...
Iya.
Aku termasuk orang amat merasa kesulitan dalam
melakukan interaksi dengan orang lain. Bahkan untuk sekadar menyapa.
Saat berinteraksi dengan orang lain (sapaan,
meminta-diminta tolong, diminta menjelaskan sesuatu, dicurhati, dimintai saran
atau pendapat, diminta memberi sebuah keputusan, sampai ditanya arah ke suatu
tempat, bahkan saat guyon (!)), seringkali aku khawatir:
1. Bagaimana kalau dalam berkata tadi aku membuatnya sakit hati?
2. Bagaimana kalau jawabanku tadi membuatku justru terlihat bodoh?
3. Bagaimana kalau jawabanku tadi tak dapat ia pahami?
4. Bagaimana kalau dalam kataku tadi aku berbohong dan banyak hal yang kubuat
buat?
5. Bagaimana kalau jawabanku tadi tidak memuaskan?
6. Bagaimana kalau setelah percakapan tadi, orang itu justru menjauhi aku?
7. Bagaimana kalau saranku tadi klise dan tidak solutif?
8. Bagaimana kalau pendapatku tadi keliru dan tidak berdasar?
9. Bagaimana kalau opiniku tadi terlalu subjektif?
10. Bagaimana kalau lelucon yang ku katakan tadi sebenarnya tidak lucu dan
justru menyakitkan?
11. Bagaimana kalau responsku tadi membuat orang itu kecewa?
12. Bagaimana kalau aku tidak bisa memenuhi permintaannya?
13. Bagaimana kalau aku tidak bisa menjalankan amanah yang oran g itu berikan?
14. Bagaimana kalau aku tidak bisa menjadi sesuai ekspektasinya?
15. Bagaimana kalau
16. ....
17. ......
18. ..................
19. ...................................
.
.
.
.
.
.
n ...............................
Dan bagaimana-bagaimana yang lainnya hingga
bilangan ke-n. . .
Bayangkan saja, aku mengkhawatirkan hal-hal
macam itu setiap kali selesai berinteraksi dengan seseorang. Padahal, yang
namanya berinteraksi dengan orang, dalam sehari bisa berapa kali? Banyak!
Setiap minggu? Setiap bulan? Setiap tahun? Sepanjang hidup? Banyaaaak sekaliiii
Apakah aku lelah dengan semua itu?
Tentu, siapa yang bilang tidak?
Lalu, apakah aku ingin menghentikannya?
Tentu, siapa yang bilang tidak?
Dan apakah aku sudah memulai untuk
menghentikannya?
Mmm...
. . . . . . . . . . . .
Komentar
Posting Komentar