BALLOPHOBIA
“Ryn
awaaaas!!” “Dug!” “Aww”.. teriakan itu, suara menyakitkan itu, dan desahan
pelan dariku… ahh semua terjadi hanya sepersekian detik. Namun terulang hampir
disetiap pelajaran olahraga. Maple yang selalu membuatku ingin sejenak pergi
dari dunia ini. Uhh aku ingin makan Magnum Gold ! #apa hubungannya?
Ada
banyak macam fobia. Tapi apa ada fobia terhadap bola ? dan bila ada, apa
namanya? Apa lucu jika ada orang yang Ballofobia atau bolafobia mungkin? Husshh
jangan tertawa bahkan jangan pula tersenyum ! It’s hurt my heart ! Yap,
karena akulah yang menderita fobia itu. Sebenarnya bukan fobia (atau mungkin
iya?), dari dulu mungkin Tuhan tidak menakdirkan aku bersahabat dengan bola.
Bahkan mengenalnya saja mungkin jangan.
Bola.
Benda bulat berdimensi tiga yang sering menyakitiku. Uhh dari bola kaca bernama
kelereng, hingga bola besar yang hobi memantul yang disebut bola basket. Semua
pernah memberikan kenangan pahit untukku. Ada satu jenis bola yang baik dan
menyejukkan hati. Apa? Bola matanya. Ahai…
Saat
ku kecil dulu, pernah sebutir kelereng imut masuk ke hidungku. Huaaa bayangkan,
bola bening itu, yang imut mungil dan unyu-unyu atau apalah itu, bisa membuatku susah bernafas selama bermenit
menit.
Bola
tennis lapangan, bola hijau berbulu dengan hobi memantul, lain lagi. Pada suatu
hari, eh aku tidak sedang membuat dongeng pengantar tidur anak-anak tentang
putri dan pangeran kan? Okay, back to the topic.
“Ryn,
hari ini ada pertandingan tennis di Aloon-aloon”
“So?
Ryn gak harus bilang ‘waw’ kan?” sahutku tanpa hasrat ketertarikan sedikitpun.
“Ya
kita nonton lah. Nanti sore Eli jemput yah! ”
Entah
mengapa aku memberikan senyum termanisku bersamaan dengan gerakan mengangguk.
15.15.
jam di pergelangan tanganku. Dengan malas dan berat hati aku berbenah dan
memakai pakaian asal-asalan. Dan lihatlah, satu jerawat yang sedang dalam fase
puncaknya duduk manis di hidungku. Uhh inilah salah satu faktor yang membuatku
malas bepergian.
15.30.
‘Ting tong.. Assalamualaikum’. Bunyi itu, bunyi bel yang kukenal sejak 16 tahun
lalu. Kubuka pintu dan tampaklah seorang gadis lengkap dengan baju dan
aksesoris serba pink yang menempel di tubuhnya. Dialah Eli. Sahabatku dari
zaman baheula (primitive sekali?). Itu hanya penggambaran betapa lamanya kami
mengenal satu sama lain.
“Ayo,
sudah mau dimulai Ryn”
“Iya
iya ”
Aloon-aloon
dipadati pengunjung. Setelah menemukan posisi yang pas dan strategis, kami
duduk. Sebenarnya aku heran, apa asyiknya sih melihat bola hijau yang
selalu ‘ditolak’ seakan mengandung kutukan? Mengapa mereka tidak membuangnya
sekalian? #jangan meniru jalan pikiranku.
138
detik kemudian…
“Aaaaaa”
“Dug” “Aww.. hiks hiks”
“Ryn,
kamu tidak apa apa kan? Jangan buat aku panic. Sudah, itu kan hanya bola tennis
” Eli mencoba menenangkanku.
“Hiks…”
Entahlah
seperti apa wajahku saat itu. Dan rembulan merah di hidungku! Pecah sudah.
Bayangkan! Jerawat yang sedang mekar-mekarnya terkena bola Tennis berkecepatan
tinggi. dasar bola kutukan!. Sakiit… satu lagi kenangan pahit tentang benda
bulat bernama BOLA.
***
Namaku
Ai Rinjani Ahmada. Panggil saja Ryn. 16 tahun. Anak tunggal. Lumayan pandai
dalam bidang biologi. Tapi ‘nggak banget’ dengan yang namanya olahraga. Apapun
itu. Ingin mengecil sehingga bisa menjelajahi sel dan bakteri. Fobia bola. Anti
sama pink.
***
“Bunda,
apa sih bakat Ryn?”
“Mengapa
Ryn bertanya seperti itu?”
“Dan
mengapa pula ganti bunda bunda yang nanya? Kan belum jawab pertanyaan Ryn
”
“Ryn,
siapapun dan bagaimanapun pean, pean adalah segalanya buat bunda. Semua hal
yang ada pada diri pean sekarang adalah special. Pean punya banyak kelebihan,
pean bagus dalam menghafal, rajin membaca, dan masih banyak lagi”
“Tapi
bunda, Ryn selalu bingung saat ditanya tentang bakat, apalagi dalam bidang olahraga”
Kebingungan
tercetak jelas di wajah bunda. Beliau tahu persis seperti apa aku ini. Lari terjatuh,
renang tenggelam, sit-up tak bisa bangun lagi. Basket malah dikejar
bola. Apa lagi jenis olahraga yang mungkin bisa kukuasai?
“Hmm..
mungkin pean bisa belajar main catur” usul bunda kemudian.
Catur?
Boleh juga. Kita hanya perlu duduk dan berfikir, bukan? Dan itu ‘aku banget’.
“Ide
bagus bunda. Semoga Ryn bisa mencobanya”.
Secercah
senyum sudah mulai terbit di raut mukaku. Kali ini aku benar-benar ingin
berhasil dan menguasainya. Tapi, siapakah yang akan mengajariku nanti? Apakah
aku akan belajar secara otodidak?
“Tapi
bunda, tentu saja Ryn butuh perlengkapan untuk bermain catur, bukan? Dan itu
termasuk pula guru yang akan mengajari Ryn nanti”
“Untuk
papan dan buah caturnya sudah ada Ryn. Apa pean lupa kalo dulu ayah pandai
sekali bermain catur? Sedangkan gurunya pean akan segera menemukannya. Guru
yang luar biasa” jawab bunda plus senyum menghiasi wajah cantiknya.
“Ok
bunda. Terimakasih atas semuanya”
Aku
kembali ke kamar. Namun jujur saja aku masih bingung dengan maksud ‘guru luar
biasa’ yang aku temukan. Siapa? Apa mungkin ayah akan ‘kembali’ untuk
mengajariku? Aku jadi semakin penasaran.
Hari
beranjak siang. Panas, haus, malas. Lengkap sudah. Tapi hey! Apa itu? Di atas
kasurku terbaring sebuah ‘koper bersarung’ kotak hitam putih. Ya! Papan catur
lengkap dengan orang-orang imutnya. Walaupun bukan barang baru tapi masih bagus
dan lengkap. Kubuka dan kupandangi benda itu. 25 x 25 cm. Hitam-putih. 128
kotak. Dan makhluk mungil bernama buah catur dengan berbagai bentuk –yang
bahkan aku sering salah menyebutnya.
Raja
tampak seperti pria tua beruban yang sudah siap turun tahta hanya bisa
melangkah satu-satu. Pion sebagai prajurit berani mati yang bertugas melindungi
raja tua gaguk itu. Menteri menjadi prajurit paling ampuh memakan musuh, ia
ksatria baik dan tidak berbelok bila tak perlu. Ah tetap saja rasanya mereka
begitu asing bagiku. Dan catur tidak semudah yang aku bayangkan. Lama sekali
aku hanya memandanginya.
“Apa
benar aku bisa?” gumamku.
Hampir
setiap hari sepulang sekolah aku menghabiskan siang dengan bercengkrama dengan
catur. Namun disaat itu pula aku merasa kesulitan. Bahkan hanya untuk memahami
cara berjalan makhluk-makhluk itu. Aku mulai putus asa. Aku ingin berhenti belajar.
Cukup sudah masa pencarian bakatku. Mungkin aku memang tidak akan pernah bisa
olahraga. Aku membiarkan orang-orang mungil itu berserakan. Dan… ada satu
pertanyaan. Manakah guru luar biasa yang dikatakan bunda? Sudah hampir satu
bulan aku belajar namun tidak ada yang mengajari aku. Aku selalu berlatih
sendiri. Apa guru luar biasa itu benar-benar akan datang?
Hari
berikutnya aku mencoba berkutat dengan negeri 25 x 25 cm itu lagi. Kupandangi
mereka satu persatu. Aku jadi merasa kasihan dengan si pion, kecil dan selalu
dikorbankan. Tapi aku menghargai ‘pengorbanan’ mereka, mereka semua istimewa.
Justru aku membenci raja yang hanya melangkah tergagu-gagu. Uhh…
“Apa
mungkin aku bisa memainkanmu dan teman-temanmu?” tanyaku. Tanya yang tak
mungkin terjawab oleh sebuah pion.
***
Hei!
aku mendengar suara. Ia telah datang. Suara itu dari guruku. Guru yang kelak
membangkitkan aku kembali saat aku mulai putus asa.
“Selamat siang Ryn. Apa kabar? Bagaimana,
sudah siap belajar catur?” sapanya ramah dan penuh senyum.
“Selamat
siang kak. Kabar Ryn baik. Wah, siap sih siap. Tapi Ryn masih bingung
dan tidak mengerti apa-apa.”
“Untuk
itulah kakak ada disini. Kakak akan membantu Ryn memahami catur. Sebenarnya Ryn
bisa dengan mudah menguasainya, catur adalah gabungan antara psikologi, sains,
kecerdasan, taktik, dan keberuntungan. Dan Ryn sudah mempunyai semua itu. Ryn
pandai dalam sains, bukan?”
“Bisa
dibilang begitu kak. Tapi untuk yang lainnya apa benar sudah ada pada Ryn?”
“Ryn,
kamu harus percaya kalau kamu bisa. Mungkin kamu bisa memperlakukan catur
dengan scientific . Karena kamu telah terbiasa dengan hal-hal berbau
sains.” Tambahnya meyakinkan.
“Baiklah
kak, akan Ryn coba”.
***
Aku
mulai bersemangat belajar lagi. Ditambah lagi dengan kehadiran guru luar
biasaku. Aku mencoba lebih berkonsentrasi dan memperbaiki niat belajarku. Aku
harus bisa! Awalnya memang susah. Tapi susah bukan berarti tidak mungkin,
bukan? Aku mencoba ‘berkomunikasi’ dan memahami urutan jalan makhluk-makhluk
itu. Dan hey! Mereka seperti berbicara padaku. Mereka menunjukkan buah mana
yang harus aku pindahkan.
Dan
lama-kelamaan aku mulai terbiasa. Kakak guruku juga setia mengarahkanku. Dia
menuntun jalannya tanganku dengan telaten.
Hingga
suatu hari…
***
“Bunda,
lihat pionku nggak? Kok yang hitam hilang satu ya?” tanyaku pada bunda yang
sedang menyiram bunga –beliau memang hobi berkebun.
“Bunda
tidak melihatnya. Bukankah pean sendiri yang selalu membereskannya?”
“Memang
bunda, tapi untuk pionnya kurang satu. Dan itu yang paling spesial” aku
menjelaskan dengan memelankan suara di kalimat terakhir.
“Mungkin
terselip di suatu tempat Ryn. Coba cari lebih teliti lagi. Lagipula pion adalah
benda kecil, bukan?”
“Tapi
Ryn sudah memeriksa sudut-sudut kamar berkali-kali. Bagaimana kalau tetap tidak
ketemu? Apa Ryn tidak bisa belajar catur lagi?” kataku dengan mata mulai
berkaca-kaca. Bagaimana tidak, yang hilang adalah pion yang paling special dan
istimewa buatku. Itu bukan pion biasa yang seperti kalian pikirkan. Bukan hanya
kurcaci kecil hitam pasukan berani mati dan selalu dikorbankan demi raja tua
tanpa daya. Ia adalah segalanya bagiku.
Karena…
***
“Ryn..”
“Iya
kak. Ada apa?”
“Tampaknya
kamu sudah mulai pandai menjalankan makhluk imut-imut itu” katanya sambil
tertawa kecil
“Apa
iya? Ryn belum merasa seperti itu kak. Ryn hanya terbiasa dan hafal
langkah-langkah bermainnya.”
“Ryn
sudah cukup siap untuk belajar sendiri tanpa pendampingan dari kakak.
Karena kakak akan pergi”
“Apa??”
sontak aku berteriak. Kata ‘pergi’ selalu terdengar menyakitkan dan
menyesakkan. Dalam hal apapun dan siapapun itu.
“Kakak
tidak sungguh-sungguh kan?” tanyaku penuh harap mendengar kata tidak.
“Tentu
saja tidak.. hahahaha…”
“Iiih
kakak iseng banget sih !” enak sekali ia tertawa tanpa beban seakan tiada makna
dalam kata ‘pergi’nya barusan.
“Hahaha.
Ryn terlihat lebih cantik saat sedang marah” godanya.
“Terimakasih”
jawabku datar. Aku masih mengkal. Namun ada satu hal yang masih mengganjal
pikiranku. Hari ini, saat ini kakak guru bisa saja hanya menggodaku. Tapi suatu
hari nanti? Siapa yang akan tahu? Bukankah semuanya pasti berakhir? Termasuk
kebersamaan kami.
Dentang jam dinding membuyarkan lamunanku.
Sudah sore. Cukuplah untuk hari ini. Aku segera memulangkan makhluk-makhluk
imut ke rumah kotak mereka. Sayang, aku tidak menyadari sesuatu. Ada yang
terjatuh, menggelinding, terdiam, tertinggal. Maaf.
***
“Ryn,
tolong aku ! tidakkah kau melihatku? Tolong, kembalikan aku ke keluarga dan
teman-temanku.” Aku berusaha berteriak minta tolong. Aku tak ingin berakhir
seperti ini. Aku masih ingin menemani Ryn. Aku ingin melihatnya bermain catur
dengan lawan-lawan tangguhnya kelak. Aku masih ingin menjadi kakak gurunya.
Tapi mengapa ia tak menghiraukan aku? Apakah aku terlalu kecil untuk terdengar?
Aku tak ingin benar-benar pergi seperti yang kukatakan tadi. Dan jelas sekali
bahwa Ryn juga tak mau berpisah dariku. Tapi mengapa Ryn tidak menjemputku
kembali? Apakah Ryn benar-benar marah? Marah pada kakak gurunya ini? Tidak. Ryn
tidak seperti itu. Ryn tidak mungkin seperti itu.
“Ryn,
beberapa saat yang lalu kau benar-benar tak ingin kita berpisah. Namun mengapa
kau sendiri yang memisahkan kita?” kataku sendu. Disini, ruang sempit nan gelap
ini aku sendiri. Tanpa kata tanpa asa.
***
“Lima,
enam, tujuh…” berulang kali aku mencoba memastikan jumlahnya. Hanya 7. Kemana
perginya yang satu?
“Kakak
guru !” aku terus mencarinya. Mengapa ia tidak datang dan menyahut
panggilanku? Kemana?
“Aku
disini Ryn. Dibawah sini Ryn. Jemputlah aku. Aku, kakak gurumu. Ambillah aku
untuk menggenapi 8 kurcaci itu.”
Senyap.
“Kakak
guru, mengapa kau menepati perkataanmu kemarin? Bukankah kakak guru hanya
menggodaku?” aku masih dalam kebingungan. Dimana pion spesialku? Dimana
Kakak Guruku?.
Komentar
Posting Komentar