Langsung ke konten utama

#Day 15 Share 1 historical story of your hometown!

Jujur, topik hari ini memaksa saya untuk sedikit lebih tahu tentang desa tempat tinggal. Berbekal informasi dari internet, saya akan mencoba membahasakan cerita sejarah tentang tempat yang menjadi latar salah satu lagu almarhum Didi Kempot ini.

Desa Grudo. Namanya berasal dari kata Garuda. Ini merujuk pada kisah yang menyatakan bahwa dahulu di daerah tersebut pernah jatuh burung garuda yang terluka akibat pemburu. Kabar jatuhnya burung itu tersiar ke telinga khalayak, menumbuhkan kebiasaan penyebutan Grudo bagi daerah ini.

Grudo terus berkembang menjadi desa dengan wilayah yang juga meliputi Terminal Kertonegoro alias terminal utama kota kami. Kalau pembaca termasuk penikmat campursarian Lord of Broken Heart pasti familiar dengan nama terminal itu, termasuk kembang tebu kabur kanginan-nya~

Saya tinggal di salah satu dusun di Desa Grudo. Ngronggi namanya. Saya terkesima saat mencari tahu cerita sejarahnya. Ternyata Ngronggi bahkan pernah menjadi bagian penting dan saksi perjuangan mencapai Indonesia merdeka.

Ngronggi menjadi bagian sentral perkembangan Islam pada masa penjajahan Belanda, dengan bukti berdirinya masjid tertua kabupaten ini, Masjid Baiturrahman. Konon masjid ini telah dibangun sejak era perjuangan pasukan Diponegoro. Yang menambah rasa kagum saya tentang cerita ini adalah bahwa masjid tersebut masih kokoh berdiri sampai sekarang. Tentu dengan keadaan yang sudah banyak direnovasi ya. Bahkan, lokasinya tepat di kompleks tempat saya menjalani masa sekolah dasar.

Potret lama Masjid Baiturrahman. Di pelataran situ kami biasanya main gobak sodor

Ini sekolah saya~ sekarang udah beda sih tampilannya. Panah merah menunjukkan posisi masjid.

Sampai saat ini, Masjid Baiturrahman masih menjadi salah satu masjid utama desa kami. Kegiatan sholat jumat, buka bersama saat Ramadan, pengumpulan zakat fitrah, sholat hari raya, hingga penyembelihan kurban, pun digelar dengan melibatkan jamaah masjid itu.

Selain itu, karena lokasinya satu kompleks dengan sekolah, masjid tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari proses pendidikan yang terus berjalan. Kami sholat berjamaah di situ, mengadakan acara besar Islam, mengikuti kelas mengaji, hingga bermain di pelatarannya. Sedemikian lekat keberadaan masjid ini sebagai bagian dari masa kecil saya, membuatnya semakin menarik bagi saya untuk berkesempatan bercerita tentangnya.

N080520W
23.14
Setelah kemarin semalaman tidak tidur, saya jadi agak merasa oleng hari ini~
#Post_itivity

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Day 25 Share 1 story about hikmah ramadan!

'Cinta terlarang' kami memang sudah semestinya berakhir, semoga selamanya~ Saya dan pusing adalah sepasang yang mulanya selalu bersama. Setiap hari setidaknya pasti ada satu momen dimana saya berjumpa dengannya. Pusing yang saya maksud adalah tipe yang rasanya muter sampai badan seperti mau ambruk. Ini terutama saya rasakan kalau berpindah posisi tubuh secara tiba-tiba. Misalnya dari rebahan langsung duduk atau dari duduk langsung berdiri. Perlu waktu beberapa detik penyesuaian sambil memejamkan mata dahulu agar berhasil stabil. Kalau dilihat dari tekanan darah sebenarnya memang konsisten cenderung lebih rendah daripada orang lain pada umumnya. Tapi setelah berkonsultasi dengan suster sekolah katanya itu bukan masalah, karena setiap orang punya kisaran normalnya sendiri. Dugaan lain yang menjadi penyebabnya adalah rendahnya kadar hemoglobin dalam darah saya. Iya yang ini cukup terbukti sih. Sudah pernah saya periksakan juga dan memang demikian hasilnya. Saat sedang dalam hari...

Saya dan Rasa Lain yang Lucu

 Rasanya belum lama sejak terakhir menulis tentang rasa suka yang lucu. Rasa. Suka. ... yang sekejap menjadi tidak lucu lagi. Barangkali mimpi itu hanya canda. Bunga tidur yang mengada-ada. Tapi bisa juga ia adalah pertanda. Bahwa yang dinanti tak kunjung tiba, sebenarnya memang sudah selesai tak bersisa. Senangnya, saya biasa saja. Ya! Ini adalah rasa yang lucu. Saya sendiri heran. Pernyataan-pernyataan dari seseorang berhasil membuat saya berpindah haluan. Yang dulu disimpan, kini betulan berhasil diikhlaskan. Saya tidak menyangka. Saya tersadar dibuatnya. Yang sebenarnya dipertahankan bukanlah murni rasa sayang pada orangnya. Namun lebih kepada momennya yang telah terjalin lama. Lalu selanjutnya apa? Tidak tahu juga. Setidaknya untuk saat ini belum ada rencana untuk mengapa-apakan kotak rasa saya.  .  . . Yang pasti saya ketahui saat ini, bubuk kopi darimu sudah tak tersisa untuk diseduh dan dinikmati lagi.   Y281121K -selalu ada yang lain

#Day 11 Imagine that you are giving a kultum, what will you tell?

  Wabah: Pengingat tentang Terbatasnya Waktu Kita   Pandemi! Itu adalah status COVID-19 saat ini. Pandemi menurut WHO dijelaskan sebagai wabah yang sifatnya menyebar global dan mendunia. Meski semula memang ditemukan di Cina, virus ini merebak hingga kini telah mencakup 199 negara (re: saat draft tulisan ini pertama saya buat). Pelan tapi pasti, satu persatu aspek kehidupan kita terpengaruh oleh makhluk kecil tak kasat mata tapi nyata ini. Aspek kesehatan? Tentu signifikan sekali. Aspek ekonomi? Perlahan terguncang terganggu keseimbangannya. Aspek sosial? Manusia dipaksa berjauhan secara fisik, social distancing istilahnya. Masih banyak yang harus dirinci bila ingin mendeskripsikan betapa dahsyat dampak yang virus ini berikan. Namun bagaimanapun, setiap yang telah ditakdirkan oleh-Nya tentu membawa hikmah tersendiri bagi orang orang yang mau bertafakur dan merenungi sisi positif dengan bijaksana. Walau mungkin saat ini dunia sedang berduka, mari kita tilik sisi...