan memang demikian hasilnya. Saat sedang dalam hari...

Saya dan Rasa Lain yang Lucu

 Rasanya belum lama sejak terakhir menulis tentang rasa suka yang lucu. Rasa. Suka. ... yang sekejap menjadi tidak lucu lagi. Barangkali mimpi itu hanya canda. Bunga tidur yang mengada-ada. Tapi bisa juga ia adalah pertanda. Bahwa yang dinanti tak kunjung tiba, sebenarnya memang sudah selesai tak bersisa. Senangnya, saya biasa saja. Ya! Ini adalah rasa yang lucu. Saya sendiri heran. Pernyataan-pernyataan dari seseorang berhasil membuat saya berpindah haluan. Yang dulu disimpan, kini betulan berhasil diikhlaskan. Saya tidak menyangka. Saya tersadar dibuatnya. Yang sebenarnya dipertahankan bukanlah murni rasa sayang pada orangnya. Namun lebih kepada momennya yang telah terjalin lama. Lalu selanjutnya apa? Tidak tahu juga. Setidaknya untuk saat ini belum ada rencana untuk mengapa-apakan kotak rasa saya.  .  . . Yang pasti saya ketahui saat ini, bubuk kopi darimu sudah tak tersisa untuk diseduh dan dinikmati lagi.   Y281121K -selalu ada yang lain

#Day 11 Imagine that you are giving a kultum, what will you tell?

  Wabah: Pengingat tentang Terbatasnya Waktu Kita   Pandemi! Itu adalah status COVID-19 saat ini. Pandemi menurut WHO dijelaskan sebagai wabah yang sifatnya menyebar global dan mendunia. Meski semula memang ditemukan di Cina, virus ini merebak hingga kini telah mencakup 199 negara (re: saat draft tulisan ini pertama saya buat). Pelan tapi pasti, satu persatu aspek kehidupan kita terpengaruh oleh makhluk kecil tak kasat mata tapi nyata ini. Aspek kesehatan? Tentu signifikan sekali. Aspek ekonomi? Perlahan terguncang terganggu keseimbangannya. Aspek sosial? Manusia dipaksa berjauhan secara fisik, social distancing istilahnya. Masih banyak yang harus dirinci bila ingin mendeskripsikan betapa dahsyat dampak yang virus ini berikan. Namun bagaimanapun, setiap yang telah ditakdirkan oleh-Nya tentu membawa hikmah tersendiri bagi orang orang yang mau bertafakur dan merenungi sisi positif dengan bijaksana. Walau mungkin saat ini dunia sedang berduka, mari kita tilik sisi...