Langsung ke konten utama

KINTAMANI


Senja mulai membasuh hari. Lukisan langit sore terbentang untuk kesekian kalinya dengan keindahan yang berbeda di setiap harinya menjadi dekorasi hebat berpadu dengan formasi kepak-kepak perenjak yang melitas di antara tiang-tiang dan kabel listrik.
Dari kejauhan siluet pucuk-pucuk pepohon hutan mulai bertabir kabut putih gunung. Sekilas seperti kumpulan hantu atau raksasa yang hendak meminta tumbal anak. Ah, tetapi aura itu tak jua menodai pesona senja desa ini. Apalagi malam akan datang dengan istimewa. Lihatlah, di kaki langit bagian timur sana, kelihatan rembulan bundar malu-malu mulai menampakkan dirinya seiring berpulangnya mentari ke peraduan. Ya, ini malam purnama. Rembulan akan benar-benar sempurna menggantung indah nanti malam. Lalu, apalagi yang bisa membuat orang mengelak untuk mengakui pesona senja ini?
Di beranda sebuah rumah, seorang wanita paruh baya sedang menikmati secangkir teh. Ia tiup-tiup permukaannya, uap mengepul melayang-layang ringan. Ia dekatkan mulutnya ke tepian cangkir itu dan menyeruput isinya pelan-pelan. Matanya sesekali terpejam, semacam menghayati tiap bulir-bulir air teh yang melewati kerongkongannya. Memang, paduan kehangatan teh dan pesona senja adalah sempurna untuk menghilangkan penat seharian. Wanita itu meletakkan cangkirnya lantas menyandarkan tubuhnya ke kursi rotan. Matanya menyapu jalanan depan rumahnya. Sesekali tetangga lewat dan menyapanya ramah.
“Sendirian, Bu?  Eva belum pulang sekolah ya?” tanya seorang tetangga yang lewat sambil membawa seplastik sesuatu. Entah apa.
“Sudah kok, itu di dalam, lagi nunggu telepon.” Jawabnya sembari tersenyum tipis.
“Oo... Ya sudah, Bu, saya duluan.”
“Nggih, monggo.”
Wanita itu kemudian melanjutkan ritual senjanya. Tapi kini teh di cangkirnya sudah tak sehangat tadi. Bukan masalah,  maka diseruputnya lagi sampai tandas dan hanya menyisakan potongan daun teh kering di dasar cangkirnya. Matanya masih memandang lurus. Seperti menembus hingga pucuk-pucuk pohon di gunung sana.
“Belum telepon juga adik-adikmu itu, Va?” dikeraskannya sedikit kalimat pertanyaannya itu agar terdengar hingga dalam rumah.
“Belum, Bude. Padahal kemarin janjinya sore, tapi ini sudah mau magrib belum telepon juga. Apa mungkin nggak jadi ya?” sahut sebuah suara dari dalam.
“Hmm, di tunggu dulu saja lah, mungkin memang terpaksa diundur sebentar. Atau jangan-jangan itu karena di sana nggak ada sinyal?” sambung wanita itu disertai tawa kecil.
“Yee Bude nih, Papua kan sekarang nggak segitu tertinggalnya.” Nadanya semacam tak terima campur bercanda.
Sayup-sayup azan dari surau di ujung gang terdengar. Wanita itu memutuskan untuk menyudahi ritual senjanya dan masuk rumah. Di ruang tengah gadis berumur 15 tahun duduk bosan di samping telepon berwarna hitam. Gadis itulah yang memanggilnya bude. Namanya Eva. Ini tahun ketiganya tinggal di rumah bude. Pilihan sekolah di Jawa mengharuskannya berpisah dari orangtua dan adik kembarnya yang tinggal di Papua. Kemarin lusa adik kembarnya itu mengirim email yang mengabarkan bahwa mereka akan menelepon hari ini. Memang sudah cukup lama ia tak mendengar suara adik-adiknya itu. Apalagi minggu kemarin musim ujian, baginya dan bagi adik kembarnya, sehingga gadget pun terlarang untuk sementara. Maka sedari sore ia telah duduk menunggu bilamana telepon itu berdering.
“Tuh, kan, sampe beneran magrib nih.” Katanya sebal.
“Ya sudahlah, sholat dulu saja.”
Belum sempat Eva beranjak dari kursinya, telepon itu semangat sekali berdering-dering mengalahkan suara azan yang hampir selesai. Dengan sigap ia mengangkat gagang telepon dan seketika itu pula suara riuh dua orang gadis di seberang telepon memenuhi telinganya.
“Halo Mbak Eva! Mbak, Safira kangen nih!” seru sebuah suara.
“Iya, Mbak, Sara jugaa.” Suara satu lagi menyeruak.
“Sekarang aja bilang kangen, ntar Mbak pulang diajak tengkar. Huuh.” Balas Eva sambil tersenyum.
“Eh, Mbak, minggu ini aku sama Safira diizinin mama liburan ke Jawa lho!” seru Sara riang.
“Ha? Iya? Beneran? Serius?” Eva balas tak sabaran.
“Iya, kan udah lama Mbak nggak pulang, kami juga udah lama nggak liburan ke Jawa.
“Oo. Mau dateng kapan?”
“Belum tahu, Mbak. Lihat dulu tiketnya dapat yang tanggal berapa. Tapi yang pasti minggu ini kok.”
“Oke deh, aku tunggu kalian, tapi bawa oleh-oleh yang banyaaak yaa.” Sambung Eva disertai tawa kecil.
Sambungan langsung Magelang-Papua itu baru benar-benar usai sekitar pukul setengah delapan malam. Sebenarnya tadi diputus sebentar untuk Eva sholat magrib lantas disambung kembali hingga mereka bertiga lelah bicara. Rembulan bundar tengah menggantung anggun duluar sana. Mengesankan malam yang menyenangkan. Benar seperti yang sedang dirasa Eva. Sudah hampir 6 bulan adik-adiknya itu tak mengunjunginya, wajar bila kabar ini membuatnya tersenyum-senyum sendiri di sisa malam ini. Tapi ada satu hal yang membuatnya agak kecewa, mama papanya belum bisa meluangkan waktu untuk ikut berlibur ke Jawa.
***
Hari berganti, pagi kembali untuk kesekian kalinya.
“Mereka udah sampai mana, Va?”
“Nggak tahu, Bude. SMSku belum dibalas, mungkin masih di pesawat. Tadi juga nggak kasih kabar jam berapa berangkatnya. Mungkin sengaja biar kejutan.” Jawab Eva sambil menyisir rambutnya.
Tiin tiiin...
Tiba-tiba suara klakson mobil membuyarkan keheningan rumah besar itu. Dari ruang tengah terlihat sebuah mobil hitam mengkilat memasuki pelataran rumah perlahan. Eva meletakkan sisirnya dan berlari kecil ke depan rumah menyambut kedatangan adik-adiknya. Seketika pintu mobil terbuka tergesa-gesa dan dua gadis berumur sebelas tahun berlari rusuh berebut tiba di beranda.
“Mbak Evaaaaa!” suara Sara dan Safira hampir berbarengan.
“Hai! Apa kabar kalian? Kok nggak bilang-bilang udah sampai sini aja.”
“Ya kan biar kejutan gitu, Mbak.”
Setelah berpeluk-pelukan beberapa saat, menyalami bude, barang-barang Sara dan Safira diangkut masuk. Cukup banyak untuk ukuran berlibur.
“Tadi dari rumah jam berapa, Fir?” tanya bude yang membawa nampan berisi es kelapa muda ke ruang tengah.
“Nggak lihat jam Bude, tapi take-offnya jam enam.” Jawab Safira di sela obrolannya dengan Eva.
“Wah, mau es kelapaa!” Sara terlebih dahulu menyerobot nampan yang dibawa budenya. Tangkas menuangkan minuman segar itu ke gelasnya. Tak lama Safira dan Eva pun melakukan hal yang sama. Seharian itu mereka habiskan dengan saling bercerita banyak. Tentang sekolah, kabar rumah, kabar mama-papa, dan masih banyak lagi. Entahlah, padahal mereka juga tak bisa dibilang jarang berkomunikasi. Untuk menelepon memang tak sering, tapi kan gadget hampir selalu tergenggam, kecuali selama masa ujian dua minggu kemarin.
“Mbak, capek banget nih. Mau tidur dulu deh.”
Anak kembar itu melangkahkan kaki ke kamar yang sudah disediakan. Matanya mengantuk, badannya lelah. Sebenarnya sejak di pesawat mereka sudah berniat langsung rebahan begitu tiba di rumah Magelang. Tapi godaan bercerita dengan kakaknya membuat mereka memundurkan waktu istirahat.
***
Langit masih menampilkan purnama.
Kriiing...
Dering telepon memecah kesyahduan malam.
“Assalamualaikum?”
“Mamaa!” Eva langsung memekik kegirangan.
Belum sempat kalimat berikutnya keluar dari mulutnya, Sara dan Safira sudah mendahului merebut telepon itu. Rusuh ingin berbicara dengan mamanya.
“Apa kabar kalian? Tadi sampai Magelang jam berapa? Sudah makan malam? Bude masak apa?” wanita yang mereka sebut mama itu bertanya dengan nada riang.
“Mama nih, satu belum dijawab udah nanya banyak banget. Tadi mereka sampai sini sekitar setengah delapan. Udah makan semua, Ma. Bude masak kerang asam manis sama tempe goreng.” Eva yang menjawab semua pertanyaan mama.
“Iya, Ma. Enak banget lho. Mama lagi ngapain ini? Oh ya, Papa mana, Ma?” entah Sara atau Safira yang menimpali.
“Mama papa lagi nonton TV nih.”
“Halo?” terdengar suara berat dari sambungan telepon itu.
“Papa! Apa kabar, Pa?” suara ketiga gadis itu hampir bersamaan.
“Baik. Oh iya, ada kabar gembira, mama papa bisa ambil cuti minggu ini.”
“Yang benar, Pa? Nggak bohong kan?” Eva terkejut, matanya membulat.
“Iya.”
“Asyiiiiik!” teriakan ketiga anak itu pecah seketika. Bahkan Sara dan Safira melompat-lompat kegirangan.
“Besok mama papa mau ke Surabaya, kalia...”
“Lho, kok ke Surabaya?” Eva memotong kalimat mamanya.
“Iya, bilang ke Sara dan Safira jangan unpack dulu. Kamu juga beres-beres, siap-siap apa aja yang mau dibawa. Kalian besok pagi ke Surabaya bareng Om Edi, take-off jam delapan. Besok lusa kita terbang lagi ke Bali, liburan disana.” Mama menjelaskan panjang lebar.
“Oh, oke deh Ma. Siap! Tapi kok kesannya mendadak begini, Ma?”
Pembicaraan mereka berlangsung hingga lumayan larut malam. Rumah besar ini ramai dengan suara Eva, Sara, dan Safira. Tadi sempat pula bude bicara, bercakap sesuatu dengan mama papa mereka. Angin malam mendesau pelan melewati krei jendela. Sesekali tiupannya sedikit lebih keras, membuat kaca bergetar. Di atas sana rembulan belum mengantuk. Sinarnya masih menghujani bumi, suatu bentuk rahmat Tuhan dalam kegelapan.
***
Esok paginya ketiga gadis itu telah berkemas. Pakaian-pakaian dan kebutuhan lain sudah masuk koper. Sehabis mandi dan sarapan ketiganya menunggu seseorang yang akan menjemput mereka. Om Edi, adik kandung mama mereka, akan tiba sekitar jam enam nanti.
Benar, setelah beberapa saat tibalah mobil hitam di pelataran rumah besar itu. Tanpa menunggu lebih lama lagi, koper-koper dimasukkan ke bagasi. Sara, Safira, dan Eva bergantian menyalami bude. Mereka tampak tak sabar untuk segera berangkat.
Masih terhitung pagi saat pesawat besar itu mengudara. Selama di pesawat, ketiga gadis itu hanya tidur. Baru setelah tiba di bandara Surabaya mereka membuka mata. Sigap membawa koper masing-masing. Melewati garbarata menuju ruang tunggu.
Di ruang tunggu mama papa menyambut kedatangan mereka. Tanpa membuang waktu perjalanan pun berlanjut menuju rumah Surabaya. Jalanan cukup macet seperti biasanya. Beruntung mentari cukup bersahabat tak begitu menyengat. Setiba di rumah, mama menghidangkan rujak cingur yang menggoda selera. Tampaknya ini menjadi salah satu momen paling membahagiakan bagi keluarga ini.
***
“Bali, I’m coming!” Sara berteriak cukup kencang. Padahal masih pagi.
Tak terasa hari keberangkatan ke Bali telah tiba. Ya, penerbangan Surabaya-Bali mereka tempuh tak lama setelah matahari terbit. Begitu pagi, bahkan hingga mama harus sedikit sebal karena kesusahan membangunkan ketiga gadis itu. Maklum, perjalanan Magelang-Surabaya kemarin benar-benar membuat mereka lelah dan menuntut istirahat yang tak biasa.
Bali menyambut kedatangan keluarga itu dengan suguhan pemandangan yang memanjakan mata. Hamparan air biru lautan terasa begitu dekat. Burung-burung camar melayang anggun, menukik ke permukaan laut menyambar ikan. Walau ini bukan kali pertama Eva ke Bali, pemandangan ini masih saja berhasil membuatnya terpesona.
“Hari ini untuk istirahat penuh. Jangan capek-capek. Besok perjalanan masih berlanjut.” Pesan papa begitu tiba di sebuah resort tempat mereka semua menginap.
“Siap, Pa!” Eva dan adik kembarnya menjawab bersamaan.
***
Senja kembali membungkus langit Bali. Warna lembayung sempurna melingkupi hingga ke kaki-kaki langit. Di beranda resort, Eva sekeluarganya menghabiskan waktu bercengkerama sambil menikmati secangkir teh hangat.
“Besok kita mau kemana, Pa?” tanya Eva.
“Kintamani.” Bukan, bukan papa yang angkat suara, yang itu tadi jawaban Om Edi.
“Dimana itu Om?”
“Besok kamu juga tahu, Va.” Sahut Om Edi singkat.
“Pasti tempatnya bagus lah, Mbak.”
“Ya iyalaah Saraa.”
“Papa udah siapkan kamera kan?”
“Kemarin sih mama yang masukkan. Coba cek di tas coklat yang di kamar, Va.”
Menanggapi perintah mamanya, Eva meletakkan cangkir tehnya dan beranjak meninggalkan beranda resort. Tapi tak hingga semenit Eva sudah muncul kembali, bahkan dengan mimik panik.
“Ma, Eva cari-cari kok nggak ada ya? Jangan-jangan...”
“Huss, dicari dulu yang bener. Atau bawa kesini aja deh tasnya.”
Eva lari menjemput tas coklat yang dicurigai itu. Begitu datang, mama langsung mengeluarkan semua isi tas. Nihil. Benda mahal yang dicari-cari itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda keberadaannya.
“Tuh kan Ma, nggak  ada. Yah, terus besok gimana? Sayang kalau nggak didokumentasikan.” Eva masih meneruskan kekhawatirannya.
“Kalau memang tidak ada, ya mau gimana lagi. Mungkin juga ketinggalan di Surabaya. Untuk masalah dokumentasi, kita pakai kamera handphone saja.” Papa mencoba menenangkan.
Sebenarnya Eva masih bertanya-tanya dalam hati, kenapa di momen sepenting ini, kamera canggih itu justru menghilang? Tapi apalah arti menyalahkan, tak akan jua merubah keadaan. Malam makin menyelimuti Bali. Rembulan yang kemarin-kemarin bulat sempurna kini mulai penyok kenampakannya. Akhirnya mereka memutuskan untuk masuk kembali ke resort.
***
“Ayo Mbak cepetan! Kata Papa kalau kesiangan macet.” Safira terus saja berkicau sepanjang pagi.
“Aduh kamu ini, bisanya cuma bikin buru-buru, bantuin dong bawaanya banyak ini.”
Pagi ini benar-benar sibuk. Perjalanan memang dijadwalkan untuk dimulai sepagi mungkin karena takut macet. Jadilah semua harus cepat. Akhirnya baru sekitar pukul tujuh semua siap dan berangkat.
Jalanan masih cukup lengang. Barisan angsana memagari bahu jalan. Satu-dua burung gereja iseng melompat-lompat di tengah jalan kemudian terbang kembali. Makin menuju Kintamani, jalan yang tadinya datar kian berubah. Maklum, posisinya yang di gunung menjadikan medan yag harus dilalui berbeda dengan kondisi jalanan perkotaan. Tanjakan demi tanjakan harus dilewati mobil yang mereka tumpangi.
Hawa semakin dingin seiring dekatnya dengan daerah tujuan. Lebar jalan makin berkurang, bahkan bisa dibilang jalan itu hanya bisa dilalui satu mobil bergantian. Tepi-tepi jalannya dibatasi dengan dua keadaan yang sangat berantonim. Di sisi kanannya tebing-tebing tinggi dan curam tampak gagah. Akar-akar pohon besar beberapa tampak mencuat, begitu pula dengan rumput-rumput besar yang berumbai-rumbai. Sedang di sisi kiri jalan, jurang dalam menganga lebar seperti ingin melahap orang-orang yang melewati jalan itu. Dan rupanya dibawah sana terdapat pula danau yang cukup luas. Indah, namun berkesan mengerikan juga bila membayangkan kemungkinan terjatuh ke sana.
Mobil terus melaju. Di setiap tikungan dan tiap tanjakan para penumpang kompak terdiam dan tenggelam dalam doa masing-masing. Safira yang tadi pagi antusias sekali bahkan berubah menjadi pendiam. Ia tak menyangka bahwa jalan menuju Kintamani akan seperti ini.
Namun tepat di sebuag tikungan, mobil yang mereka tumpangi tepat berpapasan dengan mobil lain. Dengan sangat hati-hati papa mengemudikan mobil mundur sedikit untuk memberi ruang bagi mobil lain itu. Sayangnya, sesuatu yang cukup buruk terjadi. Keadaan tanah yang menjadi pijakan ban mobil tidaklah stabil dan tak kuat menahan beban mobil tersebut. Mobil berpenumpang lima orang itu terperosok. Kontan saja seisi mobil berteriak panik. Mereka memikirkan hal yang sama, yakni tentang kemungkinan terjatuh makin jauh bahkan hingga masuk danau.
“Hush, jangan cuma teriak. Ayo satu-satu keluar mobil pelan-pelan, bantu dorong ya. Jangan panik.” Papa memberi arahan kepada seluruh penumpang.
Setelah semua berhasil keluar, mereka berempat –Eva, Safira, Sara, mama, dan Om Edi-bersama-sama berusaha mendorong mobil keluar bibir jurang. Sedang papa tetap di mobil mengemudikannya. Peluh menetes di dahi masing-masing. Ternyata mengeluarkan mobil dengan ukuran dan muatan seperti itu tidaklah mudah.
“Ayo semangat! Satu-dua-TIGA!” Eva memberi aba-aba untuk mendorong lagi.
Perlahan tapi pasti ban mobil mau diajak kompromi. Badan mobil bergerak maju, mulai meninggalkan bibir jurang mengerikan itu. Benar-benar perlahan hingga akhirnya seluruh mobil itu berhasil kembali memijak aspal jalanan. Semua menghela napas lega. Satu-satu mengusap keringat di dahi. Kelelahan tercetak jelas di raut muka mereka.
“Alhamdulillah!” Eva memekik.
“Huh, tahu begini mending pilih tempat lain aja deh.” Safira dengan nada sebal mengomel sambil memijit-pijit kakinya.
“Ya udah, kamu pulang aja sana. Nggak usah ikut ke Kintamani.” Sara menyahutnya dan melemparinya dengan potongan ranting kecil.
Hmm disadari atau tidak, walau peristiwa ini menegangkan dan cukup berbahaya, ini sanggup menyatukan keluarga Eva, semua bahu-membahu menuju satu tujuan yakni mengembalikan mobil mereka ke jalan yang benar. Setelah beristirahat sejenak mereka kembali melaju. Kali ini dengan tambahan ekstra kehati-hatian. Di Kintamani nanti sudah terbayang suasana liburan yang sesungguhnya. Membuat api unggun, membakar kepiting dan cumi-cumi, bermain gitar dan bernyanyi bersama sepertinya lebih dari cukup untuk melunturkan ketegangan siang ini.
Yogyakarta, 27 September 14

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Day 25 Share 1 story about hikmah ramadan!

'Cinta terlarang' kami memang sudah semestinya berakhir, semoga selamanya~ Saya dan pusing adalah sepasang yang mulanya selalu bersama. Setiap hari setidaknya pasti ada satu momen dimana saya berjumpa dengannya. Pusing yang saya maksud adalah tipe yang rasanya muter sampai badan seperti mau ambruk. Ini terutama saya rasakan kalau berpindah posisi tubuh secara tiba-tiba. Misalnya dari rebahan langsung duduk atau dari duduk langsung berdiri. Perlu waktu beberapa detik penyesuaian sambil memejamkan mata dahulu agar berhasil stabil. Kalau dilihat dari tekanan darah sebenarnya memang konsisten cenderung lebih rendah daripada orang lain pada umumnya. Tapi setelah berkonsultasi dengan suster sekolah katanya itu bukan masalah, karena setiap orang punya kisaran normalnya sendiri. Dugaan lain yang menjadi penyebabnya adalah rendahnya kadar hemoglobin dalam darah saya. Iya yang ini cukup terbukti sih. Sudah pernah saya periksakan juga dan memang demikian hasilnya. Saat sedang dalam hari...

Saya dan Rasa Lain yang Lucu

 Rasanya belum lama sejak terakhir menulis tentang rasa suka yang lucu. Rasa. Suka. ... yang sekejap menjadi tidak lucu lagi. Barangkali mimpi itu hanya canda. Bunga tidur yang mengada-ada. Tapi bisa juga ia adalah pertanda. Bahwa yang dinanti tak kunjung tiba, sebenarnya memang sudah selesai tak bersisa. Senangnya, saya biasa saja. Ya! Ini adalah rasa yang lucu. Saya sendiri heran. Pernyataan-pernyataan dari seseorang berhasil membuat saya berpindah haluan. Yang dulu disimpan, kini betulan berhasil diikhlaskan. Saya tidak menyangka. Saya tersadar dibuatnya. Yang sebenarnya dipertahankan bukanlah murni rasa sayang pada orangnya. Namun lebih kepada momennya yang telah terjalin lama. Lalu selanjutnya apa? Tidak tahu juga. Setidaknya untuk saat ini belum ada rencana untuk mengapa-apakan kotak rasa saya.  .  . . Yang pasti saya ketahui saat ini, bubuk kopi darimu sudah tak tersisa untuk diseduh dan dinikmati lagi.   Y281121K -selalu ada yang lain

#Day 11 Imagine that you are giving a kultum, what will you tell?

  Wabah: Pengingat tentang Terbatasnya Waktu Kita   Pandemi! Itu adalah status COVID-19 saat ini. Pandemi menurut WHO dijelaskan sebagai wabah yang sifatnya menyebar global dan mendunia. Meski semula memang ditemukan di Cina, virus ini merebak hingga kini telah mencakup 199 negara (re: saat draft tulisan ini pertama saya buat). Pelan tapi pasti, satu persatu aspek kehidupan kita terpengaruh oleh makhluk kecil tak kasat mata tapi nyata ini. Aspek kesehatan? Tentu signifikan sekali. Aspek ekonomi? Perlahan terguncang terganggu keseimbangannya. Aspek sosial? Manusia dipaksa berjauhan secara fisik, social distancing istilahnya. Masih banyak yang harus dirinci bila ingin mendeskripsikan betapa dahsyat dampak yang virus ini berikan. Namun bagaimanapun, setiap yang telah ditakdirkan oleh-Nya tentu membawa hikmah tersendiri bagi orang orang yang mau bertafakur dan merenungi sisi positif dengan bijaksana. Walau mungkin saat ini dunia sedang berduka, mari kita tilik sisi...