Saya selalu suka cara Allah memberi
kejutan buat hamba-Nya.
Tidak pernah gagal. Tidak pernah ketahuan
sebelum waktu yang sudah Ia rencanakan.
Ngomong-ngomong tentang kejutan, saya
teringat saat diberi kejutan pada hari ulang tahun. Itu adalah ulang tahun
kedelapanbelas, di tahun terakhir saya menjalani masa SMA.
Kala itu saat sarapan saya sudah merasa
kalau akan ada sesuatu. Tapi saya tidak mau ge-er sih. Kalau biasanya
setelah sarapan saya langsung menuju lapangan, maka hari itu saya 'ditahan' di
ruang makan dengan cara diajak ngobrol cukup lama. Sampai tiba-tiba...
Tiga (kalau tidak salah) orang teman ‘menculik’
saya. Salah seorangnya menutup mata saya erat-erat, sedangkan dua lainnya
bertugas menggandeng paksa dan mengarahkan saya entah kemana.
Saya dibawanya meninggalkan ruang makan lalu
berhenti setelah berjalan agak jauh. Dua orang selain si penutup mata
melepaskan saya. Saya masih belum tahu apa yang mereka rencanakan. Sampai kemudian
mata saya dibebaskan. Butuh beberapa detik untuk menyesuaikan mata dengan
cahaya agar bisa melihat dengan jelas. Sekejap itu pula saya sadar, semua teman
seangkatan sedang melingkar dan menyanyikan Happy Birthday untuk saya.
Tak hanya disitu, salah satu teman
menunjuk ke arah lantai dua. 'Itu coba lihat kesana!' begitu katanya. Ternyata ada
ucapan Happy Birthday berukuran besar dan sungguh estetik, dipasang di
pinggiran atap. Jelaslah saya terharu :')
Tulisan itu dibuat dengan kertas HVS yang
bertuliskan setiap huruf, dihias sedemikian rupa dan berwarna-warni. Terlihat sekali
kalau dalam membuat itu pasti mereka perlu waktu yang tidak sedikit.
'Itu hasil lembur tadi malam lho.' Katanya
sambil tersenyum.
Ah, terima kasih banyak teman-teman, aku
sayang kalian :")
***
Dengan kejutan yang sebenarnya sudah
sedikit ketahuan, saya masih bisa jadi sebahagia itu. Kejutan oleh manusia
tentu wajar kalau masih ketahuan, namanya juga buatan makhluk yang penuh
keterbatasan, kan?
Sekarang mari kembali ke kalimat di
permulaan tulisan ini. Tentang kejutan dari Sang Maha Penuh Kesempurnaan.
***
Saya bukan termasuk orang yang suka
menuliskan mimpi-mimpi. Misalpun memang melakukannya, paling hanya dalam bentuk
memo di handphone—yang kemudian cukup saya sesali karena bentuk memonya
tipe offline sehingga ikut hilang saat handphone saya rusak :(
Mungkin bisa dibilang, saya tipe takut
mengambil risiko dan lebih suka let it flow. Dulu memang saya
termasuk 'wani ngambis'. Terutama saat masih aktif di dunia olimpiade. Tapi se-ngambis-ngambisnya
saya, pun tetap tidak sampai terang-terangan dan overpublish juga tentang
itu. Saya lebih suka bermimpi secara tertutup. Entahlah, mungkin itu karena
terlalu takut dengan pandangan orang lain tentang mimpi saya—ini nggak baik
sih, tapi mau gimana lagi, saya ada semacam trauma tentang mengekspos mimpi. Haha.
Lalu apakah dengan tidak mengekspos mimpi
itu saya jadi tidak seterpacu mereka yang bermimpi secara terang-terangan?
Ternyata tidak juga. Saya masih bisa ngambis
kok. Saya masih bisa rajin belajar *cielah. Saya masih mengalami masa-masa
nangis saat merasa hampir hopeless dengan mimpi saya. Bagi saya, adanya
tanda-tanda itu masih cukup menunjukkan kalau saya bersungguh-sungguh dalam
memanjatkan mimpi.
Selain tipe cara bermimpi yang tertutup, saya
lebih menyukai mimpi yang jangka waktunya tidak terlalu panjang. Saya tidak
hobi menuliskan mimpi yang saya sendiri tidak tahu bagaimana cara mencapainya. Misalnya
begini, saya suka dan akan serius saat menjelang dihadapkan dengan olimpiade. Tapi
saya tidak pernah yang beneran menuliskan mimpi akan ikut olimpiade
tingkat internasional yang jadwalnya masih antah-berantah. Hanya kalau suatu
hari saya dengar ada event olimpiade, maka saya akan mengejar itu. Saya akan
serius mempersiapkannya. Jadi saat mendengar kabar event-nya itulah saat
saya mulai menuliskannya sebagai mimpi saya. Seperti itulah yang saya maksud
sebagai let it flow.
Saya membiarkan diri saya terbawa kemana
takdir mengarahkan, lalu saya akan berjuang di ladang yang disediakan.
Contoh lain let it flow versi saya
adalah tentang keputusan melanjutkan kemana setelah SMA. Keputusan untuk kuliah
di kota ini memang pilihan pribadi. Tapi tentang menyambinya dengan tinggal di
asrama sebenarnya bukan sepenuhnya keinginan saya. Dulu yang mendasarinya hanya
kalimat 'coba dulu aja.' Lalu dengan berbekal itu, pada akhirnya saya berhasil
menuntaskan semuanya.
Sekarang saya sudah melalui fase itu, lalu
berlanjut ke dunia pascamahasiswa: dunia kerja. Saya masih di lingkungan yang
sama. Yang berbeda adalah amanahnya, tentu saja. Bekal saya sama, let it
flow dan coba dulu aja. Saya tidak memilih untuk bekerja disini dan tidak
memilih posisi maupun tugasnya *tugas saya sekarang agak melenceng dari jurusan
kuliah haha.
Lalu apakah saya lantas menyesal untuk
mengikuti aliran takdir ini?
Ternyata tidak sama sekali. Seperti yang
saya bilang di awal, saya selalu suka pada cara Allah memberi kejutan pada
hamba-Nya.
Di ladang yang saya kerjakan sekarang,
saya menemukan banyak kejutan. Termasuk tentang bagaimana mimpi-mimpi samar
masa kecil saya ternyata bisa terwujud. Iya, saat kecil dulu saya masih pernah
bermimpi tentang hal yang jadwalnya antah-berantah.
Misalnya,
1. Pergi ke Sukabumi (sejak pertama
mendengar nama kota ini dari cerita guru saat TK, entah kenapa saya ingin
sekali pergi kesana)
2. Makan buah plum (saya banyak
menginginkan untuk mencoba buah-buah yang menurut saya eksotis)
3. Makan kue mochi (entah kenapa tapi saya
membayangkannya sangat enak. Mungkin saya terinspirasi dari sebuah film kartun)
4. Makan buah delima (ini juga buah
eksotis versi saya)
5. Ke universal studio (ini efek iklan
yang banyak menampilkan betapa tempat itu penuh kesenangan)
6. Naik pesawat garuda (ini juga efek
iklan haha)
7. Pergi ke Lombok (keinginan ini lebih
lagi diperkuat saat saya membaca sebuah novel dengan setting tempat disana)
8. Makan buah cempedak (another
buah eksotis versi saya)
9. Pergi ke Mekarsari (saya masih ingat
sekali bagaimana iklannya mengiming-imingi penontonnya dengan promo potong
harga bagi anak sekolah dengan nilai rapor bagus)
10. Makan buah matoa (saya mengenal buah
ini pas udah nggak masa kecil banget sih)
Dan lainnya, saya lupa haha.
Sekarang 4 dari 10 mimpi itu sudah
tercapai, 2 lainnya insyaAllah akan menyusul segera, dan 4 lainnya masih
menjadi tanda tanya. Saya sengaja tidak menyebutkan yang mana, dan tentu urutan
itu saya tulis random saja. Tapi kalau pembaca ingin tahu, boleh tanya langsung
ke saya kok hehe.
Saya banyak dibuat bersyukur karena berada
disini memungkinkan saya untuk mengambil kesempatan menjemput mimpi-mimpi. Saya
banyak diberi kejutan yang sama sekali tidak ketahuan. Tentu saja, karena yang
memberi kejutan itu tak lain adalah Allah. Bahkan kejutan itu juga mencakup
mimpi-mimpi yang sama sekali belum berani saya mimpikan :") Kalau dengan
kejutan teman-teman saja saya terharu bahagia, maka sudah pasti dengan kejutan
Allah saya bisa sampai tidak kuasa berkata-kata.
Y180919K
Komentar
Posting Komentar