Langsung ke konten utama

Masih Banyak Orang Baik


Saya selalu kagum pada orang-orang yang berbuat baik. Dan saya lebih kagum kepada mereka yang mampu berbuat baik secara konsisten dan universal. Kebaikan mereka tidak memandang dimensi waktu dan tempat. Tidak memandang konteks dan sama sekali tidak bersifat kondisional.
Saya selalu kagum pada mereka yang betah untuk terus berbuat baik. Saya kagum bagaimana mereka bisa berbuat demikian tanpa rasa bosan dan enggan. Sepertinya bagi mereka, berbuat baik adalah kebutuhan sekaligus kegemaran. Atau mungkin itulah bahan bakar mereka untuk terus bersemangat menjalani kehidupan.
Saya selalu kagum pada mereka yang senantiasa berbuat baik secara universal. Mereka berbuat baik tanpa melihat siapa objeknya. Tidak peduli itu teman, sahabat, saudara, atau pun hanya kenalan bahkan orang-orang yang ditemuinya berpapasan saat berjalan. Mereka melakukan kebaikan tanpa memilih, dan tentu saja tanpa pamrih.
Saya selalu kagum bagaimana mereka bisa berbuat baik dengan sebenar-benarnya niat, tanpa ada maksud tertentu yang tidak benar semisal untuk hadirnya balas yang sebelumnya diharap. Semula saya mengira bahwa hadirnya manusia-manusia baik semacam itu hanya ada dalam negeri utopis. Tapi dalam pikir yang skeptis itu saya mulai menemukan titik  terang yang mengungkapkan bahwa kebaikan nan konsisten dan universal memang nyata adanya.
Salah satunya bermula saat saya bertemu dengan kamu dan yang lainnya. Kebaikan-kebaikan yang saya terima telah sampai membuat saya terharu sekaligus malu. Terharu sebab kebaikan itu terasa demikian hangatnya, tulus dilakukan. Malu karena saya belum bisa membalas kebaikan itu dengan berterima kasih melalui cara yang pantas.
Kebaikan-kebaikan yang terus saya terima telah membuat saya sadar betapa kurangnya diri ini membagi kebaikan kepada yang lain. Kebaikan-kebaikan itu terasa begitu menenangkan sebab tulusnya berbeda dengan yang diberikan dengan disertai keinginan untuk terbalas.
Saya ingin belajar kepada manusia-manusia penuh kebaikan ini. Tentang bagaimana mereka mampu menjaga kualitas kebaikannya. Tentang bagaimana mereka mampu menjadikan berbuat baik sebagai hal yang otomatis, tanpa perlu berpikir panjang, namun tetap dengan langkah yang realistis.
Bertemu dengan manusia-manusia yang kebaikannya konsisten, universal, dan tidak bersyarat, termasuk kamu, telah membuka mata saya bahwa kebaikan tanpa adanya selubung romansa adalah benar benar ada. Adalah sangat tidak bijak bila saya sampai menganggap kebaikan yang kamu berikan itu hanya sebuah bentuk perhatian untuk menumbuhkan rasa suka dari saya. Kebaikan itu jauh lebih indah dari sekadar modus untuk menarik hati atau pun membuat saya jatuh cinta. Adalah sangat tidak elok bila saya sampai menganggap bahwa kebaikan-kebaikan itu dilakukan sekadar sebagai cara membungkus keinginan pelakunya untuk mendekati saya.
Saya berharap semoga kesadaran ini bisa bertahan hingga nanti nanti agar saya mampu lebih menghargai kebaikan itu dengan cara yang lebih bijaksana dan sepantas-pantasnya. Saya berharap semoga kelak bisa mengembalikan kebaikan itu dengan jalan yang dapat diterima dengan rasa hangat tulus yang kurang lebih sama. Terima kasih telah mengajarkan saya tentang pelajaran berbuat kebaikan seperti ini. Kebaikan yang konsisten, universal, dan tidak kondisional.
Y240918K

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Day 25 Share 1 story about hikmah ramadan!

'Cinta terlarang' kami memang sudah semestinya berakhir, semoga selamanya~ Saya dan pusing adalah sepasang yang mulanya selalu bersama. Setiap hari setidaknya pasti ada satu momen dimana saya berjumpa dengannya. Pusing yang saya maksud adalah tipe yang rasanya muter sampai badan seperti mau ambruk. Ini terutama saya rasakan kalau berpindah posisi tubuh secara tiba-tiba. Misalnya dari rebahan langsung duduk atau dari duduk langsung berdiri. Perlu waktu beberapa detik penyesuaian sambil memejamkan mata dahulu agar berhasil stabil. Kalau dilihat dari tekanan darah sebenarnya memang konsisten cenderung lebih rendah daripada orang lain pada umumnya. Tapi setelah berkonsultasi dengan suster sekolah katanya itu bukan masalah, karena setiap orang punya kisaran normalnya sendiri. Dugaan lain yang menjadi penyebabnya adalah rendahnya kadar hemoglobin dalam darah saya. Iya yang ini cukup terbukti sih. Sudah pernah saya periksakan juga dan memang demikian hasilnya. Saat sedang dalam hari...

Saya dan Rasa Lain yang Lucu

 Rasanya belum lama sejak terakhir menulis tentang rasa suka yang lucu. Rasa. Suka. ... yang sekejap menjadi tidak lucu lagi. Barangkali mimpi itu hanya canda. Bunga tidur yang mengada-ada. Tapi bisa juga ia adalah pertanda. Bahwa yang dinanti tak kunjung tiba, sebenarnya memang sudah selesai tak bersisa. Senangnya, saya biasa saja. Ya! Ini adalah rasa yang lucu. Saya sendiri heran. Pernyataan-pernyataan dari seseorang berhasil membuat saya berpindah haluan. Yang dulu disimpan, kini betulan berhasil diikhlaskan. Saya tidak menyangka. Saya tersadar dibuatnya. Yang sebenarnya dipertahankan bukanlah murni rasa sayang pada orangnya. Namun lebih kepada momennya yang telah terjalin lama. Lalu selanjutnya apa? Tidak tahu juga. Setidaknya untuk saat ini belum ada rencana untuk mengapa-apakan kotak rasa saya.  .  . . Yang pasti saya ketahui saat ini, bubuk kopi darimu sudah tak tersisa untuk diseduh dan dinikmati lagi.   Y281121K -selalu ada yang lain

#Day 11 Imagine that you are giving a kultum, what will you tell?

  Wabah: Pengingat tentang Terbatasnya Waktu Kita   Pandemi! Itu adalah status COVID-19 saat ini. Pandemi menurut WHO dijelaskan sebagai wabah yang sifatnya menyebar global dan mendunia. Meski semula memang ditemukan di Cina, virus ini merebak hingga kini telah mencakup 199 negara (re: saat draft tulisan ini pertama saya buat). Pelan tapi pasti, satu persatu aspek kehidupan kita terpengaruh oleh makhluk kecil tak kasat mata tapi nyata ini. Aspek kesehatan? Tentu signifikan sekali. Aspek ekonomi? Perlahan terguncang terganggu keseimbangannya. Aspek sosial? Manusia dipaksa berjauhan secara fisik, social distancing istilahnya. Masih banyak yang harus dirinci bila ingin mendeskripsikan betapa dahsyat dampak yang virus ini berikan. Namun bagaimanapun, setiap yang telah ditakdirkan oleh-Nya tentu membawa hikmah tersendiri bagi orang orang yang mau bertafakur dan merenungi sisi positif dengan bijaksana. Walau mungkin saat ini dunia sedang berduka, mari kita tilik sisi...