Langsung ke konten utama

Tentang Kopi

"I thought i've moved on. But yesterday's reminder from someone made me sure that this feeling remains the same, even after more than 2 years of being lost contact."
"Once you care about someone, you never really forget about them."

Kadang saya lupa dengan apa yang saya rasa—mari kita istilahkan sebagai 'kopi'. Saya pikir setelah sekian lama ini sudah benar-benar hilang. Lagipula kan sudah tidak ada interaksi sama sekali. Maka saya kira semua kopi sudah menguap atau tumpah menyisakan gelas kosong.
Kopi ini bagi saya mirip dengan starch solution yang pernah saya buat untuk projek sains pekan lalu. Saat lama didiamkan, larutan itu akan menjadi semakin jernih. Tapi bukan berarti starch-nya hilang. Melainkan ia hanya mengendap di dasar labu ukur yang menjadi tempatnya. Lalu bila saya mengaduknya atau menggerakkan wadahnya, kembali larutan itu menjadi pekat warna putihnya.
Pun sama yang terjadi tentang kopi ini. Saya meletakkannya dalam gelas bernama hati. Saat masih proses rajin berinteraksi, kopi ini seakan tiada habisnya. Saya tidak bosan menikmatinya. Menambahkan gula, kopi lagi, dan air panas, menyeduhnya untuk membuat saya terjaga. Kadang kalau kebanyakan akan berefek samping membuat saya deg-degan dan sulit tidurini yang menjadi alasan penyebutan istilah rasa saya sebagai kopi.
Sampai akhirnya kopi didiamkan, seperti starch solution yang saya buat itu. Tidak ada lagi tambahan gula, air panas, apa lagi kopi. Yang saya punya hanya gelas dengan sisa seduhan kopi yang tidak mengisinya hingga penuh.
Waktu berlalu. Saya masih punya gelas itu. Tapi saya tidak lagi memperhatikan maupun menempatkannya di tempat yang terjangkau pandangan mata. Sampai saya lupa kalau ternyata kopi itu sebenarnya masih ada.
Pekan lalu seorang yang saya sebutkan di awal tulisan ini memberi kabar. Ia bilang kalau  tadi siang bertemu sang pemberi kopi. Maka saat itu pula saya merasa diberi sendok dan teringat dengan kopi setengah gelas yang pernah ada. Saya mencari gelas itu, mengaduknya, menambahkan gula, kopi lagi, dan air panas. Menyeduhnya lagi. Nikmatnya masih sama. 
Inilah yang berbeda antara kopi milik saya dan kopi sebenarnya. Kopi milik saya tidak punya masa kadaluarsa. Setidaknya itu yang sekarang saya rasa. Apakah kopi itu bisa bertahan hingga nanti-nanti? Tidak ada yang tahu. Selama masa yang tidak pasti itu, saya memutuskan untuk menghemat kopi yang saya miliki, menikmatinya secukupnya, sambil menunggu sang pemberi kopi datang ke saya kembali. Kalau boleh berharap, saya ingin punya kesempatan untuk menyeduh kopi dan menikmati itu bersamanya.
 Y051119K

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Day 25 Share 1 story about hikmah ramadan!

'Cinta terlarang' kami memang sudah semestinya berakhir, semoga selamanya~ Saya dan pusing adalah sepasang yang mulanya selalu bersama. Setiap hari setidaknya pasti ada satu momen dimana saya berjumpa dengannya. Pusing yang saya maksud adalah tipe yang rasanya muter sampai badan seperti mau ambruk. Ini terutama saya rasakan kalau berpindah posisi tubuh secara tiba-tiba. Misalnya dari rebahan langsung duduk atau dari duduk langsung berdiri. Perlu waktu beberapa detik penyesuaian sambil memejamkan mata dahulu agar berhasil stabil. Kalau dilihat dari tekanan darah sebenarnya memang konsisten cenderung lebih rendah daripada orang lain pada umumnya. Tapi setelah berkonsultasi dengan suster sekolah katanya itu bukan masalah, karena setiap orang punya kisaran normalnya sendiri. Dugaan lain yang menjadi penyebabnya adalah rendahnya kadar hemoglobin dalam darah saya. Iya yang ini cukup terbukti sih. Sudah pernah saya periksakan juga dan memang demikian hasilnya. Saat sedang dalam hari...

Saya dan Rasa Lain yang Lucu

 Rasanya belum lama sejak terakhir menulis tentang rasa suka yang lucu. Rasa. Suka. ... yang sekejap menjadi tidak lucu lagi. Barangkali mimpi itu hanya canda. Bunga tidur yang mengada-ada. Tapi bisa juga ia adalah pertanda. Bahwa yang dinanti tak kunjung tiba, sebenarnya memang sudah selesai tak bersisa. Senangnya, saya biasa saja. Ya! Ini adalah rasa yang lucu. Saya sendiri heran. Pernyataan-pernyataan dari seseorang berhasil membuat saya berpindah haluan. Yang dulu disimpan, kini betulan berhasil diikhlaskan. Saya tidak menyangka. Saya tersadar dibuatnya. Yang sebenarnya dipertahankan bukanlah murni rasa sayang pada orangnya. Namun lebih kepada momennya yang telah terjalin lama. Lalu selanjutnya apa? Tidak tahu juga. Setidaknya untuk saat ini belum ada rencana untuk mengapa-apakan kotak rasa saya.  .  . . Yang pasti saya ketahui saat ini, bubuk kopi darimu sudah tak tersisa untuk diseduh dan dinikmati lagi.   Y281121K -selalu ada yang lain

#Day 11 Imagine that you are giving a kultum, what will you tell?

  Wabah: Pengingat tentang Terbatasnya Waktu Kita   Pandemi! Itu adalah status COVID-19 saat ini. Pandemi menurut WHO dijelaskan sebagai wabah yang sifatnya menyebar global dan mendunia. Meski semula memang ditemukan di Cina, virus ini merebak hingga kini telah mencakup 199 negara (re: saat draft tulisan ini pertama saya buat). Pelan tapi pasti, satu persatu aspek kehidupan kita terpengaruh oleh makhluk kecil tak kasat mata tapi nyata ini. Aspek kesehatan? Tentu signifikan sekali. Aspek ekonomi? Perlahan terguncang terganggu keseimbangannya. Aspek sosial? Manusia dipaksa berjauhan secara fisik, social distancing istilahnya. Masih banyak yang harus dirinci bila ingin mendeskripsikan betapa dahsyat dampak yang virus ini berikan. Namun bagaimanapun, setiap yang telah ditakdirkan oleh-Nya tentu membawa hikmah tersendiri bagi orang orang yang mau bertafakur dan merenungi sisi positif dengan bijaksana. Walau mungkin saat ini dunia sedang berduka, mari kita tilik sisi...