Langsung ke konten utama

#Day 4 Important Messages from My Past Experience

Katanya, pengalaman adalah guru terbaik, ya?
Yang namanya guru, tentu salah satu tugasnya adalah menyampaikan pelajaran. Dan seperti pada kelas umumnya, tidak semua siswa mau menyimak ilmu yang diberikan, begitu pulalah yang berlaku dalam ajaran pengalaman.
 

Bicara pengalaman, saya pernah diajari olehnya tentang bagaimana sebaiknya memisahkan urusan hati dan perjuangan meraih prestasi.
 

Cerita ini terjadi sekitar 8 tahun lalu. Kala itu saya mengikuti pelatihan intensif persiapan olimpiade selama 3 pekan. Sejak sebelum berangkat, saya sudah deg degan tentang banyak hal. Salah satunya adalah karena di kegiatan itu saya akan bertemu dia! Orang yang selama setahun lebih hanya saya kenal lewat chatting saja. Dia adalah siswa yang cerdas. Dan dengan sebab itu saya kagum. Yakin hanya kagum? Entahlah. Tapi memang mulanya begitu.
 

Sebelum berangkat, kami sudah janjian untuk bertemu sebentar. Meminjamkan buku, modusnya saya. Terdengar mudah kan? Toh kami akan bertemu setiap hari sebagai teman kelas selama kegiatan itu. Sayangnya, ternyata tidak segampang teori. Kenapa? Karena walaupun di dunia maya kami bisa berbincang betah sekali, untuk ngobrol di dunia nyata kami sama-sama tak ada nyali. Payah memang. 

Setiap hari pun, saya yang semestinya fokus pada materi yang disampaikan, malah terpecah memikirkan tentang dia dan misi yang tak kunjung terlaksana. Di kelas, kadang tutor meminta siswa untuk satu persatu menjelaskan di depan. Hingga tiba saya ditunjuk. Saya beku di tempat. Terlalu grogi, takut, malu. Karena apa? Ya karena ada orang itu lah.
 

Hari lain, kegiatannya diskusi kelompok untuk menyelesaikan soal. Satu grup berisi 4 orang. Saya bersama 3 teman perempuan yang lain. Awalnya cukup lancar, sampai akhirnya di sebuah soal kami berempat tidak ada ide bagaimana menyelesaikannya. Salah satu teman berinisiatif meminta bantuan teman lain. Dan yang dia panggil? Orang itu. Dia mendekat ke meja kami, berusaha menjelaskan. Saya? Mana berani ikut ngomong atau bertanya. Yang ada mungkin wajah saya merah sambil berusaha menahan agar detak jantung kembali normal.
 

Ya, sepanjang kegiatan itu saya gagal fokus. Saya akui, saya tidak profesional. Menyesal? Lumayan. Apalagi setelahnya saya tidak berhasil menjadi yang terpilih untuk mewakili sekolah.
Lalu bagaimana nasib buku yang menjadi sarana kami bertemu? Ohiya, di hari jelang akhir kegiatan, kami bertemu di tangga tengah. Sama sekali tidak lama. Tapi buat saya itu sudah luar biasa. Haha.
 

Hmm rasanya tak elok juga kalau saya sebut sepenuhnya menyesal. Nyatanya saya merasa senang punya kesempatan bertemu orang itu. Tapi yang pasti saya bisa pelajari adalah, amat perlu memisahkan urusan hati dengan upaya mengejar prestasi. Mungkin tidak semua orang berpandangan seperti ini. Ada juga yang bisa jalan dua-duanya. Prestasi oke, romansa pun berlanjut. Beruntung sih. Saya masih perlu banyak latihan untuk bisa begitu. Lah emangnya sedang punya objek romansanya? Nggak sih. Yasudahlah kejar prestasi aja dulu.

Y180421K
Tuhkan, sulitnyaa disiplin diri.
*Undangan iftar mulai sambung menyambung🌝

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Day 25 Share 1 story about hikmah ramadan!

'Cinta terlarang' kami memang sudah semestinya berakhir, semoga selamanya~ Saya dan pusing adalah sepasang yang mulanya selalu bersama. Setiap hari setidaknya pasti ada satu momen dimana saya berjumpa dengannya. Pusing yang saya maksud adalah tipe yang rasanya muter sampai badan seperti mau ambruk. Ini terutama saya rasakan kalau berpindah posisi tubuh secara tiba-tiba. Misalnya dari rebahan langsung duduk atau dari duduk langsung berdiri. Perlu waktu beberapa detik penyesuaian sambil memejamkan mata dahulu agar berhasil stabil. Kalau dilihat dari tekanan darah sebenarnya memang konsisten cenderung lebih rendah daripada orang lain pada umumnya. Tapi setelah berkonsultasi dengan suster sekolah katanya itu bukan masalah, karena setiap orang punya kisaran normalnya sendiri. Dugaan lain yang menjadi penyebabnya adalah rendahnya kadar hemoglobin dalam darah saya. Iya yang ini cukup terbukti sih. Sudah pernah saya periksakan juga dan memang demikian hasilnya. Saat sedang dalam hari...

Saya dan Rasa Lain yang Lucu

 Rasanya belum lama sejak terakhir menulis tentang rasa suka yang lucu. Rasa. Suka. ... yang sekejap menjadi tidak lucu lagi. Barangkali mimpi itu hanya canda. Bunga tidur yang mengada-ada. Tapi bisa juga ia adalah pertanda. Bahwa yang dinanti tak kunjung tiba, sebenarnya memang sudah selesai tak bersisa. Senangnya, saya biasa saja. Ya! Ini adalah rasa yang lucu. Saya sendiri heran. Pernyataan-pernyataan dari seseorang berhasil membuat saya berpindah haluan. Yang dulu disimpan, kini betulan berhasil diikhlaskan. Saya tidak menyangka. Saya tersadar dibuatnya. Yang sebenarnya dipertahankan bukanlah murni rasa sayang pada orangnya. Namun lebih kepada momennya yang telah terjalin lama. Lalu selanjutnya apa? Tidak tahu juga. Setidaknya untuk saat ini belum ada rencana untuk mengapa-apakan kotak rasa saya.  .  . . Yang pasti saya ketahui saat ini, bubuk kopi darimu sudah tak tersisa untuk diseduh dan dinikmati lagi.   Y281121K -selalu ada yang lain

#Day 11 Imagine that you are giving a kultum, what will you tell?

  Wabah: Pengingat tentang Terbatasnya Waktu Kita   Pandemi! Itu adalah status COVID-19 saat ini. Pandemi menurut WHO dijelaskan sebagai wabah yang sifatnya menyebar global dan mendunia. Meski semula memang ditemukan di Cina, virus ini merebak hingga kini telah mencakup 199 negara (re: saat draft tulisan ini pertama saya buat). Pelan tapi pasti, satu persatu aspek kehidupan kita terpengaruh oleh makhluk kecil tak kasat mata tapi nyata ini. Aspek kesehatan? Tentu signifikan sekali. Aspek ekonomi? Perlahan terguncang terganggu keseimbangannya. Aspek sosial? Manusia dipaksa berjauhan secara fisik, social distancing istilahnya. Masih banyak yang harus dirinci bila ingin mendeskripsikan betapa dahsyat dampak yang virus ini berikan. Namun bagaimanapun, setiap yang telah ditakdirkan oleh-Nya tentu membawa hikmah tersendiri bagi orang orang yang mau bertafakur dan merenungi sisi positif dengan bijaksana. Walau mungkin saat ini dunia sedang berduka, mari kita tilik sisi...