Langsung ke konten utama

Disinfektan Kekhawatiran (2)



******
Kekhawatiran.
Semua berawal dari satu kata itu.
Terhitung dari hari kelahiranku, hari ini adalah hari ke (kira-kira) 7029 aku hidup di dunia. Lama ya ternyata? Meski demikian, tentu kehidupan yang sebenarnya, yang mulai dapat kupahami maknanya, baru datang mungkin belum separuh dari angka itu. Tentu saja, mendewasa pun perlu waktu kan? Tidak mungkin sedari lahir aku sudah paham mengenai apa itu hidup. Dan hingga kini pun mendewasa masih terus perlu waktu untuk mencapai tahapan yang sepenuhnya.
Pemaknaan akan kehidupan ternyata terbangun atas timbulnya iringan masalah dan sandungan aneka problematika yang kerapkali belum pernah terbayangkan sebelumnya. Sakit memang. Bahkan kadang hingga mampu membuatku terduduk lemas, dunia menggelap, dan seolah tiada yang dapat kulakukan lagi selain menangis. Tapi bukankah setiap proses memang biasanya menyakitkan? Kain, untuk menjadi baju tentu butuh dijahit. Ditusuk jarum, itu menyakitkan kan? Syukurlah kain tak bisa berteriak. Tepung terigu, gula, telur, untuk menjadi kue tentu butuh diolah: dibuat adonan, dibanting-banting (memangnya kue apa pake dibanting-banting?), dimikser, dioven. Syukurlah juga mereka tak dapat berteriak.
Kembali pada kekhawatiran.
Setelah berkali-kali (merasa) dilanda masalah, ternyata hampir semua –atau bahkan memang semua—masalahku berhulu pada sebuah kekhawatiran. Sebuah kekhawatiran yang sudah mencapai tingkatan akut. Parah sekali. Masalah yang disebabkan oleh kekhawatiran adalah masalah yang kosong. Kenapa? Karena yang dikhawatikan itu belum tentu ada. Bukankah lucu untuk merasa takut pada hal yang sejatinya tidak ada? Takut pada hal yang dibuat sendiri, dikembangkan sendiri, dihidupkan sendiri, dan ditakuti sendiri. Padahal itu semua hanya ada di benak sendiri. Awang-awang. Tak nyata.
Ha. Aku bisa ikut menertawakan ironi itu sekarang. Tapi kenyataannya, aku seringkali melakukannya (jadi kurang lebih yang kutertawakan adalah diriku sendiri? Sepertinya iya. Diriku di masa lalu. Semoga setelah ini tak demikian lagi). Aku akui, aku adalah pengkhawatir akut. Hampir setiap hari, adaaaaa saja hal yang membuatku khawatir. Mulai dari hal-hal kecil dan sepele hingga yang cukup besar.
Peluang timbulnya kekhawatiranku akan diperbesar oleh satu hal: interaksi.


Bersambung . . .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Day 25 Share 1 story about hikmah ramadan!

'Cinta terlarang' kami memang sudah semestinya berakhir, semoga selamanya~ Saya dan pusing adalah sepasang yang mulanya selalu bersama. Setiap hari setidaknya pasti ada satu momen dimana saya berjumpa dengannya. Pusing yang saya maksud adalah tipe yang rasanya muter sampai badan seperti mau ambruk. Ini terutama saya rasakan kalau berpindah posisi tubuh secara tiba-tiba. Misalnya dari rebahan langsung duduk atau dari duduk langsung berdiri. Perlu waktu beberapa detik penyesuaian sambil memejamkan mata dahulu agar berhasil stabil. Kalau dilihat dari tekanan darah sebenarnya memang konsisten cenderung lebih rendah daripada orang lain pada umumnya. Tapi setelah berkonsultasi dengan suster sekolah katanya itu bukan masalah, karena setiap orang punya kisaran normalnya sendiri. Dugaan lain yang menjadi penyebabnya adalah rendahnya kadar hemoglobin dalam darah saya. Iya yang ini cukup terbukti sih. Sudah pernah saya periksakan juga dan memang demikian hasilnya. Saat sedang dalam hari...

Saya dan Rasa Lain yang Lucu

 Rasanya belum lama sejak terakhir menulis tentang rasa suka yang lucu. Rasa. Suka. ... yang sekejap menjadi tidak lucu lagi. Barangkali mimpi itu hanya canda. Bunga tidur yang mengada-ada. Tapi bisa juga ia adalah pertanda. Bahwa yang dinanti tak kunjung tiba, sebenarnya memang sudah selesai tak bersisa. Senangnya, saya biasa saja. Ya! Ini adalah rasa yang lucu. Saya sendiri heran. Pernyataan-pernyataan dari seseorang berhasil membuat saya berpindah haluan. Yang dulu disimpan, kini betulan berhasil diikhlaskan. Saya tidak menyangka. Saya tersadar dibuatnya. Yang sebenarnya dipertahankan bukanlah murni rasa sayang pada orangnya. Namun lebih kepada momennya yang telah terjalin lama. Lalu selanjutnya apa? Tidak tahu juga. Setidaknya untuk saat ini belum ada rencana untuk mengapa-apakan kotak rasa saya.  .  . . Yang pasti saya ketahui saat ini, bubuk kopi darimu sudah tak tersisa untuk diseduh dan dinikmati lagi.   Y281121K -selalu ada yang lain

#Day 11 Imagine that you are giving a kultum, what will you tell?

  Wabah: Pengingat tentang Terbatasnya Waktu Kita   Pandemi! Itu adalah status COVID-19 saat ini. Pandemi menurut WHO dijelaskan sebagai wabah yang sifatnya menyebar global dan mendunia. Meski semula memang ditemukan di Cina, virus ini merebak hingga kini telah mencakup 199 negara (re: saat draft tulisan ini pertama saya buat). Pelan tapi pasti, satu persatu aspek kehidupan kita terpengaruh oleh makhluk kecil tak kasat mata tapi nyata ini. Aspek kesehatan? Tentu signifikan sekali. Aspek ekonomi? Perlahan terguncang terganggu keseimbangannya. Aspek sosial? Manusia dipaksa berjauhan secara fisik, social distancing istilahnya. Masih banyak yang harus dirinci bila ingin mendeskripsikan betapa dahsyat dampak yang virus ini berikan. Namun bagaimanapun, setiap yang telah ditakdirkan oleh-Nya tentu membawa hikmah tersendiri bagi orang orang yang mau bertafakur dan merenungi sisi positif dengan bijaksana. Walau mungkin saat ini dunia sedang berduka, mari kita tilik sisi...