Langsung ke konten utama

#6 Tell about your childhood memory of ramadan!

Topik yang saya tunggu!
Pertama-tama, mari saya kenalkan dengan geng masa kecil saya: Kepompong.
Anggotanya berganti-ganti, tergantung bila ada yang pindah rumah atau sudah lulus dari sekolah dasar lalu merantau. Geng ini bubar saat saya melanjutkan sekolah di luar kota. *ini karena saya kupu-kupu alias ketua sukunya.
Saat ramadan, Kepompong punya agenda-agenda spesial. Kadang juga berkolaborasi dengan anak-anak dari luar geng (baca: para anak laki-laki yang kadang jahil dan bocah-bocah usia krucil sehingga nggak cocok untuk dimasukkan ke geng, masih pupuk bawang).
Agenda hariannya dimulai dari setelah subuh. Sudah menjadi kebiasaan bagi kami untuk jalan-jalan pagi saat bulan ramadan. Kami janjian untuk menahan kantuk agar bisa subuhan di mushola lalu lanjut keliling kampung. Bahkan kami sampai ke rumah teman yang tidak subuhan di mushola dan membangunkannya agar semua bisa ikut agenda ini.  Gangguan jalan di pagi syahdu tak jarang juga kami temui, yakni remaja-remaja yang ngumpul di perempatan lalu melempar petasan. Kadang yang dilempar sebenarnya adalah korek api yang dinyalakan. Tapi kan tetap saja kami kira itu mercon.
Jalur keliling kami perpanjang sampai ke dusun sebelah. Kami berjalan di atas tanggul setinggi kira-kira 2 meter, mengikuti sampai ke ujungnya, hingga ditemuilah sungai atau bahkan kompleks kuburan (kami menyebutnya penthuk). Jalur tanggul relatif lebih aman dan sepi dari lemparan mercon. Yang mengiringi kami adalah hutan bambu dan tanaman jati. Pernah suatu hari area jelajah kami berbeda dari biasanya. Kami sampai ke sungai kecil yang bening sekali aliran airnya. Suasananya enak untuk menikmati pagi. Di situ kami bermain air, terpeleset lumpur, dan melihat-lihat bunga serta tetumbuhan rambat dengan buah-buah berbentuk aneh. Kami baru memutuskan pulang saat sekitar jam 8. Sudah cukup panas sehingga kami tiba di rumah sambil menahan haus padahal waktu buka masih sangat lama.

Saya kesulitan mendapat gambar yang benar, tapi kira-kira beginilah bentuk tanggul dan bagaimana kami berjalan di atasnya—nggak gandengan juga sih. Bedanya, tidak ada sungai coklat yang seperti itu, dan kanan-kirinya diiringi pohon-pohon.

Saat jalan pagi juga, kadang kami tergoda oleh buah kersen yang tumbuh di kanan kiri jalan. Memang biasanya itu jadi buah favorit. Tapi karena sedang puasa maka kami mengumpulkannya dalam gelas bekas air mineral dan menyimpannya untuk dimakan saat buka. Padahal nyatanya saat buka ya tidak termakan. Kalah menarik dengan sajian ibu di rumah.
Kalau biasanya tengah hari adalah waktu menyenangkan untuk main, tapi karena puasa kami jadi lemas dan lebih memilih tiduran di rumah masing-masing. Barulah ketika sore kami main lagi. Detik-detik menjelang buka, sekitar jam 5, adalah waktu perjuangan yang rasanya paling lama. Untuk mengisinya, kami main yang tidak melelahkan di pelataran mushola. Entah main ABC, engklek, atau lainnya. Itu ampuh untuk melipat waktu sampai kami kemudian berlarian saat sudah terdengar azan. Momen ini biasanya diikuti juga oleh anak-anak luar geng.
Sekali waktu, kami mengadakan buka bersama. Kami janjian untuk membawa makanan masing-masing ke mushola. Iya, cuma pindah tempat makan aja, biar bareng dan pantas disebut 'buka bersama'. Tapi kadang acara buka bersama ini dilakukan dengan lebih niat lho. Persiapannya dimulai sejak siang sambil menahan lapar. Kami memasak bersama di belakang rumah, di sekitar rumpun bambu, sambil takut-takut kalau ada orang gila yang tetiba muncul di situ. Agenda ini biasanya dilakukan dengan anak-anak luar geng juga. Menunya? Ada sayur bayam, lodeh terong, mie instan, hingga bakwan tahu yang keasinan. Pernah juga membuat minuman es teh cincau dan pencuci mulut berupa agar-agar. Saat memasak uuu pingin sekali untuk segera icip-icip. Semua terlihat enak. Padahal saat buka? Pasti masakan ibu lebih mengundang selera. Tapi demi solidaritas dan rasa setia kawan, kami tetap memilih berbuka dengan hasil masakan yang tentu saja sudah dingin.
Setelah cerita tentang buka, mari kita lanjutkan dengan cerita tentang tarawih.
Saat masih jauh dari ‘fase mudeng tentang makna sholat’, saya dulu menghasut teman-teman untuk berdiri ketika imam sudah waladh dhallin dan disahut aamiin. Bahkan kalau tahu surat yang dibaca agak panjang, maka mulainya sholat kami pending lagi sampai benar-benar mendekati ruku'. Biar nggak capek dan cukup sebentar saja sholatnya. Kami juga paling rajin untuk bertanya ke jamaah dewasa di dekat kami, masih berapa kali lagi sholatnya. Adalah menyenangkan saat sampai pada witir yang terakhir. Dilanjutkan dengan doa, niat puasa, lalu salam-salaman. Tapi kami punya tugas istimewa setelah salam witir terakhir: panitia puluran.
Puluran adalah pemberian makanan kecil secara bergiliran untuk dimakan para jamaah sholat tarawih dan peserta tadarusan. Bentuknya bisa snack ciki, jajan pasar, gorengan, atau lainnya, dan dipasangkan dengan semangka atau minuman ringan. Jadwal puluran dibuat dengan melibatkan tetangga-tetangga yang biasa ikut berjamaah di mushola. Ada beberapa tetangga yang pulurannya ikonik sehingga kami bisa menebak dari menu yang disajikan. Kalau yang mendapat giliran adalah keluarga salah satu anak geng, maka kami akan berusaha menyuruhnya membocorkan menu.
Tugas kami sebagai panitia puluran adalah menghitung jumlah masing-masing jamaah laki-laki dan perempuan, lalu menyiapkan jajanan sesuai jumlah itu, dan membawanya ke mushola (puluran dikumpulkan ke rumah yang paling dekat mushola). Tugas ini istimewa karena kami berkesempatan memilih semangka paling besar, atau bahkan mendapat jatah ekstra. Sampai Kepompong bubar pun ternyata belum ada yang menggantikan peran panitia puluran karena anak-anak yang usianya di bawah kami tidak cukup mumpuni untuk dipasrahi tugas spesial ini wkwkw :)
Setelah tarawih, kegiatan dilanjut dengan tadarusan. Ini juga menyenangkan karena kami legal untuk melek sampai malam, yang artinya waktu main dengan teman pun semakin panjang. Biasanya kami hanya melakukan 1 giliran baca, lalu sisa malam dipakai menghambur bermain di pelataran depan mushola sambil menunggu ibu selesai tadarus. Petak umpet, boyo-boyonan, menyalakan mercon, adalah sebagian pilihan untuk menghabiskan malam. Kadang kami juga bereksperimen dengan puluran yang didapat. Kami meniru ala-ala masterchef dengan bahan dari jajanan itu. Tapi kalau memang sedang ngantuk banget ya agendanya hanya tidur di serambi mushola. Ehe~
Oiya, selain tadarus ibu-ibu di mushola juga ada tadarus keliling untuk bapak-bapak. Warga bergiliran menjadi tuan rumah, bergantian setiap malamnya. Sepanjang ramadan ada target untuk khataman 2 kali. Setiap malam pula kami mencari tahu di rumah siapa giliran tadarus diadakan. Kalau rumahnya dekat dari mushola maka kami akan berusaha tidak ketiduran. Kenapa? Karena akan ada jatah konsumsi makan berat yang diantar untuk peserta tadarusan yang di mushola. Dan tentu saja kami juga ikut terhitung. Tapi kalau jadwalnya rumah yang jauh yaa kami tidak berharap deh~
Apa lagi yaa?
Mungkin sebenarnya masih banyak detail cerita tentang topik ini. Tapi karena waktu penulisannya singkat jadi blur dan tertumpuk-tumpuk memorinya. Yang pasti, kisah selama Kepompong terbentuk adalah satu bagian indah untuk dikenang hingga sekarang.

Ramadan adalah momen yang istimewa. Tapi ramadan bersama Kepompong adalah momen yang tiada gantinya~


N290420W
23.31
#Post_itivity
Lagi-lagi sampai jam segini, padahal sudah dicicil sejak sore lho

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Day 25 Share 1 story about hikmah ramadan!

'Cinta terlarang' kami memang sudah semestinya berakhir, semoga selamanya~ Saya dan pusing adalah sepasang yang mulanya selalu bersama. Setiap hari setidaknya pasti ada satu momen dimana saya berjumpa dengannya. Pusing yang saya maksud adalah tipe yang rasanya muter sampai badan seperti mau ambruk. Ini terutama saya rasakan kalau berpindah posisi tubuh secara tiba-tiba. Misalnya dari rebahan langsung duduk atau dari duduk langsung berdiri. Perlu waktu beberapa detik penyesuaian sambil memejamkan mata dahulu agar berhasil stabil. Kalau dilihat dari tekanan darah sebenarnya memang konsisten cenderung lebih rendah daripada orang lain pada umumnya. Tapi setelah berkonsultasi dengan suster sekolah katanya itu bukan masalah, karena setiap orang punya kisaran normalnya sendiri. Dugaan lain yang menjadi penyebabnya adalah rendahnya kadar hemoglobin dalam darah saya. Iya yang ini cukup terbukti sih. Sudah pernah saya periksakan juga dan memang demikian hasilnya. Saat sedang dalam hari...

Saya dan Rasa Lain yang Lucu

 Rasanya belum lama sejak terakhir menulis tentang rasa suka yang lucu. Rasa. Suka. ... yang sekejap menjadi tidak lucu lagi. Barangkali mimpi itu hanya canda. Bunga tidur yang mengada-ada. Tapi bisa juga ia adalah pertanda. Bahwa yang dinanti tak kunjung tiba, sebenarnya memang sudah selesai tak bersisa. Senangnya, saya biasa saja. Ya! Ini adalah rasa yang lucu. Saya sendiri heran. Pernyataan-pernyataan dari seseorang berhasil membuat saya berpindah haluan. Yang dulu disimpan, kini betulan berhasil diikhlaskan. Saya tidak menyangka. Saya tersadar dibuatnya. Yang sebenarnya dipertahankan bukanlah murni rasa sayang pada orangnya. Namun lebih kepada momennya yang telah terjalin lama. Lalu selanjutnya apa? Tidak tahu juga. Setidaknya untuk saat ini belum ada rencana untuk mengapa-apakan kotak rasa saya.  .  . . Yang pasti saya ketahui saat ini, bubuk kopi darimu sudah tak tersisa untuk diseduh dan dinikmati lagi.   Y281121K -selalu ada yang lain

#Day 11 Imagine that you are giving a kultum, what will you tell?

  Wabah: Pengingat tentang Terbatasnya Waktu Kita   Pandemi! Itu adalah status COVID-19 saat ini. Pandemi menurut WHO dijelaskan sebagai wabah yang sifatnya menyebar global dan mendunia. Meski semula memang ditemukan di Cina, virus ini merebak hingga kini telah mencakup 199 negara (re: saat draft tulisan ini pertama saya buat). Pelan tapi pasti, satu persatu aspek kehidupan kita terpengaruh oleh makhluk kecil tak kasat mata tapi nyata ini. Aspek kesehatan? Tentu signifikan sekali. Aspek ekonomi? Perlahan terguncang terganggu keseimbangannya. Aspek sosial? Manusia dipaksa berjauhan secara fisik, social distancing istilahnya. Masih banyak yang harus dirinci bila ingin mendeskripsikan betapa dahsyat dampak yang virus ini berikan. Namun bagaimanapun, setiap yang telah ditakdirkan oleh-Nya tentu membawa hikmah tersendiri bagi orang orang yang mau bertafakur dan merenungi sisi positif dengan bijaksana. Walau mungkin saat ini dunia sedang berduka, mari kita tilik sisi...