Katanya, pengalaman adalah guru terbaik, ya?
Yang namanya guru, tentu salah satu tugasnya adalah menyampaikan pelajaran. Dan seperti pada kelas umumnya, tidak semua siswa mau menyimak ilmu yang diberikan, begitu pulalah yang berlaku dalam ajaran pengalaman.
Bicara pengalaman, saya pernah diajari olehnya tentang bagaimana sebaiknya memisahkan urusan hati dan perjuangan meraih prestasi.
Cerita ini terjadi sekitar 8 tahun lalu. Kala itu saya mengikuti pelatihan intensif persiapan olimpiade selama 3 pekan. Sejak sebelum berangkat, saya sudah deg degan tentang banyak hal. Salah satunya adalah karena di kegiatan itu saya akan bertemu dia! Orang yang selama setahun lebih hanya saya kenal lewat chatting saja. Dia adalah siswa yang cerdas. Dan dengan sebab itu saya kagum. Yakin hanya kagum? Entahlah. Tapi memang mulanya begitu.
Sebelum berangkat, kami sudah janjian untuk bertemu sebentar. Meminjamkan buku, modusnya saya. Terdengar mudah kan? Toh kami akan bertemu setiap hari sebagai teman kelas selama kegiatan itu. Sayangnya, ternyata tidak segampang teori. Kenapa? Karena walaupun di dunia maya kami bisa berbincang betah sekali, untuk ngobrol di dunia nyata kami sama-sama tak ada nyali. Payah memang.
Setiap hari pun, saya yang semestinya fokus pada materi yang disampaikan, malah terpecah memikirkan tentang dia dan misi yang tak kunjung terlaksana. Di kelas, kadang tutor meminta siswa untuk satu persatu menjelaskan di depan. Hingga tiba saya ditunjuk. Saya beku di tempat. Terlalu grogi, takut, malu. Karena apa? Ya karena ada orang itu lah.
Hari lain, kegiatannya diskusi kelompok untuk menyelesaikan soal. Satu grup berisi 4 orang. Saya bersama 3 teman perempuan yang lain. Awalnya cukup lancar, sampai akhirnya di sebuah soal kami berempat tidak ada ide bagaimana menyelesaikannya. Salah satu teman berinisiatif meminta bantuan teman lain. Dan yang dia panggil? Orang itu. Dia mendekat ke meja kami, berusaha menjelaskan. Saya? Mana berani ikut ngomong atau bertanya. Yang ada mungkin wajah saya merah sambil berusaha menahan agar detak jantung kembali normal.
Ya, sepanjang kegiatan itu saya gagal fokus. Saya akui, saya tidak profesional. Menyesal? Lumayan. Apalagi setelahnya saya tidak berhasil menjadi yang terpilih untuk mewakili sekolah.
Lalu bagaimana nasib buku yang menjadi sarana kami bertemu? Ohiya, di hari jelang akhir kegiatan, kami bertemu di tangga tengah. Sama sekali tidak lama. Tapi buat saya itu sudah luar biasa. Haha.
Hmm rasanya tak elok juga kalau saya sebut sepenuhnya menyesal. Nyatanya saya merasa senang punya kesempatan bertemu orang itu. Tapi yang pasti saya bisa pelajari adalah, amat perlu memisahkan urusan hati dengan upaya mengejar prestasi. Mungkin tidak semua orang berpandangan seperti ini. Ada juga yang bisa jalan dua-duanya. Prestasi oke, romansa pun berlanjut. Beruntung sih. Saya masih perlu banyak latihan untuk bisa begitu. Lah emangnya sedang punya objek romansanya? Nggak sih. Yasudahlah kejar prestasi aja dulu.
Y180421K
Tuhkan, sulitnyaa disiplin diri.
*Undangan iftar mulai sambung menyambung🌝
Komentar
Posting Komentar