Saya selalu kagum pada orang-orang yang berbuat baik. Dan
saya lebih kagum kepada mereka yang mampu berbuat baik secara konsisten dan
universal. Kebaikan mereka tidak memandang dimensi waktu dan tempat. Tidak
memandang konteks dan sama sekali tidak bersifat kondisional.
Saya selalu kagum pada mereka yang betah untuk terus berbuat
baik. Saya kagum bagaimana mereka bisa berbuat demikian tanpa rasa bosan dan
enggan. Sepertinya bagi mereka, berbuat baik adalah kebutuhan sekaligus
kegemaran. Atau mungkin itulah bahan bakar mereka untuk terus bersemangat
menjalani kehidupan.
Saya selalu kagum pada mereka yang senantiasa berbuat
baik secara universal. Mereka berbuat baik tanpa melihat siapa objeknya. Tidak
peduli itu teman, sahabat, saudara, atau pun hanya kenalan bahkan orang-orang
yang ditemuinya berpapasan saat berjalan. Mereka melakukan kebaikan tanpa memilih,
dan tentu saja tanpa pamrih.
Saya selalu kagum bagaimana mereka bisa berbuat baik
dengan sebenar-benarnya niat, tanpa ada maksud tertentu yang tidak benar semisal
untuk hadirnya balas yang sebelumnya diharap. Semula saya mengira bahwa
hadirnya manusia-manusia baik semacam itu hanya ada dalam negeri utopis. Tapi
dalam pikir yang skeptis itu saya mulai menemukan titik terang yang mengungkapkan bahwa kebaikan nan
konsisten dan universal memang nyata adanya.
Salah satunya bermula saat saya bertemu dengan kamu dan
yang lainnya. Kebaikan-kebaikan yang saya terima telah sampai membuat saya
terharu sekaligus malu. Terharu sebab kebaikan itu terasa demikian hangatnya,
tulus dilakukan. Malu karena saya belum bisa membalas kebaikan itu dengan
berterima kasih melalui cara yang pantas.
Kebaikan-kebaikan yang terus saya terima telah membuat saya
sadar betapa kurangnya diri ini membagi kebaikan kepada yang lain. Kebaikan-kebaikan
itu terasa begitu menenangkan sebab tulusnya berbeda dengan yang diberikan dengan
disertai keinginan untuk terbalas.
Saya ingin belajar kepada manusia-manusia penuh kebaikan ini.
Tentang bagaimana mereka mampu menjaga kualitas kebaikannya. Tentang bagaimana
mereka mampu menjadikan berbuat baik sebagai hal yang otomatis, tanpa perlu
berpikir panjang, namun tetap dengan langkah yang realistis.
Bertemu dengan manusia-manusia yang kebaikannya konsisten,
universal, dan tidak bersyarat, termasuk kamu, telah membuka mata saya bahwa
kebaikan tanpa adanya selubung romansa adalah benar benar ada. Adalah sangat
tidak bijak bila saya sampai menganggap kebaikan yang kamu berikan itu hanya
sebuah bentuk perhatian untuk menumbuhkan rasa suka dari saya. Kebaikan itu
jauh lebih indah dari sekadar modus untuk menarik hati atau pun membuat saya
jatuh cinta. Adalah sangat tidak elok bila saya sampai menganggap bahwa kebaikan-kebaikan
itu dilakukan sekadar sebagai cara membungkus keinginan pelakunya untuk
mendekati saya.
Saya berharap semoga kesadaran ini bisa bertahan hingga nanti
nanti agar saya mampu lebih menghargai kebaikan itu dengan cara yang lebih
bijaksana dan sepantas-pantasnya. Saya berharap semoga kelak bisa mengembalikan
kebaikan itu dengan jalan yang dapat diterima dengan rasa hangat tulus yang
kurang lebih sama. Terima kasih telah mengajarkan saya tentang pelajaran
berbuat kebaikan seperti ini. Kebaikan yang konsisten, universal, dan tidak
kondisional.
Y240918K
Komentar
Posting Komentar