Langsung ke konten utama

Surat Cinta buat Inspirasi Saya

Hari ini berseliweran post tentang perayaan hari guru. Pun tadi pagi para siswi mengadakan acara peringatan dan memberikan persembahan untuk guru yang memancing rasa haru. Pandangan saya tentang guru? Singkatnya mereka adalah inspirasi. Dan sekarang, saya persembahkan tulisan ini untuk seseorang yang saya anggap cocok dengan definisi guru itu, meski sebetulnya ia adalah siswi saya sendiri.

Saya mengenal seorang siswi yang sangat multitalenta. Bahkan boleh dibilang ia … sempurna? Rasa-rasanya sulit untuk menemukan apa yang ia tak bisa. Mengikuti pelajaran? Hampir selalu tanpa kesulitan. Mengerjakan tugas? Tak hanya tepat waktu namun juga penuh totalitas. Menggambar dan membuat aneka karya visual? Selalu maksimal. Berkarya mencipta puisi? Sungguh jago sekali. Ibadah? Tak hanya yang wajib tapi juga dihias dengan yang sunnah. Menghafal Al Quran? Sudah bukan level hanya juz 30 lagi. Akhlak sehari-hari? Ramah dan menyejukkan sebagai pribadi. Tutur kata? Santun, sopan, dan penuh tata krama. Pergaulan dengan teman? Bisa membaur dan pandai membuat suasana menyenangkan. Sikap dalam bekerja sama? Tepat menempatkan diri dan dapat diandalkan. Ah sungguh rasanya sulit menemukan apa yang kurang darinya.

Saya selalu kagum saat ia berhasil mencapai suatu prestasi. Tak hanya yang ditandai dengan trofi atau medali, tapi juga saat mengamati dirinya dalam bersikap sehari-hari. Sungguh rasanya tak berlebihan kalau saya mengaku terinspirasi. Semuda itu telah bisa menjadi sosok yang hidupnya seimbang dan bisa terus fokus untuk bertumbuh dalam kebaikan. Bukankah memang begini semestinya seorang manusia menjalankan hari-harinya?

Namun dari seluruh kesempurnaannya itu, muncul sebuah tanya dalam diri saya: bagaimana selama ini orangtuanya mendidiknya? Bila yang tumbuh adalah anak yang secemerlang itu, tentu tak mungkin bila proses mendidiknya tidak bermutu.

 Sebetulnya bukan kali ini saja saya merasa hal yang serupa saat melihat seseorang yang begitu memukau dalam kehidupannya. Saya selalu penasaran tentang bagaimana ia didampingi dan dibesarkan. Ini tak lain adalah karena saya ingin menerapkan cara-caranya pada anak saya kelak. Siapa yang tak ingin punya putra-putri yang membanggakan dan berkepribadian menyenangkan, iya kan?

Hal ini pula yang menjadi salah satu penguat saya untuk memutuskan terus berlanjut di dunia pendidikan. Saya jadi mendapat banyak referensi tentang bagaimana mendidik seorang anak. Saya mendapat beragam gambaran atas sebab akibat yang terjadi dalam sebuah keluarga dalam membesarkan putra-putri mereka. Tak hanya saat melihat anak-anak yang cemerlang, yang kadang agak bermasalah pun nyatanya dapat memberikan saya pelajaran.

~

Teruntuk inspirasi saya, Nara Tazkia, bila suatu saat nanti kamu berkesempatan membaca tulisan ini, percayalah bahwa sebetulnya justru sayalah yang banyak belajar dari kamu, bukan sebaliknya. Doa terbaik saya kirimkan untukmu. Semoga kamu dapat senantiasa diberi kemudahan dan kekuatan dalam meraih cita. Semoga senantiasa dapat istiqomah menjadi sholihah, menjadi seseorang yang membanggakan bagi keluarga dan orang-orang yang mencintaimu. Semoga ilmu yang kamu dapatkan bisa selalu membawa keberkahan baik bagi dirimu sendiri maupun sesiapa di sekitarmu. Teruslah berbagi seluruh kebaikan yang kamu punya, teruslah bersinar, teruslah menebar manfaat di sepanjang hidupmu.

 

N251120W           

Dari seorang guru yang harus terus berguru

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Day 25 Share 1 story about hikmah ramadan!

'Cinta terlarang' kami memang sudah semestinya berakhir, semoga selamanya~ Saya dan pusing adalah sepasang yang mulanya selalu bersama. Setiap hari setidaknya pasti ada satu momen dimana saya berjumpa dengannya. Pusing yang saya maksud adalah tipe yang rasanya muter sampai badan seperti mau ambruk. Ini terutama saya rasakan kalau berpindah posisi tubuh secara tiba-tiba. Misalnya dari rebahan langsung duduk atau dari duduk langsung berdiri. Perlu waktu beberapa detik penyesuaian sambil memejamkan mata dahulu agar berhasil stabil. Kalau dilihat dari tekanan darah sebenarnya memang konsisten cenderung lebih rendah daripada orang lain pada umumnya. Tapi setelah berkonsultasi dengan suster sekolah katanya itu bukan masalah, karena setiap orang punya kisaran normalnya sendiri. Dugaan lain yang menjadi penyebabnya adalah rendahnya kadar hemoglobin dalam darah saya. Iya yang ini cukup terbukti sih. Sudah pernah saya periksakan juga dan memang demikian hasilnya. Saat sedang dalam hari...

Saya dan Rasa Lain yang Lucu

 Rasanya belum lama sejak terakhir menulis tentang rasa suka yang lucu. Rasa. Suka. ... yang sekejap menjadi tidak lucu lagi. Barangkali mimpi itu hanya canda. Bunga tidur yang mengada-ada. Tapi bisa juga ia adalah pertanda. Bahwa yang dinanti tak kunjung tiba, sebenarnya memang sudah selesai tak bersisa. Senangnya, saya biasa saja. Ya! Ini adalah rasa yang lucu. Saya sendiri heran. Pernyataan-pernyataan dari seseorang berhasil membuat saya berpindah haluan. Yang dulu disimpan, kini betulan berhasil diikhlaskan. Saya tidak menyangka. Saya tersadar dibuatnya. Yang sebenarnya dipertahankan bukanlah murni rasa sayang pada orangnya. Namun lebih kepada momennya yang telah terjalin lama. Lalu selanjutnya apa? Tidak tahu juga. Setidaknya untuk saat ini belum ada rencana untuk mengapa-apakan kotak rasa saya.  .  . . Yang pasti saya ketahui saat ini, bubuk kopi darimu sudah tak tersisa untuk diseduh dan dinikmati lagi.   Y281121K -selalu ada yang lain

#Day 11 Imagine that you are giving a kultum, what will you tell?

  Wabah: Pengingat tentang Terbatasnya Waktu Kita   Pandemi! Itu adalah status COVID-19 saat ini. Pandemi menurut WHO dijelaskan sebagai wabah yang sifatnya menyebar global dan mendunia. Meski semula memang ditemukan di Cina, virus ini merebak hingga kini telah mencakup 199 negara (re: saat draft tulisan ini pertama saya buat). Pelan tapi pasti, satu persatu aspek kehidupan kita terpengaruh oleh makhluk kecil tak kasat mata tapi nyata ini. Aspek kesehatan? Tentu signifikan sekali. Aspek ekonomi? Perlahan terguncang terganggu keseimbangannya. Aspek sosial? Manusia dipaksa berjauhan secara fisik, social distancing istilahnya. Masih banyak yang harus dirinci bila ingin mendeskripsikan betapa dahsyat dampak yang virus ini berikan. Namun bagaimanapun, setiap yang telah ditakdirkan oleh-Nya tentu membawa hikmah tersendiri bagi orang orang yang mau bertafakur dan merenungi sisi positif dengan bijaksana. Walau mungkin saat ini dunia sedang berduka, mari kita tilik sisi...