Langsung ke konten utama

Tentang Rasa Syukur yang Tak Boleh Ditunda Pengungkapannya

Peringatan hari guru ini memang cukup ampuh membuat saya terpancing secara emosional. Rasanya ingin banyak-banyak menulis beragam hal yang berkaitan dengan guru dan dunianya. Tentang guru, memang telah memberi banyak arti dalam hidup saya. Tak hanya karena lingkup keluarga saya memang didominasi dengan kerabat yang berkarir sebagai guru, namun peran dan arti guru itu sendiri memang telah menempati posisi spesial dalam hati saya. Bahkan sejak kecil itulah yang menjadi cita tanpa pernah tergantikan oleh impian lainnya.

Saya sungguh bersyukur ketika sekarang ini mendapat kesempatan menjadi seorang guru. Saya menikmati saat harus menghabiskan bermalam-malam demi mempersiapkan apa yang akan dihantar pada satu pagi saat pembelajaran. Mencari-cari referensi, mengemasnya agar lebih mudah dicerna, membentuknya menjadi sesuatu yang utuh hingga bisa memberikan makna.

Saya sangat menikmati momen bertemu para siswa, meskipun kini harus difasilitasi dunia maya. Rasanya ada sumber energi misterius saat mulai berjumpa dengan mereka. Padahal, umumnya saya tak begitu nyaman saat harus berinteraksi dengan orang banyak. Tapi saat di kelas, itu semua terasa berbeda. Entahlah bagaimana, saya tak punya cukup kata untuk mendeskripsikannya.

Saya menikmati ketika berulang kali harus mengecek tugas-tugas yang telah dikumpulkan. Memberikan timbal balik yang meski mungkin tidak sepadan dengan kerja keras mereka, tapi percayalah itu semua saya sampaikan benar-benar tak hanya oleh jari, tapi juga dari hati.

Saya menikmati interaksi saat ada yang bertanya tentang apa yang kurang dimengerti oleh mereka. Meski kadang pertanyaan itu membuat dahi berkerut, tapi saya salut atas pemikiran di luar nalar tersebut.

Saya menikmati masa saat harus mengulang beberapa penjelasan. Berusaha menyampaikannya dengan bahasa paling mudah diterima, berharap pengulangan itu ada hasilnya. Bahkan meski perlu berkali-kalipun, selama masih ada waktu, kesempatan, dan dapat diperhatikan dengan kadar yang cukup, maka saya upayakan untuk bisa bersedia melakukannya.

Saya menikmati ketika ada yang mengutarakan kesulitannya dan mengomunikasikan kendalanya. Bagaimanapun, guru bukanlah cenayang, kan? Tak akan sanggup membaca pikiran. Akan selalu lebih baik bila ganjalan hati mereka disampaikan dengan benderang. Perlu bantuan dalam mengerjakan tugas? Perlu dijelaskan kembali tentang suatu materi? Perlu diberi kelonggaran waktu? Saya akan amat senang bila kebutuhan-kebutuhan itu diungkapkan.

Saya menikmati saat harus membantu persiapan mereka sebelum ujian. Ada permintaan pelajaran tambahan? Selama mampu saya jadwalkan, maka akan saya iyakan. Saat usai ujian dan mereka puas dengan hasil yang didapatkan, disitu rasa seluruh lelah seketika terbayarkan. Terlebih bila mereka mengaku puas tak hanya ketika melihat jajaran nilai angka dalam laporan, tapi juga merasa memperoleh makna dari yang telah diajarkan.

Saya dengan sadar mengaku belum pantas menyebut diri telah sepenuhnya menjadi sebaik-baiknya guru. Toh saya juga baru amat sebentar terlibat dalam dunia ini, itupun masih sebagai pengganti. Tapi dalam sedikitnya porsi peran saya ini, nyatanya telah banyak hal menakjubkan yang dapat saya temukan. Nah, bagaimana bila nanti saat telah tenggelam sepenuhnya? Tentu akan lebih berwarna, bukan? Namun ketika bicara tentang warna, tak melulu apa-apa yang tampak cerah membunga. Bisa saja muncul kelabu. Maka tentang warna dalam dunia guru tentu juga bisa saja begitu.

Apa yang saya rasakan sekarang ini tentu sangat bisa berubah bila suatu saat keadaannya berubah. Tapi bukankah tidak ada kata terlalu dini untuk diri memanjatkan syukur? Enjoy while it lasts. Saya percaya, bahwa bila sebuah nikmat sekecil apapun segera disyukuri, maka itu akan mengundang lebih banyak nikmat lainnya. Oleh karena itu, rasanya tak pantas bila saya menunda ungkapan syukur atas hal-hal indah yang saya terima selama menjalankan peran menjadi guru kali ini.

Tentang kesempatan yang saya dapatkan sekarang, tentu tak lepas dari peran para guru termulia saya yang senantiasa sabar mendidik dan menyampaikan beragam ilmu. Tanpa mereka, tentulah saya tak akan bisa sampai pada titik dimana kini saya berada. Dari mereka, saya terus belajar banyak hal, mendapatkan inspirasi, mendulang hikmah, dan berlatih konsisten memperbaiki diri.

Di posisi sekarang ini, saya jadi mulai mengerti bagaimana sesungguhnya perjuangan seorang guru demi murid-muridnya. Meski saat bertatap muka mereka tampak berseri-seri, tentu sebetulnya ada aneka rasa yang berbeda tapi harus tetap disimpan rapi dalam hati. Pun seorang guru harus berani lelah, berani terus belajar sepanjang hidupnya, berani berusaha memberikan apa yang terbaik dari dirinya.

Entah kemana tulisan ini akan bermuara, mungkin akan membingungkan bagi pembaca. Yah, memang pada dasarnya saya hanya menuangkan apa yang penuh dalam pikiran. Tentang terima kasih. Tentang rasa syukur. Tentang betapa saya bahagia karena berkesempatan mengenal guru-guru inspiratif di sekitar saya.

N251120W

Seorang yang belajar bersyukur dengan perannya sebagai guru

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Day 25 Share 1 story about hikmah ramadan!

'Cinta terlarang' kami memang sudah semestinya berakhir, semoga selamanya~ Saya dan pusing adalah sepasang yang mulanya selalu bersama. Setiap hari setidaknya pasti ada satu momen dimana saya berjumpa dengannya. Pusing yang saya maksud adalah tipe yang rasanya muter sampai badan seperti mau ambruk. Ini terutama saya rasakan kalau berpindah posisi tubuh secara tiba-tiba. Misalnya dari rebahan langsung duduk atau dari duduk langsung berdiri. Perlu waktu beberapa detik penyesuaian sambil memejamkan mata dahulu agar berhasil stabil. Kalau dilihat dari tekanan darah sebenarnya memang konsisten cenderung lebih rendah daripada orang lain pada umumnya. Tapi setelah berkonsultasi dengan suster sekolah katanya itu bukan masalah, karena setiap orang punya kisaran normalnya sendiri. Dugaan lain yang menjadi penyebabnya adalah rendahnya kadar hemoglobin dalam darah saya. Iya yang ini cukup terbukti sih. Sudah pernah saya periksakan juga dan memang demikian hasilnya. Saat sedang dalam hari...

Saya dan Rasa Lain yang Lucu

 Rasanya belum lama sejak terakhir menulis tentang rasa suka yang lucu. Rasa. Suka. ... yang sekejap menjadi tidak lucu lagi. Barangkali mimpi itu hanya canda. Bunga tidur yang mengada-ada. Tapi bisa juga ia adalah pertanda. Bahwa yang dinanti tak kunjung tiba, sebenarnya memang sudah selesai tak bersisa. Senangnya, saya biasa saja. Ya! Ini adalah rasa yang lucu. Saya sendiri heran. Pernyataan-pernyataan dari seseorang berhasil membuat saya berpindah haluan. Yang dulu disimpan, kini betulan berhasil diikhlaskan. Saya tidak menyangka. Saya tersadar dibuatnya. Yang sebenarnya dipertahankan bukanlah murni rasa sayang pada orangnya. Namun lebih kepada momennya yang telah terjalin lama. Lalu selanjutnya apa? Tidak tahu juga. Setidaknya untuk saat ini belum ada rencana untuk mengapa-apakan kotak rasa saya.  .  . . Yang pasti saya ketahui saat ini, bubuk kopi darimu sudah tak tersisa untuk diseduh dan dinikmati lagi.   Y281121K -selalu ada yang lain

#Day 11 Imagine that you are giving a kultum, what will you tell?

  Wabah: Pengingat tentang Terbatasnya Waktu Kita   Pandemi! Itu adalah status COVID-19 saat ini. Pandemi menurut WHO dijelaskan sebagai wabah yang sifatnya menyebar global dan mendunia. Meski semula memang ditemukan di Cina, virus ini merebak hingga kini telah mencakup 199 negara (re: saat draft tulisan ini pertama saya buat). Pelan tapi pasti, satu persatu aspek kehidupan kita terpengaruh oleh makhluk kecil tak kasat mata tapi nyata ini. Aspek kesehatan? Tentu signifikan sekali. Aspek ekonomi? Perlahan terguncang terganggu keseimbangannya. Aspek sosial? Manusia dipaksa berjauhan secara fisik, social distancing istilahnya. Masih banyak yang harus dirinci bila ingin mendeskripsikan betapa dahsyat dampak yang virus ini berikan. Namun bagaimanapun, setiap yang telah ditakdirkan oleh-Nya tentu membawa hikmah tersendiri bagi orang orang yang mau bertafakur dan merenungi sisi positif dengan bijaksana. Walau mungkin saat ini dunia sedang berduka, mari kita tilik sisi...