CEMPLUK?
Sekarang jam pelajaran terakhir. Olahraga.
Mengapa pula jadwalnya dibuat demikian? Pelajaran melelahkan justru tepat di
waktu hari sudah terik dan matahari meninggi. Hanya beberapa dari teman-temanku
yang masih benar-benar semangat dan mengikuti instruksi guru. Sisanya? Beberapa
menguap, beberapa menggeliat
merenggangkan tubuh, beberapa lagi hanya duduk di tepi pot panjang taman,
termasuk aku. Jangankan bersemangat, berdiri saja enggan kami lakukan.
“Pait! Pait! Pait!” tiba-tiba
teriakan-teriakan kecil beberapa teman terdengar riuh.
Itu, di bawah pohon jambu batu tak begitu jauh
dari tempatku duduk, beberapa teman berdiri dengan mimik muka gentar akan
sesuatu sambil mengulang kata ‘pait’. Dua-tiga mencoba pergi pelan-pelan dari
bawah pohon. Penyebab ini semua tak lain tak bukan adalah seekor lebah!
Serangga kecil itu iseng berputar-putar entah mencari apa. Maka menurut
kepercayaan kami, untuk menghindari sengatannya adalah dengan mengatakan kalau
kami berasa pahit. Tapi, hingga bermenit-menit lebah itu tak jua pergi. Bahkan
sesekali semacam menukik dan bermanuver tak tentu arah, membuat mimik gentar
teman-teman makin kentara.
“Cempluk minggir sini hei!” salah satu temanku
berteriak memperingatkan Cempluk.
Tapi belum sempat peringatan itu tercerna oleh
otak Cempluk, si lebah iseng sudah terlebih dahulu mendaratkan suntikan racun
dari pantatnya ke lengan atas Cempluk. Kontan gadis itu berteriak mengaduh
kesakitan sambil menepuk-nepuk lengannya. Seketika itu pula si lebah langsung
lemas bahkan mati. Ya, keputusan menyengat itu telah mengantar dirinya sendiri
kepada kematian.
Kembali pada Cempluk, ia masih meringis
kesakitan. Lalu apa yang terjadi? Hampir tak ada yang peduli! Jangankana
mengantarnya ke Health Center di lantai dua, bertanya mendekat padanya
saja tak ada yang mau. Malah ada yang mengomel panjang.
“Makanya, kalau dikasih tau itu didengarkan!
Disuruh minggir malah bengong aja! Begini kan jadinya, dasar tukang
ngerepotin.”
Aku sih sedikit tak tega dan merasa kasihan
pada Cempluk. Tapi rasa tidak peduliku jauh lebih besar sepertinya. Ibu guru
yang datang mendekatinya dan menanyai keadaannya. Sedang aku dan teman-teman
lain sudah kembali melanjutkan aktivitas kami. Namun ibu guru melambai dan
memanggil namaku. Maka dengan langkah berat aku mendekat ke beliau yang sedang
memegang tangan Cempluk.
“Tet, ini antarkan Cempluk ke Health Center,
bilang ke mbak suster minta minyak,” kata bu guru.
“Eh? Kok saya, Miss? Ehm, tapi, iya deh
Miss.”
Kenapa harus aku? Yang merasa malas membantu
Cempluk kan bukan cuma teman-teman, aku juga malas, Miss! Aku merutuk
dalam hati. Tapi ya sudahlah. Aku melangkah cepat membiarkan Cempluk tertinggal
beberapa langkah di belakangku. Tanpa kata-kata aku ‘mengantarnya’ ke HC.
Ia sepertinya juga tidak keberatan aku perlakukan seperti ini. Mungkin ia sudah
sangat senang ada yang mau menemaninya ke HC.
“Mbak sus, ini Cempluk disengat lebah,” kataku
cepat kemudian segera berbalik dan meninggalkan ruangan putih itu. Tak
sedikitpun aku berkata-kata pada Cempluk. Ucapan ‘Cepat sembuh, ya’? tentu tak
ada.
“Ciyee sekarang udah jadi soulmatenya
Cempluk yaa?” Nunik melontarkan komentarnya begitu melihatku kembali ke
lapangan.
“Apa sih? Cemburu, ha?” aku tak kalah pedas
membalas ocehannya itu.
“Sudahlah, Tet, nggak usah diladeni si
iber-iber itu,” Sofi, teman baikku, mencoba menetralisir emosiku yang sempat
meninggi.
Pelajaran berlanjut. Matahari kini sudah lebih
lengser dan condong lagi. Tapi sinarnya masih rajin menyengati tubuh kami. Bu
guru membagi kami menjadi dua kelompok untuk bermain basket. Panas terik
begini kami harus berlarian dan memperebutkan bola? Sama sekali tidak penting!
“Untung aja nggak ada Cempluk. nggak perlu
takut dapat kelompok sama dia.” Secuil bisikan terdengar olehku. Itu Notog
sedang cekikikan bersama Ndari dan Atra.
Begitulah, di kelasku Cempluk adalah bahan
tertawaan, bahan ejekan, bahan olokan, dan tak ada yang mau dekat-dekat
dengannya. Aku sendiri juga tak paham bagaimana semua ini berawal. Yang aku
rasakan adalah begitu aku satu kelas dengannya, seketika aku merasa sebal tiap
ia mengajakku bicara dan berinteraksi. Seperti ada aura lain darinya yang
membuatnya seakan pantas untuk dijauhi. Padahal bila aku mau menyadari sedikit
saja, sebenarnya Cempluk itu baik. Buktinya ia sering membagikan makanan
masakan ibunya. Hal itu sangat menguntungkan bagi anak-anak asrama macam kami.
Cempluk juga tak pernah menolak bila diserahi tugas memfotokopi sesuatu,
membawa bahan praktikum biologi, atau apapun yang susah kami lakukan sebagai
anak asrama.
Tiap kali Cempluk membawa makanan, kami selalu
bermanis muka dan kata kepadanya. Tak ada sungkan, padahal tak lama sebelumnya
kami mengejeknya dan berkata pedas padanya. Tapi Cempluk pun sepertinya tidak
masalah diperlakukan seperti itu. Ia akan tetap membagikan makanan pada kami di
hari berikutnya. Dan kegiatan bermanis muka itu juga selalu terulang untuknya.
Kadang muncul juga rasa tak enak hati dalam diriku. Aku merasa teramat berdosa
memperlakukan Cempluk seperti ini. Benar-benar habis manis sepah dibuang! Tapi
apa boleh buat, rasa tak peduliku tumbuh lebih cepat dibanding kesadaran itu.
***
Masih jam enam pagi ketika bel gedung ini
berteriak-teriak tak sabaran. Itu tanda kami seharusnya sudah duduk manis di
kelas untuk morning study. Tapi sialnya aku bangun kesiangan. Baru saat
jarum jam menunjuk angka lima dan dua belas aku memulai hariku. Akhirnya
beginilah, aku harus benar-benar buru-buru mandi, buru-buru ganti seragam,
buru-buru berlari ke ujung koridor, buru-buru menuruni tangga, dan buru-buru
lainnya. Parahnya lagi, di dekat rak sepatu telah berdiri dengan sangar ‘sang
penguasa’ asrama ini. Director of Dormitory alias direktur asama.
“Kenapa kamu terlambat, ha?!”
Belum sempat aku mengeluarkan sekerat kata,
beliau sudah lebih dahulu menceramahiku tentang arti kedisiplinan, tepat waktu,
manajemen aktivitas harian, dan masih banyak lagi hal yang ia ocehkan. Hmm
bukannya ini justru memperpanjang waktu keterlambatanku ya? Akhirnya aku
diperbolehkan juga masuk kelas.
“Kena semprot ‘mami’ ya, Tet?” Sofi segera
mengkonfirmasi sebab keterlambatanku.
“Iya, udah bangun telat, buru-buru, kena DoD
pula.”
Morning studyku berlangsung normal dan baru berakhir empat
puluh lima menit kemudian. Sarapan dan apel pagi adalah daftar aktivitas
berikutnya. Sekolah kami dimulai jam setengah delapan nanti.
Apel pagi berakhir dan kami memasuki kelas
berebut tempat duduk paling strategis. Ada yang senang sekali bisa duduk paling
depan karena bisa paling dekat guru dan gampang saat ingin bertanya. Tapi ada
pula yang merasa beruntung mendapat kursi paling belakang karena itu berarti
kemungkinan bisa tidur tanpa ketahuan guru adalah lebih besar. Aku memilih
kursi kedua dari depan, cukupan lah, tak terlalu depan tak terlalu belakang
juga. Tapi tak lama kemudian Cempluk meletakkan tas nya di kursi dekatku. Uh,
kenapa di pelajaran kimia nanti aku harus bersebelahan dengannya sih?
“Greetings!”
“Good morning, Miss!”
Retno si ketua kelas memberi aba-aba pada kami
untuk mengucap salam pada ibu guru kimia. Segera setelah itu pelajaran dimulai
seperti biasa. Bab reaksi redoks adalah topik bahasan pertemuan kali ini. Tidak
mudah menurutku, apalagi ini pelajaran hitungan, maka kuperhatikan benar-benar
tiap yang dikata bu guru. Kulirik Cempluk juga masih mendengarkan walau entah
apa yang sedang dipikirkannya.
Tapi tiba-tiba Cempluk menjawil pundakku.
“Tet, jelasin ke aku cara yang ini gimana ya?”
Aku geram. Hendak tidak kuhiraukan tapi ia
terus mengulang menyebut namaku.
“Uh, nanti aja lah. Kan aku juga belum paham,”
nada akhir kalimatku meninggi tertahan.
Ia terdiam lantas menatap ke depan lagi. Entah
ia sakit hati atau tidak, aku tidak peduli.
Soal latihan diberikan. Hanya tiga butir,
namun aku sudah grogi sendiri karena kurasa aku memang belum begitu paham.
Kucoba megikuti langkah penyelesaian seperti yang telah diajarkan bu guru.
Angka-angka kuhitung dengan hati-hati. Kulirik lagi Cempluk. Ia diam. Menatap
buku tulisnya yang masih kosong. Ada samar-samar bekas hapusan tulisan yang
kurang bersih. Tangannya masih menggenggam pensilnya. Tapi mukanya jelas sekali
menunjukkan ekspresi bingung. Kuarahkan konsentrasiku kembali pada pekerjaanku
sendiri.
“Teti, ini gimana?” suaranya memelas. Ya,
setelah sekian lama ia hanya memandangi buku kosongnya, akhirnya ia
memberanikan diri bertanya padaku. Lagi.
Duh gusti, sabarkan aku. Jangan biarkan
emosiku meledak. Jangan biarkan aku menyakiti hati Cempluk lagi...
“Mm aku sebenarnya juga belum paham banget,
jadi kalau nanti ada yang kurang jelas maaf ya..”
Cempluk mengangguk cepat. Senyumnya sedikit
cerah.
“Kamu tahu pelajaran ini tujuannya buat cari
apa?”
Ia menggeleng.
“Ini untuk menyetarakan reaksi, nah pertamanya
kamu harus seimbangkan koefisien ini.”
“Eh, koefisien itu apa Tet?”
Aku menghela napas tertahan. Bagaimana tidak,
kami sekarang sudah kelas akhir sekolah tingkat atas. Dan Cempluk masih tak
mengerti apa itu koefisien! Gusti, beri aku kesabaran...
“Ini yang namanya koefisien. Nah kalau yang
ini dikali dua yang ini juga harus dikali dua...”
Dan seterusnya, dan seterusnya. Kuulang-ulang
empat urutan langkah penyelesaian soal tentang ini padanya. Kutanyai
berkali-kali takut-takut bila ia lupa. Aku sabar-sabarkan diriku. Bahkan demi
menyelesaikan penjelasan ini pada Cempluk, aku abaikan bu guru yang kini sedang
menjelaskan materi berikutnya. Tiga soal pekerjaanku pun belum selesai.
Biarlah, biar Cempluk juga pernah merasakan kemampuan menyelesaikan soal kimia.
Biar, walau ini mungkin saja jadi kesempatan terakhirnya.
“Nah, coba yang kedua ini kamu kerjakan
sendiri.”
“Coba ya? Tapi nanti aku tanya lagi kamu ya,
Tet.”
Aku hanya mengangguk. Cempluk berkutat dengan
soalnya. Ia tampak gugup. Sesekali berhenti menulis dan hanya mencengkeram
pensilnya. Dahinya berkerut. Dihapusnya angka yang dirasanya keliru, lantas
memperbaikinya. Aku sendiri tengah meneruskan soalku yang sempat terabaikan
lagi.
“Teti udah selesai?”
“Eh, belum Miss. Baru dapat dua soal,
maaf ya, Miss. Tapi yang ini benar nggak, Miss?”
Bu guru mengangguk-angguk melihat jawabanku.
“Mm Tet, begini bukan sih?”
Cempluk menggeser buku tulisnya ke arahku
dengan ragu-ragu. Tangan kirinya bahkan sudah siap dengan penghapus,
takut-takut bila ada yang masih keliru dan perlu diperbaiki. Aku susuri apa
yang telah ditulisnya. Sejauh ini benar. Langkah-langkah yang sedari tadi aku
tekankan telah dituliskannya dengan baik. Perhitungannya juga sudah tak keliru
lagi. Hingga tiba ke jawaban akhir aku menemukan hal yang sama. Soal ini telah
berhasil ia selesaikan.
“Ee ada yang salah ya. Tet?”
“Nggak.”
Jawabanku singkat namun kuselipkan senyum di
situ. Anggukanku memantapkan hatinya bahwa apa yang ia kerjakan itu benar.
Entahlah, tiba-tiba seperti ada yang menyergap hatiku. Ada semacam euforia
tersendiri yang aku rasakan. Apakah ini ada hubungannya dengan keberhasilan
Cempluk dalam soal ini? Sepertinya iya, tapi memangnya ada apa?
“Tuh kan, kamu bisa. Ayo ini yang terakhir
dikerjakan juga. Pokoknya jangan lupa urutan penyeimbangannya.”
Cempluk tak menjawab, hanya anggukan cepat.
Mukanya menampilkan bahagia.
Bel lebih dahulu berbunyi. Membuyarkan
pelajaran kimia pagi ini. Kami memasukkan alat tulis dan buku-buku. Bersiap
untuk pindah ke kelas pelajaran berikutnya. Iya, di sini bukan guru yang
berpindah-pindah, melainkan kami yang mendatangi kelas yang diperlukan.
Istilahnya moving class begitu. Belum aku selesai membereskan alat
tulisku, tiba-tiba Cempluk berkata lirih.
“Makasih ya Tet.”
“Ya.”
Tak ada lagi senyuman untuk aku berikan. Aku
merasa malas lagi untuk berbaik hati pada Cempluk. Apa ini yang namanya
ketidakpedulian akan perasaan seseorang?
***
Seharian ini tak ada yang berbeda selama
sekolah. Tentu selain kejadian ajaib: munculnya kesabaran pada diriku untuk
mengajari Cempluk di kelas kimia tadi pagi. Selainnya rutinitasku sama saja.
Pulang sekolah jam tiga sore, dengan tumpukan tugas dan jadwal ulangan.
“Kamu hari ini mau keluar nggak Tet?” tanya
Retno saat aku sedang mengantre untuk mengambil handphone.
“Aku? Kayaknya nggak deh, paper
biologiku belum selesai.”
Bergegas ke kamar, mandi dan sholat asar
lantas turun lagi untuk mencari sinyal internet guna mengerjakan tugas. Satu
persatu anak tangga kuturuni. Dari lantai empat kamarku hingga lantai satu.
Berlanjut kulangkahkan kaki menuju ruang makan tempat wifi berada. Tapi
kulihat di sana Cempluk masih duduk sendirian. Padahal kelas sudah berakhir
sejak tadi. Harusnya ia sudah pulang. Ada apa?
“Cempluk kok belum pulang?” tanyaku semacam
ramah.
“Eh Teti, kebetulan kamu di sini padahal aku
maunya titipin ini ke Sofi. Ini buat kamu.”
Aku bingung. Karena oleh tangannya disodorkan
sebuah bungkusan plastik padaku. Apa ini? Aku masih ragu-ragu menerimanya. Tapi
mimiknya menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh memberikannya padaku.
“Beneran ini buat aku? Emang ini apa sih?”
“Iya. Nanti buka aja sendriri. Aku pulang dulu
ya!”
Aku bingung lagi. Ya sudahlah. Kan bukan
baru kali ini ia bertingkah aneh, pikirku. Begitu ia menghilang dari ruang
makan, aku beranikan diri membuka bungkusan itu. Isinya? Pempek! Ini makanan
kesukaanku! Apalagi ini merek yang terkenal enak, dan mahal. Seumur-umur aku
belum pernah membeli yang seperti ini. Tapi dalam rangka apa ya si Cempluk
membelikanku makanan? Ah aku malas memikirkannya. Ini sudah sangat
membahagiakan.
“Lagi ngerjain apa, Tet?”
Aku tak menjawab pertanyaan Notog. Hanya
menunjuk layar laptop yang sedang menampilkan grafik dan diagram-diagram. Ia
hanya mengangguk-angguk dan melanjutkan apa yag ia harus lakukan, entah apa.
Sepertinya hendak mengantar cucian ke petugas laundri. Hari segera memalam.
Langit tampak keunguan bersemu merah muda hampir diseluruhnya. Cantik sekali
seperti biasanya. Kusudahi tugasku dan kulangkahkan kaki ke gedung berlantai
empat itu. Tiba-tiba begitu saja sesuatu kembali mengusik pikiranku: Cempluk.
Apa ia bisa mengerjakan paper biologinya ya?
***
“Kalian pasti sudah pernah mendengar, hidup
ini isinya adalah proses menanam. Menanam apa? Menanam biji yang akan kita tuai
buahnya di masa depan nanti. Terserah kita memutuskan hendak menanam apa.
Tergantung jenis buah apa yang ingin kita panen.”
Hampir semua siswi kelasku meletakkan kepala
di meja. Aku juga. Hampir semua bergantian menguap. Aku juga. Bahkan hampir
separuhnya sudah sungguhan tertidur. Tapi aku tidak. Di depan sana pak guru
agama sedang berbicara tentang tanam-menanam. Sebenarnya aku ingin sekali ikut
tidur seperti teman-teman yang lain. Lagipula tempat dudukku juga agak di
belakang sehingga tak kelihatan oleh pak guru. Tapi aku kasihan juga pada
beliau, bicara panjang lebar masa iya tak ada yang mendengarkan?
“Sir, kok jadi ngomongin menanam?
Bukannya materi hari ini tentang bank menurut agama ya?” aku memberanikan diri bertanya
sebagai tanda aku mendengarkan.
“Ya nggak apa-apa. Ada hubungannya kok.
Begini, selain diibaratkan menanam, hidup juga bisa diibaratkan dengan menabung
kan? Sama saja. Apa yang kita tabung akan kembali juga pada kita. Kita
mengumpulkan uang sedikit-demi sedikit, berhemat, lalu mempercayakannya pada
bank untuk dijaga. Bahkan kita bisa mendapat bunga sehingga tabungan kita
bertambah. Yah walaupun bunga dalam agama kita tidak diperbolehkan. Analoginya,
kita menabung kasih sayang, kepedulian, membaginya pada orang lain. Nah, pasti
suatu hari nanti tabungan itu akan kembali pada kita sendiri. Kasih sayang itu
akan kembali pada kita, kepedulian itu akan mendatangi kita. Bahkan yang lebih
hebat lagi, tabungan itu pati berbunga banyak sekali dan bunga macam ini tentu
diperbolehkan agama. Tabungan kita akan kembali dengan jumlah yang lebih besar.
Kasih sayang dan kepedulian yang kita dapat akan berkadar lebih tinggi dari apa
yang kita tabung ke orang lain.”
Aku mengangguk. Ini anggukan sungguh-sungguh.
Aku resapi kalimat-kalimat pak guru.
“Jadi, menabung itu selalu hebat dan besar
sekali manfaatnya. Bukan hanya menabung uang, menabung dengan jenis tadi juga
menakjubkan dan indah hasilnya. Nah, apa kamu sudah tertarik untuk memulai
menabung, Teti?”
“Eh? I...iya, Sir.”
“Kalau mau menabung uang, saya sarankan jangan
di bank umum, takut bunganya itu lho. Tapi kalau mau yang lebih simpel dan
mudah, menabunglah rasa peduli, menabunglah kasih sayang. Tak perlu memilih
kamu percayakan pada siapa tabunganmu itu karena hasilnya pasti indah.”
Pak guru tersenyum penuh arti padaku.
Dinaikkannya kacamatanya yang sedikit turun.
“Lho, kok tidur semua sih? Ini jadinya privat
sama kamu aja, Tet,” pak guru tertawa kecil.
Benar saja, dari hampir dua lusin siswi di
kelas ini hanya aku yang masih bangun. Yang lain? Kepala di meja, mata
terpejam, kesadaran melayang-layang. Aku ikut tertawa kecil, lalu terdiam aneh.
Benar-benar aneh rasanya, seperti berduaan saja dengan pak guru. Untungnya tak
lama kemudian bel menyelamatkanku dari kekakuan aneh ini. Teman-teman terbangun
satu persatu, meregangkan badan. Jangan-jangan malah ada yang ileran?
Kelas berikutnya berjarak tiga ruangan setelah
kelas agama. Cepat-cepat aku masuk dan memilih tempat yang menurutku strategis.
Kudapat kursi kedua dari depan deretan kiri. Baru saja meletakkan tas, bel
sudah berbunyi lagi. Memang jeda sebentar ini sudah habis untuk pindah kelas
saja.
Aura tegang segera menyergap seluruh isi kelas
begitu bu guru ilmu falak masuk. Suara tok-tok sepatunya seperti menghisap
seluruh suara kami hingga kelas benar-benar hening.
“Selamat pagi anak-anak, silakan duduk. Saya
absen dulu ya.”
“Asri... Atra... Buntari... Cempluk...”
Ketiga nama yang disebutkan di awal bersahut
‘iya bu’ atau ‘hadir’, tapi kala nama keempat terpanggil kelas hanya bungkam.
Tak ada sahutan bahkan setelah diulang tiga kali.
“Cempluk di mana? Sakit? Izin? Atau alpa?”
Samar-samar ada suara ‘Ndak tahu, Bu.’ Bu guru
melanjutkan mengabsen hingga namaku tersebut di paling akhir pemanggilan.
Hening. Bahkan suara terbukanya resleting tas sampai terdengar.
Cklek...
Pintu terbuka pelan. Mengundang tolehan muka
kami, termasuk bu guru yang sedang mencari halaman buku. Di ambang pintu coklat
itu, berdiri takut-takut, mengucap salam pelan sekali hampir tak terdengar.
“Cempluk? Dari mana saja kamu?”
“Maaf Miss, tadi nggak ada yang
bangunin saya.”
Mukanya ditundukkannya dalam-dalam.
“Berarti tadi kamu tidur di pelajaran sebelum
ini?!”
Ia tidak mengangguk tapi juga tak menggeleng.
Sedang bu guru menarik napas dalam. Kukira beliau akan meneruskan kemarahannya
pada Cempluk. Tapi tidak. Cempluk dipersilahkannya duduk. Pelajaran berlangsung
seperti biasa.
“Tet, kok aku tadi nggak dibangunin sih?”
Cempluk bertanya pelan saat melewati tempat dudukku.
“Eh? Kok tanya aku?” jawabku ketus. Emang
aku peduli? Entah mengapa rasa sebalku padanya malah muncul lagi.
***
Ini hari Jumat. Cukup membahagiakan juga hari
ini. Pelajaran seharian berlangsung seperti biasa. Hanya saja tadi saat mata
pelajaran membatik gurunya tak datang sehingga kami hanya menonton film bersama
di kelas.
“Teatime nanti mulai jam berapa e, Tog?
Dimana? Miss Elena ikut nggak?”
“Aku belum tahu juga sih, tapi mungkin jam
empat kayak biasanya. Pokoknya Miss Elena ikut kok, katanya mau ngomong
penting, Tet.”
“Penting?”
“Iya. Aku duluan ya!”
Notog berjalan sedikit terburu-buru di
sepanjang koridor lantai empat menuju kamarnya. Sedang aku pelan-pelan saja.
Kuperhatikan pantulan sinar matahari yang menimpa lantai koridor. Menimbulkan
larik larik cahaya keemasan menyilaukan. Dari lantai empat ini langit tampak
jelas sekali bersihnya. Biru penuh seluruh. Angin sore mengayunkan anak rambut
di dahiku. Semilirnya cocok sekali sebagai pengundang kantuk.
Sore ini tak ada kegiatan ekstrakurikuler
ataupun pembinaan olimpiade. Ini hari Jumat. Jadwal setiap sorenya adalah Teatime.
Semacam kegiatan keakraban dengan wali kelas dan pembina kamar.
Membicarakan sesuatu, berdiskusi, curhat, atau bisa juga menonton film bersama
merupakan hal yang biasa dilakukan dalam teatime. Tapi diatas semua itu,
yang kami tunggu-tunggu sejatinya adalah sesi makan-makan. Maklum, salah satu
nikmat terindah bagi anak asrama macam kami adalah makanan gratis.
Belum juga lima menit aku rebahkan diri di
kasur, Retno sudah berkoar-koar kencang sekali. Mengabarkan waktu mulai Teatime.
Mengabarkan Miss Selena akan ikut. Mengabarkan pembina kamar juga ikut.
Dan mengabarkan menu makanan Teatime kali ini. Demi mendengar menu makanannya,
kupaksakan diriku untuk segera sembayang, mandi dan bergegas ke fun room,
ruangan paling ujung koridor lantai empat ini.
Konon sekolah dan asrama ini menjunjung tinggi
kedisiplinan dan ketepatan waktu, tapi kok ya masih saja ada keterlambatan?
Lihatlah, Miss Elena baru datang dan membuka Teatime, mundur enam
belas menit dari waktu yang dijadwalkan.
“Apa kabar, girls?”
“Baik Miss.”
“Tapi lapar sih.” Notog setengah berbisik
berseloroh. Mengundang tawa setuju dari kami semua.
“Nanti dulu ya makannya, sekarang Miss
mau ngomong sesuatu yang cukup penting.”
Fun room hening. Tapi mata kami saling bicara.
Membicarakan hal yang sama-sama menjadi keinginan kami. Apalagi kalau bukan
makanan!
“Girls?”
“Eh ya, Miss.”
Malu ketahuan tidak fokus, beberapa
menepuk-nepuk teman di sebelahnya.
“Eh, kok Cempluk nggak ada? Dia kok nggak
ikut? Cempluk emang nggak ikut ya, Miss?” celetuk Atra. Tumben dia
mencari-cari Cempluk, bukannya kemarin-kemarin malah bahagia sekali kalau
Cempluk tak ikut kelas?
“Nah, ini yang akan kita bicarakan. Cempluk.”
Jawab Miss Elena.
“Pas banget, Miss, kami sebenarnya juga
ingin banget cerita-cerita tentang dia.” Retno menimpali.
“Coba kamu dulu ceritakan, Retno.”
“Mm.. jadi gini, Miss.. Kami atau
mungkin saya aja, sering banget merasa gimana gitu ke Cempluk. Jadi ya... gitu Miss.”
Retno bingung sendiri bagaimanan melanjutkan kalimatnya.
“Siapa di antara kalian yang benci Cempluk?”
Ruangan ini seperti menyerap seluruh suara
kami.
“Kalau benci sih enggak, Miss. Tapi
kadang sebel banget iya.” Entah itu suara siapa. Aku sendiri hanya menunduk
dalam.
“Saya bertanya, siapa yang benci Cempluk?
Nggak ada ya? Baiklah, sekarang ganti, siapa yang sebel sama Cempluk?”
“Saya Miss kadang-kadang.” Aku juga tak
tahu itu suara siapa.
“Saya juga, Miss.”
Satu-satu dari kami mengaku takut-takut
seperti pesakitan hendak menerima hukuman mati.
“Saya sering, Miss.” Aku pun tak
ketinggalan bersuara. Seketika bayangan Cempluk seperti hadir di depanku.
Tersenyum aneh.
“Kalian tahu tidak kenapa sekarang Cempluk
nggak tinggal di asrama lagi?”
“Kalian tahu nggak apa yang sebenarnya terjadi
dengan dia?”
“Kalian tahu tidak apa yang membuatnya
kelihatan ‘berbeda’ dengan kalian?”
Ketiga pertanyaan Miss Elena itu hanya
kami jawab dengan gelengan pelan. Semuanya terdiam. Mungkin banyak versi pikiran
yang sedang terangkai di benak masing-masing. Bertanya-tanya, menebak-nebak
kemana arah pembicaraan ini bermuara.
“Berarti setelah satu kelas dan menjadi keluarga
Jayapatra selama hampir dua tahun, kalian tak juga mengenal Cempluk.”
Kalimat Miss Selena datar tapi sanggup
menusuk kami hingga ke ulu.
“Memang, Cempluk memang berbeda, Girls.
Memang ada sesuatu dalam diri Cempluk yang membuatnya seperti ini. Tapi perbedaan
itu bukan salahnya. Bukan keinginannya. Perbedaan itu bukan alasan ia seolah
harus menjadi bahan tertawaan atau guyonan kalian. Perbedaan itu bukan pula
menjadi surat izin bagi kalian untuk mengucilkannya secara sadar.
Memang, ia sering sekali menyebalkan, bahkan
saya juga merasa begitu. Tapi kita juga tidak bisa membenarkan sikap ketus kita
terhadapnya. Kalian tahu tidak, Cempluk selama semester satu ini sedang
manjalani terapi, nanti semester dua ia akan tinggal di asrama lagi.”
Entah bagaimana, tapi aku masih bisa semacam
sebal mendengar kemungkinan Cempluk kembali tinggal di asrama.
“Emang dia kenapa kok terapi segala, Miss?”
“Kondisi Cempluk bisa diibaratkan seperti anak
balita. Ia tak bisa diatur dan melakukan hal-hal semaunya. Kalian bisa lihat
kan, ia sering tidur di kelas, sering tidak mengerjakan PR atau tugas. Kalau
kalian, disuruh sesuatu hanya dengan sekali perintah pun kalian akan lakukan.
Tapi Cempluk? Ia harus seribu kali. Kalian membaca sesuatu cukup sekali untuk
bisa memahaminya. Tapi Cempluk? Ia harus sepuluh ribu kali, Girls.”
Seperti ada yang melindas hatiku. Lalu apa
alasanku untuk tak mau menjawab pertanyaan-pertanyaannya selama ini? Apa hakku
untuk memilih mengabaikan kebingungannya?
“Orangtuanya sudah sering sekali ke sini,
mereka sudah lelah juga kan pastinya. Terlebih ayahnya, beliau merasa bersalah
sekali melihat kondisi Cempluk sekarang.”
“Emang ayahnya ngapain Cempluk, Miss?”
“Hmm... Tapi ini saya cerita ke kalian karena
saya merasa kalian perlu tahu, dan saya mohon sekali jangan sampai terdengar
luar keluarga kelas kita.” Kalimat Miss Selena ditekankan sekali, tampak
kalau ini benar-benar serius.
“Waktu Cempluk kecil, ayahnya yang sibuk bisa
dibilang sering memukul kepala Cempluk...”
Aku tersentak tertahan. Seperti ada yang
runtuh menimpaku. Entah apa nama perasaan ini...
“Itulah. Miss minta tolong sekali pada
kalian. Saya mohon, kalian bisa memaklumi kondisi Cempluk. Bukan begini juga
yang ia minta. Yah, walaupun kalian mungkin belum bisa membantu Cempluk, tolong
jangan sampai kalian memperberat bebannya...”
Hatiku hujan. Menderas menenggelamkan diriku
sendiri dalam tumpahan rasa sesal. Kami mengangguk pelan sekali. Menunduk dalam
pikiran masing-masing. Gusti, mengapa baru sekarang pertanyaan-pertanyaan
kami tentang Cempluk terjawab? Setelah hampir dua tahun kami selalu
menyakitinya? Bantu kami, Gusti...
“Sudah, jangan sampai cerita ini membuat
kalian terlarut dalam rasa bersalah terlalu lama. Kita masih punya waktu
memperbaikinya. Kita masih punya waktu menabung kebaikan padanya. Masih punya
waktu untuk berkesempatan menuai tabungan kebaikan dan kepedulian padanya, Girls.”
Sambung Miss Elena. Menyejukkan hati kami dengan senyumnya.
Teatime kali ini serasa lama sekali. Banyak hal yang
aku rasakan. Apalagi di akhir pembicaraan Miss Elena mengulang apa yang
dikatakan pak guru agama tentang menabung kebaikan itu. Sore ini kututup dengan
sebuah harapan: Gusti, tumbuhkan kesabaran pada hamba dalam memaklumi
Cempluk...
***
Ulangan!
Hari ini ulangan kimia di jam pertama. Kemarin
sehabis teatime Sofi yang mengingatkanku tentang ulangan ini. Maka
selama evening study kemarin dan morning study di pagi harinya
aku berusaha melahap habis materi-materi yang telah diajarkan. Bahkan semalam
pun aku mengajak Sofi diam-diam menyalakan lampu senter di kamarku. Belajar
hingga malam benar-benar larut. Baru selesai saat kulihat Sofi telah tertidur
menelungkup memeluk buku tulisnya. Sebenarnya aku belum juga yakin apa aku akan
bisa mengerjakan ulangan ini, tapi ya sudahlah, semoga kekuatan doa dapat
menutupi kekurangan dalam usahaku.
Soal dibagikan. Ada delapan butir beranak.
Soal pertama masih mudah. Mengerjakannya pun terasa lancar-lancar saja. Kedua,
masih belum rumit juga. Yang aku pelajari semalam berbaik hati menghinggapi
otakku, membuat soal-soal ini terasa ramah bagiku. Soal ketiga tentang bab yang
memang kuanggap susah. Baiklah, nanti dulu saja. Keempat, kelima, hingga soal
kedelapan sudah ku selesaikan. Tinggal si nomor tiga.
Kucoba dari semua yang kuingat tentang
langkah-langkah penyelesaian. Perhitungan, penyeimbangan reaksi, hingga
fase-fase tiap molekulnya aku perhatikan sungguh-sungguh. Nihil. Semua malah
jadi rumit. Kulirik teman sebelahku menggaruk-garuk kepalanya. Mimiknya penuh
bingung. Kulirik teman di seberang. Malah tengah tidur menindih kertas soalnya.
Entah itu tanda ia telah selesai atau justru tidurnya itu sebagai penghilang
stres akibat tak bisa mengerjakan sama sekali.
“Lima belas menit lagi.” Bu guru mengingatkan.
Aku sendiri semakin panik. Akhirnya
kuberanikan diri mengangkat tangan. Bertanya.
“Mm Miss, ini soal ketiga kode Au nggak
ada ralat ya?”
Hening. Hanya suara tok-tok-tok sepatu bu guru
memenuhi ruangan. Beliau menuju tempat dudukku. Melihat kertas soal. Berpikir
sejenak.
“Hmm maaf ya, ini ada kesalahan sedikit untuk
kode Au. Bukan CO3 tapi diganti CO2. Ada pertanyaan
lagi?”
Aku lega. Tapi ini sudah detik-detik terakhir.
Aku masih perlu mengulang hitunganku. Cepat-cepat menuliskan reaksi baru,
memasukkan angka. Kok banyak sekali angka akhirnya? Apa ini benar? Kuteliti
lagi. Tak ada yang keliru sepertinya. Kuteliti lagi hingga bel mengakhiri
kebingungan ini.
“Kamu dapat kode apa, Fi?”
“Au, sama kan?”
“Kamu ketemu berapa oksigennya?”
“Nggak tahu, aku nggak ketemu tuh.”
“Punyamu benar kok, Tet.”
Bukan, itu bukan suara Sofi atau teman lain,
itu bu guru. Seketika aku merasa melambung dan menggembung melayang-layang
bahagia.
“Kalau yang lain, Miss?”
“Oo rahasia.” Bu guru meninggalkan aku dan
Sofi yang masih terbengong-bengong.
Masih pagi. Kelas berikutnya kelas karawitan.
Cempluk seperti biasa membuka kotak bekalnya. Pisang goreng keju! Seketika kami
berebutan. Hmm enak sekali! Kejunya lumer seketika begitu masuk mulut. Gurih
dan wangi sedapnya penuh kelezatan. Glek! Aku teringat sesuatu. Pembicaraan teatime
kemarin mengingatkanku tentang menabung kebaikan. Betapa banyaknya Cempluk
menabung kebaikan pada kami, tentu nanti hasilnya akan membahagiakan untuk dia.
Nah aku?
“Tet, bisa ajari aku ini nggak?” Cempluk
membuyarkan pikiranku. Di tangannya buku tulis berhalaman kosong seperti melambai-lambai
minta tolong.
Aduh, aku lagi nggak mood belajar ilmu falak
nih. Oh ya, menabung! Menabunglah Teti! Aku menyadarkan diriku sendiri.
“Eh ini? Lho kamu belum selesai? Ya udah, mana
buku paketnya?”
Aku tahankan diriku mengulang-ulang penjelasan
padanya. Teringat lekat kata-kata Miss Elena,’...Kalau kalian,
disuruh sesuatu hanya dengan sekali perintah pun kalian akan lakukan. Tapi
Cempluk? Ia harus seribu kali. Kalian membaca sesuatu cukup sekali untuk bisa
memahaminya. Tapi Cempluk? Ia harus sepuluh ribu kali...’ Tapi belum sempat
terjawab ketiga soal itu, bel telah berbunyi lagi.
Karawitan hari ini membahas laras pelog
dan slendro. Aku tak tertarik. Lebih banyak mengantuknya. Selesai
karawitan adalah bahasa dan sastra Arab. Ini yang aku suka. Gurunya
menyenangkan, ganteng pula!
Pukul dua belas bel menandakan jam makan
siang. Buru-buru dari semua ruangan siswi-siswi berebut turun tangga. Aku pun
tak mau kalah. Tapi apa hendak dikata, secepat aku bisa berlari, di pintu ruang
makan antrean sudah menjulur-julur menyebalkan. Baiklah, tak apa, yang penting
jangan sampai kehabisan. Ternyata pun tak lama kemudian aku sudah berhasil
memegang centong nasi. Sudah tak begitu hangat. Kutilik lauknya, sup jamur, ayam
panggang dan tempe goreng!
“Ciyee Teti...”
“Ciye? Apanya?”
“Ciyee yang kimianya seratus...”
Sungguh, kalimat singkat Sofi itu berhasil
membuatku sekali lagi seperti mengambang melayang-layang. Apa benar?
“Ha?! Kata siapa kamu?? Seriusan?” mataku terbelalak.
Aku bahkan sampai tak sadar telah terlalu lama berdiri di depan baskom sup.
Membuat antrean tak maju-maju.
“Kata Miss Alia lah.”
Aku masih tak percaya hasilnya seekstrem ini.
Memang sih aku semacam optimis, tapi mana pernah aku berpikir akan mendapat
nilai sempurna? Sepanjang makan siang aku lebih sering senyum-senyum sendiri.
Setengah tidak percaya, tapi bersyukur juga.
“Teti!”
Itu Cempluk. Tapi mengapa ia berlari ke sini
ya? Mukanya cerah sekali juga.
“Teti, m.. m.. makasih ya. Makasih banget.
Kamu udah ajarin aku.”
Aku sendiri masih bingung ada apa ini. Tapi
kemudian ia menunjukkan selembar kertas: lembar jawaban kimia. Ku perhatikan, lihatlah
seluruh makhluk di semesta ini! Lihatlah! Di kertas tak bersih itu, seperti
terukir dengan tinta emas, bertengger apik dua angka yang teramat indah bagiku
dan pastinya bagi Cempluk: 75.
Mungkin bagi kalian itu biasa saja. Standar
sekali. Tapi ini jauh lebih dari biasa bagi Cempluk. Ia tak pernah bermimpi
mendapat nilai sempurna. Ia hanya ingin nilainya melampaui standar kelulusan.
Ia teramat lelah harus remedi di setiap ujian. Maka hal ini menjadi hal luar
biasa baginya. Aku? Apa yang aku rasakan? Entahlah, aku tak dapat
mendefinisikannya. Aku merasa ini indah. Aku merasa hidupku lebih berguna. Aku
merasa ilmu yang aku punya berguna. Aku merasa kesabaranku mengajari Cempluk di
kelas kimia hari lalu bermanfaat besar sekali.
“Makasih banget ya, Teti!”
Sebelum aku menjawab, ia sudah menghilang.
Berlari ke kantin. Kulanjutkan tapakku menuju lab biologi, kelas berikutnya. Di
mejaku sedang berbaring anggun kertas jawaban ulangan kimia. Benar. Sebatang
angka satu diikuti sepasang angka nol terangkai indah di sana. Kok cepat
sekali ya Miss Alia mengoreksinya?
***
Bulan menggantung indah di angkasa. Bukan
bundar sempurna, masih menyabit. Angin malam menggoyang-goyang cabang pohon dan
rerantingnya. Dingin. Aku merapatkan jaketku. Berjalan menyusuri koridor menuju
kamar. Evening study baru selesai.
Angin bertiup cukup kencang rupanya. Hingga
mengundang bunyi semacam siulan saat ia melewati lubang-lubang ventilasi. Malam
ini aku memutuskan untuk tidak belajar hingga larut. Lagipula jam sepuluh tepat
pembina kamar juga sudah mematikan lampu. Tapi aku pun tak serta merta tidur.
Ada yang harus aku lakukan. Kukeluarkan lampu senterku. Menggantungkannya untuk
menerangi kasurku. Kuambil buku harianku. Ada yang harus kuungkapkan di sana.
@030414
“Bila kau memudahkan urusan orang lain, membantu,
menolong mereka, niscaya Gusti akan memudahkan urusanmu, menolongmu.
Percayalah, janji-Nya tak pernah teringkari dan tak akan pernah teringkarkan.”
_Unit Test Chemistry_
Hari yang sangat luar biasa.
1.
Kimiaku 100! Nilai sempurna, untuk materi yang kuanggap
susah!
2.
Cempluk nggak remedi! Nilainya pas standar kelulusan!
Dan aku baru sadar, tabunganku hari lalu padanya sudah
kembali dengan jumlah, kadar dan bunga yang mencengangkan! Aku baru sadar,
pempek dari Cempluk hari lalu itu jadi ungkapan terimakasihnya atas bantuanku
mengajarinya. Itu saja sudah jadi bentuk kembalinya tabungan kebaikan yang
pernah aku simpan dalam dirinya. Lalu hari ini? Nilaiku sempurna! Nilai
sempurna satu-satunya dari keempat kelas angkatanku! Bukankah ini benar-benar
jadi bukti,...
MENABUNG ITU HEBAT!
@};---
Yogyakarta, 16 Oktober 2014
Komentar
Posting Komentar