Langsung ke konten utama

CEMPLUK?


CEMPLUK?
Sekarang jam pelajaran terakhir. Olahraga. Mengapa pula jadwalnya dibuat demikian? Pelajaran melelahkan justru tepat di waktu hari sudah terik dan matahari meninggi. Hanya beberapa dari teman-temanku yang masih benar-benar semangat dan mengikuti instruksi guru. Sisanya? Beberapa menguap, beberapa  menggeliat merenggangkan tubuh, beberapa lagi hanya duduk di tepi pot panjang taman, termasuk aku. Jangankan bersemangat, berdiri saja enggan kami lakukan.
“Pait! Pait! Pait!” tiba-tiba teriakan-teriakan kecil beberapa teman terdengar riuh.
Itu, di bawah pohon jambu batu tak begitu jauh dari tempatku duduk, beberapa teman berdiri dengan mimik muka gentar akan sesuatu sambil mengulang kata ‘pait’. Dua-tiga mencoba pergi pelan-pelan dari bawah pohon. Penyebab ini semua tak lain tak bukan adalah seekor lebah! Serangga kecil itu iseng berputar-putar entah mencari apa. Maka menurut kepercayaan kami, untuk menghindari sengatannya adalah dengan mengatakan kalau kami berasa pahit. Tapi, hingga bermenit-menit lebah itu tak jua pergi. Bahkan sesekali semacam menukik dan bermanuver tak tentu arah, membuat mimik gentar teman-teman makin kentara.
“Cempluk minggir sini hei!” salah satu temanku berteriak memperingatkan Cempluk.
Tapi belum sempat peringatan itu tercerna oleh otak Cempluk, si lebah iseng sudah terlebih dahulu mendaratkan suntikan racun dari pantatnya ke lengan atas Cempluk. Kontan gadis itu berteriak mengaduh kesakitan sambil menepuk-nepuk lengannya. Seketika itu pula si lebah langsung lemas bahkan mati. Ya, keputusan menyengat itu telah mengantar dirinya sendiri kepada kematian.
Kembali pada Cempluk, ia masih meringis kesakitan. Lalu apa yang terjadi? Hampir tak ada yang peduli! Jangankana mengantarnya ke Health Center di lantai dua, bertanya mendekat padanya saja tak ada yang mau. Malah ada yang mengomel panjang.
“Makanya, kalau dikasih tau itu didengarkan! Disuruh minggir malah bengong aja! Begini kan jadinya, dasar tukang ngerepotin.”
Aku sih sedikit tak tega dan merasa kasihan pada Cempluk. Tapi rasa tidak peduliku jauh lebih besar sepertinya. Ibu guru yang datang mendekatinya dan menanyai keadaannya. Sedang aku dan teman-teman lain sudah kembali melanjutkan aktivitas kami. Namun ibu guru melambai dan memanggil namaku. Maka dengan langkah berat aku mendekat ke beliau yang sedang memegang tangan Cempluk.
“Tet, ini antarkan Cempluk ke Health Center, bilang ke mbak suster minta minyak,” kata bu guru.
“Eh? Kok saya, Miss? Ehm, tapi, iya deh Miss.”
Kenapa harus aku? Yang merasa malas membantu Cempluk kan bukan cuma teman-teman, aku juga malas, Miss! Aku merutuk dalam hati. Tapi ya sudahlah. Aku melangkah cepat membiarkan Cempluk tertinggal beberapa langkah di belakangku. Tanpa kata-kata aku ‘mengantarnya’ ke HC. Ia sepertinya juga tidak keberatan aku perlakukan seperti ini. Mungkin ia sudah sangat senang ada yang mau menemaninya ke HC.
“Mbak sus, ini Cempluk disengat lebah,” kataku cepat kemudian segera berbalik dan meninggalkan ruangan putih itu. Tak sedikitpun aku berkata-kata pada Cempluk. Ucapan ‘Cepat sembuh, ya’? tentu tak ada.
“Ciyee sekarang udah jadi soulmatenya Cempluk yaa?” Nunik melontarkan komentarnya begitu melihatku kembali ke lapangan.
“Apa sih? Cemburu, ha?” aku tak kalah pedas membalas ocehannya itu.
“Sudahlah, Tet, nggak usah diladeni si iber-iber itu,” Sofi, teman baikku, mencoba menetralisir emosiku yang sempat meninggi.
Pelajaran berlanjut. Matahari kini sudah lebih lengser dan condong lagi. Tapi sinarnya masih rajin menyengati tubuh kami. Bu guru membagi kami menjadi dua kelompok untuk bermain basket. Panas terik begini kami harus berlarian dan memperebutkan bola? Sama sekali tidak penting!
“Untung aja nggak ada Cempluk. nggak perlu takut dapat kelompok sama dia.” Secuil bisikan terdengar olehku. Itu Notog sedang cekikikan bersama Ndari dan Atra.
Begitulah, di kelasku Cempluk adalah bahan tertawaan, bahan ejekan, bahan olokan, dan tak ada yang mau dekat-dekat dengannya. Aku sendiri juga tak paham bagaimana semua ini berawal. Yang aku rasakan adalah begitu aku satu kelas dengannya, seketika aku merasa sebal tiap ia mengajakku bicara dan berinteraksi. Seperti ada aura lain darinya yang membuatnya seakan pantas untuk dijauhi. Padahal bila aku mau menyadari sedikit saja, sebenarnya Cempluk itu baik. Buktinya ia sering membagikan makanan masakan ibunya. Hal itu sangat menguntungkan bagi anak-anak asrama macam kami. Cempluk juga tak pernah menolak bila diserahi tugas memfotokopi sesuatu, membawa bahan praktikum biologi, atau apapun yang susah kami lakukan sebagai anak asrama.
Tiap kali Cempluk membawa makanan, kami selalu bermanis muka dan kata kepadanya. Tak ada sungkan, padahal tak lama sebelumnya kami mengejeknya dan berkata pedas padanya. Tapi Cempluk pun sepertinya tidak masalah diperlakukan seperti itu. Ia akan tetap membagikan makanan pada kami di hari berikutnya. Dan kegiatan bermanis muka itu juga selalu terulang untuknya. Kadang muncul juga rasa tak enak hati dalam diriku. Aku merasa teramat berdosa memperlakukan Cempluk seperti ini. Benar-benar habis manis sepah dibuang! Tapi apa boleh buat, rasa tak peduliku tumbuh lebih cepat dibanding kesadaran itu.
***
Masih jam enam pagi ketika bel gedung ini berteriak-teriak tak sabaran. Itu tanda kami seharusnya sudah duduk manis di kelas untuk morning study. Tapi sialnya aku bangun kesiangan. Baru saat jarum jam menunjuk angka lima dan dua belas aku memulai hariku. Akhirnya beginilah, aku harus benar-benar buru-buru mandi, buru-buru ganti seragam, buru-buru berlari ke ujung koridor, buru-buru menuruni tangga, dan buru-buru lainnya. Parahnya lagi, di dekat rak sepatu telah berdiri dengan sangar ‘sang penguasa’ asrama ini. Director of Dormitory alias direktur asama.
“Kenapa kamu terlambat, ha?!”
Belum sempat aku mengeluarkan sekerat kata, beliau sudah lebih dahulu menceramahiku tentang arti kedisiplinan, tepat waktu, manajemen aktivitas harian, dan masih banyak lagi hal yang ia ocehkan. Hmm bukannya ini justru memperpanjang waktu keterlambatanku ya? Akhirnya aku diperbolehkan juga masuk kelas.
“Kena semprot ‘mami’ ya, Tet?” Sofi segera mengkonfirmasi sebab keterlambatanku.
“Iya, udah bangun telat, buru-buru, kena DoD pula.”
Morning studyku berlangsung normal dan baru berakhir empat puluh lima menit kemudian. Sarapan dan apel pagi adalah daftar aktivitas berikutnya. Sekolah kami dimulai jam setengah delapan nanti.
Apel pagi berakhir dan kami memasuki kelas berebut tempat duduk paling strategis. Ada yang senang sekali bisa duduk paling depan karena bisa paling dekat guru dan gampang saat ingin bertanya. Tapi ada pula yang merasa beruntung mendapat kursi paling belakang karena itu berarti kemungkinan bisa tidur tanpa ketahuan guru adalah lebih besar. Aku memilih kursi kedua dari depan, cukupan lah, tak terlalu depan tak terlalu belakang juga. Tapi tak lama kemudian Cempluk meletakkan tas nya di kursi dekatku. Uh, kenapa di pelajaran kimia nanti aku harus bersebelahan dengannya sih?
Greetings!”
Good morning, Miss!
Retno si ketua kelas memberi aba-aba pada kami untuk mengucap salam pada ibu guru kimia. Segera setelah itu pelajaran dimulai seperti biasa. Bab reaksi redoks adalah topik bahasan pertemuan kali ini. Tidak mudah menurutku, apalagi ini pelajaran hitungan, maka kuperhatikan benar-benar tiap yang dikata bu guru. Kulirik Cempluk juga masih mendengarkan walau entah apa yang sedang dipikirkannya.
Tapi tiba-tiba Cempluk menjawil pundakku.
“Tet, jelasin ke aku cara yang ini gimana ya?”
Aku geram. Hendak tidak kuhiraukan tapi ia terus mengulang menyebut namaku.
“Uh, nanti aja lah. Kan aku juga belum paham,” nada akhir kalimatku meninggi tertahan.
Ia terdiam lantas menatap ke depan lagi. Entah ia sakit hati atau tidak, aku tidak peduli.
Soal latihan diberikan. Hanya tiga butir, namun aku sudah grogi sendiri karena kurasa aku memang belum begitu paham. Kucoba megikuti langkah penyelesaian seperti yang telah diajarkan bu guru. Angka-angka kuhitung dengan hati-hati. Kulirik lagi Cempluk. Ia diam. Menatap buku tulisnya yang masih kosong. Ada samar-samar bekas hapusan tulisan yang kurang bersih. Tangannya masih menggenggam pensilnya. Tapi mukanya jelas sekali menunjukkan ekspresi bingung. Kuarahkan konsentrasiku kembali pada pekerjaanku sendiri.
“Teti, ini gimana?” suaranya memelas. Ya, setelah sekian lama ia hanya memandangi buku kosongnya, akhirnya ia memberanikan diri bertanya padaku. Lagi.
Duh gusti, sabarkan aku. Jangan biarkan emosiku meledak. Jangan biarkan aku menyakiti hati Cempluk lagi...
“Mm aku sebenarnya juga belum paham banget, jadi kalau nanti ada yang kurang jelas maaf ya..”
Cempluk mengangguk cepat. Senyumnya sedikit cerah.
“Kamu tahu pelajaran ini tujuannya buat cari apa?”
Ia menggeleng.
“Ini untuk menyetarakan reaksi, nah pertamanya kamu harus seimbangkan koefisien ini.”
“Eh, koefisien itu apa Tet?”
Aku menghela napas tertahan. Bagaimana tidak, kami sekarang sudah kelas akhir sekolah tingkat atas. Dan Cempluk masih tak mengerti apa itu koefisien! Gusti, beri aku kesabaran...
“Ini yang namanya koefisien. Nah kalau yang ini dikali dua yang ini juga harus dikali dua...”
Dan seterusnya, dan seterusnya. Kuulang-ulang empat urutan langkah penyelesaian soal tentang ini padanya. Kutanyai berkali-kali takut-takut bila ia lupa. Aku sabar-sabarkan diriku. Bahkan demi menyelesaikan penjelasan ini pada Cempluk, aku abaikan bu guru yang kini sedang menjelaskan materi berikutnya. Tiga soal pekerjaanku pun belum selesai. Biarlah, biar Cempluk juga pernah merasakan kemampuan menyelesaikan soal kimia. Biar, walau ini mungkin saja jadi kesempatan terakhirnya.
“Nah, coba yang kedua ini kamu kerjakan sendiri.”
“Coba ya? Tapi nanti aku tanya lagi kamu ya, Tet.”
Aku hanya mengangguk. Cempluk berkutat dengan soalnya. Ia tampak gugup. Sesekali berhenti menulis dan hanya mencengkeram pensilnya. Dahinya berkerut. Dihapusnya angka yang dirasanya keliru, lantas memperbaikinya. Aku sendiri tengah meneruskan soalku yang sempat terabaikan lagi.
“Teti udah selesai?”
“Eh, belum Miss. Baru dapat dua soal, maaf ya, Miss. Tapi yang ini benar nggak, Miss?”
Bu guru mengangguk-angguk melihat jawabanku.
“Mm Tet, begini bukan sih?”
Cempluk menggeser buku tulisnya ke arahku dengan ragu-ragu. Tangan kirinya bahkan sudah siap dengan penghapus, takut-takut bila ada yang masih keliru dan perlu diperbaiki. Aku susuri apa yang telah ditulisnya. Sejauh ini benar. Langkah-langkah yang sedari tadi aku tekankan telah dituliskannya dengan baik. Perhitungannya juga sudah tak keliru lagi. Hingga tiba ke jawaban akhir aku menemukan hal yang sama. Soal ini telah berhasil ia selesaikan.
“Ee ada yang salah ya. Tet?”
“Nggak.”
Jawabanku singkat namun kuselipkan senyum di situ. Anggukanku memantapkan hatinya bahwa apa yang ia kerjakan itu benar. Entahlah, tiba-tiba seperti ada yang menyergap hatiku. Ada semacam euforia tersendiri yang aku rasakan. Apakah ini ada hubungannya dengan keberhasilan Cempluk dalam soal ini? Sepertinya iya, tapi memangnya ada apa?
“Tuh kan, kamu bisa. Ayo ini yang terakhir dikerjakan juga. Pokoknya jangan lupa urutan penyeimbangannya.”
Cempluk tak menjawab, hanya anggukan cepat. Mukanya menampilkan bahagia.
Bel lebih dahulu berbunyi. Membuyarkan pelajaran kimia pagi ini. Kami memasukkan alat tulis dan buku-buku. Bersiap untuk pindah ke kelas pelajaran berikutnya. Iya, di sini bukan guru yang berpindah-pindah, melainkan kami yang mendatangi kelas yang diperlukan. Istilahnya moving class begitu. Belum aku selesai membereskan alat tulisku, tiba-tiba Cempluk berkata lirih.
“Makasih ya Tet.”
“Ya.”
Tak ada lagi senyuman untuk aku berikan. Aku merasa malas lagi untuk berbaik hati pada Cempluk. Apa ini yang namanya ketidakpedulian akan perasaan seseorang?
***
Seharian ini tak ada yang berbeda selama sekolah. Tentu selain kejadian ajaib: munculnya kesabaran pada diriku untuk mengajari Cempluk di kelas kimia tadi pagi. Selainnya rutinitasku sama saja. Pulang sekolah jam tiga sore, dengan tumpukan tugas dan jadwal ulangan.
“Kamu hari ini mau keluar nggak Tet?” tanya Retno saat aku sedang mengantre untuk mengambil handphone.
“Aku? Kayaknya nggak deh, paper biologiku belum selesai.”
Bergegas ke kamar, mandi dan sholat asar lantas turun lagi untuk mencari sinyal internet guna mengerjakan tugas. Satu persatu anak tangga kuturuni. Dari lantai empat kamarku hingga lantai satu. Berlanjut kulangkahkan kaki menuju ruang makan tempat wifi berada. Tapi kulihat di sana Cempluk masih duduk sendirian. Padahal kelas sudah berakhir sejak tadi. Harusnya ia sudah pulang. Ada apa?
“Cempluk kok belum pulang?” tanyaku semacam ramah.
“Eh Teti, kebetulan kamu di sini padahal aku maunya titipin ini ke Sofi. Ini buat kamu.”
Aku bingung. Karena oleh tangannya disodorkan sebuah bungkusan plastik padaku. Apa ini? Aku masih ragu-ragu menerimanya. Tapi mimiknya menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh memberikannya padaku.
“Beneran ini buat aku? Emang ini apa sih?”
“Iya. Nanti buka aja sendriri. Aku pulang dulu ya!”
Aku bingung lagi. Ya sudahlah. Kan bukan baru kali ini ia bertingkah aneh, pikirku. Begitu ia menghilang dari ruang makan, aku beranikan diri membuka bungkusan itu. Isinya? Pempek! Ini makanan kesukaanku! Apalagi ini merek yang terkenal enak, dan mahal. Seumur-umur aku belum pernah membeli yang seperti ini. Tapi dalam rangka apa ya si Cempluk membelikanku makanan? Ah aku malas memikirkannya. Ini sudah sangat membahagiakan.
“Lagi ngerjain apa, Tet?”
Aku tak menjawab pertanyaan Notog. Hanya menunjuk layar laptop yang sedang menampilkan grafik dan diagram-diagram. Ia hanya mengangguk-angguk dan melanjutkan apa yag ia harus lakukan, entah apa. Sepertinya hendak mengantar cucian ke petugas laundri. Hari segera memalam. Langit tampak keunguan bersemu merah muda hampir diseluruhnya. Cantik sekali seperti biasanya. Kusudahi tugasku dan kulangkahkan kaki ke gedung berlantai empat itu. Tiba-tiba begitu saja sesuatu kembali mengusik pikiranku: Cempluk. Apa ia bisa mengerjakan paper biologinya ya?
***
“Kalian pasti sudah pernah mendengar, hidup ini isinya adalah proses menanam. Menanam apa? Menanam biji yang akan kita tuai buahnya di masa depan nanti. Terserah kita memutuskan hendak menanam apa. Tergantung jenis buah apa yang ingin kita panen.”
Hampir semua siswi kelasku meletakkan kepala di meja. Aku juga. Hampir semua bergantian menguap. Aku juga. Bahkan hampir separuhnya sudah sungguhan tertidur. Tapi aku tidak. Di depan sana pak guru agama sedang berbicara tentang tanam-menanam. Sebenarnya aku ingin sekali ikut tidur seperti teman-teman yang lain. Lagipula tempat dudukku juga agak di belakang sehingga tak kelihatan oleh pak guru. Tapi aku kasihan juga pada beliau, bicara panjang lebar masa iya tak ada yang mendengarkan?
Sir, kok jadi ngomongin menanam? Bukannya materi hari ini tentang bank menurut agama ya?” aku memberanikan diri bertanya sebagai tanda aku mendengarkan.
“Ya nggak apa-apa. Ada hubungannya kok. Begini, selain diibaratkan menanam, hidup juga bisa diibaratkan dengan menabung kan? Sama saja. Apa yang kita tabung akan kembali juga pada kita. Kita mengumpulkan uang sedikit-demi sedikit, berhemat, lalu mempercayakannya pada bank untuk dijaga. Bahkan kita bisa mendapat bunga sehingga tabungan kita bertambah. Yah walaupun bunga dalam agama kita tidak diperbolehkan. Analoginya, kita menabung kasih sayang, kepedulian, membaginya pada orang lain. Nah, pasti suatu hari nanti tabungan itu akan kembali pada kita sendiri. Kasih sayang itu akan kembali pada kita, kepedulian itu akan mendatangi kita. Bahkan yang lebih hebat lagi, tabungan itu pati berbunga banyak sekali dan bunga macam ini tentu diperbolehkan agama. Tabungan kita akan kembali dengan jumlah yang lebih besar. Kasih sayang dan kepedulian yang kita dapat akan berkadar lebih tinggi dari apa yang kita tabung ke orang lain.”
Aku mengangguk. Ini anggukan sungguh-sungguh. Aku resapi kalimat-kalimat pak guru.
“Jadi, menabung itu selalu hebat dan besar sekali manfaatnya. Bukan hanya menabung uang, menabung dengan jenis tadi juga menakjubkan dan indah hasilnya. Nah, apa kamu sudah tertarik untuk memulai menabung, Teti?”
“Eh? I...iya, Sir.”
“Kalau mau menabung uang, saya sarankan jangan di bank umum, takut bunganya itu lho. Tapi kalau mau yang lebih simpel dan mudah, menabunglah rasa peduli, menabunglah kasih sayang. Tak perlu memilih kamu percayakan pada siapa tabunganmu itu karena hasilnya pasti indah.”
Pak guru tersenyum penuh arti padaku. Dinaikkannya kacamatanya yang sedikit turun.
“Lho, kok tidur semua sih? Ini jadinya privat sama kamu aja, Tet,” pak guru tertawa kecil.
Benar saja, dari hampir dua lusin siswi di kelas ini hanya aku yang masih bangun. Yang lain? Kepala di meja, mata terpejam, kesadaran melayang-layang. Aku ikut tertawa kecil, lalu terdiam aneh. Benar-benar aneh rasanya, seperti berduaan saja dengan pak guru. Untungnya tak lama kemudian bel menyelamatkanku dari kekakuan aneh ini. Teman-teman terbangun satu persatu, meregangkan badan. Jangan-jangan malah ada yang ileran?
Kelas berikutnya berjarak tiga ruangan setelah kelas agama. Cepat-cepat aku masuk dan memilih tempat yang menurutku strategis. Kudapat kursi kedua dari depan deretan kiri. Baru saja meletakkan tas, bel sudah berbunyi lagi. Memang jeda sebentar ini sudah habis untuk pindah kelas saja.
Aura tegang segera menyergap seluruh isi kelas begitu bu guru ilmu falak masuk. Suara tok-tok sepatunya seperti menghisap seluruh suara kami hingga kelas benar-benar hening.
“Selamat pagi anak-anak, silakan duduk. Saya absen dulu ya.”
“Asri... Atra... Buntari... Cempluk...”
Ketiga nama yang disebutkan di awal bersahut ‘iya bu’ atau ‘hadir’, tapi kala nama keempat terpanggil kelas hanya bungkam. Tak ada sahutan bahkan setelah diulang tiga kali.
“Cempluk di mana? Sakit? Izin? Atau alpa?”
Samar-samar ada suara ‘Ndak tahu, Bu.’ Bu guru melanjutkan mengabsen hingga namaku tersebut di paling akhir pemanggilan. Hening. Bahkan suara terbukanya resleting tas sampai terdengar.
Cklek...
Pintu terbuka pelan. Mengundang tolehan muka kami, termasuk bu guru yang sedang mencari halaman buku. Di ambang pintu coklat itu, berdiri takut-takut, mengucap salam pelan sekali hampir tak terdengar.
“Cempluk? Dari mana saja kamu?”
“Maaf Miss, tadi nggak ada yang bangunin saya.”
Mukanya ditundukkannya dalam-dalam.
“Berarti tadi kamu tidur di pelajaran sebelum ini?!”
Ia tidak mengangguk tapi juga tak menggeleng. Sedang bu guru menarik napas dalam. Kukira beliau akan meneruskan kemarahannya pada Cempluk. Tapi tidak. Cempluk dipersilahkannya duduk. Pelajaran berlangsung seperti biasa.
“Tet, kok aku tadi nggak dibangunin sih?” Cempluk bertanya pelan saat melewati tempat dudukku.
“Eh? Kok tanya aku?” jawabku ketus. Emang aku peduli? Entah mengapa rasa sebalku padanya malah muncul lagi.
***
Ini hari Jumat. Cukup membahagiakan juga hari ini. Pelajaran seharian berlangsung seperti biasa. Hanya saja tadi saat mata pelajaran membatik gurunya tak datang sehingga kami hanya menonton film bersama di kelas.
Teatime nanti mulai jam berapa e, Tog? Dimana? Miss Elena ikut nggak?”
“Aku belum tahu juga sih, tapi mungkin jam empat kayak biasanya. Pokoknya Miss Elena ikut kok, katanya mau ngomong penting, Tet.”
“Penting?”
“Iya. Aku duluan ya!”
Notog berjalan sedikit terburu-buru di sepanjang koridor lantai empat menuju kamarnya. Sedang aku pelan-pelan saja. Kuperhatikan pantulan sinar matahari yang menimpa lantai koridor. Menimbulkan larik larik cahaya keemasan menyilaukan. Dari lantai empat ini langit tampak jelas sekali bersihnya. Biru penuh seluruh. Angin sore mengayunkan anak rambut di dahiku. Semilirnya cocok sekali sebagai pengundang kantuk.
Sore ini tak ada kegiatan ekstrakurikuler ataupun pembinaan olimpiade. Ini hari Jumat. Jadwal setiap sorenya adalah Teatime. Semacam kegiatan keakraban dengan wali kelas dan pembina kamar. Membicarakan sesuatu, berdiskusi, curhat, atau bisa juga menonton film bersama merupakan hal yang biasa dilakukan dalam teatime. Tapi diatas semua itu, yang kami tunggu-tunggu sejatinya adalah sesi makan-makan. Maklum, salah satu nikmat terindah bagi anak asrama macam kami adalah makanan gratis.
Belum juga lima menit aku rebahkan diri di kasur, Retno sudah berkoar-koar kencang sekali. Mengabarkan waktu mulai Teatime. Mengabarkan Miss Selena akan ikut. Mengabarkan pembina kamar juga ikut. Dan mengabarkan menu makanan Teatime kali ini. Demi mendengar menu makanannya, kupaksakan diriku untuk segera sembayang, mandi dan bergegas ke fun room, ruangan paling ujung koridor lantai empat ini.
Konon sekolah dan asrama ini menjunjung tinggi kedisiplinan dan ketepatan waktu, tapi kok ya masih saja ada keterlambatan? Lihatlah, Miss Elena baru datang dan membuka Teatime, mundur enam belas menit dari waktu yang dijadwalkan.
“Apa kabar, girls?”
“Baik Miss.”
“Tapi lapar sih.” Notog setengah berbisik berseloroh. Mengundang tawa setuju dari kami semua.
“Nanti dulu ya makannya, sekarang Miss mau ngomong sesuatu yang cukup penting.”
Fun room hening. Tapi mata kami saling bicara. Membicarakan hal yang sama-sama menjadi keinginan kami. Apalagi kalau bukan makanan!
Girls?”
“Eh ya, Miss.”
Malu ketahuan tidak fokus, beberapa menepuk-nepuk teman di sebelahnya.
“Eh, kok Cempluk nggak ada? Dia kok nggak ikut? Cempluk emang nggak ikut ya, Miss?” celetuk Atra. Tumben dia mencari-cari Cempluk, bukannya kemarin-kemarin malah bahagia sekali kalau Cempluk tak ikut kelas?
“Nah, ini yang akan kita bicarakan. Cempluk.” Jawab Miss Elena.
“Pas banget, Miss, kami sebenarnya juga ingin banget cerita-cerita tentang dia.” Retno menimpali.
“Coba kamu dulu ceritakan, Retno.”
“Mm.. jadi gini, Miss.. Kami atau mungkin saya aja, sering banget merasa gimana gitu ke Cempluk. Jadi ya... gitu Miss.” Retno bingung sendiri bagaimanan melanjutkan kalimatnya.
“Siapa di antara kalian yang benci Cempluk?”
Ruangan ini seperti menyerap seluruh suara kami.
“Kalau benci sih enggak, Miss. Tapi kadang sebel banget iya.” Entah itu suara siapa. Aku sendiri hanya menunduk dalam.
“Saya bertanya, siapa yang benci Cempluk? Nggak ada ya? Baiklah, sekarang ganti, siapa yang sebel sama Cempluk?”
“Saya Miss kadang-kadang.” Aku juga tak tahu itu suara siapa.
“Saya juga, Miss.”
Satu-satu dari kami mengaku takut-takut seperti pesakitan hendak menerima hukuman mati.
“Saya sering, Miss.” Aku pun tak ketinggalan bersuara. Seketika bayangan Cempluk seperti hadir di depanku. Tersenyum aneh.
“Kalian tahu tidak kenapa sekarang Cempluk nggak tinggal di asrama lagi?”
“Kalian tahu nggak apa yang sebenarnya terjadi dengan dia?”
“Kalian tahu tidak apa yang membuatnya kelihatan ‘berbeda’ dengan kalian?”
Ketiga pertanyaan Miss Elena itu hanya kami jawab dengan gelengan pelan. Semuanya terdiam. Mungkin banyak versi pikiran yang sedang terangkai di benak masing-masing. Bertanya-tanya, menebak-nebak kemana arah pembicaraan ini bermuara.
“Berarti setelah satu kelas dan menjadi keluarga Jayapatra selama hampir dua tahun, kalian tak juga mengenal Cempluk.”
Kalimat Miss Selena datar tapi sanggup menusuk kami hingga ke ulu.
“Memang, Cempluk memang berbeda, Girls. Memang ada sesuatu dalam diri Cempluk yang membuatnya seperti ini. Tapi perbedaan itu bukan salahnya. Bukan keinginannya. Perbedaan itu bukan alasan ia seolah harus menjadi bahan tertawaan atau guyonan kalian. Perbedaan itu bukan pula menjadi surat izin bagi kalian untuk mengucilkannya secara sadar.
Memang, ia sering sekali menyebalkan, bahkan saya juga merasa begitu. Tapi kita juga tidak bisa membenarkan sikap ketus kita terhadapnya. Kalian tahu tidak, Cempluk selama semester satu ini sedang manjalani terapi, nanti semester dua ia akan tinggal di asrama lagi.”
Entah bagaimana, tapi aku masih bisa semacam sebal mendengar kemungkinan Cempluk kembali tinggal di asrama.
“Emang dia kenapa kok terapi segala, Miss?”
“Kondisi Cempluk bisa diibaratkan seperti anak balita. Ia tak bisa diatur dan melakukan hal-hal semaunya. Kalian bisa lihat kan, ia sering tidur di kelas, sering tidak mengerjakan PR atau tugas. Kalau kalian, disuruh sesuatu hanya dengan sekali perintah pun kalian akan lakukan. Tapi Cempluk? Ia harus seribu kali. Kalian membaca sesuatu cukup sekali untuk bisa memahaminya. Tapi Cempluk? Ia harus sepuluh ribu kali, Girls.”
Seperti ada yang melindas hatiku. Lalu apa alasanku untuk tak mau menjawab pertanyaan-pertanyaannya selama ini? Apa hakku untuk memilih mengabaikan kebingungannya?
“Orangtuanya sudah sering sekali ke sini, mereka sudah lelah juga kan pastinya. Terlebih ayahnya, beliau merasa bersalah sekali melihat kondisi Cempluk sekarang.”
“Emang ayahnya ngapain Cempluk, Miss?”
“Hmm... Tapi ini saya cerita ke kalian karena saya merasa kalian perlu tahu, dan saya mohon sekali jangan sampai terdengar luar keluarga kelas kita.” Kalimat Miss Selena ditekankan sekali, tampak kalau ini benar-benar serius.
“Waktu Cempluk kecil, ayahnya yang sibuk bisa dibilang sering memukul kepala Cempluk...”
Aku tersentak tertahan. Seperti ada yang runtuh menimpaku. Entah apa nama perasaan ini...
“Itulah. Miss minta tolong sekali pada kalian. Saya mohon, kalian bisa memaklumi kondisi Cempluk. Bukan begini juga yang ia minta. Yah, walaupun kalian mungkin belum bisa membantu Cempluk, tolong jangan sampai kalian memperberat bebannya...”
Hatiku hujan. Menderas menenggelamkan diriku sendiri dalam tumpahan rasa sesal. Kami mengangguk pelan sekali. Menunduk dalam pikiran masing-masing. Gusti, mengapa baru sekarang pertanyaan-pertanyaan kami tentang Cempluk terjawab? Setelah hampir dua tahun kami selalu menyakitinya? Bantu kami, Gusti...
“Sudah, jangan sampai cerita ini membuat kalian terlarut dalam rasa bersalah terlalu lama. Kita masih punya waktu memperbaikinya. Kita masih punya waktu menabung kebaikan padanya. Masih punya waktu untuk berkesempatan menuai tabungan kebaikan dan kepedulian padanya, Girls.” Sambung Miss Elena. Menyejukkan hati kami dengan senyumnya.
Teatime kali ini serasa lama sekali. Banyak hal yang aku rasakan. Apalagi di akhir pembicaraan Miss Elena mengulang apa yang dikatakan pak guru agama tentang menabung kebaikan itu. Sore ini kututup dengan sebuah harapan: Gusti, tumbuhkan kesabaran pada hamba dalam memaklumi Cempluk...
***
Ulangan!
Hari ini ulangan kimia di jam pertama. Kemarin sehabis teatime Sofi yang mengingatkanku tentang ulangan ini. Maka selama evening study kemarin dan morning study di pagi harinya aku berusaha melahap habis materi-materi yang telah diajarkan. Bahkan semalam pun aku mengajak Sofi diam-diam menyalakan lampu senter di kamarku. Belajar hingga malam benar-benar larut. Baru selesai saat kulihat Sofi telah tertidur menelungkup memeluk buku tulisnya. Sebenarnya aku belum juga yakin apa aku akan bisa mengerjakan ulangan ini, tapi ya sudahlah, semoga kekuatan doa dapat menutupi kekurangan dalam usahaku.
Soal dibagikan. Ada delapan butir beranak. Soal pertama masih mudah. Mengerjakannya pun terasa lancar-lancar saja. Kedua, masih belum rumit juga. Yang aku pelajari semalam berbaik hati menghinggapi otakku, membuat soal-soal ini terasa ramah bagiku. Soal ketiga tentang bab yang memang kuanggap susah. Baiklah, nanti dulu saja. Keempat, kelima, hingga soal kedelapan sudah ku selesaikan. Tinggal si nomor tiga.
Kucoba dari semua yang kuingat tentang langkah-langkah penyelesaian. Perhitungan, penyeimbangan reaksi, hingga fase-fase tiap molekulnya aku perhatikan sungguh-sungguh. Nihil. Semua malah jadi rumit. Kulirik teman sebelahku menggaruk-garuk kepalanya. Mimiknya penuh bingung. Kulirik teman di seberang. Malah tengah tidur menindih kertas soalnya. Entah itu tanda ia telah selesai atau justru tidurnya itu sebagai penghilang stres akibat tak bisa mengerjakan sama sekali.
“Lima belas menit lagi.” Bu guru mengingatkan.
Aku sendiri semakin panik. Akhirnya kuberanikan diri mengangkat tangan. Bertanya.
“Mm Miss, ini soal ketiga kode Au nggak ada ralat ya?”
Hening. Hanya suara tok-tok-tok sepatu bu guru memenuhi ruangan. Beliau menuju tempat dudukku. Melihat kertas soal. Berpikir sejenak.
“Hmm maaf ya, ini ada kesalahan sedikit untuk kode Au. Bukan CO3 tapi diganti CO2. Ada pertanyaan lagi?”
Aku lega. Tapi ini sudah detik-detik terakhir. Aku masih perlu mengulang hitunganku. Cepat-cepat menuliskan reaksi baru, memasukkan angka. Kok banyak sekali angka akhirnya? Apa ini benar? Kuteliti lagi. Tak ada yang keliru sepertinya. Kuteliti lagi hingga bel mengakhiri kebingungan ini.
“Kamu dapat kode apa, Fi?”
“Au, sama kan?”
“Kamu ketemu berapa oksigennya?”
“Nggak tahu, aku nggak ketemu tuh.”
“Punyamu benar kok, Tet.”
Bukan, itu bukan suara Sofi atau teman lain, itu bu guru. Seketika aku merasa melambung dan menggembung melayang-layang bahagia.
“Kalau yang lain, Miss?”
“Oo rahasia.” Bu guru meninggalkan aku dan Sofi yang masih terbengong-bengong.
Masih pagi. Kelas berikutnya kelas karawitan. Cempluk seperti biasa membuka kotak bekalnya. Pisang goreng keju! Seketika kami berebutan. Hmm enak sekali! Kejunya lumer seketika begitu masuk mulut. Gurih dan wangi sedapnya penuh kelezatan. Glek! Aku teringat sesuatu. Pembicaraan teatime kemarin mengingatkanku tentang menabung kebaikan. Betapa banyaknya Cempluk menabung kebaikan pada kami, tentu nanti hasilnya akan membahagiakan untuk dia. Nah aku?
“Tet, bisa ajari aku ini nggak?” Cempluk membuyarkan pikiranku. Di tangannya buku tulis berhalaman kosong seperti melambai-lambai minta tolong.
Aduh, aku lagi nggak mood belajar ilmu falak nih. Oh ya, menabung! Menabunglah Teti! Aku menyadarkan diriku sendiri.
“Eh ini? Lho kamu belum selesai? Ya udah, mana buku paketnya?”
Aku tahankan diriku mengulang-ulang penjelasan padanya. Teringat lekat kata-kata Miss Elena,’...Kalau kalian, disuruh sesuatu hanya dengan sekali perintah pun kalian akan lakukan. Tapi Cempluk? Ia harus seribu kali. Kalian membaca sesuatu cukup sekali untuk bisa memahaminya. Tapi Cempluk? Ia harus sepuluh ribu kali...’ Tapi belum sempat terjawab ketiga soal itu, bel telah berbunyi lagi.
Karawitan hari ini membahas laras pelog dan slendro. Aku tak tertarik. Lebih banyak mengantuknya. Selesai karawitan adalah bahasa dan sastra Arab. Ini yang aku suka. Gurunya menyenangkan, ganteng pula!
Pukul dua belas bel menandakan jam makan siang. Buru-buru dari semua ruangan siswi-siswi berebut turun tangga. Aku pun tak mau kalah. Tapi apa hendak dikata, secepat aku bisa berlari, di pintu ruang makan antrean sudah menjulur-julur menyebalkan. Baiklah, tak apa, yang penting jangan sampai kehabisan. Ternyata pun tak lama kemudian aku sudah berhasil memegang centong nasi. Sudah tak begitu hangat. Kutilik lauknya, sup jamur, ayam panggang dan tempe goreng!
“Ciyee Teti...”
“Ciye? Apanya?”
“Ciyee yang kimianya seratus...”
Sungguh, kalimat singkat Sofi itu berhasil membuatku sekali lagi seperti mengambang melayang-layang. Apa benar?
“Ha?! Kata siapa kamu?? Seriusan?” mataku terbelalak. Aku bahkan sampai tak sadar telah terlalu lama berdiri di depan baskom sup. Membuat antrean tak maju-maju.
“Kata Miss Alia lah.”
Aku masih tak percaya hasilnya seekstrem ini. Memang sih aku semacam optimis, tapi mana pernah aku berpikir akan mendapat nilai sempurna? Sepanjang makan siang aku lebih sering senyum-senyum sendiri. Setengah tidak percaya, tapi bersyukur juga.
“Teti!”
Itu Cempluk. Tapi mengapa ia berlari ke sini ya? Mukanya cerah sekali juga.
“Teti, m.. m.. makasih ya. Makasih banget. Kamu udah ajarin aku.”
Aku sendiri masih bingung ada apa ini. Tapi kemudian ia menunjukkan selembar kertas: lembar jawaban kimia. Ku perhatikan, lihatlah seluruh makhluk di semesta ini! Lihatlah! Di kertas tak bersih itu, seperti terukir dengan tinta emas, bertengger apik dua angka yang teramat indah bagiku dan pastinya bagi Cempluk: 75.
Mungkin bagi kalian itu biasa saja. Standar sekali. Tapi ini jauh lebih dari biasa bagi Cempluk. Ia tak pernah bermimpi mendapat nilai sempurna. Ia hanya ingin nilainya melampaui standar kelulusan. Ia teramat lelah harus remedi di setiap ujian. Maka hal ini menjadi hal luar biasa baginya. Aku? Apa yang aku rasakan? Entahlah, aku tak dapat mendefinisikannya. Aku merasa ini indah. Aku merasa hidupku lebih berguna. Aku merasa ilmu yang aku punya berguna. Aku merasa kesabaranku mengajari Cempluk di kelas kimia hari lalu bermanfaat besar sekali.
“Makasih banget ya, Teti!”
Sebelum aku menjawab, ia sudah menghilang. Berlari ke kantin. Kulanjutkan tapakku menuju lab biologi, kelas berikutnya. Di mejaku sedang berbaring anggun kertas jawaban ulangan kimia. Benar. Sebatang angka satu diikuti sepasang angka nol terangkai indah di sana. Kok cepat sekali ya Miss Alia mengoreksinya?
***
Bulan menggantung indah di angkasa. Bukan bundar sempurna, masih menyabit. Angin malam menggoyang-goyang cabang pohon dan rerantingnya. Dingin. Aku merapatkan jaketku. Berjalan menyusuri koridor menuju kamar. Evening study baru selesai.
Angin bertiup cukup kencang rupanya. Hingga mengundang bunyi semacam siulan saat ia melewati lubang-lubang ventilasi. Malam ini aku memutuskan untuk tidak belajar hingga larut. Lagipula jam sepuluh tepat pembina kamar juga sudah mematikan lampu. Tapi aku pun tak serta merta tidur. Ada yang harus aku lakukan. Kukeluarkan lampu senterku. Menggantungkannya untuk menerangi kasurku. Kuambil buku harianku. Ada yang harus kuungkapkan di sana.
@030414
“Bila kau memudahkan urusan orang lain, membantu, menolong mereka, niscaya Gusti akan memudahkan urusanmu, menolongmu. Percayalah, janji-Nya tak pernah teringkari dan tak akan pernah teringkarkan.”
_Unit Test Chemistry_
Hari yang sangat luar biasa.
1.      Kimiaku 100! Nilai sempurna, untuk materi yang kuanggap susah!
2.      Cempluk nggak remedi! Nilainya pas standar kelulusan!
Dan aku baru sadar, tabunganku hari lalu padanya sudah kembali dengan jumlah, kadar dan bunga yang mencengangkan! Aku baru sadar, pempek dari Cempluk hari lalu itu jadi ungkapan terimakasihnya atas bantuanku mengajarinya. Itu saja sudah jadi bentuk kembalinya tabungan kebaikan yang pernah aku simpan dalam dirinya. Lalu hari ini? Nilaiku sempurna! Nilai sempurna satu-satunya dari keempat kelas angkatanku! Bukankah ini benar-benar jadi bukti,...
MENABUNG ITU HEBAT!

@};---
Yogyakarta, 16 Oktober 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Day 25 Share 1 story about hikmah ramadan!

'Cinta terlarang' kami memang sudah semestinya berakhir, semoga selamanya~ Saya dan pusing adalah sepasang yang mulanya selalu bersama. Setiap hari setidaknya pasti ada satu momen dimana saya berjumpa dengannya. Pusing yang saya maksud adalah tipe yang rasanya muter sampai badan seperti mau ambruk. Ini terutama saya rasakan kalau berpindah posisi tubuh secara tiba-tiba. Misalnya dari rebahan langsung duduk atau dari duduk langsung berdiri. Perlu waktu beberapa detik penyesuaian sambil memejamkan mata dahulu agar berhasil stabil. Kalau dilihat dari tekanan darah sebenarnya memang konsisten cenderung lebih rendah daripada orang lain pada umumnya. Tapi setelah berkonsultasi dengan suster sekolah katanya itu bukan masalah, karena setiap orang punya kisaran normalnya sendiri. Dugaan lain yang menjadi penyebabnya adalah rendahnya kadar hemoglobin dalam darah saya. Iya yang ini cukup terbukti sih. Sudah pernah saya periksakan juga dan memang demikian hasilnya. Saat sedang dalam hari...

Saya dan Rasa Lain yang Lucu

 Rasanya belum lama sejak terakhir menulis tentang rasa suka yang lucu. Rasa. Suka. ... yang sekejap menjadi tidak lucu lagi. Barangkali mimpi itu hanya canda. Bunga tidur yang mengada-ada. Tapi bisa juga ia adalah pertanda. Bahwa yang dinanti tak kunjung tiba, sebenarnya memang sudah selesai tak bersisa. Senangnya, saya biasa saja. Ya! Ini adalah rasa yang lucu. Saya sendiri heran. Pernyataan-pernyataan dari seseorang berhasil membuat saya berpindah haluan. Yang dulu disimpan, kini betulan berhasil diikhlaskan. Saya tidak menyangka. Saya tersadar dibuatnya. Yang sebenarnya dipertahankan bukanlah murni rasa sayang pada orangnya. Namun lebih kepada momennya yang telah terjalin lama. Lalu selanjutnya apa? Tidak tahu juga. Setidaknya untuk saat ini belum ada rencana untuk mengapa-apakan kotak rasa saya.  .  . . Yang pasti saya ketahui saat ini, bubuk kopi darimu sudah tak tersisa untuk diseduh dan dinikmati lagi.   Y281121K -selalu ada yang lain

#Day 11 Imagine that you are giving a kultum, what will you tell?

  Wabah: Pengingat tentang Terbatasnya Waktu Kita   Pandemi! Itu adalah status COVID-19 saat ini. Pandemi menurut WHO dijelaskan sebagai wabah yang sifatnya menyebar global dan mendunia. Meski semula memang ditemukan di Cina, virus ini merebak hingga kini telah mencakup 199 negara (re: saat draft tulisan ini pertama saya buat). Pelan tapi pasti, satu persatu aspek kehidupan kita terpengaruh oleh makhluk kecil tak kasat mata tapi nyata ini. Aspek kesehatan? Tentu signifikan sekali. Aspek ekonomi? Perlahan terguncang terganggu keseimbangannya. Aspek sosial? Manusia dipaksa berjauhan secara fisik, social distancing istilahnya. Masih banyak yang harus dirinci bila ingin mendeskripsikan betapa dahsyat dampak yang virus ini berikan. Namun bagaimanapun, setiap yang telah ditakdirkan oleh-Nya tentu membawa hikmah tersendiri bagi orang orang yang mau bertafakur dan merenungi sisi positif dengan bijaksana. Walau mungkin saat ini dunia sedang berduka, mari kita tilik sisi...