Langsung ke konten utama

Journey of Harcooknas Challenge


 


Perjalanan saya dalam masak-memasak bersama Cookpad masih berlanjut nih. Bulan november ini Coopad memperingati anniversary kesembilan. Tentu dirayakan dengan event spesial dong ya. Nah, event yang diadakan kali ini bertajuk 9ebyar Harcooknas, yakni serangkaian acara demo masak via online selama 9 jam! Yups, full mulai jam 9 pagi sampai jam 6 sore, diisi oleh 9 pembicara yang keren semua tentunya. Saya antusias banget begitu dapat kabar tentang acara ini. Beruntung karena dilaksanakannya hari Kamis dan saya hanya ada 2 kelas mengajar, jadi bisa ikut menyimak hampir di semua sesi.

 

Resep yang jadi materi dalam demo memasaknya unik semuaa. Sangat berhasil memberi insight baru bagi saya yang masih perlu belajar banyak tentang dunia dapur. Daftar resepnya sangat bervariasi. Mulai dari minuman, makanan tradisional, makanan internasional, roti, hingga dessert yang pembuatannya simpel banget. Secara lengkap, berikut adalah daftar resep beserta pembicaranya.

  1. Sup Salmon by Enno Lerian ('kamu makannya apa? Tempe!' hehe masih ingat?)
  2. Mie Bancir dan Es Limau Kuit by Chef Agus Sasirangan (Runner Up Masterchef wow!)
  3. Tuna asap, Telur Ikan Goreng, Sambal Kecombrang, dan Acar Sayur by Chef Ragil Imam Wibowo (beliau ini chef sekaligus entrepreneur lho, pernah mengisi acara kuliner di tv juga)
  4. Taiwanese Chewy Cookie dan Dried Plum Soda by Chuck (pembicara impor nih, demo masaknya disiarkan langsung dari Taiwan)
  5. Challah Bread by Chef Juni Napitupulu (kalau yang ini live dari Ausie, super semangat kalo nyimak penjelasan Chef Juni, detail bangettt dan sangat membantu bagi amatir baker seperti saya hehe)
  6. Peanut Butter Cake by Chef Beng Budiarso (Finalis Masterchef juga nih)
  7. Ifumie by Bu Sisca Soewitomo (legend-nya dunia masak di Indonesia nih, terkenal dengan jargonnya 'mudah, bukan?')
  8. Ayam Pop Corn Bawang Goreng by Chef Desi Trisnawati (winner of Masterchef season 2 uwaw kaan?)
  9. Mabo Nasu with Cheese Topping by Akari Papa (resep makanan Jepang, live dari Jepang, tentu rasanya otentik banget kan yaa)

Di saat live berlangsung, saya ikutan bertanya beberapa hal ke pembicara. Kebanyakan sih tentang pengganti untuk  bahan-bahan yang sekiranya bakal susah saya temui disini. Senang banget karena pertanyaan-pertanyaan itu dijawab dengan jelas dan memuaskan. Nah, seperti pada event demo masak oleh Cookpad yang biasanya, setelah sesi live kita bakal dapat PR untuk recook resep yang sudah didemokan. Totalnya ada 14 resep kan berarti. Nantinya, resep recook yang terpilih akan mendapatkan suvenir spesyel dari Cookpad. And I am really craving for it T^T

Namun ternyata ada aja halangan mencapai keinginan. Di hari Jumat saya flu berat. Tenggorokan sakit, badan nyeri semua. Mata panas, melek aja rasanya hampir ga sanggup. Gimana mau ke dapur coba. Belum belanja bahan-bahannya juga. Padahal weekend adalah waktu terbaik bagi saya untuk lama-lama di dapur karena kalau weekdays beneran full jadwalnya dari pagi sampai malam. Akhirnya Jumat belum belanja dan ternyata Sabtu malah makin menjadi-jadi flunya. Nah, ditambah lagi di hari minggu saya ada acara di luar rumah sejak pagi dan baru tiba kembali sekitar jam 7 malam. Duh, gimanalah mau masak banyak ini.

Weekend sudah berlalu, Senin datang, rasanya sudah hopeless mau ngikutin event Harcooknas. Baru di hari Rabu saya berhasil bikin 1 resep pertama: Ifumie. Itupun dengan bahan yang benar-benar seadanya di rumah, dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, yakni di jeda ishoma sebelum lanjut mengajar kelas sore. Sampai-sampai belum kelar memfoto hasilnya eh saya uda keburu jam masuk kelas. Ini baru tahap awal terasanya berjuang ya haha.

Meski dibuat dengan bahan yang terbatas dan dalam waktu yang terbatas pula, tapi saya senang sekali karena berhasil mempraktikkan resep dari Sang Legend Ibu Sisca. Saya ingat dulu saat kecil cukup sering menonton acara masak yang diisi beliau. Eh siapa sangka sekarang malah berkesempatan untu recook resepnya. 

Ohya, karena saya ingin sesuatu yang berbeda pada kreasi Ifumie ini, saya tambahkan devilled egg di atasnya. Devilled egg dibuat dengan mencampur kuning telur rebus bersama bumbu-bumbu, lalu memasukkan campuran itu kembali ke dalam putih telur. Gurih banget lho, saya yang biasanya nggak suka kuning telur aja jadi doyan.

Ifumie low budget topped with Devilled Egg hihi

 

Keesokan harinya, saya kembali berusaha menyempatkan waktu saat ishoma untuk masak lagi. 2 menu berikutnya yang saya buat adalah mabo nasu tofu dan chewy cookie. Uwah deg-degan mau bikin mabo nasu tofu-nya. Why? Karena ini pertama kalinya saya masak makanan Jepang ehehe. Sebelumnya, di hari Ahadnya saya sudah beli bumbu khas Jepang via e-commerce. Ada dashi (bubuk kaldu ikan), miso (pasta kedelai fermentasi), shoyu (semacap kecap asin tapi beda), dan mirin (aslinya ini bahan beralkohol, tapi ternyata ada versi halalnya, seneng bangettt). Nah bersyukur sekali bahan-bahan itu sudah tiba di rumah pada hari Selasa atau Rabu gitu. Jadi sudah siap dipakai di hari Kamis.

Bumbu ini dipakai dalam resep mabo nasu tofu dan sup ikan

 

Bahan mabo nasu tofu ini simpel kok. Perpaduan terong, tahu, bombay (saya ganti bawang merah sih karna nggak punya), dan saus campuran bumbu-bumbu Jepang tadi. Sebenarnya ada daging giling juga. Tapi di rumah nggak ada, dan saya belum punya cukup waktu untuk belanja ke kota. Resep ini dimasak dengan cara ditumis, tekstur akhirnya kental karena ada larutan maizena dalam sausnya. Lalu di atasnya diberi topping keju. Saya pakai mozarella hihi. Nggaya banget, beli di e-commerce juga, 100 gram doang karena mihill. Saat saus sudah ditambahkan, saya beneran ndredeg saat mau mencicipinya. Takut terlalu asing di lidah dan ntar malah nggak kemakan gimana. Tapiiii ternyata enaaaaak. Kata bapak, 'Makasih, Kak, uda ngenalin rasa baru, biar nggak kebiasanya lokal melulu.' hehe jadi terhura deh.

Gimana, terlihat enak akan? ;)

 

Next si chewy cookie. Ini betul-betul menerapkan asas memanfaatkan yang tersedia di rumah. Yang semestinya pakai marshmallow saya ganti dengan permen yupi :") semestinya pakai buah kering kan, tapi the only buah kering yang tersedia adalah keripik pisang. Yah secara teknis benar gitu kan? Pisang itu buah, keripik berarti diolah menjadi kering wkwk. Biskuitnya pun sisa dari pack yang didapat saat kondangan beberapa hari lalu. Etapiii ternyata hasilnya sesuai harapan lho :D

Dari apa adanya jadi istimewa~

 

Di titik setelah menghasilkan 3 resep itu, saya uda hampir stop nggak lanjut nyoba resep lainnya. Karena nggak ada lagi resep yang bisa dibuat dengan mengandalkan bahan di rumah. Apalagi uda tinggal 1 hari menuju deadline kan. Belum belanjanya juga, padahal saya ada kelas mengajar dan rapat sampai dhuhur. Saya nggak menyampaikan kebutuhan belanja untuk ikut event ini ke ibu. Dasarnya juga saya kurang berani mengungkapkan kalau punya keinginan. Termasuk dalam masak-masak ini. Saya khawatir dianggap boros dan buang-buang uang. Yah walaupun belanjanya tentu pakai uang saya sendiri sih. Tapi tetap aja mindset overthinking saya masih seperti itu.

Tapi kemudian di hari Kamis malam, saya iseng bilang ke ibu kalau besoknya pengen dianterin belanja. Ditanya buat apa, saya jelasin secara singkat event ini. Tak disangka, ternyata ibu mendukung penuh dong! Saya terharuuu. Karena selama ini saat saya coba resep-resep baru, ibu tidak banyak komen, baik positif maupun negatif. Jadi saya pikir ya beliau mendiamkan karena yang saya praktikkan masih batas wajar dan tidak membutuhkan terlalu banyak modal biaya. Sedangkan yang kali ini kan banyak ya resepnya, sekaligus dalam satu waktu. Jadinya saya kepikiran tentang boros itu tadi. Tapi ternyata beliau malah bilang, 'Gapapa kok, itu kan positif hobinya, biar hidupmu nggak monoton ngadep laptop terus setiap hari.' wkwk benar sih. Selama WFH ini memang saya full isinya online meeting terus, baik dengan siswa maupun untuk rapat guru.

Akhirnya ibu setuju untuk mengantar saya di Jumat siang. Sebelumnya saya merekap ulang bahan apa saja yang harus dibeli. Tujuan pertama adalah ke toko bahan kue. Tapi ada beberapa bahan yang kurang, jadi kami lanjutkan perjalanan belanja itu ke toserba. Nah yang bikin pusing adalah untuk mencari ayam dan ikan. Jam 2 siang, pasar jelas udah tutup kan. Alhamdulillah-nya ibu teringat ada tetangga beda RT yang jualan ayam. Dan pas banget orangnya masih ada stok ayam di rumah. Sangat tertolong :")

Untuk ikan, karena nggak dapat alternatif yang jualan, kami putuskan untuk menangkap 1 ekor lele dari kolam depan rumah. Padahal niatnya itu ikan untuk dipelihara eh malah dibunuh haha aduh maapin ya, Le. Ohya, pertolongan yang terasa juga adalah saat mencari limau kuit, daun jeruk, dan jeruk nipis. Di toko bahan kue maupun toserba kan nggak ada ya, jadi kami sempat bingung harus hunting kemana. MasyaAllah kami akhirnya tertolong lagi. Saat perjalanan pulang, kami lewat rumah tetangga (beda RT) yang ternyata punya pohon jeruknya, pas banget ngga siii T^T

Sip akhirnya semua bahan telah lengkap. Kami buru-buru pulang karena di jam 3 sore saya ada webinar wajib. 15 menit sebelum jam 3 kami tiba di rumah. Jadi pas jam 3 saya sudah ready untuk mendengarkan webinar sekaligus ready untuk mulai memasak. Yups, multitasking at the very best level :')

Ada 3 resep yang saya targetkan untuk selesai sore itu, yaitu challah bread, ayam pop corn, dan sup ikan (harusnya salmon diganti lele wkwk down grade). Saya mulai dengan menimbang bahan roti, mengulennya, dan proofing 20 menit. Nah saat proofing ini saya tinggal untuk memotong ayam serta melakukan marinasi. Pas mendiamkan marinasi ayam, saya kembali ke roti untuk mengepangnya. Lalu saya tinggal proofing dan kembali ke ayam. Lanjut membuat campuran tepung ayam, membalurinya, dan menggorengnya. Tak lupa saya siapkan juga bumbu taburan dan bawang gorengnya. Nah ayam pop corn pun akhirnya jadi. Saya tiriskan dahulu untuk mengurangi minyaknya.

Sambil menunggu roti proofing yang kedua dan ayam sukses tiris, saya mulai menyiapkan bumbu dan bahan sup ikan. Potong-potong sayur dan ikan, tumis bumbu, rebus air, masak semuanya bersama ikan, beres deh. Ohya, terima kasih untuk ayahanda yang sudah membantu menangkap ikannya sekaligus membersihkan jeroannya :* terima kasih juga buat ibu atas bantuannya menghaluskan bumbu serta beberapa langkah memasak lainnya :* it's soooo much helpful <3

Proses memasak sup ikan ini relatif cepat, karena pada dasarnya memang ikannya sangat cepat matang. Jadilah menu pertama sore itu. Saya pindahkan sup ke mangkuk saji, siap menunggu sesi foto cantik. Kemudian pas juga dengan si ayam selesai penirisan. Lalu saya lanjut dengan mencampurnya bersama bumbu taburan dan naik ke piring saji. Sip, 2 menu siap difoto cantik. Tapi sebelum foto, saya kembali mengecek ke roti yang sedang proofing. Ternyata sudah cukup, jadi dia siap naik ke pemanggangan. Yeay. Saya pasang timer agar tidak kelewatan dan terlupa saat ditinggal memfoto 2 menu lainnya. Akhirnya sekitar jam azan magrib berkumandang, 3 resep itu telah sukses difoto dengan indahnya :)

Ayamnya crispy sekaligus juicy banget, berpadu dengan bumbu taburan yang rame rasanya

Sup dengan citarasa unik nan gurih dan segar

Challah Bread si gembul empuk roti khasnya Yahudi wkwkw

 

Huah... 3 jam yang sungguh bikin encok pokoknya~

Apakah sudah selesai? Of course not, masih ada 3 menu lagi yang sudah masuk list rencana, yaitu peanut butter cake, es limau kuit, dan dried raisin soda (raisin buat gantiin plum ehehe). Saya menyadari kalau dalam membuat cake itu sangat challenging dan step-nya cukup panjang. Jadi saya nggak berani ambil risiko untuk bisa memasaknya bersamaan dengan menu yang lain. Kalau minuman kan relatif cepat ya, jadi nggak apa-apa dilakukan setelah cake hampir selesai.

Setelah sholat magrib kami menikmati makan malam dengan menu spesial hasil 3 jam berkutat di dapur tadi sore. Komentarnya? Positif semuaaa. Lahap habis itu sup ikan dan ayam pop corn-nya. Kalau roti sih masih disimpan untuk agak nanti, aman nggak harus langsung dihabiskan. Setelah beres makan malam dan sholat Isya, barulah saya kembali ke dapur.

Resep cake ini betul-betul challenging buat saya. Why? Karena saat demo kan dia ditujukan untuk dioven ya, sedangkan saya nggak punya oven. Untuk memanggang challah bread aja saya pake bulgogi griller. Itulah kenapa challah saya berukuran kecil, biar tetap bisa muat di dalam griller wkwk. Nah kalo untuk cake jelas nggak akan muat masuk itu loyangnya. Lantas solusinya adalah dikukus! Yups, saya nekat membuat resep dengan bahan yang seperti contoh, tapi dimasaknya dengan cara dikukus.

Si Imut Little Challah Bread dalam griller :3

Posisi pemanggangan dan ukuran apinya~

 

Tahap mixing adonan saya lakukan dengan sangat hati-hati. Begitu pula saat sampai tahap memasukkan tepung dan mencampurnya dengan aduk balik. Khawatir overmix dong yah. Alhamdulillah sampai saat bahan 3 masuk, semuanya masih terlihat baik-baik saja. Sambil menyiapkan adonan cake, saya panaskan kukusannya. Jadi ketika adonan siap, kukusan juga sudah siap untuk digunakan. Sambil menunggu pengukusan, saya buat campuran bahan 4 untuk hiasan cakenya nanti.

30 menit mengukus, cake akhirnya berhasil matang sepenuhnya. Awalnya saya set alarm untuk 15 menit, adonan sudah mulai naik tapi dalamnya masih lembek. Lalu saya tambah 5 menit secara bertahap sampai totalnya 30 menit itu. Begitu cake keluar dari kukusan, harus didinginkan dahulu sebelum dihias. Kalau memaksakan menghias saat panas, maka cream akan meleleh dan nggak bagus lagi. Demi menghemat waktu, cakenya saya letakkan di depan kipas angin :')

Nah sambil menunggu cakenya dingin, saya mulai menyiapkan bahan untuk minumannya. Cepet banget kalau ini sih. Sampai finish memfoto mungkin sekitar 15-20 menit. Tapi walaupun bikinnya super cepat, ternyata hasil dua-duanya sangat memuaskan lho. Segerrr banget. Bapak saya yang emang hobi banget minum es, langsung dengan suka rela menjadi pencicip pertama. And they're both approved kesegarannya hehe

Sempat dikira teh sama bapak, padahal warna coklatnya dari brown sugar :')

Perpaduan asam manis yang segerrr

 

Waktu sudah sekitar setengah sepuluh malam saat saya mulai menghias kue yang sudah dingin. Masalahnya, tahap ini yang bikin hati saya kembali ketar-ketir. Tangan saya ini sejak dulu nggak bersahabat dengan keterampilan yang membutuhkan estetika. Termasuk dalam menghias kue tentunya. Meski begitu, sudah kepalang tanggung untuk mundur. Saya beranikan untuk mendekorasi cakenya. Tahap ini sangat membuat hopeless lagi. Udah waktunya limited, alatnya limited, skill-nya limited juga. Dalam menghiasnya, saya nggak punya spuit yang unyu-unyu. Cuma bermodalkan plastik es batu yang ujungnya saya lubangi dengan  garpu biar hasil keluar creamnya bisa kriwil-kriwil. Maksud hati pengen dibuat kayak monster, tapi entahlah kok malah endingnya jadi tampak mirip kerupuk :'v

Awkakwkawk ini apaan woy

Sekitar jam 10 akhirnya kue siap untuk difoto. Entah apakah terlihat estetik atau engga. Tapi untuk rasa sama sekali nggak ada yang salah. Asli enak banget. Teksturnya moisttt. Rasa kacang dan coklatnya serasi dengan wangi butter cream. 'Wah uda kayak kue mahal beneran ini!' begitu komentar bapak ibu saya. Hehe senangnyaa

Kue monsternya mending di-zoom out aja, yekhan? ahaha

Setelah beres memfoto, masih ada step penting yaitu menulis dan posting resepnya. Duh ini juga time-consuming banget. Perlu memasukkan foto-fotonya juga. Tak lupa pula dengan caption dan hash tag yang sesuai. Entah secepat apa jari saya mengetik semuanya, yang pasti saya berkejaran dengan waktu.

Pada akhirnya, semua keriwehan itu sangat berkesan buat saya. Seumur hidup baru kali ini saya berhasil membuat 6 menu yang berbeda dalam sehari. Itu pun 3 dan 3 lainnya dilakukan dalam satu waktu. Untuk bisa melakukannya jelas dibutuhkan manajemen waktu yang tertata. Saya tidak mengatakan kalau sudah berhasil sempurna. Toh saya juga masih dibantu di beberapa step-nya. Tapi bagi saya, ini menjadi titik penting dalam proses belajar memasak. 

Saya ucapkan terima kasih untuk Cookpad yang telah memberikan kesempatan menjalankan tantangan Harcooknas ini. Sungguh saya bangga karena ternyata saya mampu melampaui batas diri sendiri. Tak lupa, happy anniversary juga saya sampaikan. Teriring doa semoga Cookpad dapat terus memberikan manfaat bagi banyak pejuang dapur di Indonesia maupun di seluruh dunia :)

Psst.. dear Cookpad bolehkah saya jujur? Saya pengen banget bisa dapat suvenirnya, pleasee

 

N211120W

14.46

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Day 25 Share 1 story about hikmah ramadan!

'Cinta terlarang' kami memang sudah semestinya berakhir, semoga selamanya~ Saya dan pusing adalah sepasang yang mulanya selalu bersama. Setiap hari setidaknya pasti ada satu momen dimana saya berjumpa dengannya. Pusing yang saya maksud adalah tipe yang rasanya muter sampai badan seperti mau ambruk. Ini terutama saya rasakan kalau berpindah posisi tubuh secara tiba-tiba. Misalnya dari rebahan langsung duduk atau dari duduk langsung berdiri. Perlu waktu beberapa detik penyesuaian sambil memejamkan mata dahulu agar berhasil stabil. Kalau dilihat dari tekanan darah sebenarnya memang konsisten cenderung lebih rendah daripada orang lain pada umumnya. Tapi setelah berkonsultasi dengan suster sekolah katanya itu bukan masalah, karena setiap orang punya kisaran normalnya sendiri. Dugaan lain yang menjadi penyebabnya adalah rendahnya kadar hemoglobin dalam darah saya. Iya yang ini cukup terbukti sih. Sudah pernah saya periksakan juga dan memang demikian hasilnya. Saat sedang dalam hari...

Saya dan Rasa Lain yang Lucu

 Rasanya belum lama sejak terakhir menulis tentang rasa suka yang lucu. Rasa. Suka. ... yang sekejap menjadi tidak lucu lagi. Barangkali mimpi itu hanya canda. Bunga tidur yang mengada-ada. Tapi bisa juga ia adalah pertanda. Bahwa yang dinanti tak kunjung tiba, sebenarnya memang sudah selesai tak bersisa. Senangnya, saya biasa saja. Ya! Ini adalah rasa yang lucu. Saya sendiri heran. Pernyataan-pernyataan dari seseorang berhasil membuat saya berpindah haluan. Yang dulu disimpan, kini betulan berhasil diikhlaskan. Saya tidak menyangka. Saya tersadar dibuatnya. Yang sebenarnya dipertahankan bukanlah murni rasa sayang pada orangnya. Namun lebih kepada momennya yang telah terjalin lama. Lalu selanjutnya apa? Tidak tahu juga. Setidaknya untuk saat ini belum ada rencana untuk mengapa-apakan kotak rasa saya.  .  . . Yang pasti saya ketahui saat ini, bubuk kopi darimu sudah tak tersisa untuk diseduh dan dinikmati lagi.   Y281121K -selalu ada yang lain

#Day 11 Imagine that you are giving a kultum, what will you tell?

  Wabah: Pengingat tentang Terbatasnya Waktu Kita   Pandemi! Itu adalah status COVID-19 saat ini. Pandemi menurut WHO dijelaskan sebagai wabah yang sifatnya menyebar global dan mendunia. Meski semula memang ditemukan di Cina, virus ini merebak hingga kini telah mencakup 199 negara (re: saat draft tulisan ini pertama saya buat). Pelan tapi pasti, satu persatu aspek kehidupan kita terpengaruh oleh makhluk kecil tak kasat mata tapi nyata ini. Aspek kesehatan? Tentu signifikan sekali. Aspek ekonomi? Perlahan terguncang terganggu keseimbangannya. Aspek sosial? Manusia dipaksa berjauhan secara fisik, social distancing istilahnya. Masih banyak yang harus dirinci bila ingin mendeskripsikan betapa dahsyat dampak yang virus ini berikan. Namun bagaimanapun, setiap yang telah ditakdirkan oleh-Nya tentu membawa hikmah tersendiri bagi orang orang yang mau bertafakur dan merenungi sisi positif dengan bijaksana. Walau mungkin saat ini dunia sedang berduka, mari kita tilik sisi...