Senja mulai membasuh hari. Lukisan langit sore
terbentang untuk kesekian kalinya dengan keindahan yang berbeda di setiap
harinya menjadi dekorasi hebat berpadu dengan formasi kepak-kepak perenjak yang
melitas di antara tiang-tiang dan kabel listrik.
Dari kejauhan siluet pucuk-pucuk pepohon hutan
mulai bertabir kabut putih gunung. Sekilas seperti kumpulan hantu atau raksasa
yang hendak meminta tumbal anak. Ah, tetapi aura itu tak jua menodai pesona
senja desa ini. Apalagi malam akan datang dengan istimewa. Lihatlah, di kaki
langit bagian timur sana, kelihatan rembulan bundar malu-malu mulai menampakkan
dirinya seiring berpulangnya mentari ke peraduan. Ya, ini malam purnama. Rembulan
akan benar-benar sempurna menggantung indah nanti malam. Lalu, apalagi yang bisa
membuat orang mengelak untuk mengakui pesona senja ini?
Di beranda sebuah rumah, seorang wanita paruh
baya sedang menikmati secangkir teh. Ia tiup-tiup permukaannya, uap mengepul
melayang-layang ringan. Ia dekatkan mulutnya ke tepian cangkir itu dan menyeruput
isinya pelan-pelan. Matanya sesekali terpejam, semacam menghayati tiap
bulir-bulir air teh yang melewati kerongkongannya. Memang, paduan kehangatan
teh dan pesona senja adalah sempurna untuk menghilangkan penat seharian. Wanita
itu meletakkan cangkirnya lantas menyandarkan tubuhnya ke kursi rotan. Matanya
menyapu jalanan depan rumahnya. Sesekali tetangga lewat dan menyapanya ramah.
“Sendirian, Bu? Eva belum pulang sekolah ya?” tanya seorang
tetangga yang lewat sambil membawa seplastik sesuatu. Entah apa.
“Sudah kok, itu di dalam, lagi nunggu
telepon.” Jawabnya sembari tersenyum tipis.
“Oo... Ya sudah, Bu, saya duluan.”
“Nggih, monggo.”
Wanita itu kemudian melanjutkan ritual
senjanya. Tapi kini teh di cangkirnya sudah tak sehangat tadi. Bukan masalah, maka diseruputnya lagi sampai tandas dan
hanya menyisakan potongan daun teh kering di dasar cangkirnya. Matanya masih
memandang lurus. Seperti menembus hingga pucuk-pucuk pohon di gunung sana.
“Belum telepon juga adik-adikmu itu, Va?”
dikeraskannya sedikit kalimat pertanyaannya itu agar terdengar hingga dalam
rumah.
“Belum, Bude. Padahal kemarin janjinya sore,
tapi ini sudah mau magrib belum telepon juga. Apa mungkin nggak jadi ya?” sahut
sebuah suara dari dalam.
“Hmm, di tunggu dulu saja lah, mungkin memang
terpaksa diundur sebentar. Atau jangan-jangan itu karena di sana nggak ada
sinyal?” sambung wanita itu disertai tawa kecil.
“Yee Bude nih, Papua kan sekarang nggak segitu
tertinggalnya.” Nadanya semacam tak terima campur bercanda.
Sayup-sayup azan dari surau di ujung gang
terdengar. Wanita itu memutuskan untuk menyudahi ritual senjanya dan masuk
rumah. Di ruang tengah gadis berumur 15 tahun duduk bosan di samping telepon
berwarna hitam. Gadis itulah yang memanggilnya bude. Namanya Eva. Ini tahun
ketiganya tinggal di rumah bude. Pilihan sekolah di Jawa mengharuskannya
berpisah dari orangtua dan adik kembarnya yang tinggal di Papua. Kemarin lusa
adik kembarnya itu mengirim email yang mengabarkan bahwa mereka akan menelepon
hari ini. Memang sudah cukup lama ia tak mendengar suara adik-adiknya itu.
Apalagi minggu kemarin musim ujian, baginya dan bagi adik kembarnya, sehingga gadget
pun terlarang untuk sementara. Maka sedari sore ia telah duduk menunggu
bilamana telepon itu berdering.
“Tuh, kan, sampe beneran magrib nih.” Katanya
sebal.
“Ya sudahlah, sholat dulu saja.”
Belum sempat Eva beranjak dari kursinya,
telepon itu semangat sekali berdering-dering mengalahkan suara azan yang hampir
selesai. Dengan sigap ia mengangkat gagang telepon dan seketika itu pula suara
riuh dua orang gadis di seberang telepon memenuhi telinganya.
“Halo Mbak Eva! Mbak, Safira kangen nih!” seru
sebuah suara.
“Iya, Mbak, Sara jugaa.” Suara satu lagi
menyeruak.
“Sekarang aja bilang kangen, ntar Mbak pulang
diajak tengkar. Huuh.” Balas Eva sambil tersenyum.
“Eh, Mbak, minggu ini aku sama Safira diizinin
mama liburan ke Jawa lho!” seru Sara riang.
“Ha? Iya? Beneran? Serius?” Eva balas tak
sabaran.
“Iya, kan udah lama Mbak nggak pulang, kami
juga udah lama nggak liburan ke Jawa.”
“Oo. Mau dateng kapan?”
“Belum tahu, Mbak. Lihat dulu tiketnya dapat
yang tanggal berapa. Tapi yang pasti minggu ini kok.”
“Oke deh, aku tunggu kalian, tapi bawa
oleh-oleh yang banyaaak yaa.” Sambung Eva disertai tawa kecil.
Sambungan langsung Magelang-Papua itu baru
benar-benar usai sekitar pukul setengah delapan malam. Sebenarnya tadi diputus
sebentar untuk Eva sholat magrib lantas disambung kembali hingga mereka bertiga
lelah bicara. Rembulan bundar tengah menggantung anggun duluar sana.
Mengesankan malam yang menyenangkan. Benar seperti yang sedang dirasa Eva.
Sudah hampir 6 bulan adik-adiknya itu tak mengunjunginya, wajar bila kabar ini
membuatnya tersenyum-senyum sendiri di sisa malam ini. Tapi ada satu hal yang
membuatnya agak kecewa, mama papanya belum bisa meluangkan waktu untuk ikut
berlibur ke Jawa.
***
Hari berganti, pagi kembali untuk kesekian
kalinya.
“Mereka udah sampai mana, Va?”
“Nggak tahu, Bude. SMSku belum dibalas,
mungkin masih di pesawat. Tadi juga nggak kasih kabar jam berapa berangkatnya.
Mungkin sengaja biar kejutan.” Jawab Eva sambil menyisir rambutnya.
Tiin tiiin...
Tiba-tiba suara klakson mobil membuyarkan
keheningan rumah besar itu. Dari ruang tengah terlihat sebuah mobil hitam
mengkilat memasuki pelataran rumah perlahan. Eva meletakkan sisirnya dan
berlari kecil ke depan rumah menyambut kedatangan adik-adiknya. Seketika pintu
mobil terbuka tergesa-gesa dan dua gadis berumur sebelas tahun berlari rusuh
berebut tiba di beranda.
“Mbak Evaaaaa!” suara Sara dan Safira hampir
berbarengan.
“Hai! Apa kabar kalian? Kok nggak
bilang-bilang udah sampai sini aja.”
“Ya kan biar kejutan gitu, Mbak.”
Setelah berpeluk-pelukan beberapa saat,
menyalami bude, barang-barang Sara dan Safira diangkut masuk. Cukup banyak
untuk ukuran berlibur.
“Tadi dari rumah jam berapa, Fir?” tanya bude yang
membawa nampan berisi es kelapa muda ke ruang tengah.
“Nggak lihat jam Bude, tapi take-offnya
jam enam.” Jawab Safira di sela obrolannya dengan Eva.
“Wah, mau es kelapaa!” Sara terlebih dahulu
menyerobot nampan yang dibawa budenya. Tangkas menuangkan minuman segar itu ke
gelasnya. Tak lama Safira dan Eva pun melakukan hal yang sama. Seharian itu
mereka habiskan dengan saling bercerita banyak. Tentang sekolah, kabar rumah,
kabar mama-papa, dan masih banyak lagi. Entahlah, padahal mereka juga tak bisa
dibilang jarang berkomunikasi. Untuk menelepon memang tak sering, tapi kan gadget
hampir selalu tergenggam, kecuali selama masa ujian dua minggu kemarin.
“Mbak, capek banget nih. Mau tidur dulu deh.”
Anak kembar itu melangkahkan kaki ke kamar
yang sudah disediakan. Matanya mengantuk, badannya lelah. Sebenarnya sejak di
pesawat mereka sudah berniat langsung rebahan begitu tiba di rumah Magelang.
Tapi godaan bercerita dengan kakaknya membuat mereka memundurkan waktu istirahat.
***
Langit masih menampilkan purnama.
Kriiing...
Dering telepon memecah kesyahduan malam.
“Assalamualaikum?”
“Mamaa!” Eva langsung memekik kegirangan.
Belum sempat kalimat berikutnya keluar dari
mulutnya, Sara dan Safira sudah mendahului merebut telepon itu. Rusuh ingin
berbicara dengan mamanya.
“Apa kabar kalian? Tadi sampai Magelang jam
berapa? Sudah makan malam? Bude masak apa?” wanita yang mereka sebut mama itu
bertanya dengan nada riang.
“Mama nih, satu belum dijawab udah nanya
banyak banget. Tadi mereka sampai sini sekitar setengah delapan. Udah makan
semua, Ma. Bude masak kerang asam manis sama tempe goreng.” Eva yang menjawab
semua pertanyaan mama.
“Iya, Ma. Enak banget lho. Mama lagi ngapain
ini? Oh ya, Papa mana, Ma?” entah Sara atau Safira yang menimpali.
“Mama papa lagi nonton TV nih.”
“Halo?” terdengar suara berat dari sambungan
telepon itu.
“Papa! Apa kabar, Pa?” suara ketiga gadis itu
hampir bersamaan.
“Baik. Oh iya, ada kabar gembira, mama papa
bisa ambil cuti minggu ini.”
“Yang benar, Pa? Nggak bohong kan?” Eva
terkejut, matanya membulat.
“Iya.”
“Asyiiiiik!” teriakan ketiga anak itu pecah
seketika. Bahkan Sara dan Safira melompat-lompat kegirangan.
“Besok mama papa mau ke Surabaya, kalia...”
“Lho, kok ke Surabaya?” Eva memotong kalimat
mamanya.
“Iya, bilang ke Sara dan Safira jangan unpack
dulu. Kamu juga beres-beres, siap-siap apa aja yang mau dibawa. Kalian besok
pagi ke Surabaya bareng Om Edi, take-off jam delapan. Besok lusa kita
terbang lagi ke Bali, liburan disana.” Mama menjelaskan panjang lebar.
“Oh, oke deh Ma. Siap! Tapi kok kesannya
mendadak begini, Ma?”
Pembicaraan mereka berlangsung hingga lumayan
larut malam. Rumah besar ini ramai dengan suara Eva, Sara, dan Safira. Tadi
sempat pula bude bicara, bercakap sesuatu dengan mama papa mereka. Angin malam
mendesau pelan melewati krei jendela. Sesekali tiupannya sedikit lebih keras,
membuat kaca bergetar. Di atas sana rembulan belum mengantuk. Sinarnya masih
menghujani bumi, suatu bentuk rahmat Tuhan dalam kegelapan.
***
Esok paginya ketiga gadis itu telah berkemas.
Pakaian-pakaian dan kebutuhan lain sudah masuk koper. Sehabis mandi dan sarapan
ketiganya menunggu seseorang yang akan menjemput mereka. Om Edi, adik kandung
mama mereka, akan tiba sekitar jam enam nanti.
Benar, setelah beberapa saat tibalah mobil
hitam di pelataran rumah besar itu. Tanpa menunggu lebih lama lagi, koper-koper
dimasukkan ke bagasi. Sara, Safira, dan Eva bergantian menyalami bude. Mereka
tampak tak sabar untuk segera berangkat.
Masih terhitung pagi saat pesawat besar itu
mengudara. Selama di pesawat, ketiga gadis itu hanya tidur. Baru setelah tiba
di bandara Surabaya mereka membuka mata. Sigap membawa koper masing-masing.
Melewati garbarata menuju ruang tunggu.
Di ruang tunggu mama papa menyambut kedatangan
mereka. Tanpa membuang waktu perjalanan pun berlanjut menuju rumah Surabaya.
Jalanan cukup macet seperti biasanya. Beruntung mentari cukup bersahabat tak
begitu menyengat. Setiba di rumah, mama menghidangkan rujak cingur yang
menggoda selera. Tampaknya ini menjadi salah satu momen paling membahagiakan
bagi keluarga ini.
***
“Bali, I’m coming!” Sara berteriak
cukup kencang. Padahal masih pagi.
Tak terasa hari keberangkatan ke Bali telah
tiba. Ya, penerbangan Surabaya-Bali mereka tempuh tak lama setelah matahari
terbit. Begitu pagi, bahkan hingga mama harus sedikit sebal karena kesusahan
membangunkan ketiga gadis itu. Maklum, perjalanan Magelang-Surabaya kemarin
benar-benar membuat mereka lelah dan menuntut istirahat yang tak biasa.
Bali menyambut kedatangan keluarga itu dengan
suguhan pemandangan yang memanjakan mata. Hamparan air biru lautan terasa
begitu dekat. Burung-burung camar melayang anggun, menukik ke permukaan laut
menyambar ikan. Walau ini bukan kali pertama Eva ke Bali, pemandangan ini masih
saja berhasil membuatnya terpesona.
“Hari ini untuk istirahat penuh. Jangan
capek-capek. Besok perjalanan masih berlanjut.” Pesan papa begitu tiba di
sebuah resort tempat mereka semua menginap.
“Siap, Pa!” Eva dan adik kembarnya menjawab
bersamaan.
***
Senja kembali membungkus langit Bali. Warna
lembayung sempurna melingkupi hingga ke kaki-kaki langit. Di beranda resort,
Eva sekeluarganya menghabiskan waktu bercengkerama sambil menikmati secangkir
teh hangat.
“Besok kita mau kemana, Pa?” tanya Eva.
“Kintamani.” Bukan, bukan papa yang angkat
suara, yang itu tadi jawaban Om Edi.
“Dimana itu Om?”
“Besok kamu juga tahu, Va.” Sahut Om Edi
singkat.
“Pasti tempatnya bagus lah, Mbak.”
“Ya iyalaah Saraa.”
“Papa udah siapkan kamera kan?”
“Kemarin sih mama yang masukkan. Coba cek di
tas coklat yang di kamar, Va.”
Menanggapi perintah mamanya, Eva meletakkan
cangkir tehnya dan beranjak meninggalkan beranda resort. Tapi tak hingga
semenit Eva sudah muncul kembali, bahkan dengan mimik panik.
“Ma, Eva cari-cari kok nggak ada ya?
Jangan-jangan...”
“Huss, dicari dulu yang bener. Atau bawa
kesini aja deh tasnya.”
Eva lari menjemput tas coklat yang dicurigai
itu. Begitu datang, mama langsung mengeluarkan semua isi tas. Nihil. Benda
mahal yang dicari-cari itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda
keberadaannya.
“Tuh kan Ma, nggak ada. Yah, terus besok gimana? Sayang kalau
nggak didokumentasikan.” Eva masih meneruskan kekhawatirannya.
“Kalau memang tidak ada, ya mau gimana lagi.
Mungkin juga ketinggalan di Surabaya. Untuk masalah dokumentasi, kita pakai
kamera handphone saja.” Papa mencoba menenangkan.
Sebenarnya Eva masih bertanya-tanya dalam
hati, kenapa di momen sepenting ini, kamera canggih itu justru menghilang? Tapi
apalah arti menyalahkan, tak akan jua merubah keadaan. Malam makin menyelimuti
Bali. Rembulan yang kemarin-kemarin bulat sempurna kini mulai penyok
kenampakannya. Akhirnya mereka memutuskan untuk masuk kembali ke resort.
***
“Ayo Mbak cepetan! Kata Papa kalau kesiangan
macet.” Safira terus saja berkicau sepanjang pagi.
“Aduh kamu ini, bisanya cuma bikin buru-buru,
bantuin dong bawaanya banyak ini.”
Pagi ini benar-benar sibuk. Perjalanan memang
dijadwalkan untuk dimulai sepagi mungkin karena takut macet. Jadilah semua
harus cepat. Akhirnya baru sekitar pukul tujuh semua siap dan berangkat.
Jalanan masih cukup lengang. Barisan angsana
memagari bahu jalan. Satu-dua burung gereja iseng melompat-lompat di tengah
jalan kemudian terbang kembali. Makin menuju Kintamani, jalan yang tadinya
datar kian berubah. Maklum, posisinya yang di gunung menjadikan medan yag harus
dilalui berbeda dengan kondisi jalanan perkotaan. Tanjakan demi tanjakan harus
dilewati mobil yang mereka tumpangi.
Hawa semakin dingin seiring dekatnya dengan
daerah tujuan. Lebar jalan makin berkurang, bahkan bisa dibilang jalan itu
hanya bisa dilalui satu mobil bergantian. Tepi-tepi jalannya dibatasi dengan
dua keadaan yang sangat berantonim. Di sisi kanannya tebing-tebing tinggi dan
curam tampak gagah. Akar-akar pohon besar beberapa tampak mencuat, begitu pula
dengan rumput-rumput besar yang berumbai-rumbai. Sedang di sisi kiri jalan,
jurang dalam menganga lebar seperti ingin melahap orang-orang yang melewati
jalan itu. Dan rupanya dibawah sana terdapat pula danau yang cukup luas. Indah,
namun berkesan mengerikan juga bila membayangkan kemungkinan terjatuh ke sana.
Mobil terus melaju. Di setiap tikungan dan
tiap tanjakan para penumpang kompak terdiam dan tenggelam dalam doa
masing-masing. Safira yang tadi pagi antusias sekali bahkan berubah menjadi
pendiam. Ia tak menyangka bahwa jalan menuju Kintamani akan seperti ini.
Namun tepat di sebuag tikungan, mobil yang
mereka tumpangi tepat berpapasan dengan mobil lain. Dengan sangat hati-hati
papa mengemudikan mobil mundur sedikit untuk memberi ruang bagi mobil lain itu.
Sayangnya, sesuatu yang cukup buruk terjadi. Keadaan tanah yang menjadi pijakan
ban mobil tidaklah stabil dan tak kuat menahan beban mobil tersebut. Mobil
berpenumpang lima orang itu terperosok. Kontan saja seisi mobil berteriak
panik. Mereka memikirkan hal yang sama, yakni tentang kemungkinan terjatuh
makin jauh bahkan hingga masuk danau.
“Hush, jangan cuma teriak. Ayo satu-satu
keluar mobil pelan-pelan, bantu dorong ya. Jangan panik.” Papa memberi arahan
kepada seluruh penumpang.
Setelah semua berhasil keluar, mereka berempat
–Eva, Safira, Sara, mama, dan Om Edi-bersama-sama berusaha mendorong mobil
keluar bibir jurang. Sedang papa tetap di mobil mengemudikannya. Peluh menetes
di dahi masing-masing. Ternyata mengeluarkan mobil dengan ukuran dan muatan
seperti itu tidaklah mudah.
“Ayo semangat! Satu-dua-TIGA!” Eva memberi
aba-aba untuk mendorong lagi.
Perlahan tapi pasti ban mobil mau diajak
kompromi. Badan mobil bergerak maju, mulai meninggalkan bibir jurang mengerikan
itu. Benar-benar perlahan hingga akhirnya seluruh mobil itu berhasil kembali
memijak aspal jalanan. Semua menghela napas lega. Satu-satu mengusap keringat
di dahi. Kelelahan tercetak jelas di raut muka mereka.
“Alhamdulillah!” Eva memekik.
“Huh, tahu begini mending pilih tempat lain
aja deh.” Safira dengan nada sebal mengomel sambil memijit-pijit kakinya.
“Ya udah, kamu pulang aja sana. Nggak usah
ikut ke Kintamani.” Sara menyahutnya dan melemparinya dengan potongan ranting
kecil.
Hmm disadari atau tidak, walau peristiwa ini
menegangkan dan cukup berbahaya, ini sanggup menyatukan keluarga Eva, semua
bahu-membahu menuju satu tujuan yakni mengembalikan mobil mereka ke jalan yang
benar. Setelah beristirahat sejenak mereka kembali melaju. Kali ini dengan
tambahan ekstra kehati-hatian. Di Kintamani nanti sudah terbayang suasana
liburan yang sesungguhnya. Membuat api unggun, membakar kepiting dan cumi-cumi,
bermain gitar dan bernyanyi bersama sepertinya lebih dari cukup untuk
melunturkan ketegangan siang ini.
Yogyakarta, 27 September 14
Komentar
Posting Komentar