Langsung ke konten utama

#1 Tell your story about first day of fasting this year!

Alhamdulillah hari pertama terlewati dengan cukup #post_itive. Semalam diberi tantangan untuk bisa bangun sahur tanpa dibangunin. Ini hal yang sangat sulit bagi saya ya, saudara. Akhirnya memutuskan untuk tidur di ruang tengah agar dekat dengan pusat kegiatan masyarakat rumah dan nanti lebih gampang terbangun. Pasang alarm, berniat sungguh, dan tidur lebih awal (yaa masih jam 11an sih). Syukurlah betul paginya berhasil ikut siapin sahur hehe.

Waktu sahur kali ini berbeda dari tahun lalu karena tidak ada tv. Yep, kalau biasanya sahur sambil nonton (fav program: A*KSI), maka kali ini kami habiskan sahur bersama di meja makan sambil ngobrol dan guyon tentang banyak hal. Yah, memang masa wabah ini punya hikmah, termasuk bahwa kami bisa kumpul lengkap di sahur perdana.

Setelah subuh kembali diberi tantangan untuk tidak tidur lagi. Susah payah menahan diri sambil ngobrol dan beraktivitas santai bersama. Kemudian muncullah ide membuat jadwal imsak-maghrib yang 'eye-friendly'.

Jadi kemarin saya melihat seorang teman posting jadwal imsakiyah yang enak dilihat. Tidak membuat pembacanya harus ribet membaca tulisan kecil setiap harinya. Maka untuk mengisi pagi, kami mencoba ikut membuat versi sendiri yang serupa. Sebetulnya saya sudah melihat yang seperti itu tahun lalu, dari teman itu juga. Karena dulu saya berpuasa di jogja, jadi tinggal mengikuti saja. Tapi karena tahun ini puasa di rumah maka harus menyusun sesuai kota tempat tinggal.

Sekitar pukul 7 pagi, ibu menyuruh kami untuk bersiap. Agendanya adalah ziarah kubur. Mulanya saya mengira kalau yang dimaksud adalah mengunjungi makam bapak. Karena tempatnya dekat, tak perlulah mandi dulu, begitu pikir saya. Tapi rupanya tidak, perjalanan akan dilanjut ke makam keluarga ibu yang ada di luar kota, sekitar 1.5 jam dari rumah.

Kami siap berangkat sekitar 1 jam kemudian. Pemakaman pagi itu lengang karena biasanya tetangga sudah memilih satu hari sebelum puasa untuk ziarah. Lengangnya pemakaman hanya diramaikan oleh kelepak burung, gugur daun, dan desau angin sesekali. Udara terasa bersih, langit cerah, menenangkan. Setelah sekitar sebulan di rumah masa karantina, pagi tadi menjadi waktu yang menyenangkan karena berkesempatan menikmati dunia luar sebentar. Kami melantun doa di dekat makam bapak. Di situ pula berjajar makam kakek, nenek, dan beberapa keluarga dari pihak bapak. Tak terasa ini ramadan kesebelas tanpa hadirnya beliau. Semoga disana mendapat karunia seiring dengan kiriman doa kami.

Kami melanjutkan perjalanan. Tujuan pertama adalah takziah ke kota sebelah. Dua hari lalu, sepupu ibu meninggal dunia. Mulanya kami gamang dan ragu untuk takziah khawatir bertemu banyak orang dan sulit untuk menerapkan jarak diri. Jadilah akhirnya memilih untuk kesana di hari yang berbeda agr lebih sepi. Betul memang, tidak ada tamu yang datang saat kami di sana. Saya cukup pekewuh saat mbah lik mengajak salaman. Mau tetap masker tapi khawatir itu tidak sopan. Terlebih beliau adalah bu nyai. Ya, keluarga dari pihak ibu adalah keluarga pesantren, baik dari pihak kakek, maupun nenek.

Ada silaturahim yang perlu disambung, ada peraturan yang harus ditaati. Semoga senantiasa aman sehat semua.

Setelah berbincang secukupnya, kami melanjutkan ke kota asal ibu.
Tempat yang kami tuju adalah kompleks pemakaman keluarga ibu. Kakek, nenek, dan kerabat lain diistirahatkan disitu. Hari sudah menjelang siang, namun teduh pepohon kamboja dan semilir angin sawah membuat kami nyaman melantun doa. Sudah cukup sering kami berziarah di kompleks itu. Suatu hari pernah berkata bahwa, bahkan untuk saya pun sudah disiapkan 'kavling'. Meski agak merinding, tapi kematian memang hal yang niscaya kan? Walaupun entah kapan, tanpa rencana, tanpa bisa menduga.

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Yang telah mati takkan kembali lagi. Berubah alam, peran tergantikan.

Dari makam, kami ke rumah om yangg tak jauh jaraknya, masih satu desa. Godaan untuk rebahan memang meningkat saat jelang tengah hari. Syukurlah masih sempat mengikuti kajian dan simakan Al Quran via online walau sebentar.

Tentang desa itu, saya dan adik sepakat menyebutnya sebagai desa rumah simetris. Dulu kami gemar memperhatikan apakah rumah yang kami lewati simetris atau tidak. Dan hasilnya, mayoritas rumah di desa itu simetris. Magrib yang dinanti tiba, kami buka bersama dengan penuh suka cita di desa saksi masa kecil ibu.

Setelah magrib, kami beranjak pulang. Seperti biasa, momen perjalanan selalu terasa menyenangkan. Guyon eksklusif bergantian terlontar. Menjadi penghibur saat tubuh terbanting karena jalanan tidak rata dan dilewati dengan kecepatan tinggi.
Setiba di rumah, kami bergegas sholat isya dan tarawih berjamaah. Dilanjut tadarus, baru setelahnya rebahan dan bersiap menuju tidur.

Hari ini berjalan menyenangkan. Masih ada 29 hari lagi. Semoga yang berikutnya akan selalu istiqomah dalam kebaikan.

23.24
N240420W
#Post_itivity

Komentar