Topik
yang saya tunggu!
Pertama-tama,
mari saya kenalkan dengan geng masa kecil saya: Kepompong.
Anggotanya
berganti-ganti, tergantung bila ada yang pindah rumah atau sudah lulus dari sekolah
dasar lalu merantau. Geng ini bubar saat saya melanjutkan sekolah di luar kota.
*ini karena saya kupu-kupu alias ketua sukunya.
Saat
ramadan, Kepompong punya agenda-agenda spesial. Kadang juga berkolaborasi
dengan anak-anak dari luar geng (baca: para anak laki-laki yang kadang jahil
dan bocah-bocah usia krucil sehingga nggak cocok untuk dimasukkan ke geng,
masih pupuk bawang).
Agenda
hariannya dimulai dari setelah subuh. Sudah menjadi kebiasaan bagi kami untuk
jalan-jalan pagi saat bulan ramadan. Kami janjian untuk menahan kantuk agar
bisa subuhan di mushola lalu lanjut keliling kampung. Bahkan kami sampai ke
rumah teman yang tidak subuhan di mushola dan membangunkannya agar semua bisa
ikut agenda ini. Gangguan jalan di pagi
syahdu tak jarang juga kami temui, yakni remaja-remaja yang ngumpul di
perempatan lalu melempar petasan. Kadang yang dilempar sebenarnya adalah korek
api yang dinyalakan. Tapi kan tetap saja kami kira itu mercon.
Jalur
keliling kami perpanjang sampai ke dusun sebelah. Kami berjalan di atas tanggul
setinggi kira-kira 2 meter, mengikuti sampai ke ujungnya, hingga ditemuilah
sungai atau bahkan kompleks kuburan (kami menyebutnya penthuk). Jalur tanggul
relatif lebih aman dan sepi dari lemparan mercon. Yang mengiringi kami adalah
hutan bambu dan tanaman jati. Pernah suatu hari area jelajah kami berbeda dari
biasanya. Kami sampai ke sungai kecil yang bening sekali aliran airnya.
Suasananya enak untuk menikmati pagi. Di situ kami bermain air, terpeleset
lumpur, dan melihat-lihat bunga serta tetumbuhan rambat dengan buah-buah
berbentuk aneh. Kami baru memutuskan pulang saat sekitar jam 8. Sudah cukup
panas sehingga kami tiba di rumah sambil menahan haus padahal waktu buka masih
sangat lama.
Saat
jalan pagi juga, kadang kami tergoda oleh buah kersen yang tumbuh di kanan kiri
jalan. Memang biasanya itu jadi buah favorit. Tapi karena sedang puasa maka
kami mengumpulkannya dalam gelas bekas air mineral dan menyimpannya untuk
dimakan saat buka. Padahal nyatanya saat buka ya tidak termakan. Kalah menarik
dengan sajian ibu di rumah.
Kalau
biasanya tengah hari adalah waktu menyenangkan untuk main, tapi karena puasa kami
jadi lemas dan lebih memilih tiduran di rumah masing-masing. Barulah ketika
sore kami main lagi. Detik-detik menjelang buka, sekitar jam 5, adalah waktu
perjuangan yang rasanya paling lama. Untuk mengisinya, kami main yang tidak
melelahkan di pelataran mushola. Entah main ABC, engklek, atau lainnya. Itu ampuh
untuk melipat waktu sampai kami kemudian berlarian saat sudah terdengar azan. Momen
ini biasanya diikuti juga oleh anak-anak luar geng.
Sekali
waktu, kami mengadakan buka bersama. Kami janjian untuk membawa makanan
masing-masing ke mushola. Iya, cuma pindah tempat makan aja, biar bareng dan
pantas disebut 'buka bersama'. Tapi kadang acara buka bersama ini dilakukan
dengan lebih niat lho. Persiapannya dimulai sejak siang sambil menahan lapar. Kami
memasak bersama di belakang rumah, di sekitar rumpun bambu, sambil takut-takut
kalau ada orang gila yang tetiba muncul di situ. Agenda ini biasanya dilakukan
dengan anak-anak luar geng juga. Menunya? Ada sayur bayam, lodeh terong, mie
instan, hingga bakwan tahu yang keasinan. Pernah juga membuat minuman es teh
cincau dan pencuci mulut berupa agar-agar. Saat memasak uuu pingin sekali untuk
segera icip-icip. Semua terlihat enak. Padahal saat buka? Pasti masakan ibu
lebih mengundang selera. Tapi demi solidaritas dan rasa setia kawan, kami tetap
memilih berbuka dengan hasil masakan yang tentu saja sudah dingin.
Setelah
cerita tentang buka, mari kita lanjutkan dengan cerita tentang tarawih.
Saat
masih jauh dari ‘fase mudeng tentang makna sholat’, saya dulu menghasut teman-teman
untuk berdiri ketika imam sudah waladh dhallin dan disahut aamiin. Bahkan kalau
tahu surat yang dibaca agak panjang, maka mulainya sholat kami pending
lagi sampai benar-benar mendekati ruku'. Biar nggak capek dan cukup sebentar
saja sholatnya. Kami juga paling rajin untuk bertanya ke jamaah dewasa di dekat
kami, masih berapa kali lagi sholatnya. Adalah menyenangkan saat sampai pada
witir yang terakhir. Dilanjutkan dengan doa, niat puasa, lalu salam-salaman. Tapi
kami punya tugas istimewa setelah salam witir terakhir: panitia puluran.
Puluran
adalah pemberian makanan kecil secara bergiliran untuk dimakan para jamaah
sholat tarawih dan peserta tadarusan. Bentuknya bisa snack ciki, jajan
pasar, gorengan, atau lainnya, dan dipasangkan dengan semangka atau minuman
ringan. Jadwal puluran dibuat dengan melibatkan tetangga-tetangga yang biasa
ikut berjamaah di mushola. Ada beberapa tetangga yang pulurannya ikonik
sehingga kami bisa menebak dari menu yang disajikan. Kalau yang mendapat
giliran adalah keluarga salah satu anak geng, maka kami akan berusaha
menyuruhnya membocorkan menu.
Tugas
kami sebagai panitia puluran adalah menghitung jumlah masing-masing jamaah
laki-laki dan perempuan, lalu menyiapkan jajanan sesuai jumlah itu, dan
membawanya ke mushola (puluran dikumpulkan ke rumah yang paling dekat mushola).
Tugas ini istimewa karena kami berkesempatan memilih semangka paling besar,
atau bahkan mendapat jatah ekstra. Sampai Kepompong bubar pun ternyata belum
ada yang menggantikan peran panitia puluran karena anak-anak yang usianya di
bawah kami tidak cukup mumpuni untuk dipasrahi tugas spesial ini wkwkw :)
Setelah
tarawih, kegiatan dilanjut dengan tadarusan. Ini juga menyenangkan karena kami
legal untuk melek sampai malam, yang artinya waktu main dengan teman pun
semakin panjang. Biasanya kami hanya melakukan 1 giliran baca, lalu sisa malam
dipakai menghambur bermain di pelataran depan mushola sambil menunggu ibu
selesai tadarus. Petak umpet, boyo-boyonan, menyalakan mercon, adalah
sebagian pilihan untuk menghabiskan malam. Kadang kami juga bereksperimen
dengan puluran yang didapat. Kami meniru ala-ala masterchef dengan bahan dari
jajanan itu. Tapi kalau memang sedang ngantuk banget ya agendanya hanya tidur
di serambi mushola. Ehe~
Oiya,
selain tadarus ibu-ibu di mushola juga ada tadarus keliling untuk bapak-bapak. Warga
bergiliran menjadi tuan rumah, bergantian setiap malamnya. Sepanjang ramadan
ada target untuk khataman 2 kali. Setiap malam pula kami mencari tahu di rumah
siapa giliran tadarus diadakan. Kalau rumahnya dekat dari mushola maka kami
akan berusaha tidak ketiduran. Kenapa? Karena akan ada jatah konsumsi makan
berat yang diantar untuk peserta tadarusan yang di mushola. Dan tentu saja kami
juga ikut terhitung. Tapi kalau jadwalnya rumah yang jauh yaa kami tidak
berharap deh~
Apa
lagi yaa?
Mungkin
sebenarnya masih banyak detail cerita tentang topik ini. Tapi karena waktu
penulisannya singkat jadi blur dan tertumpuk-tumpuk memorinya. Yang pasti,
kisah selama Kepompong terbentuk adalah satu bagian indah untuk dikenang hingga
sekarang.
Ramadan
adalah momen yang istimewa. Tapi ramadan bersama Kepompong adalah momen yang
tiada gantinya~
N290420W
23.31
#Post_itivity
Lagi-lagi sampai jam segini, padahal sudah dicicil sejak sore lho
23.31
#Post_itivity
Lagi-lagi sampai jam segini, padahal sudah dicicil sejak sore lho

Komentar
Posting Komentar