Tiket bus?
Iya. Tiket ini saya foto saat sedang dalam perjalanan mudik. Hari itu sedang ramadan juga. Saya memutuskan pulang pada sore langsung setelah sidang skripsi. Uwu sebuah kado terindah deh.
Saya selesai sidang sekitar pukul 11.00. Seperti pada umumnya, teman-teman ikut meramaikan dong, dan banyak juga yang memberi kado. Nah padahal saya sudah berencana akan pulang setelah urusan kampus selesai, langsung ke terminal tanpa balik ke asrama dulu. Saya sudah sekalian membawa barang yang akan ikut mudik. Tidak banyak sih, bahkan bisa dibilang saya tidak bawa apa-apa selain masker, hp, dompet, laptop (karena dipakai sidang kan), dan pakaian yang menempel di badan. Iya saya pulang pakai seragam hitam putih khas sidang. Oh bawa outer juga sih, saya pakai agar tidak terlalu mencolok penampilannya kayak anak magang wkwk. Tapi intinya saya berusaha membawa barang seminimal mungkin. Lalu bagaimana dengan kado yang saya dapat? Ini membuat bingung.
Kalau saya harus balik ke asrama, jaraknya 1 jam perjalanan. Lalu harus 1.5 jam lagi untuk menuju ke terminalnya. Padahal saat itu saya baru bisa beranjak sekitar waktu asar. Akhirnya saya menitipkan sebagian kado itu ke kosan teman dekat saya. Bersyukur sekali dia bersedia. Huhu makasih banyak, Nad.
Setelah memilah barang mana yang akan ditinggal, sholat asar, dan menumpang mandi, saya berpamitan. Perjalanan saya lanjutkan ke terminal sekitar jam 4 sore. Diri rasanya sudah kering kemarau kehausan. Alhamdulillah bisnya cepat datang dan segera berangkat. Penumpangnya tidak penuh. Memang saat itu belum terlalu mepet dengan jadwal dimulainya cuti lebaran.
Dalam perjalanan, saya merenungkan yang terjadi pada hari itu. Betapa saya bersyukur akhirnya bisa melewati satu lagi titik mendebarkan dalam hidup. Kala itu, saya tidak memikirkan lagi akan seperti apa prosesnya dan nilai apa yang akan saya dapatkan. Saya hanya berpikir, 'Pokoknya sebelum mudik harus sudah sidang, entah gimana caranya.' Sungguh nekat sih menurut saya. Dan betul, saya dibantai oleh penguji. Banyak sekali yang harus direvisi. Pun ada kesalahan yang sifatnya fatal sampai mengubah simpulan wkwk. Tapi ya sudahlah, sepahit-pahitnya hari itu, saya sudah mendapat obatnya: pulang.
Tiket dalam foto itu menjadi saksi perjalanan pulang yang telah saya nantikan selama rentang waktu mengerjakan skripsi. Perjalanan teriring sore yang perlahan beranjak berganti senja yang memekat. Hingga terdengar azan magrib dan tiba waktu berbuka. Saya membatalkan puasa dengan air minum dan gethuk goreng pemberian teman saat setelah sidang tadi. Sebuah sore yang sederhana tapi cukup berkesan.
Hari ini, belum sampai 1 tahun setelah foto itu diambil. Keadaan saya sudah jauh berbeda. Tapi yang pasti, sejauh saya pergi di dunia ini, tempat terbaik untuk kembali adalah rumah. Kalau sudah begitu, maka anjuran #dirumahaja bagi saya bukan masalah. Hehe ._.v
N150520W
23.57
Jincha pedas dan ayam geprek jelang tengah malam
#Post_itivity

Komentar
Posting Komentar