Beberapa waktu lalu saya mendapat kesempatan mendulang ilmu dari seorang yang luar biasa. Dalam menyimak beliau, saya jadi banyak belajar untuk lebih menginternalisasi makna sesungguhnya dari sebuah pengabdian. Rasanya terlalu sayang kalau ilmu ini saya simpan sendiri. Jadilah saya mencoba merangkumnya di sini dengan beberapa penyesuaian. Semoga yang saya tulis ini masih merepresentasikan apa yang saat itu beliau pembicara sampaikan.
Perlu diingat kalau pengabdian yang dimaksud dalam tulisan ini lebih merujuk pada konteks pengabdian dalam bidang pendidikan. Tapi tidak menutup kemungkinan pula kalau konsep dan prinsip dasarnya bisa diterapkan dalam bidang-bidang lainnya.
Selamat membaca :)
1. Dengan mengetahui mengapa melakukan pengabdian
2. Dengan mengetahui bagaimana melakukan pengabdian secara efektif
3. Melakukannya dengan semangat ihsan. Semata karena Allah, bukan alasan lain.
Ihsan, yakni kita melakukan sesuatu seolah olah kita melihat Allah. Pun nyatanya kita tidak bisa melihatNya, maka sesungguhnya Ia selalu melihat kita.
Poin islam iman dan ihsan sangat penting, sampai malaikat jibril khusus datang untuk mengajarkan tentang itu.
Ketiganya adalah pondasi menjadi hamba Allah yang sebaik baiknya.
Di akhir zaman seperti ini, melakukan jihad dan amar ma'ruf nahi munkar, termasuk dalam bentuk pengabdian, hukumnya fardhu ain. Artinya ia diwajibkan bagi seluruh hamba Allah. Bukan fardhu kifayah yang bisa gugur setelah dilakukan sebagian orang saja.
Ilmu itu memang penting, namun ada yang lebih penting, yaitu bagaimana kita menjadi representasi atau role model yang baik. Jadi kita memberikan pesan bukan melalui perkataan, tapi juga dengan menampilkan perilaku perilaku yang bersesuaian dengan ilmu kebaikan yang kita miliki. Seperti itulah yang dicontohkan rasulullah. Kita harus memperhatikan betapa perilaku mulia beliau jauh lebih berpengaruh pada para sahabat daripada bila hanya disampaikan melalui perkataan.
Kita harus menerapkan ini dalam menghadapi lawan bicara kita, yakni dalam konteks ini adalah siswa.
Dalam mengerjakan pengabdian, ada yang mungkin tidak disukai oleh orang orang dengki. Mereka itu tidak ingin orang yang taat untuk melakukan ketaatan itu dengan sepenuh kesadaran. Yang mereka ingin lihat adalah orang taat yang hanya melakukan ketaatannya itu hanya karena mengikuti kultur. Inilah yang disebut taklid. Hanya mengikuti generasi sebelumnya tanpa tahu hakikat yang sebenarnya, tanpa mempelajari secara logis. Apakah berislam seperti ini sudah cukup?
Kalau itu cukup, maka apa bedanya sebenar benar muslim dengan yang lain? Bisa saja orang kafir tampak dari luar seperti muslim hanya dengan memakai atribut keislaman seperti surban, jilbab, dll. Padahal isi hatinya jauh berbeda.
Maka jangan sampai kita merasa cukup menjadi muslim yang taklid seperti ini.
Oleh karena itu kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari penampilannya. Kita baru bisa menyatakan seseorang sebagai orang baik setelah melihat ke perilakunya.
Kewajiban fardhu ain tadi tentu tidak bisa berjalan efektif bila hanya mengandalkan ceramah di masjid. Tanggung jawab besar ini kurang dapat terwujud bila hanya menggantungkan pada dakwah secara perkataan saja.
Kewajiban itu menjadi milik kita semua. Adalah tugas kita untuk menyampaikan kebaikan dan mewujudkannya dalam perilaku kita. Namun yang memutuskan bahwa lawan bicara akan menerima kebaikan itu dan melakukannya juga, adalah tugas dan wewenang Allah.
Q n A~~~
Tips
Semoga kita bisa beristiqomah dalam jalan kebaikan ini.
Perlu diingat kalau pengabdian yang dimaksud dalam tulisan ini lebih merujuk pada konteks pengabdian dalam bidang pendidikan. Tapi tidak menutup kemungkinan pula kalau konsep dan prinsip dasarnya bisa diterapkan dalam bidang-bidang lainnya.
Selamat membaca :)
------------------------------------------------------------------------
Bagaimana kita dapat melakukan pengabdian yang sebenarnya?
Disadur dari seminar oleh Kemal A.
------------------------------------------------------------------------
2. Dengan mengetahui bagaimana melakukan pengabdian secara efektif
3. Melakukannya dengan semangat ihsan. Semata karena Allah, bukan alasan lain.
Ihsan, yakni kita melakukan sesuatu seolah olah kita melihat Allah. Pun nyatanya kita tidak bisa melihatNya, maka sesungguhnya Ia selalu melihat kita.
Poin islam iman dan ihsan sangat penting, sampai malaikat jibril khusus datang untuk mengajarkan tentang itu.
Ketiganya adalah pondasi menjadi hamba Allah yang sebaik baiknya.
Di akhir zaman seperti ini, melakukan jihad dan amar ma'ruf nahi munkar, termasuk dalam bentuk pengabdian, hukumnya fardhu ain. Artinya ia diwajibkan bagi seluruh hamba Allah. Bukan fardhu kifayah yang bisa gugur setelah dilakukan sebagian orang saja.
Ilmu itu memang penting, namun ada yang lebih penting, yaitu bagaimana kita menjadi representasi atau role model yang baik. Jadi kita memberikan pesan bukan melalui perkataan, tapi juga dengan menampilkan perilaku perilaku yang bersesuaian dengan ilmu kebaikan yang kita miliki. Seperti itulah yang dicontohkan rasulullah. Kita harus memperhatikan betapa perilaku mulia beliau jauh lebih berpengaruh pada para sahabat daripada bila hanya disampaikan melalui perkataan.
Kita harus menerapkan ini dalam menghadapi lawan bicara kita, yakni dalam konteks ini adalah siswa.
Dalam mengerjakan pengabdian, ada yang mungkin tidak disukai oleh orang orang dengki. Mereka itu tidak ingin orang yang taat untuk melakukan ketaatan itu dengan sepenuh kesadaran. Yang mereka ingin lihat adalah orang taat yang hanya melakukan ketaatannya itu hanya karena mengikuti kultur. Inilah yang disebut taklid. Hanya mengikuti generasi sebelumnya tanpa tahu hakikat yang sebenarnya, tanpa mempelajari secara logis. Apakah berislam seperti ini sudah cukup?
Kalau itu cukup, maka apa bedanya sebenar benar muslim dengan yang lain? Bisa saja orang kafir tampak dari luar seperti muslim hanya dengan memakai atribut keislaman seperti surban, jilbab, dll. Padahal isi hatinya jauh berbeda.
Maka jangan sampai kita merasa cukup menjadi muslim yang taklid seperti ini.
Oleh karena itu kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari penampilannya. Kita baru bisa menyatakan seseorang sebagai orang baik setelah melihat ke perilakunya.
Kewajiban fardhu ain tadi tentu tidak bisa berjalan efektif bila hanya mengandalkan ceramah di masjid. Tanggung jawab besar ini kurang dapat terwujud bila hanya menggantungkan pada dakwah secara perkataan saja.
Kewajiban itu menjadi milik kita semua. Adalah tugas kita untuk menyampaikan kebaikan dan mewujudkannya dalam perilaku kita. Namun yang memutuskan bahwa lawan bicara akan menerima kebaikan itu dan melakukannya juga, adalah tugas dan wewenang Allah.
Q n A~~~
Tips
- Tidak boleh berbohong. Walaupun dengan yang terlihat baik. Misalnya kita menjanjikan mau mengajari siswa kerjakan soal, maka lakukan itu. Jangan malah mengajaknya untuk kajian keislaman, baca buku, dll. Oke kajian dan baca buku itu baik, tapi kan yang djjanjikan adalah belajar dan mengerjakan soal. Maka kalau mau kajian atau baca buku itu silakan dilakukan setelah janji tertunaikan.
- Disiplin waktu. Walaupun kita tahu mereka akan ngaret, kita tetap pada prinsip untuk tepat waktu. Be on time, bahkan in time. Siap sejak 5 menit sebelum jam yang telah ditentukan.
- Tidak menyepelekan hal kecil. 'Siapkan diri untuk menyambut 1 orang siswa seperti persiapan untuk menyambut 1 kelas". Misalnya untuk mempersiapkan extra lesson.
- Kebersihan. Tanggung jawab pengabdian ini adalah tugas suci. Lakukan dalam lingkungan yang bersih agar lawan bicara bisa melihat bahwa yang ingin kita sampaikan itu hal baik.
- Allah mencintai orang yang melakukan pekerjaannya secara totalitas.
- Jangan sampai siswa melihat kita dalam keadaan yang terlalu santai. Misalnya, tiduran, selonjoran, berpakaian sembarangan dan tidak rapi, guyon berlebihan, dan semacamnya. Ini bukan munafik. Ini adalah upaya untuk membentuk diri menjadi lebih berkarakter sehingga siswa dapat memahami kalau posisi kita adalah sedang menjadi pendidik.
- Ini juga yang menjadi dasar mengapa pembina asrama putri tidak diperkenankan untuk bertemu siswa dengan tidak pakai kerudung..
- Kabarkan ke orang tua saat anak anaknya sedang beraktivitas bersama kita. Orang tua akan senang saat mengetahui putra putrinya sedang melakukan aktivitas positif dan tidak melakukan hal yang sia sia. Kalau ini bisa dibiasakan, maka jangan heran kalau nanti saat kita bertemu dengan orang tua itu kita disambut dengan sangat baik.
- Beri perhatian kepada anak anak dengan bentuk yang menyerupai perhatian dari orang tuanya. Artinya, perhatian itu harus tulus. Misalnya, saat kita sudah menetapkan jadwal waktu. Tapi ternyata siswa itu datang dengan mood yang buruk. Maka sisihkanlah waktu kita untuk mendengarkannya dulu mengutarakan kekesalan atau sakit hatinya. Perhatian seperti ini biasanya hanya diberikan oleh orang tua atau sahabat kan?
- Kita adalah serupa tukang kebun, dan siswa adalah tanaman di kebunnya. Saat tukang kebuh melihat ada tanaman layu, maka ia akan sigap menyiram dan memupuknya. Terapkan pola ini ke siswa juga.
- Saat bersama dengan siswa, simpan dulu handphone kita :) Fokus mendengarkan dan membersamai mereka. Jangan diduakan. Ini adalah upaya untuk menghargai perasaan mereka. Kita pun tidak mau diduakan kan? Lagipula buka handphone itu kadang bukan karena benar-benar butuh, tapi hanya karena kebiasaan. Maka coba ubahlah kebiasaan itu.
- Poin penting untuk melakukan pengabdian adalah prinsip bermusyawarah. Dengan musyawarah kita dapat meramu formula paling tepat untuk diterapkan.
- Belajarlah dengan cara mengajarkan. Saat kita menyiapkan diri untuk mengajar, tentu kita akan 'tertuntut' untuk meng-upgrade diri. Dengan begitu, kita akan terus terpacu untuk selalu belajar.
Semoga kita bisa beristiqomah dalam jalan kebaikan ini.
------------------------------------------------------------------------
Saya akan sangat senang kalau pembaca mau merespons tulisan ini. Silakan bila mau meninggalkan komentar atau mungkin berkenan untuk berbagi cerita tentang pengalaman mengabdi dengan versi masing-masing :)
Y230919K
Komentar
Posting Komentar