Langsung ke konten utama

Perasaan yang Racun

pernahkah kamu merasa dirimu tidak berharga? merasa dirimu tidak cukup baik untuk disandingkan seseorang? merasa dirimu terlalu jauh dari kata pantas untuk dikelilingi sekelompok manusia?

aku. sering.
hingga. kini.

rasa rendah diri sudah berulang kali kuutarakan kepada teman-teman dekatku. pun mereka telah berulang kali melakukan 'terapi' untuk menyembuhkanku dari rasa itu. akan tetapi tetap saja, bahkan terhadap mereka pun aku masih merasa tidak cukup baik dan pantas berada di lingkup hubungan dekat ini.

teman-temanku orang hebat. bermanfaat dan berperan penting bagi orang-orang di sekitarnya, bahkan hingga lingkup yang lebih besar daripada sekadar 'sekitar'. mereka produktif. ketiadaan mereka akan berdampak memberikan rasa hilang. setidaknya demikian yang kupandang dari sisiku.

sementara aku?

ada dan tidaknya diriku tidak akan memberikan pengaruh yang berarti. aku ada, yasudah. tidak ada pun tidak masalah. tidak menjadi orang penting apalagi dibutuhkan orang. bersosialisasi pun aku kesusahan. mau menyapa orang, kesulitan. kerap tidak mengerti bagaimana menempatkan diri. bermanfaat? sepertinya tidak. berprestasi? sudah redup pada masa ini. aku bisa apa..?

teman-teman itu orang hebat. mereka bermanfaat. produktif. dan aku t.i.d.a.k.
tidak dikenal. aku ada pun kerap tidak disadari.
dengan itu semua, bagaimana aku bisa untuk tidak merasa bahwa diriku kurang baik dan tidak pantas dikelilingi mereka?

teman-teman itu punya banyak keahlian. dunia mereka luas. orang yang mereka temui beragam. komunitas mereka beraneka rupa. sibuknya berfaedah.
dan aku, bukan suatu apa...

berteman dengan mereka menyenangkan. sangat.
mereka memberikan dukungan untukku, menjadi tempat keluhku (yang jelas disebabkan oleh tekanan yang bahkan tiada apa apanya dibanding milik mereka), penghiburku, dan hal membahagiakan lainnya.
namun ternyata tetap, rasa ini terus ada dan menyambangiku pada saat-saat tertentu.
aku tahu, bila sampai mereka mengetahui hal ini pasti mereka akan 'tidak suka'. karena jelas mereka menginginkan agar aku tidak begini. terapi-terapi itu, mereka sudah berusaha sering sekali, mengingatkan aku agar tidak berpikir dengan jalan seperti ini.
tapi bagaimana? ini muncul dengan sendirinya...

***

rasaku dengan anggapan 'tidak cukup baik' ini rupanya memberikan pengaruh pada bentukku dalam berinteraksi dengan mereka.

kini, sebagai sama-sama mahasiswa, semuanya tampak lebih terasa, rasa 'diri kurang baik' itu tadi.
aku merasa semakin berbeda. dunia mereka, luas. waktu mereka penuh dengan produktivitas. sampai-sampai aku merasa tidak enak hati untuk sekadar berbasa basi melalui media sosial dengan mereka. aku takut sapaanku mengganggu, aku takut 'lagi ngapain?' ku menghabiskan waktu mereka...
aku takut meminta tolong, karena ku tidak penting. keperluanku terlalu tidak berharga untuk diperhatikan. dan aku semakin merasa j.a.u.h...

mereka terus melangkah menuju pucuk-pucuk peran. sementara aku stagnan.

rasanya ingin meminta maaf atas chat-chatku yang tidak penting. rasanya ingin meminta maaf atas pertanyaan-pertanyaanku yang sungguh sepele. rasanya ingin meminta maaf atas tersitanya waktu mereka untuk menyimak ceritaku yang tiada guna.

ini perasaan yang racun kan?

karena mereka teman-teman dekatku. . .

dan racun ini berlaku, bahkan untuk mereka?
aku keterlaluan ya. . .?

maafkan aku, teman-teman...
tapi memang begini adanya.

terima kasih amat banyak untuk kesediaan kalian untuk tidak lelah-lelahnya menjadi teman terdekatku...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
aku.jatuh.




Y251117K



Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Day 25 Share 1 story about hikmah ramadan!

'Cinta terlarang' kami memang sudah semestinya berakhir, semoga selamanya~ Saya dan pusing adalah sepasang yang mulanya selalu bersama. Setiap hari setidaknya pasti ada satu momen dimana saya berjumpa dengannya. Pusing yang saya maksud adalah tipe yang rasanya muter sampai badan seperti mau ambruk. Ini terutama saya rasakan kalau berpindah posisi tubuh secara tiba-tiba. Misalnya dari rebahan langsung duduk atau dari duduk langsung berdiri. Perlu waktu beberapa detik penyesuaian sambil memejamkan mata dahulu agar berhasil stabil. Kalau dilihat dari tekanan darah sebenarnya memang konsisten cenderung lebih rendah daripada orang lain pada umumnya. Tapi setelah berkonsultasi dengan suster sekolah katanya itu bukan masalah, karena setiap orang punya kisaran normalnya sendiri. Dugaan lain yang menjadi penyebabnya adalah rendahnya kadar hemoglobin dalam darah saya. Iya yang ini cukup terbukti sih. Sudah pernah saya periksakan juga dan memang demikian hasilnya. Saat sedang dalam hari...

Saya dan Rasa Lain yang Lucu

 Rasanya belum lama sejak terakhir menulis tentang rasa suka yang lucu. Rasa. Suka. ... yang sekejap menjadi tidak lucu lagi. Barangkali mimpi itu hanya canda. Bunga tidur yang mengada-ada. Tapi bisa juga ia adalah pertanda. Bahwa yang dinanti tak kunjung tiba, sebenarnya memang sudah selesai tak bersisa. Senangnya, saya biasa saja. Ya! Ini adalah rasa yang lucu. Saya sendiri heran. Pernyataan-pernyataan dari seseorang berhasil membuat saya berpindah haluan. Yang dulu disimpan, kini betulan berhasil diikhlaskan. Saya tidak menyangka. Saya tersadar dibuatnya. Yang sebenarnya dipertahankan bukanlah murni rasa sayang pada orangnya. Namun lebih kepada momennya yang telah terjalin lama. Lalu selanjutnya apa? Tidak tahu juga. Setidaknya untuk saat ini belum ada rencana untuk mengapa-apakan kotak rasa saya.  .  . . Yang pasti saya ketahui saat ini, bubuk kopi darimu sudah tak tersisa untuk diseduh dan dinikmati lagi.   Y281121K -selalu ada yang lain

#Day 11 Imagine that you are giving a kultum, what will you tell?

  Wabah: Pengingat tentang Terbatasnya Waktu Kita   Pandemi! Itu adalah status COVID-19 saat ini. Pandemi menurut WHO dijelaskan sebagai wabah yang sifatnya menyebar global dan mendunia. Meski semula memang ditemukan di Cina, virus ini merebak hingga kini telah mencakup 199 negara (re: saat draft tulisan ini pertama saya buat). Pelan tapi pasti, satu persatu aspek kehidupan kita terpengaruh oleh makhluk kecil tak kasat mata tapi nyata ini. Aspek kesehatan? Tentu signifikan sekali. Aspek ekonomi? Perlahan terguncang terganggu keseimbangannya. Aspek sosial? Manusia dipaksa berjauhan secara fisik, social distancing istilahnya. Masih banyak yang harus dirinci bila ingin mendeskripsikan betapa dahsyat dampak yang virus ini berikan. Namun bagaimanapun, setiap yang telah ditakdirkan oleh-Nya tentu membawa hikmah tersendiri bagi orang orang yang mau bertafakur dan merenungi sisi positif dengan bijaksana. Walau mungkin saat ini dunia sedang berduka, mari kita tilik sisi...