Sesi Tanya Jawab
Bayangkan
raja memberi kita 24 keping emas dan dengan itu kita boleh
menghabiskannya untuk bersenang senang atau berinvestasi. Buknkah merugi
kalau hanya dihabiskan dan tidak ada yang disisihkan untuk tabungan?
Itu adalah analogi 24 jam dalam sehari milik kita.
Ingat pula bahwa hidup ini sangat pendek. Tidak ada garansi untuk besok. Kalau kita tahu bahwa besok akan mati, pasti akan bisa fokus berbuat baik, ibadah, menghindari konflik, dan menjaga kedamaian.
Dalam mengabdi di jalan Allah, kita masih bisa kok melakukan hal-hal fun dan tetap dalam konteks halal. Misalnya kita bisa jalan-jalan sambil melakukan parents visit, BBQ Party di akhir pekan untuk menemani anak asrama yang tidak pulang, mendengar musik saat menyaksikan penampilan siswa, bahkan berpesta misalnya dalam merayakan Last Night siswa tingkat akhir. Akan ada konteks yang mengizinkan kita menjalani itu dengan tetap sambil mengabdi. Kalau dengan yang halal aja cukup, kenapa harus melipir ke yang haram dan dosa?
Saat punya waktu luang? Bacalah buku sampai capek. Kalau capek, ganti, mendengar, capek, menonton, capek, bergerak atau olahraga, capek, ngobrol dan diskusi hal berguna. Dengan begitu kita akan secara otomatis tersibukkan oleh hal positif.
Lalu jawaban atas pertanyaan itu ada pada hadits Rasulullah, salah satu keindahan orang muslim adalah bahwa mereka tidak menyiakan waktu.
Dalam mengemban amanah di sekolah, kita diberi ladang untuk berkegiatan yang bermanfaat. Semoga kita bisa memaksimalkan pemberdayaan ladang ini.
Aamiin
2. Bagaimana menumbuhkan jiwa rela berkorban baik materi maupun nonmateri dalam diri kita?
Mula mula, ingat kondisi banyak orang di luar sana. Saat sekarang disini kota sedang enak hidupnya, nyaman, semua tersedia, ingat mereka di luar sana yang bahkan keluar rumah saja berisiko dipenjara tanpa bisa bertanya apa alasannya.
Ingat, semua yang ada sekarang akan ada pertanggungjawabannya.
Biasakan setiap malam berintrospeksi, apa yang sudah saya lakukan untuk orang lain hari ini? Itu adalah kebisaan para ulama. Dengan begitu kita akan merasa rugi bila seharian belum berbuat baik dan berkorban untuk orang lain.
3. Salahkah kita bersedih saat melihat orang lain berbuat buruk dan kita tidak bisa menasihatinya?
Tidak salah, tapi bersedih saja tidak cukup. Kalau kita merasa tidak bisa menasihati, mintalah tolong pada orang lain. Kalau tidak ada, maka berdoalah. Dan tentu doa yang disertai rasa percaya. Karena kalau dengan kehendak Allah, maka tidak ada yang tidak mungkin.
4. Bisakah diceritakan tentang keistimewaan cevsen yang telah Anda dialami?
Dengan membaca cevsen, saya merasa bisa lebih mudah konsisten dengan yang saya lakukan.
Menurut cerita Bayram Abi, beliau dipesani oleh Ustadz Bediuzzaman untuk baca cevsen. Lalu saat perang di Korea, keajaiban terjadi. Ada bom yang menimpa kepala tetapi malah jatuh dan tidak meledak. Beliau selamat.
Cerita lain oleh orang yang sama dan di perang yang sama. Tiba tiba pasukan Cina menyerahkan diri dan meletakkan senjatanya. Entah karena lihat apa, beliau pun bingung. Lalu pasukan itu tunduk pada beliau.
Lalu suatu hari saat radio Jepang mau mewawancara beliau, beliau menyampaikan salam untuk Ustadz Bediuzzaman. Eh lha kok pas di Turki Ustadz sedang menyalakan radio. Dengan demikian salam yang diberikan itu langsung terjawab di saat yang sama.
5. Kapan kami bisa membaca buku Neo Khawarij? Bisakah diceritakan secara singkat?
Di abad ini ada ISIS, Al Qaeda, dll. Mungkin memang akan meredup, Tapi nanti pasti akan muncul lagi. Mereka ini adalah yang bacaan Qurannya bagus, tapi tidak turun ke hati. Suka mengkritik ibadah orang lain bahkan mengkafir-kafirkan yang lain. Padahal, ada hadits yang menyatakan bahwa bila ada seorang menyebut orang lain kafir sedangkan yang disebut itu tidak kafir, maka yang kafir sebenarnya adalah yang menyebut itu. Itulah yang dimaksud dengan 'mereka keluar dari agama Islam serupa dengan melesatnya anak panah dari busurnya'.
6. Apakah memang
tugas kita di dunia adalah di jalan agama? Bagaimana dengan mereka yang
tidak beragama tapi banyak bermanfaat bagi orang lain?
Analogikan begini, akan ada 2 orang yang mengikuti lari marathon. Semua aspek sama, sama capek, sama menempuh jarak 20 km. Bedanya adalah arah larinya. Akhirnya yang 1 dapat medali menang, yang satu tidak dapat apa-apa. Tentu saja, karena ia lari ke arah yang salah, bukan arah yang ditentukan menjadi jalur lomba. Orang tanpa iman, maka perbuatan baiknya serupa hasil lari yang salah arah.
Dalam konteks pertanyaan itu, misalnya orang tidak beragama karena memang tidak ada hasil tabligh yang sampai padanya, maka itu urusannya dia dengan Allah. Kita tidak tahu.
Tapi kalau tabligh sudah disampaikan lalu ia mengingkarinya, tergantung dengan apakah ada setitik iman atau tidak. Setitik itulah yang menentukan apakah ada kesempatan untuk masuk surga.
7. Bagaimana cara membagi waktu dengan lingkungan? Bagaimana menyeimbangkan hak keluarga dan siswa di sekolah?
Tentukan porsi dan prioritas.
8. Bagaimana menghadapi orang yang berdebat tentang bidah?
Tidak usah berdebat
Hehe
Karena debat itu layaknya menyelami sumur yang tidak ada dasarnya. Maka tinggalkanlah karena itu tidak akan ada habisnya.
9. Bagaimana mengubah pola pikir dari 'saya harus dibantu' menjadi 'saya harus membantu'?
Sebaiknya mempelajari ini dari Hoca Effendi dan Ustadz Bediuzzaman.
Oleh Bapak Ali Unsal
11 Oktober 2019
1. Apa saja tips agar diri tidak menyia-nyiakan waktu hanya untuk melakukan hal yang fun?
Kita bisa mencontoh bagaimana orang-orang sukses menghabiskan waktunya secara efektif. Misalnya Bill gates menyisihkan 2 pekan untuk reading camp, sedangkan Mark Zuckerberg pendiri Facebook setiap tahun punya daftar buku bacaan yang tidak sedikit. Dengan banyak membaca buku, kita bisa menggunakan waktu dengan hal yang bermanfaat.
Ingat pula bahwa hidup ini sangat pendek. Tidak ada garansi untuk besok. Kalau kita tahu bahwa besok akan mati, pasti akan bisa fokus berbuat baik, ibadah, menghindari konflik, dan menjaga kedamaian.
Dalam mengabdi di jalan Allah, kita masih bisa kok melakukan hal-hal fun dan tetap dalam konteks halal. Misalnya kita bisa jalan-jalan sambil melakukan parents visit, BBQ Party di akhir pekan untuk menemani anak asrama yang tidak pulang, mendengar musik saat menyaksikan penampilan siswa, bahkan berpesta misalnya dalam merayakan Last Night siswa tingkat akhir. Akan ada konteks yang mengizinkan kita menjalani itu dengan tetap sambil mengabdi. Kalau dengan yang halal aja cukup, kenapa harus melipir ke yang haram dan dosa?
Saat punya waktu luang? Bacalah buku sampai capek. Kalau capek, ganti, mendengar, capek, menonton, capek, bergerak atau olahraga, capek, ngobrol dan diskusi hal berguna. Dengan begitu kita akan secara otomatis tersibukkan oleh hal positif.
Lalu jawaban atas pertanyaan itu ada pada hadits Rasulullah, salah satu keindahan orang muslim adalah bahwa mereka tidak menyiakan waktu.
Dalam mengemban amanah di sekolah, kita diberi ladang untuk berkegiatan yang bermanfaat. Semoga kita bisa memaksimalkan pemberdayaan ladang ini.
Aamiin
2. Bagaimana menumbuhkan jiwa rela berkorban baik materi maupun nonmateri dalam diri kita?
Mula mula, ingat kondisi banyak orang di luar sana. Saat sekarang disini kota sedang enak hidupnya, nyaman, semua tersedia, ingat mereka di luar sana yang bahkan keluar rumah saja berisiko dipenjara tanpa bisa bertanya apa alasannya.
Ingat, semua yang ada sekarang akan ada pertanggungjawabannya.
Biasakan setiap malam berintrospeksi, apa yang sudah saya lakukan untuk orang lain hari ini? Itu adalah kebisaan para ulama. Dengan begitu kita akan merasa rugi bila seharian belum berbuat baik dan berkorban untuk orang lain.
3. Salahkah kita bersedih saat melihat orang lain berbuat buruk dan kita tidak bisa menasihatinya?
Tidak salah, tapi bersedih saja tidak cukup. Kalau kita merasa tidak bisa menasihati, mintalah tolong pada orang lain. Kalau tidak ada, maka berdoalah. Dan tentu doa yang disertai rasa percaya. Karena kalau dengan kehendak Allah, maka tidak ada yang tidak mungkin.
4. Bisakah diceritakan tentang keistimewaan cevsen yang telah Anda dialami?
Dengan membaca cevsen, saya merasa bisa lebih mudah konsisten dengan yang saya lakukan.
Menurut cerita Bayram Abi, beliau dipesani oleh Ustadz Bediuzzaman untuk baca cevsen. Lalu saat perang di Korea, keajaiban terjadi. Ada bom yang menimpa kepala tetapi malah jatuh dan tidak meledak. Beliau selamat.
Cerita lain oleh orang yang sama dan di perang yang sama. Tiba tiba pasukan Cina menyerahkan diri dan meletakkan senjatanya. Entah karena lihat apa, beliau pun bingung. Lalu pasukan itu tunduk pada beliau.
Lalu suatu hari saat radio Jepang mau mewawancara beliau, beliau menyampaikan salam untuk Ustadz Bediuzzaman. Eh lha kok pas di Turki Ustadz sedang menyalakan radio. Dengan demikian salam yang diberikan itu langsung terjawab di saat yang sama.
5. Kapan kami bisa membaca buku Neo Khawarij? Bisakah diceritakan secara singkat?
Di abad ini ada ISIS, Al Qaeda, dll. Mungkin memang akan meredup, Tapi nanti pasti akan muncul lagi. Mereka ini adalah yang bacaan Qurannya bagus, tapi tidak turun ke hati. Suka mengkritik ibadah orang lain bahkan mengkafir-kafirkan yang lain. Padahal, ada hadits yang menyatakan bahwa bila ada seorang menyebut orang lain kafir sedangkan yang disebut itu tidak kafir, maka yang kafir sebenarnya adalah yang menyebut itu. Itulah yang dimaksud dengan 'mereka keluar dari agama Islam serupa dengan melesatnya anak panah dari busurnya'.
*Saya kurang paham secara lengkap tentang pembahasan jawaban atas pertanyaan ini. Mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan.
Analogikan begini, akan ada 2 orang yang mengikuti lari marathon. Semua aspek sama, sama capek, sama menempuh jarak 20 km. Bedanya adalah arah larinya. Akhirnya yang 1 dapat medali menang, yang satu tidak dapat apa-apa. Tentu saja, karena ia lari ke arah yang salah, bukan arah yang ditentukan menjadi jalur lomba. Orang tanpa iman, maka perbuatan baiknya serupa hasil lari yang salah arah.
Dalam konteks pertanyaan itu, misalnya orang tidak beragama karena memang tidak ada hasil tabligh yang sampai padanya, maka itu urusannya dia dengan Allah. Kita tidak tahu.
Tapi kalau tabligh sudah disampaikan lalu ia mengingkarinya, tergantung dengan apakah ada setitik iman atau tidak. Setitik itulah yang menentukan apakah ada kesempatan untuk masuk surga.
7. Bagaimana cara membagi waktu dengan lingkungan? Bagaimana menyeimbangkan hak keluarga dan siswa di sekolah?
Tentukan porsi dan prioritas.
8. Bagaimana menghadapi orang yang berdebat tentang bidah?
Tidak usah berdebat
Hehe
Karena debat itu layaknya menyelami sumur yang tidak ada dasarnya. Maka tinggalkanlah karena itu tidak akan ada habisnya.
9. Bagaimana mengubah pola pikir dari 'saya harus dibantu' menjadi 'saya harus membantu'?
Sebaiknya mempelajari ini dari Hoca Effendi dan Ustadz Bediuzzaman.
Kita
juga perlu mengingat kembali tentang bagimana kehidupan Rasulullah.
Tidak kurang-kurang contoh yang telah beliau berikan tentang prinsip di
pertanyaan itu.
Uraian di atas saya tulis sambil menyimak penjelasan pembicara dalam sebuah seminar di sekolah beberapa bulan lalu. Akibat ditulis dengan terburu-buru, maka perlu perbaikan di beberapa bagian karena ada kesalahan tulis, kerancuan makna, atau antarkalimat yang tidak padu. Meski begitu, saya sama sekali tidak berniat mengubah esensi yang beliau sampaikan. Saya hanya ingin menjadikannya tulisan yang semoga lebih nyaman saat dibaca.
Kalau ada pembaca yang merasa agak asing dengan beberapa istilah disini, bisa langsung sampaikan di kolom komentar ya :)
And please feel free to share anything on comment section below.
Ceilah~
N160520W
22.43
Es timun seger banget lho gaes uwu
#Post_itivity

Komentar
Posting Komentar