Langsung ke konten utama

Our Times dan Pemantik Halu


Memang ya, menonton film itu ampuh memberikan bahan bakar untuk menulis. Barusan saya menonton film yang berjudul Our Times. Film lama. Saya bahkan sudah menontonnya 2 kali, 3 termasuk yang tadi. Film cina. Tapi tenang, tidak akan menularkan corona.

Film tersebut bercerita tentang seorang remaji (remaja perempuan /ehe) yang culun, remaja populer yang ia sukai, remaja preman sekolah, dan remaji populer sebagai rival remaji culun tadi. Settingnya SMA. Temanya cukup klise dan mungkin bisa ditebak, kan? Yang membuat berkesan bagi saya adalah alur dan perkembangan masing masing karakternya.

Di bagian awal film, saya masih bisa tertawa tawa dengan menyimak lugu dan lucunya scene. Tapi menuju tengah, satu per satu hal mulai diungkap dan tema romance nya semakin pekat.

Saya dibuat iri dengan bunga bunga masa SMA mereka. Apalagi setting sekolahnya mirip dengan tempat saya dulu. Setting sudah sama, sayang tokohnya tidak ada wkwk.

Hal uwu nya disajikan dengan tidak berlebihan dan cukup realistis. Ini yang membuatnya lebih sukses memancing saya berimajinasi untuk bisa mengalami cerita yang serupa hahahahahaaaaluuuu

Di ending, saya semakin terpikat. Saya termasuk orang yang menyukai tipe film yang di akhir ceritanya mengandung penjelasan tentang perasaan atau sudut pandang tokoh lawan main si tokoh utama. 

Contohnya dalam film ini. Mulanya penuh menceritakan sudut pantang si remaji culun. Tentang bagaimana dia mengagumi si remaja populer, bagaimana dia memutuskan berubah, bagaimana dia perlahan menyadari apa yang sebenarnya dirasa, dan lain sebagainya. Sampai pada menuju akhir cerita, disampaikanlah sudut pandang si remaja preman. Diunderline scene scene 'tersembunyi' yang membuat saya terpana.

Tipe cerita seperti itu mengingatkan saya bahwa kita memang tidak bisa memandang suatu peristiwa dari sisi kita sendiri. Penting untuk tahu dari sisi yang lain sebelum menduga yang tidak tidak. Apa yang kita rasa bisa saja berbeda dari yang sebenarnya seseorang coba sampaikan. Apa yang kita jadikan kesan boleh jadi berbeda dari apa yang sebenarnya orang lain coba tunjukkan.

Saya biasanya nangis paling pol saat sampai ke tahap penceritaan yang berubah sudut pandang begitu XD

Selain membuat jiwa iri saya bangkit, film ini juga membuat saya bertanya penasaran. Bagaimana rasanya diperjuangkan yang sebegitunya? Apakah saya akan menemukan sosok yang demikian?
Halu lagi? Biarin :p

Tentang jatuh cinta, saya tentu pernah merasakannya. Normal kan?

Berhitung mundur, sampai pada jaman SMP...

Dulu pernah ada seorang yang jadi...crush. Saya sebut crush karena memang rasanya akan ketinggian kalau harus disebut first love. Saya yang menaruh kagum duluan. Simpel. Saya suka dia karena pintar, satu club mapel, dan tipe anak baik baik. Saking baiknya sampai saya tidak menyangka kalau dia akan menanggapi cewek yang jadi secret admirernya. Tentu saja itu bukan saya. Melainkan teman yang tinggal seasrama dengan saya. Hahahahahahahaha

And things go on~

Saya sekelas dengan mas itu, dan saya seasrama dengan mbak itu. Cocok sekali peran saya menjadi...kurir. Yep! Saya menyampaikan buku surat suratan milik mereka. Ambyar? Jelas. Ingin bakar? Haha sejujurnya pernah berpikir begitu. Tapi yasudahlah~

The story goes on...

Karena hanya crush, maka memang rasa kala itu bertahan tidak lama. Eh cukup lama sih, tapi tidak sampai sekarang kok. Saya teralihkan oleh kesibukan kelas 2 dan 3 masa itu.

Dan... Kembalilah saya kagum lagi dengan seorang yang berbeda. Sebabnya sama, dia pintar dan tipe anak baik baik. Dan sama juga, saya tidak mengira kalau mas yang kedua ini akan membalas rasa dari secret admirernya. Haaaah terdengar seperti de javu kan? Iya. Cerita crushing saya terulang lagi. Tapi bedanya, saya tidak perlu jadi kurir mereka~

Walaupun begitu, sebenarnya yang kedua ini cukup nyesek juga. Soalnya, saat teman teman kelas belum tahu kalau ada mbak secret admirer, mereka sering men-cie-kan saya dengan mas itu. Tahu sendiri kan, cie adalah bahan bakar romansa anak sekolah?

Itulah, saya sampai ge er lahya. Tapi lalu tumbang kandas hanyut setelah mbak secret admirer mulai tidak secret.
Heu~

Saya cukup kapok dengan crush jenis begitu. Jenis yang saya suka duluan. Ngapain diulang lagi yakan? Toh sudah dua kali dan dua duanya berakhir ambyar.

Setelah itu saya berpikir, kapan ya ada cerita dimana bukan aku gitu yang mulai duluan?

Sejak SD, saya tidak pernah berpengalaman yang namanya ada orang confess ke saya. Yah walaupun itu memang cinta monyet dan guyon saja mungkin, tapi saya agak pengen juga merasakan keuwuan yang begitu wkwkw.

Setidaknya, saya pikir itu akan membuat saya merasa worth it, dan lebih lagi mungkin...disayangi?
Entahlah. Kurang wow ya standar saya? Haha

Bahkan dulu saya pernah membandingkan diri dengan teman teman yang cerita kalau ada yang confess ke dia. Bertanya pada diri sendiri, apa yang salah dengan saya ya? Apakah saya memang setidak menarik itu? Apa saya terlalu galak? Apa saya memang tidak punya kelebihan? Apa saya memang tidak cantik? Dan lain sebagainya.

Saya iri dengan tokoh remaji culun yang sanggup menunjukkan usahanya agar bisa menarik hati si remaja populer. Dia bahkan sampai mengubah penampilannya. Namun di akhir cerita saya paham, bukan perubahan fisik yang membuat seseorang menarik, melainkan ia ada dari kebaikan hati yang asli.

Pernah pertanyaan pertanyaan itu sampai tumbuh menjadi insecurity yang berlebihan. Saya merasa tidak berharga.

Sampai suatu hari seseorang menyampaikan kalau dia menyukai saya...

Itu adalah yang pertama!
Haha

Senang? Jelaslah! Saya merasa berharga. Sesingkat bilang dia suka sudah berhasil menaikkan kepercayaan diri saya.

Padahal suka belum selalu berarti cinta kan? Dan itu bisa luntur kapan saja.

Saya tidak tahu berapa lama orang itu fall for me. Yang saya tahu adalah bahwa sampai sekarang saya masih fall for him.

Saya tidak banyak tahu sejauh mana dia pernah bersusah susah untuk saya, berjuang untuk saya, atau berkorban demi saya. Serupa dengan si remaji culun dalam film tadi. Ia tidak tahu bahwa ada seseorang yang mencintainya sedemikian rupa dan sampai berdarah darah membahagiakan dia.

Tentu sangat membungakan hati saat tahu ada orang yang berjuang untuk kita kan?
Itu akan membuat diri merasa penting dan patut dicintai.

Entah kemana tulisan ini saya niatkan bermuara. Bermula dari film, curhat masa lalu, sampai akhirnya berharap untuk masa depan.
Sekarang saat saya menulis ini, waktu sudah hampir tengah malam. 

Syukurnya saya tidak perlu khawatir telat kerja, wong lagi masa work from home kok. Eh saya masih di dorm sih -_-

Bagaimanapun, ini sudah malam. Lampu sudah dimatikan. Waktunya istirahat.

Psst..
Bagi pembaca yang tahu kalau ada seseorang sedang memperjuangkan saya, tolong kabar-kabarin via komen ya
Wkwk

23.45
Semoga corona segera reda
Aamiin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Day 25 Share 1 story about hikmah ramadan!

'Cinta terlarang' kami memang sudah semestinya berakhir, semoga selamanya~ Saya dan pusing adalah sepasang yang mulanya selalu bersama. Setiap hari setidaknya pasti ada satu momen dimana saya berjumpa dengannya. Pusing yang saya maksud adalah tipe yang rasanya muter sampai badan seperti mau ambruk. Ini terutama saya rasakan kalau berpindah posisi tubuh secara tiba-tiba. Misalnya dari rebahan langsung duduk atau dari duduk langsung berdiri. Perlu waktu beberapa detik penyesuaian sambil memejamkan mata dahulu agar berhasil stabil. Kalau dilihat dari tekanan darah sebenarnya memang konsisten cenderung lebih rendah daripada orang lain pada umumnya. Tapi setelah berkonsultasi dengan suster sekolah katanya itu bukan masalah, karena setiap orang punya kisaran normalnya sendiri. Dugaan lain yang menjadi penyebabnya adalah rendahnya kadar hemoglobin dalam darah saya. Iya yang ini cukup terbukti sih. Sudah pernah saya periksakan juga dan memang demikian hasilnya. Saat sedang dalam hari...

Saya dan Rasa Lain yang Lucu

 Rasanya belum lama sejak terakhir menulis tentang rasa suka yang lucu. Rasa. Suka. ... yang sekejap menjadi tidak lucu lagi. Barangkali mimpi itu hanya canda. Bunga tidur yang mengada-ada. Tapi bisa juga ia adalah pertanda. Bahwa yang dinanti tak kunjung tiba, sebenarnya memang sudah selesai tak bersisa. Senangnya, saya biasa saja. Ya! Ini adalah rasa yang lucu. Saya sendiri heran. Pernyataan-pernyataan dari seseorang berhasil membuat saya berpindah haluan. Yang dulu disimpan, kini betulan berhasil diikhlaskan. Saya tidak menyangka. Saya tersadar dibuatnya. Yang sebenarnya dipertahankan bukanlah murni rasa sayang pada orangnya. Namun lebih kepada momennya yang telah terjalin lama. Lalu selanjutnya apa? Tidak tahu juga. Setidaknya untuk saat ini belum ada rencana untuk mengapa-apakan kotak rasa saya.  .  . . Yang pasti saya ketahui saat ini, bubuk kopi darimu sudah tak tersisa untuk diseduh dan dinikmati lagi.   Y281121K -selalu ada yang lain

#Day 11 Imagine that you are giving a kultum, what will you tell?

  Wabah: Pengingat tentang Terbatasnya Waktu Kita   Pandemi! Itu adalah status COVID-19 saat ini. Pandemi menurut WHO dijelaskan sebagai wabah yang sifatnya menyebar global dan mendunia. Meski semula memang ditemukan di Cina, virus ini merebak hingga kini telah mencakup 199 negara (re: saat draft tulisan ini pertama saya buat). Pelan tapi pasti, satu persatu aspek kehidupan kita terpengaruh oleh makhluk kecil tak kasat mata tapi nyata ini. Aspek kesehatan? Tentu signifikan sekali. Aspek ekonomi? Perlahan terguncang terganggu keseimbangannya. Aspek sosial? Manusia dipaksa berjauhan secara fisik, social distancing istilahnya. Masih banyak yang harus dirinci bila ingin mendeskripsikan betapa dahsyat dampak yang virus ini berikan. Namun bagaimanapun, setiap yang telah ditakdirkan oleh-Nya tentu membawa hikmah tersendiri bagi orang orang yang mau bertafakur dan merenungi sisi positif dengan bijaksana. Walau mungkin saat ini dunia sedang berduka, mari kita tilik sisi...