Sudah cukup lama ya sejak tulisan terakhir saya terunggah disini. Kali ini saya ingin menyampaikan sekeping hikmah tentang kesempatan belajar.
Seringkali, kita tidak tahu kapan akan diberi kesempatan untuk belajar sesuatu yang baru. Apa yang sebelumnya terasa jauh dari dunia dan pergaulan kita, bisa saja suatu hari justru mendatangi dan memaksa kita untuk terlibat di dalamnya.
Tulisan ini berhulu dari keadaan sekarang, yakni saat saya 'dipaksa' menyusun AD/ART untuk asosiasi alumni sekolah. Padahal, sepanjang sejarah hidup sejak saya lahir hingga sekarang memasuki tahun kedua kerja, pengalaman saya mengikuti organisasi hanyalah 1 tahun, yaitu saat kuliah. Itu pun saya bukan tergolong pengurus yang aktif banget.
Saya masih ingat saat pertama kali ikut musyawarah awal tahun di organisasi kampus. Perwakilan pengurus dipilih untuk membacakan satu-persatu pasal yang ada dalam AD/ART. Sementara saya sebagai audiens justru berpikir, ‘Kayak gini yang nyusun siapa ya? Dan ini buat apa?’ Tapi walaupun begitu, setelah acara selesai saya tetap menyimpan lembaran salinan naskah yang dibacakan itu. Saya pikir mungkin suatu hari nanti akan berguna.
Saat ini, sudah hampir 4 tahun berlalu sejak kejadian itu. Tibalah saya dikejutkan dengan tanggung jawab untuk menyusun sesuatu yang dahulu saya pertanyakan kegunaannya. Saya yang dahulu harus menahan kantuk saat musyawarah berlangsung, justru sekarang berkesempatan menyusun naskah krusial itu.
Yah, karena sudah menjadi tanggung jawab, maka mau tidak mau saya harus belajar secepatnya sambil langsung mempraktikkan hasil belajar saya. Dengan mencoba menghubungi teman yang dahulunya lebih aktif dan lebih paham, saya mulai proses belajar ini. Mungkin teman itu cukup pantas untuk tertawa ketika tahu bahwa saya yang di masa lalu kurang tertarik dalam hal seperti ini ternyata sekarang malah 'dipaksa nyebur' di dalamnya.
Dari pengalaman ini saya merasa bersyukur bahwa rupanya masih ada kesempatan untuk terus mengembangkan diri, bahkan saat sudah memasuki dunia kerja. Dulu saya berpikir, saat selesai kuliah itu seharusnya seseorang sudah punya bekal yang lengkap untuk menjalani kehidupan nyata dalam bermasyarakat. Pikiran ini cukup membuat saya terbebani karena merasa masih sangat kurang berpengalaman dalam banyak aspek, terutama seputar organisasi. Saya jadi rendah diri dan diam-diam minder bila melihat teman sebaya yang di kehidupan kampusnya sudah aktif sekali dalam perhimpunannya. Tapi ternyata tempat kerja saya sekarang ini bukanlah tempat yang serta merta bertujuan ‘memanen’. Ia adalah tempat bertumbuh.
Poin yang ingin saya tekankan—terutama bagi diri saya—adalah untuk tidak pernah sekalipun menyepelekan ilmu. Apapun bentuknya, dan sesederhana apapun perkaranya. Selama itu baik, maka tidak akan rugi bila terus disimpan. Kita tidak akan pernah tahu suatu ilmu yang mungkin tampaknya remeh dan tidak bermakna di masa sekarang, ternyata dapat berguna di masa depan. Tentunya pengertian ilmu ini tidak sebatas apa-apa yang kita dapatkan di bangku sekolah hingga kuliah. Nyatanya, 'sekolah' terlama adalah kehidupan itu sendiri, 'kelas' terluas adalah dunia ini, dan 'guru' kita adalah juga meliputi semua orang yang kita temui.
Baiklah, rupanya sudah lebih dari 15 menit berlalu untuk saya menyusun tulisan ini. Masih ada naskah yang harus saya selesaikan. Terima kasih sudah berkenan menyimak :)
N110820W
21.26
Akhirnya sore tadi hujan, aroma petrikor amat memanjakan sekaligus repot-repot membawakan kenangan.

Komentar
Posting Komentar