******
Kekhawatiran.
Semua berawal dari satu kata itu.
Terhitung dari hari kelahiranku, hari ini
adalah hari ke (kira-kira) 7029 aku hidup di dunia. Lama ya ternyata? Meski
demikian, tentu kehidupan yang sebenarnya, yang mulai dapat kupahami maknanya,
baru datang mungkin belum separuh dari angka itu. Tentu saja, mendewasa pun
perlu waktu kan? Tidak mungkin sedari lahir aku sudah paham mengenai apa itu
hidup. Dan hingga kini pun mendewasa masih terus perlu waktu untuk mencapai
tahapan yang sepenuhnya.
Pemaknaan akan kehidupan ternyata terbangun
atas timbulnya iringan masalah dan sandungan aneka problematika yang kerapkali
belum pernah terbayangkan sebelumnya. Sakit memang. Bahkan kadang hingga mampu
membuatku terduduk lemas, dunia menggelap, dan seolah tiada yang dapat
kulakukan lagi selain menangis. Tapi bukankah setiap proses memang biasanya
menyakitkan? Kain, untuk menjadi baju tentu butuh dijahit. Ditusuk jarum, itu
menyakitkan kan? Syukurlah kain tak bisa berteriak. Tepung terigu, gula, telur,
untuk menjadi kue tentu butuh diolah: dibuat adonan, dibanting-banting
(memangnya kue apa pake dibanting-banting?), dimikser, dioven. Syukurlah juga
mereka tak dapat berteriak.
Kembali pada kekhawatiran.
Setelah berkali-kali (merasa) dilanda masalah,
ternyata hampir semua –atau bahkan memang semua—masalahku berhulu pada sebuah
kekhawatiran. Sebuah kekhawatiran yang sudah mencapai tingkatan akut. Parah
sekali. Masalah yang disebabkan oleh kekhawatiran adalah masalah yang kosong.
Kenapa? Karena yang dikhawatikan itu belum tentu ada. Bukankah lucu untuk
merasa takut pada hal yang sejatinya tidak ada? Takut pada hal yang dibuat
sendiri, dikembangkan sendiri, dihidupkan sendiri, dan ditakuti sendiri.
Padahal itu semua hanya ada di benak sendiri. Awang-awang. Tak nyata.
Ha. Aku bisa ikut menertawakan ironi itu
sekarang. Tapi kenyataannya, aku seringkali melakukannya (jadi kurang lebih
yang kutertawakan adalah diriku sendiri? Sepertinya iya. Diriku di masa lalu.
Semoga setelah ini tak demikian lagi). Aku akui, aku adalah pengkhawatir akut. Hampir
setiap hari, adaaaaa saja hal yang membuatku khawatir. Mulai dari hal-hal kecil
dan sepele hingga yang cukup besar.
Peluang timbulnya kekhawatiranku akan diperbesar oleh
satu hal: interaksi.Bersambung . . .
Komentar
Posting Komentar