Langsung ke konten utama

Desinfektan Kekhawatiran (3)

...
Iya.
Aku termasuk orang amat merasa kesulitan dalam melakukan interaksi dengan orang lain. Bahkan untuk sekadar menyapa.
Saat berinteraksi dengan orang lain (sapaan, meminta-diminta tolong, diminta menjelaskan sesuatu, dicurhati, dimintai saran atau pendapat, diminta memberi sebuah keputusan, sampai ditanya arah ke suatu tempat, bahkan saat guyon (!)), seringkali aku khawatir:
1.      Bagaimana kalau dalam berkata tadi aku membuatnya sakit hati?
2.      Bagaimana kalau jawabanku tadi membuatku justru terlihat bodoh?
3.      Bagaimana kalau jawabanku tadi tak dapat ia pahami?
4.      Bagaimana kalau dalam kataku tadi aku berbohong dan banyak hal yang kubuat buat?
5.      Bagaimana kalau jawabanku tadi tidak memuaskan?
6.      Bagaimana kalau setelah percakapan tadi, orang itu justru menjauhi aku?
7.      Bagaimana kalau saranku tadi klise dan tidak solutif?
8.      Bagaimana kalau pendapatku tadi keliru dan tidak berdasar?
9.      Bagaimana kalau opiniku tadi terlalu subjektif?
10.  Bagaimana kalau lelucon yang ku katakan tadi sebenarnya tidak lucu dan justru menyakitkan?
11.  Bagaimana kalau responsku tadi membuat orang itu kecewa?
12.  Bagaimana kalau aku tidak bisa memenuhi permintaannya?
13.  Bagaimana kalau aku tidak bisa menjalankan amanah yang oran g itu berikan?
14.  Bagaimana kalau aku tidak bisa menjadi sesuai ekspektasinya?
15.  Bagaimana kalau
16.  ....
17.  ......
18.  ..................
19.  ...................................
.
.
.
.
.
.
      n   ...............................

Dan bagaimana-bagaimana yang lainnya hingga bilangan ke-n. . .
Bayangkan saja, aku mengkhawatirkan hal-hal macam itu setiap kali selesai berinteraksi dengan seseorang. Padahal, yang namanya berinteraksi dengan orang, dalam sehari bisa berapa kali? Banyak! Setiap minggu? Setiap bulan? Setiap tahun? Sepanjang hidup? Banyaaaak sekaliiii
Apakah aku lelah dengan semua itu?
Tentu, siapa yang bilang tidak?
Lalu, apakah aku ingin menghentikannya?
Tentu, siapa yang bilang tidak?
Dan apakah aku sudah memulai untuk menghentikannya?
Mmm...
. . . . . . . . . . . .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Day 25 Share 1 story about hikmah ramadan!

'Cinta terlarang' kami memang sudah semestinya berakhir, semoga selamanya~ Saya dan pusing adalah sepasang yang mulanya selalu bersama. Setiap hari setidaknya pasti ada satu momen dimana saya berjumpa dengannya. Pusing yang saya maksud adalah tipe yang rasanya muter sampai badan seperti mau ambruk. Ini terutama saya rasakan kalau berpindah posisi tubuh secara tiba-tiba. Misalnya dari rebahan langsung duduk atau dari duduk langsung berdiri. Perlu waktu beberapa detik penyesuaian sambil memejamkan mata dahulu agar berhasil stabil. Kalau dilihat dari tekanan darah sebenarnya memang konsisten cenderung lebih rendah daripada orang lain pada umumnya. Tapi setelah berkonsultasi dengan suster sekolah katanya itu bukan masalah, karena setiap orang punya kisaran normalnya sendiri. Dugaan lain yang menjadi penyebabnya adalah rendahnya kadar hemoglobin dalam darah saya. Iya yang ini cukup terbukti sih. Sudah pernah saya periksakan juga dan memang demikian hasilnya. Saat sedang dalam hari...

Saya dan Rasa Lain yang Lucu

 Rasanya belum lama sejak terakhir menulis tentang rasa suka yang lucu. Rasa. Suka. ... yang sekejap menjadi tidak lucu lagi. Barangkali mimpi itu hanya canda. Bunga tidur yang mengada-ada. Tapi bisa juga ia adalah pertanda. Bahwa yang dinanti tak kunjung tiba, sebenarnya memang sudah selesai tak bersisa. Senangnya, saya biasa saja. Ya! Ini adalah rasa yang lucu. Saya sendiri heran. Pernyataan-pernyataan dari seseorang berhasil membuat saya berpindah haluan. Yang dulu disimpan, kini betulan berhasil diikhlaskan. Saya tidak menyangka. Saya tersadar dibuatnya. Yang sebenarnya dipertahankan bukanlah murni rasa sayang pada orangnya. Namun lebih kepada momennya yang telah terjalin lama. Lalu selanjutnya apa? Tidak tahu juga. Setidaknya untuk saat ini belum ada rencana untuk mengapa-apakan kotak rasa saya.  .  . . Yang pasti saya ketahui saat ini, bubuk kopi darimu sudah tak tersisa untuk diseduh dan dinikmati lagi.   Y281121K -selalu ada yang lain

#Day 11 Imagine that you are giving a kultum, what will you tell?

  Wabah: Pengingat tentang Terbatasnya Waktu Kita   Pandemi! Itu adalah status COVID-19 saat ini. Pandemi menurut WHO dijelaskan sebagai wabah yang sifatnya menyebar global dan mendunia. Meski semula memang ditemukan di Cina, virus ini merebak hingga kini telah mencakup 199 negara (re: saat draft tulisan ini pertama saya buat). Pelan tapi pasti, satu persatu aspek kehidupan kita terpengaruh oleh makhluk kecil tak kasat mata tapi nyata ini. Aspek kesehatan? Tentu signifikan sekali. Aspek ekonomi? Perlahan terguncang terganggu keseimbangannya. Aspek sosial? Manusia dipaksa berjauhan secara fisik, social distancing istilahnya. Masih banyak yang harus dirinci bila ingin mendeskripsikan betapa dahsyat dampak yang virus ini berikan. Namun bagaimanapun, setiap yang telah ditakdirkan oleh-Nya tentu membawa hikmah tersendiri bagi orang orang yang mau bertafakur dan merenungi sisi positif dengan bijaksana. Walau mungkin saat ini dunia sedang berduka, mari kita tilik sisi...